Sekitar awal tahun 1990, saya masih berumur sekitar sembilan tahun. Saya duduk di meja makan di suatu pagi di hari Sabtu. Sepupu saya yang umurnya setahun lebih muda dari saya duduk di kursi yang tepat di depan saya. Silvia. Itulah namanya. Dia menginap di rumah sejak semalam, karena orang tuanya harus pergi menjalankan tugas darurat selama tiga hari.
Tiba-tiba Silvia memegang kartu remi, mengacungkannya secara vertikal dan berkata,"Coba tebak, berapa kartu yang saya pegang?"
Saya melihat sisinya tidak tebal. Jadi tidak mungkin ada sekitar lima atau sepuluh lembar kartu atau bahkan lebih. Tapi saya juga tidak bisa menghitung berapa kartu yang ada di situ karena terhalang oleh jari-jarinya.
"Kurang dari tiga, ya?" Tanya saya.
Dengan polosnya dia mengangguk. Lalu berkata,"Tebak dong."
"Dua" Jawab saya.
Dia berteriak,"Kok tahu sih, tahu dari mana?"
Saya hanya tersenyum.
Saya kembali meneruskan sarapan pagi saya. Tiba-tiba dia berkata lagi,"Coba tebak, ada berapa kartu?"
Saya lihat sisi sampingnya tidak berubah. Tidak tebal. Dengan cepat saya menjawab,"Cuma ada satu kartu."
Dia berteriak lagi,"Kok bisa tahu lagi? Tahu dari mana!"
Saya tersenyum lagi, kemudian menghabiskan sarapan saya. Lalu memungut semua kartu remi yang berhamburan sejak dari sebelum dia datang ke meja makan sudah ada di situ. Dan menaruh semuanya di genggaman tangannya.
Dia sekarang sudah menjadi dokter gigi. Dan begitu dia melakukan praktek pertama menjadi dokter gigi, saya sudah tahu bahwa apa yang saya lakukan saat itu kepadanya adalah semacam Cold Reading.
Cold reading. Apakah itu? Terjemahan literalnya adalah pembacaan dingin. Bukan berarti harus membaca di dalam kulkas atau membaca selagi mandi. Tapi istilah cold reading diambil dari bidang teater atau teatrikal. Ketika seorang calon pemain membaca naskah untuk memperlihatkan bahwa dia memiliki kemampuan yang tepat untuk memainkan peran tersebut, di situlah orang tersebut melakukan cold reading.
Istilah ini makin populer dalam dua puluh terakhir ini, terutama dalam bidang entertainment. Menurut definisi saya, cold reading adalah "Teknik memberikan informasi yang tepat mengenai seseorang atau hal-hal yang menyangkut orang tersebut tanpa kita kenal dengan orang tersebut, dengan menggunakan berbagai petunjuk yang tersembunyi dan memakai data yang umum."
Ketika seseorang melakukan cold reading, yang dilakukannya hanyalah seperti melemparkan umpan yang terikat di ujung kail, untuk melihat siapa yang akan memakan umpan tersebut. Di dalam sungai, danau atau laut, pasti ada saja ikan yang lapar dan akan memakan umpan tersebut. Jadi umpan tersebut adalah data general yang kita berikan kepada orang tersebut.
Selama bertahun-tahun, saya sudah tidak ingat berapa wanita yang saya sudah tiduri karena menggunakan teknik ini. Bahkan ada saat-saat di mana saya pun tidak sadar menggunakannya. Bukan karena saya terlalu mahir, tapi karena teknik ini sangat amat mudah digunakan.
Saya masih ingat ketika saya ngobrol dengan seorang gadis cantik, teman dari teman saya. Saat itu saya dengan tiba-tiba -setelah mengobrol ngalor ngidul dengannya selama 10-15 menit- berkata,"Kamu lagi ada masalah ya?" Dia terkejut, kaget. Terlihat jelas di wajahnya.
Dia bilang bahwa tidak ada seorang pun yang tahu bahwa dirinya memiliki masalah kecuali Tuhan (karena dia hanya berdoa menceritakan masalahnya kepada Tuhan). Di situ dia membuka diri dan menceritakan semua rahasia pribadinya. Padahal kalau saja dia mau berpikir sedikit saja, pertanyaan tersebut berlaku buat siapa saja dan di mana saja. Siapa di dunia ini yang hidup tanpa memiliki masalah?
Saya juga masih ingat ketika teman akrab saya tertawa terbahak-bahak ketika menggunakan cara yang sama ke seorang wanita lain yang ditemuinya di internet. Wanita tersebut selama bertahun-tahun mencari keberadaan teman saya ini karena sudah tidak pernah kelihatan keberadaannya di internet.
Suatu hari saya sempat ngobrol atau chatting dengan wanita ini, bertanya kepada saya, di mana teman saya itu. Saya bilang dia memang sudah lama tidak online. Saya tanya kenapa dia tertarik dengan teman saya itu. Wanita ini bilang,"Dia bisa menubuatkan (dia pakai kata menubuatkan karena dia aktivis atau pelayan sebuah gereja karismatik) bahwa saya orang yang lonely, sampai saya pernah memotret diri saya sendiri di kamar karena tidak ada orang yang mau membantu saya memotret. Kalau itu bukan dari Tuhan, dari mana lagi?" Saya mati tertawa saat itu. Teman saya ini memang kurang ajar.
