Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Stress

victorc's picture
Teks: Pengkhotbah 4:1
"Lagi aku melihat segala penindasan yang terjadi di bawah matahari, dan lihatlah, air mata orang-orang yang ditindas dan tak ada yang menghibur mereka, karena di fihak orang-orang yang menindas ada kekuasaan."

Shalom, selamat pagi saudaraku. Kali ini izinkan saya menulis tentang stress. Banyak orang berpikir bahwa stress berdampak sangat buruk bagi kesehatan, termasuk (kabarnya) berpeluang meningkatkan resiko berbagai jenis penyakit seperti psikosomatis dan kanker dll. Ringkasnya, stress telah menjadi bagian dari kesadaran publik.
Sebagian dari Anda yang paham psikologi mungkin juga mengenal adanya kepribadian tipe A, yang dianggap berresiko terhadap stress dan pelbagai dampaknya.
Namun, tahukah Anda tentang sejarah rahasia penelitian tentang stress?

Selye
Menurut NPR (1), penelitian tentang stress diawali oleh Hans Selye sekitar 1930an, dan dia lalu mendedikasikan hidupnya untuk menyebarluaskan penelitiannya bahwa stress berdampak destruktif bagi banyak orang. Selye juga sangat prolifik (aktif) dalam menulis, termasuk bukunya: "The stress of my life." Namun ada sisi lain dari Selye yang tidak banyak diketahui orang: bahwa di balik penelitian dan karir Selye yang moncer itu ada dukungan masif dari industri tembakau dan sigaret. 
NPR menduga bahwa pabrikan tembakau ingin memberikan kesan bahwa stress lebih berbahaya daripada bahaya rokok. Bahkan pernah ada iklan rokok terkenal pada masa itu yang berupaya memberikan kesan bahwa rokok tertentu cukup manjur meredakan kecemasan (anxiety) yang menurut kesadaran publik diasosiasikan dengan kepribadian tipe A. Lihat iklan Lucky Strike di (1).

Netralitas dan Integritas
Memang paradigma ilmu secara klasik mengandaikan adanya obyektivitas penelitian ilmiah. Artinya seorang ilmuwan atau peneliti diharapkan melakukan suatu penelitian dengan menjunjung tinggi netralitas dan integritas yang tinggi.
Namun di dunia nyata senantiasa ada kemungkinan bahwa penelitian tertentu diwarnai oleh kepentingan ideologi atau bisnis tertentu. Itu sebabnya jurnal-jurnal dengan reputasi internasional biasanya mensyaratkan pernyataan bebas konflik kepentingan dalam paper-paper yang diterbitkan mereka. Misalnya: Nature dan Plos One.
Namun itu belum cukup ampuh, tampaknya ada banyak contoh kolusi antara industri dan para peneliti. Misalnya dalam industri farmasi, lihat 2 film ini: "The constant gardener" dan "The fugitive."
Dalam dunia perbankan internasional, tampaknya juga telah menjadi rahasia umum, bahwa bank-bank besar seperti Rotschild ikut bermain dalam memicu PD2, dan sampai sekarang diduga mereka sering main mata dengan kepentingan perusahaan transnasional dan juga industri militer. Lihat misalnya film: "The International," atau buku kontroversial karya John Perkins, "confessions of an economic hitman."(8)(9)

