Submitted by Hannah on

Semalam aku masak seloyang lasagna yang kuperkirakan akan cukup untuk makan malam 2 hari tapi perkiraanku salah kaprah. Beybeh begitu menggemari lasagna buatanku sampai dia menjilati loyang sampai bersih.

“Suka ya?”  Tanyaku sambil tersenyum.
“Iya, enak banget sih.” Jawab Beybeh sembari menjilati jari tangannya.
“Aku gak tau kamu suka banget lasagna.”
“Gak suka banget sih sebenarnya tapi lasagna yang kamu buat enak banget sih.”

“Syukur deh. Aku seneng kamu suka.” Aku tersenyum lalu membersihkan meja makan.

Alhasil hari ini aku masak lagi. Jarang-jarang aku masak 2 hari berturut-turut karena rutinitasku di hari Sabtu adalah masak untuk Sabtu dan Minggu, malah kadang sisa masakanku bisa awet sampai beberapa hari berikutnya.

Hari ini aku masak nasi goreng.
Bukan Beybeh saja yang menyukai nasi goreng buatanku, keluarga Beybeh dan teman-teman sekantorku pun menggemarinya.
Dulu aku sering masak nasi goreng tapi sekarang jarang karena memasaknya membuatku rindu nasi goreng gerobak di kampung halaman.

Sebaik apa pun aku memasak nasi goreng, aku selalu merasa hasilnya, rasanya dan baunya tidak sama dengan nasi goreng gerobak dan aku cuma bisa memandang dengan hati nelangsa nasi goreng yang mengepul dan mengeluarkan bau harum tetapi tidak seharum nasi goreng dari kampung halaman.

“Gak tau terima kasih amat seh? Tuhan uda baik banget, banyak berkat yang gak pantas kuterima tapi sudah kuterima, masak masih gak cukup? Sekarang malah pengen ini itu lage.” Aku memarahi diri sendiri.

Tuhan memang baik. Berkat-Nya begitu melimpah dan kadang aku ingin menangis karena merasa begitu kecil dan tidak berarti tapi Dia melimpahi aku dengan kebaikan yang tiada hentinya. Apalah artinya jauh dari kampung halaman dan sanak saudara jika dibandingkan dengan semua kebaikan-Nya kepadaku.

“Terima kasih, Tuhan. Engkau baik banget. Aku tidak kekurangan sesuatu pun yang baik yang Engkau janjikan.” Dalam hati aku melantunkan puji syukur kepada Sang Khalik sembari mempersiapkan meja makan.

Tapi hati ini kok tetap merindukan sepiring nasi goreng gerobak ya..

 The heart wants what the heart wants

 

Aseek gambalnya nongol..  hihi

"Literary interpretation is in the eye of the beholder."