Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

SEBUAH KONTEMPLASI PEMAKNAAN METANOIA MENYIKAPI PENDEFENISIAN PERTOBATAN ADALAH SUATU TITIK TIDAK DAPAT KEMBALI

Ringga Pangaribuan's picture

Pendahuluan

Tak dapat dibantah bahwa seruan pertobatan adalah seruan yang sangat sentra dalam teologi Nasrani itu sendiri. ”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” Mungkin seruan yang sudah tidak asing ditelinga kaum nasrani dimanapun. Seruan ini adalah seruan terkenal yang keluar dari mulut Yohanes Pembabatis dan Yesus Kristus sendiri.

Namun, sering kali dalam perkembangan teologi dan pengajaran praktis tentang pertobatan baik dalam gedung lembaga gereja atau dalam persekutuan sering disalahkaprahkan sehingga menimbulkan efek yang tidak elok dalam perkembangan praktisnya di kehidupan sehari-hari umat atau jemaat yang mendengar pengajaran itu.

Pertobatan: Point of No Return

Seorang pengajar dalam sebuah ibadah mencurahkan sebuah materi pengajaran tentang pertobatan. Dalam kajiannya beliau mengatakan bahwa pertobatan itu adalah sebuah momen dimana seseorang sudah menyesal dan sadar akan dosanya kemudian tidak melakukan lagi dosa itu. Dalam lanjutannya, beliau menitikberatkan pertobatan pada kondisi tidak mengulang dosa atau dalam bahasa beliau menggunakan istilah point of no return –dalam tulisan kali ini saya akan menggunakan istilah ”titik tidak pernah kembali” untuk mengganti istilah asing ini (saya singkat dengan TIDAK).

Dalam pengajaran firman itu, beliau memisalkan seseorang yang ketagihan berjudi. Kemudian orang itu ikut KKR dan merasa tersentuh hatinya, kemudian menagis dan meyesali perbuatannya, kemudian di tengah pergulatan batinnya dia jatuh dalam dosa itu lagi. Maka beliau menyimpulkan bahwa seseorang itu belum bisa dikatakan seorang petobat.

Beliau menambahkan TIDAK ini diibaratkan dengan sebuah pesawat yang akan lepas landas memiliki fase TIDAK yang tidak akan mungkin membuat pesawat itu kembali ke landasan semula. Di fase inilah seseorang itu bisa dikatakan sebagai seorang petobat sejati.

Secara sederhana saya mendeskripsikan bahwa pengajar firman tersebut memandang pertobatan sebagai sebuah titik momen peristiwa. Pertobatan dipandang sebagai satu peristiwa saja. Pertobatan yang sejati dilihat hanya ketika larva itu sudah berubah menjadi kupu-kupu saja tanpa melihat seluruh aspek keutuhan dan kesatuan dari proses metamorfosanya. Kesejatian pertobatannya hanya diukurnya lewat sebuah momental dimana ketika seorang pejudi itu sudah tidak berjudi lagi sampai menjelang ajalnya.

Kajian Sepintas Eksegese Mat 3:2

”Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat.” Yohanes Pembabtis menyerukan pernyataan ini di ”padang gurun” dimana dia menjalankan perannya sebagai perintis jalan bagi Dia yang akan datang utuk menebus umat manusia.

Interlinier Greek New Testament menuliskan ayat ini dengan, ”kai legon metanoeite eggiken gar he basileia ton houranon” terlihat di sini bahwa kata ’bertobat’ yang dipakai dalam Al Kitab Perjanjian Baru terbitan LAI menggunakan kata metanoeite yang dituliskan dalam bentuk present aktif imperatif. Ini dimaknai sebagai seruan dan keinginan yang besar dari si subjek agar pendengar segera menitiskan atau menjelmakan keinginannya menjadi sebuah realita.

Kata pembentuk dari metanoeite adalah metanoeo yang berasal dari dua kata yaitu meta (perubahan) dan noeo (pikiran). Jadi secara gamblang pertobatan bisa diartikan sebagai sebuah kondisi dimana seseorang itu tersadarkan akan siapa dia dan membawa sebuah perubahan baik dalam emosi dan dalam bentuk penyesalan dan menggiring dia pada sebuah perubahan nyata.