Saya beritahukan tentang obrolan saya ke teman saya ini. Dia bilang,"Yah begitulah. Rata-rata wanita kan memang suka mengambil foto mereka sendiri lewat handphone, entah itu di mobil, di kamar, di kantor." Jadi "nubuatan" itu memang bisa dilakukan dengan mudah, untuk wanita mana saja, apalagi kalau si wanita gemar online, suka bergaya, punya profile Friendster, Facebook, atau yang lainnya. Maka kemungkinan bahwa dia memotret dirinya sendiri akan semakin besar. Bahkan tak jarang para pria pun gemar memotret diri sendiri dengan memakai handphone.
Praktek atau teknik cold reading sebenarnya sudah dipakai dari jaman dahulu. Bangsa Yunani yang terkenal memiliki oracles, ternyata juga pernah punya pengalaman pahit dengan ini. Salah satu oracles terhebat dalam sejarah mereka adalah Oracle di kota Delphi karena dia meramalkan hal-hal lebih akurat dibandingkan para oracles yang ada di Yunani.
Suatu hari raja Croesus meminta nasihat kepada Oracle Delphi sebelum melakukan rencana penyerangan ke Persia. Sang oracle berkata,"Jika engkau melintasi sungai, kerajaan yang hebat akan dikalahkan." Croesus mempercayai nasihat tersebut sebagai kepastian kemenangan bagi kerajaannya. Namun kenyataan menunjukkan sebaliknya. Persia menghantam balik dan Croesus kalah telak. Apakah Oracle salah? Oracle tidak salah. Dia pintar. Dalam suatu peperangan, pasti ada yang kalah. Oracle Delphi tidak menyebutkan kerajaan mana yang akan kalah.
Dalam melakukan cold reading, seseorang praktisi diharapkan bahkan diharuskan tidak pernah salah. Bagaimana mungkin seseorang tidak pernah salah dalam menerapkan cold reading? Mudah. Anda pastinya sudah mendapatkan jawabannya setelah membaca cerita dan contoh-contoh di atas.
Untuk membagi sedikit lagi dari cold reading yang sering dipakai di mana-mana, saya akan memaparkan beberapa poin dari buku The Full Facts Book of Cold Reading karya Ian Rowland. Dalam bukunya, ia menekankan hal-hal yang selalu dilakukan oleh para praktisi cold reading, misalnya:
1. The Rainbow Ruse
Teknik yang digunakan adalah mendeskripsikan hal umum mengenai seseorang atau sesuatu, tapi pada saat yang sama juga memberikan hal umum yang berlawan. Misalnya: "Anda adalah seseorang yang sangat baik hati, tetapi terkadang anda tidak peduli dengan keadaan orang lain."
Pernyataan ini bisa berlaku buat siapa saja. Dan tidak akan pernah salah karena seorang manusia memiliki pribadi yang kompleks, ada kebaikan-kebaikan dan kekurangan-kekurangan di dalam diri seseorang. Yang harus dilakukan adalah melemparkan umpan yang sifatnya umum.
2. Sugar Lumps
Teknik yang digunakan adalah memberikan hal-hal yang sifatnya manis mengenai orang tersebut, tetapi tetap dengan mengatakan sesuatu yang sifatnya seperti merupakan kebenaran. Misalnya: "Sebenarnya anda itu orang yang pandai dan peduli dengan orang lain, buktinya banyak sekali hal yang anda pikirkan, termasuk tentang diri anda dan tentang orang lain." Contoh pernyataan tersebut bisa diaplikasikan ke siapa saja. Siapa di dunia ini yang tidak pernah berpikir tentang dirinya sendiri dan tentang orang lain?
3. Jacques Statement
Teknik yang digunakan adalah mengungkapkan masa lalu seseorang. Jacque adalah seorang karakter di dalam karya Shakespeare "As You like it". Misalnya,"Ingatkah ketika engkau kecil, engkau orang yang periang, suka bermain, dan ketika engkau beranjak remaja, engkau gemar bermimpi, memiliki impian dan cita-cita. Sekarang engkau merasa banyak hal yang engkau tidak bisa gapai, dan engkau tidak seperti yang engkau harapkan sewaktu engkau masih kecil?" Pernyataan ini bakal jadi sesuatu yang benar buat hampir semua orang.Tapi buat orang-orang yang diramal atau dinubuatkan dengan pernyataan semacam itu, mereka akan menyangka bahwa anda adalah orang yang memiliki kemampuan khusus.
Cold reading adalah teknik yang -sadar atau tidak sadar- dipakai oleh hampir semua orang. Baik itu oleh penulis horoskop, tukang ramal, dukun, tukang sulap, para ilusionis atau mentalis menghibur di layar televisi, bahkan para pendeta di gereja atau para pemimpin agama lainnya.
Sumbernya bisa dari mana saja, misalnya dari ayat-ayat di kitab suci ("masa depanmu penuh harapan", "engkau akan diberkati berlimpah-limpah"), dari judul-judul di surat kabar dan di majalah ("ada seorang terkenal akan mati tahun ini", "akan ada bencana di akhir tahun ini"), bahkan dari sifat dan karakter manusia pada umumnya ("engkau baik", "engkau tidak mudah menyerah", "engkau punya potensi yang besar"). Tidak harus menjadi pemimpin agama, atau punya talenta atau karunia, atau mesti memiliki indera keenam atau ketujuh. Siapa pun bisa melakukannya.