Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Serpih-Serpih SIEM 2007

Indonesia-saram's picture

Kembali ke Benteng Vastenburg, saya sungguh tidak mengira kalau benteng ini berada sangat dekat dengan sebuah gereja yang biasa jadi tempat ibadah saya tiap pekan. Anggapan bahwa sebuah benteng harus berdiri megah dengan tembok yang tinggi-tinggi tidak terlihat ketika akhirnya saya melihat benteng ini dari dekat. Memang temboknya tinggi, tapi tidak setinggi yang digambarkan di film The Lord of The Ring itu.

Pada sisi-sisinya, ada parit-parit yang mungkin sekali merupakan parit yang dibuat pada masa pembangunannya. Bukankah sudah biasa kalau ada parit yang dibuat mengelilingi benteng? Namun, jangan harap kalau ada jembatan gantung. Benteng Vastenburg tidak memiliki jembatan gantung yang menghubungkan bagian dalam dengan daerah di luarnya. Jembatan yang ada hanya jembatan yang biasa dibangun di atass sungai yang kecil. Parit itu sendiri tidak sedalam yang saya bayangkan. Paling-paling hanya setinggi orang dewasa. Sedangkan lebarnya pun rasanya bisa dilompati.

Tapi suasana ketika itu jelas berbeda sekali. Lampu-lampu sorot menyeruak, menyapu langit malam. Semua terlihat jelas bahkan bila Anda berada cukup jauh dari benteng. Halaman depan pun ramai oleh stan-stan yang menjajakan beragam hal. Dari penjual pulsa, terutama sponsor utamanya, radio-radio lokal, penjaja cinderamata, dan sudah tentu stan penyelenggara yang menyediakan informasi. Penjaja makanan, baik yang mencarter stan, maupun yang mendadak nimbrung turut memadati halaman.

Meski terlambat menghadiri acara besar ini, saya bersyukur bisa menikmati sejumlah suguhan. Mulai kawanan dari Karagouna, Yunani, sampai kepada komposisi yang disusun oleh seniman Filipina; dari Makassar, sampai Australia; semua saya nikmati. Sehingga saya bertekad untuk mengikuti acara ini sampai malam terakhir.

Sayangnya, saya tidak pernah bisa hadir lebih awal. Akibatnya, saya harus rela sejak Senin malam berdiri menikmati suguhan musik dari jauh. Yah, ini menjadi pengalaman menyaksikan pertunjukan langsung, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah saya rasakan. Belum lagi harus melawan angin yang berhembus cukup kencang, meski saya berkata juga, "Belum sedingin angin di tepi Danau Toba pada dini hari." Dan saya masih harus merasakan hal yang sama pada hari Selasa.

Suasana di Dalam
Halaman Benteng Vastenburg yang menyerupai persegi itu memang sudah disulap menjadi arena pertunjukan. Ketika memasukinya, Anda dapat sebuah panggung besar lengkap dengan seperangkat alat musik telah tersaji di depan pintu yang berlawanan arah dengan pintu masuk pengunjung. Lampu-lampu sorot, lampu panggung, dan lampu-lampu yang sesekali menyemburat dengan pola-pola unik menambah kemeriahan. Dua layar raksasa juga disediakan agar para pengunjung yang berada di belakang sekalipun bisa menyaksikan pertunjukan. Sayangnya, hanya layar sebelah kanan saya yang saya anggap paling terang sehingga saya lebih sering melihat ke sana, sembari sesekali melihat langsung ke arah panggung.

Namun, kalau mau diurut-urutkan, kala itu, saya tidak langsung mendapati panggung karena di sebelah kanan dan kiri terdapat pajangan foto-foto menarik. Foto-foto tersebut mengabadikan sejumlah seniman yang tengah memainkan alat musik. Ada yang bernuansa lokal, tapi banyak pula yang bernuansa internasional.

Hanya itu? Tidak juga. Ada tiga penghuni hidup yang tinggal di halaman benteng. Ya, ada tiga pohon beringin yang berdiri di sana. Masing-masing pohon ditemani dengan lampu yang mengarah ke atas sehingga menerangi pohon tersebut. Satu di tengah, sementara dua lainnya ada di sisi kanan dan kiri.

Dari Yunani: Tarian Unik
Pada malam pertama kehadiran saya, saya bisa berada tidak terlampau jauh dari panggung. Sehingga saya bisa mengagumi kostum yang dipakai para penari dari Yunani itu. Kostum prianya terdiri dari atasan rompi hitam, dengan celana putih. Masing-masing juga memakai topi yang sulit saya gambarkan, tapi yang jelas bukan seperti topi koboi atau topi matador. Sementara yang wanita memakai atasan yang didominasi warna merah; kalau tidak salah kain atas mereka ini sampai ke rok juga. Sementara pemusik yang hanya tiga orang itu: seorang bermain akordion, seorang bermain alat musik tiup, dan yang satunya lagi memainkan perkusi.

