Submitted by tonypaulo on

Menjadi suatu kerinduan saya untuk merespon bahwa kegerakan anak-anak Tuhan untuk “mengekspansi” ladang market-place, memang harus diperlengkapi dengan pemahaman yang kontekstual dan relevan, karena dalam bertinju dengan meninjau ke segala arah tentu akan melelahkan diri sendiri dan menghabiskan energi.

Rasul Paulus memberikan suatu pengertian sebagai suatu pembuka pembahasan ini

1 Kor 9:25-27  Tiap-tiap orang yang turut mengambil bagian dalam pertandingan, menguasai dirinya dalam segala hal. Mereka berbuat demikian untuk memperoleh suatu mahkota yang fana, tetapi kita untuk memperoleh suatu mahkota yang abadi.

(26)Sebab itu aku tidak berlari tanpa tujuan dan aku bukan petinju yang sembarangan saja memukul.

(27)Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak.

Banyak mungkin anak-anak Tuhan, termasuk saya tentunya, ketika dalam suatu ibadah KKR yang memiliki tema untuk meraih market-place sebagai suatu teritori untuk nama Tuhan dimuliakan, begitu berapi-api dan bersemangat, namun ketika kembali ke market-place baik sebagai pekerja atau pengusaha, seolah-olah kehilangan focus, darimana memulai dan bagaimana memulainya?

Kali  ini saya ingin memulainya dari kata KOMPETENSI, mengapa saya memulai dari kata tersebut? Dalam market-place yang mengagungkan keunggulan dalam persaingan (competitive advantage), kata kompetensi merupakan roh dari pilar-pilar keunggulan dalam persaingan. Beberapa metode manajemen peningkatan performa organisasi seperti Balance ScoreCard (BSC) atau Six Sigma, dsb menekankan bahwa kontribusi terpenting dan terutama dalam suatu sistem adalah sumber daya manusia, BSC menangkap esensinya dengan mengurainya dalam learning & growth perspektif sebagai pondasi perspektif selanjutnya, sedangkan Six Sigma untuk menentukan Key Business Objective (KBO) tentu memerlukan daya analisa dari SDMnya .

Dari rangkaian Paulus yang menyatakan “berlari” dengan tujuan, “bertinju” secara efektif dan “melatih” tubuhku, buat saya itu sudah suatu proses dalam pembentukan kompetensi, dilengkapi dengan metode-metode hasil induksi atau deduksi empiri yang ada, dengan bahasa yang “sederhana”, anak-anak Tuhan jika ingin meraih market-place untuk nama Tuhan dipermuliakan, harus memiliki kompetensi. Karena tanpa “bahasa” yang dapat diterima oleh kalangan market-place, mustahil market-place bisa dimenangkan bagi Tuhan.

Mengapa dengan sangat “berani” saya menyatakan mustahil? Apa saya sudah kehilangan kepercayaan kepada kuasa dan mujijat Tuhan?.

Tidak, sampai saat ini dan selamanya saya percaya bahwa kuasa dan mujijat Tuhan itu akan selalu ada dan berlaku, namun bukan berarti anak-anak Tuhan yang seharusnya menjadi “garam dan terang”, tidak dapat berbicara banyak dalam market-place disebabkan ketidakmauan dan ketidakperdulian (ignorance) terhadap suatu realitas market-place itu sendiri.

Kita tidak bisa menjadi surat terbuka Kristus dalam keseharian di “ruang” market-place, ketika dalam pekerjaan atau dalam usaha kita, sering salah, tidak disiplin, curang, manipulatif, bahkan menetap di zona aman yang akhirnya “ter-kristalisasi” menjadi orang-orang medioker. Orang-orang yang tampil seadanya dikarenakannya ke-enganannya untuk bekerja lebih keras dan memberikan yang terbaik dari dirinya.

Sementara orang-orang dalam market-place adalah orang-orang yang “haus dan lapar” akan prestasi, performa dan dedikasi, jika kita tidak bisa tampil lebih cemerlang dari orang-orang yang belum menKejal Tuhan Yesus, kita tidak bisa berharap banyak bahwa Tuhan akan berharap banyak kepada kita.

Memang secara eksplisit Tuhan Yesus tidak pernah mengatakan “Jadilah yang terbaik” kepada orang-orang percaya, namun sebenarnya lebih dari itu Tuhan Yesus memiliki suatu kegairahan yang luar biasa ketika IA menyampaikan :

Mat 5:13-16  "Kamu adalah garam dunia. Jika garam itu menjadi tawar, dengan apakah ia diasinkan? Tidak ada lagi gunanya selain dibuang dan diinjak orang.

 

(14)Kamu adalah terang dunia. Kota yang terletak di atas gunung tidak mungkin tersembunyi.

 

(15)Lagipula orang tidak menyalakan pelita lalu meletakkannya di bawah gantang, melainkan di atas kaki dian sehingga menerangi semua orang di dalam rumah itu.

 

(16)Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga."

 

Kegairahan Tuhan Yesus bukan sekedar orang-orang percaya menjadi terbaik, lebih dari itu menjadi Terang Dunia, kota yang terletak diatas gunung, pelita yang diatas kaki dian.