Bagaimana dengan Indonesia?
Juga bukan rahasia umum lagi, bahwa di negeri ini netralitas dan integritas merupakan barang mewah. Hanya segelintir profesional puncak dan pejabat yang masih menjunjung tinggi hal-hal tersebut.
Sebagai contoh, diketahui bahwa liberalisasi perbankan tahun 90an membuat banyak kalangan swasta berlomba-lomba membuat bank dengan tujuan terselubung untuk menghimpun dana masyarakat, sehingga dana yang dihimpun tersebut dapat diinvestasikan dalam proyek-proyek grup mereka sendiri yang memiliki prospek "gain" tinggi, seperti properti. Ketika akhirnya properti menjadi lesu, maka akibatnya bank-bank tadi juga mengalami kesulitan besar, terutama yang mengandalkan utang luar negeri. Mungkin itulah garis besar problem yang terjadi ketika krisis moneter tahun 1998.
Memang kini kesehatan dunia perbankan jauh lebih baik dibandingkan dengan waktu itu, namun juga kita lihat banyak konglomerat yang kini seakan berlomba lagi di industri properti. Bukan tidak mungkin siklus lesu dan terbelit utang luar negeri akan terulang lagi.
Di luar bidang penelitian dan perbankan, netralitas dan integritas juga diperlukan dalam banyak bidang, termasuk militer dan kehakiman. Kita sangat memerlukan pejabat militer dan kehakiman yang menjunjung tinggi netralitas dan integritas, dan mengutamakan kepentingan nasional dan bukannya bersikap partisan. Misalnya, jika pemerintah mengambil keputusan untuk membubarkan HTI melalui jalur hukum, maka seluruh tim hakim yang menyidang perkara tersebut perlu menandatangani suatu pernyataan untuk menegaskan netralitas dan integritas mereka dalam memproses perkara tersebut. Pernyataan semacam itu perlu untuk menjamin bahwa mereka akan berdiri tegak dan bebas dari konflik kepentingan (conflict of interest). Bila hal ini kemudian terbukti dilanggar, maka putusan tersebut menjadi terbuka untuk ditinjau ulang.
Jadi kalau boleh usul kepada pemerintah, khususnya Menkumham, sebaiknya dihindari menunjuk hakim-hakim yang dikenal berpihak atau partisan. Misalnya, salah satu hakim yang memutus perkara pak Ahok tempo hari, diduga adalah simpatisan HTI, sebagaimana bisa dilihat dengan mudah dalam akun FB-nya.(6). Sehingga keputusan yang diambil boleh jadi bias dan partisan, dan berpotensi mencederai rasa keadilan publik.

Penutup
-Jangan lupa bahwa tidak selalu stress berdampak negatif. Dalam kadar yang normal, stress memacu Anda untuk terus maju dan berinovasi. Ini yang tampaknya dihindari oleh para peneliti stress tersebut.
- Netralitas dan integritas para profesional puncak dan pejabat tinggi hendaknya menjadi prioritas dalam bidang profesi mana pun. Perlu ada pernyataan bebas konflik kepentingan oleh para hakim yang menangani perkara publik.

Versi 1.0: 10 mei 2017, pk. 14:10
Versi 1.1: 10 mei 2017, pk. 21:57
Versi 1.2: 11 mei 2017, pk. 5:24
VC

Referensi:
(1) http://www.npr.org/sections/health-shots/2014/07/07/325946892/the-secret-history-behind-the-science-of-stress
(2) http://www.who.int/tobacco/media/en/TobaccoExplained.pdf
(3) Mark Petticrew and K. Lee. Url: http://researchonline.lshtm.ac.uk/3743/1/cp_411.pdf
(4) https://www.madinamerica.com/2014/07/tobacco-industrys-links-studies-stress/
(5) http://www.prevention.ch/amjinmed2006.pdf
(6) akun FB Abdul Rosyad, http://www.facebook.com/abdul.rosyad.96
(7) S. Vladutescu & M. Teodorescu. Communicative action, deliberative and restorative justice: a review. International Letter of Social and Humanistic Science 2(2), 2015.
(8) John Perkins. Confessions of an economic hit man. url: http://library.uniteddiversity.coop/Money_and_Economics/confessions_of_an_economic_hitman.pdf; lihat blog: http://www.sabdaspace.org/hitman
(9) http://www.imdb.com/title/tt0963178/
(10) Pdt. Dr. Henriette T.H. Lebang & Pdt. Gomar Gultom. Pernyataan MPH-PGI terkait putusan PN Jakarta Utara. Tgl: 10-5-2017
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.