Tarian mereka, seperti saya sebutkan pada tulisan sebelumnya, sangat unik. Sementara kaum prianya menari kaum wanita memerhatikan tarian kaum pria sembari bertepuk tangan, mengikuti irama pemusik. Kaum pria menari sembari bergandengan tangan dengan sesekali masing-masing menarikan gaya yang berbeda; hampir tidak ada keseragaman, rasanya benar-benar menggambarkan ekspresi masing-masing. Sembari menari sesekali mereka mengelilingi kaum wanita atau mondar-mandir di panggung yang cukup besar itu. Lalu pada kesempatan tertentu, hanya pria yang ada di salah satu ujung saja yang mempertontonkan kebolehannya menari: sembari sesekali menari seperti tari asal Rusia itu, ia diputar oleh temannya, seperti layaknya tarian modern kala kaum pria memutar wanita dari atas.

Tarian mereka itu diiringi oleh nyanyian juga. Ketika saya hadir, yang bernyanyi adalah salah seorang pemusiknya. Namun, pada salah satu kesempatan, tidak ada yang bernyanyi. Sampai kemudian giliran seorang wanita yang bernyanyi. Kala itu, giliran kaum pria yang menikmati tarian kaum wanita yang tidak terlalu jauh beda dengan tarian pria: bergandengan. Lalu jelang akhir, kaum prianya kembali beratraksi membentuk piramida; tidak terlalu lama dan tentunya tidak seheboh yang biasa dipertontonkan pemandu sorak. Tapi cukup atraktif.

Malam Terakhir
Malam kedua, kembali saya harus rela berdiri. Tapi bila sebelumnya bias berada di dekat tukang sorot, kini saya harus rela berdiri agak jauhan. Kali ini tidak jauh dari pohon beringin yang ada di tengah. Sebab malam kedua, atau Selasa malam itu, pengunjung lebih banyak lagi daripada malam sebelumnya. Malah malam itu, ada beberapa pengunjung yang sampai naik ke sisi kanan benteng. Seperti biasa, ada sedikit pijakan pada bagian dekat tembok itu yang dulunya pastilah jadi tempat para prajurit Belanda mengawasi suasana di luar benteng.

Wilayah tersebut sebenarnya wilayah terlarang. Namun, antusiasme ternyata membuat beberapa pengunjung nekat melanggar larangan tersebut. (He-he-he, mirip dengan apa yang terjadi di SABDA Space baru-baru ini, ya?) Protokol pun sampai menghimbau agar mereka turun. Sebab bagian tersebut katanya agak rapuh sehingga berbahaya. Tapi dasar bandel, mereka tidak serta-merta mengikuti arahan protokoler yang dipandu oleh pasangan yang ganteng dan cantik itu (saya lupa nama mereka).

Melihat hal itu, tukang sorot panggung pun memainkan peranan sampingan mereka. Secara spontan, ia menyoroti sisi kanan tersebut, menyapu para pengunjung yang membatu di sana. Kontan saja pengunjung yang ada di tengah halaman menyoraki, "Huuuuuuuu ...!" Meski semula mereka berkeras untuk bertahan di sana, akhirnya mereka jengah juga disoraki sehingga memutuskan turun secara teratur.

Pesona malam pada hari Selasa, 4 September 2007 itu sudah saya kisahkan pada tulisan sebelumnya. (Bagi yang belum membaca, silakan klik Kim Sanders yang Memesona.)

Giliran malam terakhir, saya beritikad untuk hadir lebih awal. Saya putuskan berangkat sekitar pukul 18:00. Tapi sayangnya, ada ratusan lainnya yang punya keinginan seperti saya. Mereka datang jauh lebih awal daripada saya. Alhasil, saya harus rela untuk berada lebih dekat lagi dengan pohon beringin di tengah. Malam itu, angin berhembus lebih keras lagi sementara saya harus berdiri lagi.

Kala memasuki halaman, gebukan drum bertalu-talu dimainkan oleh seorang bocah yang baru berusia sepuluh tahun! (Saya jadi ingat ketika di Medan dulu, ada anak seusia balita yang memonopoli permainan drum ala Timezone; mungkin kelak ia bisa menjadi penggebuk drum yang baik kalau serius menekuninya.) Tapi tentu saja ia bukan sembarang bocah. Malah disebutkan dalam usia itu, bocah ini sudah menghasilkan album yang digarap dengan sejumlah musisi asal Amerika! Luar biasa!