Yang sering menjadi titik perdebatan adalah kesalahan tafsir pada makan asali dari kata perubahan atau meta itu sendiri. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edsi ketiga perubahan dimaknai sebagai hal (keadaan) berubah; peralihan; pertukaran. Menarik buat saya adalah ketika perubahan dimaknai juga sebagai sebuah peralihan, yaitu sebuah perlintasan dari keadaan yang satu menuju keadaan yang lain. Ada makna tersirat dibalik semua defenisi itu yaitu perubahan dimaknai tidak hanya berdasarkan hasil akhir saja, tapi juga proses yang menyertainya.

Pengertian ini diperkuat dengan makna meta sendiri. Berberapa kamus Yunani menjelaskan bahwa meta adalah sebuah preposisi yang sebenarnya memiliki arti dasar yaitu ditengah. Sabda (OLB versi Indonesia) 3.00 versi Beta juga mendefenisikan meta dengan sesudah; dibelakang; dengan; diantara; terhadap. Jadi, jelas sekali meta yang dimaksud disini tidak hanya bicara diakhir, tapi juga diawal dan ditengah. Pocket Oxford Doctionary juga menjelaskan kata change sebagai making or becoming different akhiran v-ing menunjukan bahwa proses sedang terjadi ke arah perubahan.

Kesimpulan

Jika mendefenisikan pertobatan dengan lebih dalam sebenarnya itu harus dilihat sebagai suatu proses yang utuh sebagai satu kesatuan. Artinya pertobatan tidak hanya dilihat sebagai satu titik momen peristiwa tapi sebagai sebuah garis sejarah. Pertobatan tidak hanya menitikberatkan pandangan pada satu sudut pandang saja, tapi pada rentangan atau rentetan peristiwa itu sendiri.

Seorang penjudi dalam jatuh bangunnya dia dalam kesadarannya sebagai seorang pendosa dan kesadarannya akan seorang Juru Selamat juga masih bisa mendapat sematan seorang petobat. Mengingat pertobatan itu harus dilihat sebagai sebuah proses yang hidup dan penuh dengan fluktuasi.

Dalam natur kedagingan yang masih memiliki kecenderung untuk berdosa, di dunia ini tidak akan ditemukan apa itu pertobatan yang sejati dimana manusia sampai pada fase TIDAK. Pertobatan yang sejati yang dimaksudkan beliau adalah pertobatan yang asli dan murni dimana ruang untuk dosa sudah tidak bisa hadir dalam daging. Kondisi ini jelas hanya bisa ditemui jika kelak kita bertemu Bapa di Surga.

Pengalaman manusia menunjukan sebuah siklus yang terus berputar. Artinya ada fase-fase dalam hidup yang sudah pernah dilalui kemudian mucul lagi dilain waktu. Contoh fase anak-anak dalam hidup akan segera kembali ketika seseorang itu sudah menginjak usia senja, pubertas pada pria akan datang menghampiri lagi pada usia 40 tahun, dan fakta ini juga berlaku bagi dosa. Seberapa sering kita menyesali tindakan dosa ketika kita sudah menyadari bahwa kita (sebenarnya) sudah menang di bagian itu bertahun-tahun yang lalu namun entah kenapa dosa itu terulang lagi? Ini membuktikan tidak seorang pun manusia mampu melewati fase point of no return itu.

Pertobatan yang sejati sebenarnya harus dipandang dari sudut pandang anugerah. Harusnya disadari bahwa apapun perubahan yang berhasil dibuat oleh manusia sebenarnya itu bukan karena usahanya sendiri tapi karena Roh Kudus yang bekerja di dalamnya. Pertobatan yang sejati itu sebaiknya diartikan sebagai pergerakan Roh Allah yang bisa murni dan asli dan aktif bekerja dalam roh, jiwa, dan tubuhnya dimana Roh Kudus itu menyertai dalam dinamika dan fluktuasi proses pertobatan itu sendiri. Amin!
 

Purnawan Kristanto's picture

Bingung!!

 Terus terang saya kesulitan memahami makna judul tulisan ini.

 


 www.purnawan.web.id

__________________

------------

Communicating good news in good ways