Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Si Bajoi dan Orang Utan

anakpatirsa's picture

        Si kakek tidak pernah bermimpi mendapat pertanyaan seperti itu dari cucunya. Kek, orang utan itu apa? Waktu masih menjadi presiden, ia sesumbar, "Tidak akan kubiarkan cucuku mendengar kisah kepunahan harimau, badak dan orang utan. Tidak akan kubiarkan cucuku mempelajari orang utan dengan mengais-ngais sisa tulang belulangnya."

        Si kakek menarik nafas panjang. Ia harus menceritakan sebuah kisah.

        Rakyat pernah mengenalnya sebagai presiden yang bisa mengarang lagu. Mereka tidak pernah tahu ia lebih pandai mengarang cerita. Mereka tidak tahu, tidak seorang pun bisa menjadi presiden bila tidak bisa mengarang apa saja.

        "Ada sebuah cerita...." katanya.

        Sang cucu memperbaiki cara duduknya.

        "Ada sebuah kampung di pinggir hutan. Di sana hiduplah seorang laki-laki bersama ibu dan istrinya...."

        Agak sulit memulainya. Pembukaan memang bagian tersulit, tetapi setelah itu pasti lancar.

        "Suatu ketika, istri laki-laki itu menghilang. Orang bilang ia diculik orang utan. Nenek-nenek tua langsung berkata kepada cucu-cucu perempuannya: Makanya jangan jauh-jauh dari rumah, nanti diculik orang utan. Kalau sudah diculik orang utan, pasti tidak pernah mau kembali. Orang utan itu mampu membuat perempuan duduk seharian di atas pohon hanya untuk menunggunya pulang membawa setandan pisang.

        "Setelah beberapa bulan, kampung itu kembali tenang. Penduduknya tidak jadi mencari ke hutan karena dukun bilang setan yang menculik perempuan itu, bukannya orang utan. Percuma mencarinya di hutan, perempuan yang sudah menjadi istri setan tidak bisa kelihatan lagi."

        Si kakek berhenti. Lebih mudah mengarang lagu daripada mengarang cerita.

        "Tetapi pada suatu hari, seorang pemburu berlari masuk kampung. Ia menceritakan cerita yang menggetarkan seisi kampung. Ada perempuan berambut panjang di tengah hutan, duduk di atas pohon persis orang utan betina. Hampir ia tembak, untung dirinya masih bisa membedakan manusia dengan orang utan.

        "Itu pasti istrinya si Bajoi," kata seseorang.

        "Setiap orang keluar dari rumahnya. Mereka berbodong-bondong menuju rumah kepala kampung. Dari sana, beramai-ramai mereka datangi rumah suami yang istrinya hilang itu. Seorang wanita tua keluar menemui mereka.

        Ia bertanya, "Mengapa kalian datang seolah-olah ada orang yang bangkit dari kuburnya?"

        "Menantumu ada di hutan," jawab kepala kampung.

        "Dasar wanita busuk. Apa yang ia lakukan di hutan, kawin dengan setan?" ia bertanya tanpa ada yang menjawab. Dukun yang menyalahkan setan itu sama sekali tidak kelihatan batang hidungnya.

        "Bajoi ..." teriaknya. Tergopoh-gopoh seorang laki-laki bertubuh kecil keluar.

        "Ada apa, Mah?" tanyanya.

        "Sana lihat istrimu," jawab ibunya.

        "Di mana, Mah?"

        "Di hutan, bodoh! Cari tahu mengapa perempuan setan itu lebih memilih setan daripada kita," katanya sebelum pergi begitu saja meninggalkan para tamunya. Kepala kampung terpaksa mengulangi kembali ceritanya. Ia tambahkan, perempuan yang di atas pohon itu tidak mungkin orang lain. Dan bukan setan yang menculiknya, tetapi orang utan."

        "Kek, ibunya Bajoi jahat ya?" tanya sang cucu ketika kakeknya tidak langsung melanjutkan ceritanya.

        "Ia tidak suka istri anaknya pergi tidak bilang-bilang," jawab sang kakek seenaknya, "kakek lanjutkan ceritanya?"

        Sang cucu mengangguk.

        "Mereka masuk ke dalam hutan yang begitu lebat, bahkan matahari kesulitan menembusnya. Pemburu itu tahu pekerjaannya. Ia seorang pemburu sejati, pemburu yang tidak takut setan hutan. Ia tahu jalan yang ia lewati di antara pepohonan, dan tidak sekalipun ia berpaling karena ragu mengambil jalan yang salah. Kadang ia bawa mereka melewati jalan setapak buatan babi hutan; kadang ia bawa mereka melewati semak belukar.

