Menurut sepengetahuan saya, orang-orang tionghua mulai masuk ke dalam kepulauan Sunda Kalapa pada abad 16 setelah VOC yang sudah masuk pada abad 15. Masuknya VOC dalam rangka penjajahan, sedangkan masuknya bangsa tionghua adalah dalam rangka berdagang.
Dalam pandangan VOC, bangsa tionghua memiliki begitu banyak potensi yang sangat membantu perkembangan kota Sunda Kalapa yang juga disebut Batavia yang dinamai oleh VOC dan tentunya membantu pertumbuhan ekonomi Batavia.
Akhirnya bangsa tionghua diberi kesempetan untuk bekerja sama dengan VOC dalam bidang perdagangan tetapi masih di bawah kekuasaan VOC. Pada masa itu VOC berada dalam kasta tertinggi, sementara bangsa tionghua berada di posisi kasta tingkat kedua di bawah VOC dan pribumi berada pada kasta paling bawah.
Dalam waktu singkat, pertumbuhan penduduk bangsa tionghua khususnya meningkat drastis dan cepat, sehingga menjadi suatu komunitas mayoritas terhadap pribumi di Batavia pada masa itu. Sehingga bangsa tionghua ngelunjak dalam bidang moralnya, karna merasa mereka sudah menjadi penduduk mayoritas, sehingga mereka menginjak-injak penduduk pribumi yang masih minoritas dan terbuang pada masa itu.
Akhirnya pada abad 17 tepatnya pada tahun 1740, VOC bertindak, membantai habis berkisar kira-kira 10.000 orang lebih bangsa tionghua. Mereka ada yang dibakar hidup-hidup, diperkosa dan dicemplungkan ke dalam sungai setelah dibunuh.
Kisah pembantaian orang-orang tionghua terjadi kembali pada tahun 1998 silam. Sewaktu presiden Soeharto didesak turun dari tahta kepresidennya oleh demo anarkis para mahasiswa. Mungkin ada yang bertanya, mengapa orang-orang tionghua selalu menjadi sasaran anarkis? Jawabannya adalah, memang sejak kejadian pembantaian orang-orang tionghua pada tahun 1740 silam itu, karna ulah orang-orang tionghua sendiri, yang terlalu sombong dan tak bernurani.
Mungkin ada kebanyakan orang-orang tionghua tidak setuju bahkan menuduh saya terlalu arogan, saya tidak takut, saya hanya berharap bangsa tionghua boleh belajar, bagaimana harus hidup dalam kesetaraan derajat dan tidak memandang hina dan rendah suku-suku lain yang dianggap hina, bodoh dan miskin.