Pementasan pertama berasal dari Bandung. Mereka menyuguhkan sajian yang menurut saya agak suram. Masih dilengkapi dengan tetabuhan juga. Tapi sepertinya ada lakon yang ditampilkan juga. Seorang pria yang membawa sesuatu seperti bingkai, meliukkan gerakan-gerakan yang tidak bisa saya pahami maknanya. Sesekali ia kalungkan bingkai tersebut di lehernya, sesekali ia mengangkatnya tinggi-tinggi dan memutar-mutar di atas kepalanya.

Meskipun Kua Etnikanya Djaduk Ferianto juga akan tampil, penampilan yang sangat saya harapkan malam itu ialah penampilan grup asal Belanda. Grup musik folklor yang bernama Folkcorn itu disebut-sebut akan mempertunjukkan musik kuno asal Belanda. Namun, malam itu saya merasa tidak akan bisa bertahan hingga acara selesai. Rasanya lelah berdiri hingga acara selesai, dua malam sebelumnya. Apalagi pada dua malam itu, saya nekad pulang berjalan kaki.

Sayangnya, harapan saya agar mereka tampil pada giliran kedua, tidak terwujud. Yang tampil setelah kelompok dari Bandung ialah kelompok Pamekasan Madura. Alhasil saya memutuskan untuk kembali.

Namun, sungguh luar biasa! Bahkan ketika saya baru mau pulang, itu sekitar pukul 21:30-an, masih ada begitu banyak pengunjung yang hendak masuk ke benteng. Ratusan lainnya masih menanti di luar. Saya saja sampai kesulitan untuk keluar, sampai harus berdesak-desakan! Tampaknya mereka memang begitu ingin menyaksikan suguhan-suguhan musik yang tidak setiap hari dipertunjukkan.

Amatiran
Sebenarnya kalau saya cermati, ada banyak amatiran musik yang menghadiri acara itu. Malah lebih banyak lagi yang benar-benar awam, seperti saya, yang hanya datang karena penasaran. Pada malam terakhir itu, saya benar-benar sulit menikmati pertunjukan. Selain rasa lelah, kebanyakan pengunjung di sekitar saya sama sekali tidak menunjukkan perhatian mereka ke panggung. Ada yang bercanda ria, bersenda gurau dengan teman-teman mereka. Ada yang sibuk berhalo-halo dengan orang nun di sana. Ada yang meributkan sesuatu, entah apa itu saya tidak mengerti karena mereka berdialog dalam bahasa Jawa -- meski masih berdarah Jawa, saya toh tidak bisa berbahasa Jawa.

Suasana malam terakhir itu benar-benar tidak nyaman untuk menikmati rangkaian pertunjukan musik. Malah siang harinya, saya melihat sebuah komentar di Shoutbox situs SIEM yang dilontarkan dalam bahasa Inggris. Komentar itu menyuarakan sedikit kekecewaan akibat ketidaknyamanan yang dihadirkan pengunjung.

Jadi, keputusan saya untuk melangkah pulang malam itu tidak hanya disebabkan rasa lelah. Sulit bagi saya menikmati apalag mengapresiasi kesenian di panggung sana itu ketika beberapa orang berteriak di samping saya. Apalagi tatkala asap-asap yang membuat sesak beredar di udara sekitar saya. Sangat tidak nyaman.

Meski demikian, saya kira ada banyak orang yang terinspirasi oleh seniman-seniman yang tampil pada lima malam pertunjukan musik etnik tersebut. Pasti ada banyak orang yang sama sekali tidak paham musik, malah jadi ingin belajar musik. Dari yang mulanya tidak begitu peduli musik, malah jadi peduli musik.

Saya kira, ini hal yang wajar. Saya sendiri bukan tipe orang yang akan menikmati suguhan musik etnik melalu layar kaca. Tapi penampilan panggung yang saya nikmati secara langsung membuat saya sangat ingin menyaksikan pertunjukan serupa lagi. Dan memang, ini semua bermula dari rangkaian Urban Sensasi, rangkaian kegiatan kesenian yang ditampilkan di berbagai sudut kota Solo yang memperkenalkan kesenian-kesenian tradisional daerah. (Kala itu saya berkesempatan menyaksikan pertunjukan asal Purbolinggo di depan Pasar Gede pada malam minggu.) Setidaknya, kegiatan kesenian yang sudah berlalu itu dapat menumbuhkan kecintaan akan kesenian tradisional.

__________________

_____________________________________________________________
Peduli masalah bahasa? Silakan bertandang ke Corat-Coret Bahasa saya.