        "Mereka sudah benar-benar di tengah hutan ketika pemburu itu berhenti sambil mengangkat tangannya. Ia bisiki sesuatu ke telinga kepala kampung yang langsung menyampaikannya ke telinga yang lain. Sudah dekat, jangan ribut. Mereka lanjutkan perjalanan dengan mengendap-endap, bahkan akhirnya jalan jongkok. Lutut mereka pegal semua ketika pemburu itu berhenti lalu berpaling sambil meletakkan jari di bibirnya. Tangannya menunjuk sesuatu di atas dahan sebatang pohon raksasa. Di sana, jauh di atas pohon, tersembunyi di balik dedaunan, duduklah seorang perempuan berpakaian compang-camping."

        Si kakek menatap cucunya, "Di tengah hutan, perempuan berambut panjang yang duduk di atas dahan lebih mirip setan daripada manusia."

        Sang cucu diam saja. Ia tidak menanyakan pertanyaan apapun.

        "Apa yang harus kita lakukan?" kata pemburu setelah mereka menjauh dari pohon besar tempat perempuan itu duduk. Ia menatap kepala kampung yang langsung menatap suami perempuan itu. Semua mata ikut menatapnya. Ia diam saja, kelihatan sekali ia berharap ibunya ada disitu.

        "Kita tunggu orang utannya datang," kata kepala kampung sambil menghela nafas, jengkel juga ia melihat lelaki itu, "lalu kita bunuh."

        Sang cucu tiba-tiba menyela, "Kek?"

        "Ya?" kata si kakek.

        "Untuk apa orang utan menculik perempuan?"

        Si kakek menyesali dirinya yang mau mendengarkan para pembantu yang memuji-muji lagu-lagu ciptaannya. Lagu yang ini bagus untuk pembukaan acara itu, lagu yang itu bagus untuk soal ujian ini. Mereka itu ternyata hanya sekelompok penjilat yang membuang album-albumnya begitu ia berhenti jadi presiden. Kalau dulu ia mengarang cerita, hasilnya bisa lain. Ia begitu pandai mengarang cerita, buktinya sang cucu menganggap kisahnya benar-benar terjadi.

        "Karena DNA mereka hampir mirip dengan DNA manusia," si kakek menjawab.

        "Apa itu DNA?" tanya cucunya.

        Ia juga kurang begitu paham, tetapi dirinya tidak akan pernah menjadi presiden kalau tidak pandai berkelit.

        "Nanti kalau sudah besar, kamu akan tahu," jawabnya.

        Sang cucu mengangguk.

        "Mau kakek lanjutkan ceritanya?"

        Sang cucu tersenyum.

        Mereka pada ribut. Ada yang mengatakan orang utan itu harus dibunuh supaya perempuan di atas pohon mau turun. Ada yang membantahnya, kalau itu dilakukan, perempuan itu pasti jatuh karena kaget mendengar letusan senapan. Pemburu itu akhirnya berkata, perempuan itu sudah cukup lama tinggal di atas pohon sehingga tidak mungkin jatuh karena bunyi letusan senapan. Kepala kampung kemudian menambahkan, kalau akhirnya jatuh, mereka bisa apa? Tidak ada yang menjawab, sampai akhirnya karena jengkel ia berkata kepada suami perempuan itu, "Atau kita kasih saja istrimu sama orang utan itu?"

        "Bunuh!" jawabnya.

        Si kakek menyesali pilihan katanya, ia telah membiarkan dirinya terbawa emosi ceritanya sendiri.

        "Mereka bersembunyi di balik sebatang pohon, menunggu dalam diam sambil menahan keinginan menepuk nyamuk yang menggigit kulit. Mereka berharap orang utan itu segera muncul, karena makin sore makin banyak nyamuk yang berdengung di dekat telinga. Hari sudah benar-benar sore ketika di kejauhan dahan-dahan bergerak, lalu sosok bertubuh besar dan berbulu kemerahan muncul membawa sebuah bungkusan.

        "Perlahan sang pemburu mengangkat senapan. "

        Si kakek melihat cucu perempuannya begitu hanyut dalam cerita.

        "Dor!" teriaknya.

        Sang cucu kaget. Ia baru tahu kakeknya bisa berteriak.

        "Orang utan itu tidak pernah tahu apa yang menembus kepalanya," lanjut si kakek. Makluk itu tidak pernah tahu apa yang membuat pegangannya lepas begitu saja. Ia tidak merasakan apa-apa saat tubuhnya jatuh menimpa dedahanan dibawahnya sebelum akhirnya menghantam tanah. Perempuan itu memekik, ia sedang tersenyum menyambut pacarnya ketika letusan itu menggetarkan seisi hutan."

        "Kek, perempuan itu berselingkuh?" sela cucunya.

        Si kakek berjanji dalam hati untuk lebih berhati-hati lagi dengan pilihan katanya.

        "Tidak bagus pakai kata itu," katanya.

        "Ya, kek," jawab sang cucu.

        Ia mencium cucu kesayangannya sebelum melanjutkan ceritanya.

        Kepala kampung menyuruh si suami menenangkan istrinya. Tetapi melihat kepala suaminya di bawah pohon, perempuan itu meraung lebih keras. Raungannya lebih mirip raungan orang utan. "Mengapa kalian melakukannya? Mengapa kalian membunuhnya?" ratapnya.

        Sang cucu menyela, "Kek, seperti apa raungan orang utan itu?"

        Si kakek juga tidak tahu. Ia belum pernah mendengar raungan orang utan, ia hanya pernah melihat binatang mirip orang utan marah padanya.

        "Seperti ini," katanya sambil mulutnya menghembuskan nafas sehingga mengeluarkan bunyi hah… hah… serta kepala didorong ke depan dan tangan ke atas seolah-olah bergantung pada kayu melintang.

        "Kakek seperti monyet," kata cucunya.

        Si kakek tersenyum. Ia lanjutkan ceritanya, "Si suami marah, ia berteriak menyuruh istrinya turun, tetapi perempuan itu tidak mau. Ia lebih suka tinggal di dalam hutan.

        "Maka kau akan mati," teriak suaminya.

        "Aku memilih mati di sini," kata istrinya sebelum meloncat dari atas pohon."

        Si kakek sedikit takut telah menanamkan kisah bunuh diri dalam ceritanya. Tetapi ia harus melakukannya, ia harus membunuh perempuan itu untuk membuat akhir ceritanya masuk akal.

        "Suaminya merebut senapan sang pemburu. Ia datangi bangkai si orang utan itu; ia letakkan laras senapan di kepala binatang itu. Dor! Hutan kembali bergetar. Setelah gemanya hilang, hutan menjadi begitu sunyi. Tidak ada suara, tidak ada tangisan. Lelaki itu meninggalkan tubuh istrinya begitu saja.

        "Ia pergi membawa senapan dan semua peluru yang bisa dirampasnya. Ia membunuh semua orang utan yang bisa ia temukan. Setelah orang utan habis di hutan, ia mendatangi semua kebun binatang yang ada orang utannya."

        "Kek?" sela sang cucu.

        "Ya?" balas si kakek.

        "Orang utan itu binatang?"

        "Ya, cucuku," jawab si kakek, "binatang seperti monyet, tetapi besar dan bisa berjalan tegak. Mereka sudah punah karena Bajoi cemburu istrinya lebih memilih binatang itu daripada dirinya."

        

Purnomo's picture

Mantan presiden yang suka mengarang lagu?

Kalau mau tidur, jangan lupa memeriksa semua jendela dan pintu apa sudah terkunci semua.
Kalau diberi makanan oleh orang, jangan langsung dimakan tetapi berikan dulu secuil kepada kucing atau ayam dan lihat apa 15 menit kemudian binatang itu masih hidup.
Kalau pergi kerja, jangan lewat rute yang sama dengan yang kemarin.

Aku tidak ingin kehilangan teman yang pintar mendongeng gara-gara menulis cerita ini.

anakpatirsa's picture

Untunglah Tidak ada yang Tah

Pak Pur, untunglah di kota ini tidak ada yang tahu siapa itu anakpatirsa (Hanya satu orang).

Jadi bisa aman.

Veritas's picture

Membangkitkan Rasa Ingin Tahu

Sampai pertengahan saya terhanyut dan terus men-scroll mouse ke bawah. Sialnya, cerita ini benar2 tidak sesuai dengan harapan hahahahahaha...

Tak apalah, setidaknya pola penyampaian ceritanya sudah membangkitkan rasa ingin tahu, sama seperti pola penyampaian pesan dari ULAR kepada HAWA hahahahha.... membangkitkan rasa ingin tahu :D

__________________

Quid Est Veritas Kata seorang bajingan bernama PILATUS

http://www.facebook.com/veritasq

anakpatirsa's picture

Terima kasih

Endingnya memang terlalu dipaksakan. Nggak tahu seperti apa cocoknya. Itu memang asal saja.