Tuhan Yesus bukan sekedar menaruh harapan kepada orang-orang percaya, ketika Tuhan Yesus menyatakan dengan tegas dan pasti bahwa “kamu adalah…..”, jelas itu suatu kalimat deklarasi buat orang percaya, ya Tuhan Yesus memproklamirkan bahwa orang-orang percaya adalah garam dan terang. Itu bukan kalimat yang main-main, atau kalimat yang sekedar menyenangkan hati saja

Dengan kata lain Tuhan Yesus mencoba menyampaikan ; “kamu bukan sekedar yang terbaik, namun kamu adalah garam dan terang”. Ketika Tuhan sudah memberikan konfirmasi melalui deklarasinya kepada setiap orang percaya, untuk menjadi lebih dari yang terbaik (lebih dari orang yang menang) itu sudah menjadi otoritas setiap orang percaya untuk menjadi orang-orang yang dapat mengarami dan menjadi terang.

Saya ulangi, saya dan anda adalah pemegang otoritas dari orang-orang yang dapat memberikan dampak, karena Tuhan sudah mendelegasikan otoritas itu kepada setiap orang percaya

Ketika Tuhan bicara tentang garam dan terang, sudah jelas bahwa garam untuk mengasinkan, di tengah dunia market-place yang terasa hambar, dimana seolah-olah manusia hanya berfungsi sebagai “mesin bisnis”apalagi ditenggah resesi global saat ini, hanya orang-orang yang menetap didalam kerajaan yang tidak tergoncangkanlah yang dapat menjadi garam dan memberikan dampak yang berbeda yang dibutuhkan oleh dunia market-place

Ibr 12:28  Jadi, karena kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut.

Terang itu juga merupakan suatu syarat utama dalam manusia beraktifitas, mungkin manusia bisa tetap beraktifitas ataupun bekerja dalam kegelapan dengan ketiadaan terang, namun sangatlah tidak nyaman dan apa yang dikerjakan tidak bisa dibedakan benar atau tidaknya.

Begitu pula kota diatas gunung atau pelita diatas kaki dian, itu merupakan suatu sumber “inspirasi” bagi orang yang dalam rumah yang diterangi. Baik garam, terang, kota diatas bukit dan pelita menyampaikan suatu esensi yang harus menjadi impresi bagi setiap anak-anak Tuhan, impresi itu adalah keteladanan.

Namun bagaimana kita dapat menunjukan keteledanan ketika kita tidak memiliki kompetensi? Kita tidak menjadi orang-orang yang cakap dalam perkara yang dipercayakan Tuhan kepada kita? Kita juga tidak bisa menghadapi dinamika problema dalam ruang market-place dengan berkata “jadilah….”, Tuhan tidak pernah mengajarkan anak-anak Nya jadi “tukang sulap” atau “tukang bersembunyi”. Mau tidak mau anak-anak Tuhan memang harus memiliki kompetensi agar dapat menjadi “problem solver” bukan malah menjadi “problem maker” karena sifat medioker dan ketidak-kompetenannya.

Bukan karena saya seorang praktisi HR, saya ngotot bahwa setiap anak-anak Tuhan harus memiliki kompetensi, sebagai suatu syarat untuk bisa disebut sebagai anak-anak Tuhan, namun kita hidup dijaman yang begitu banyak kondisi-kondisi yang harus dipecahkan melalui kompetensi.

Setiap kita saya percaya diberikan kompetensi itu pasti, Tuhan tidak sekedar menyelamatkan dan menyertai, namun ia ALLAH yang memperlengkapi, kita saja yang sering tidak menyadarinya

Mat 25:15  Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

 

Ibr 13:20-21  Maka Allah damai sejahtera, yang oleh darah perjanjian yang kekal telah membawa kembali dari antara orang mati Gembala Agung segala domba, yaitu Yesus, Tuhan kita,  kiranya memperlengkapi kamu dengan segala yang baik untuk melakukan kehendak-Nya, dan mengerjakan di dalam kita apa yang berkenan kepada-Nya, oleh Yesus Kristus. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! Amin.

 

Jadi tidak ada lagi ada alasan bagi orang-orang percaya bahwa dalam dirinya ia tidak diperlengkapi oleh Tuhan, jika memang demikian kenyataannya yang merasa demikian, boleh mengajukan “tuntutan” kepada Tuhan, mengapa ia tidak diberikan talenta sama sekali atau satu kompetensi sama sekali, saya percaya Tuhan dengan kelembutan-Nya akan memberikan penjelasan “dimana” talenta dan kompetensi itu tersembunyi.

Ada suatu rumusan menKejai  formulasi dari performa dari setiap individu ;

Performance = competencies x motivation x value

Bahwa performa seseorang adalah hasil “perkalian” antara kompetensi, motivasi dan nilai-nilai yang dihidupinya, meski formula itu dihasilkan oleh pemikir “sekuler”, saya sepakat dengan rumusan tersebut, karena dalam dunia market-place ukuran performa baik secara individu, tim dan korporasi menjadi mutlak dan signifikan artinya.

 

Lebih lanjut mari kita rangkaikan dengan aplikasi yang ada berdasarkan tinjauan teoritis dan praktis-nya

Apa sebenarnya yang dimaksudkan dengan kompetensi?

competence : the ability to do the tasks required in a job _ The training sessions are intended to increase staff competence.

 

competence framework the set of duties or tasks performed as part of a job with the standards which should be achieved in these duties

 

kemudian apa saja yang menjadi pembentuk dan lapisan dari kompetensi itu sendiri

k1,jpg  

Dalam kompetensi itu sendiri ada area yang nampak(visible) dan ada area yang belum nampak (hidden), area yang nampak meliput ketrampilan dan pengetahuan, sedang area yang belum nampak adalah konsep diri, preferensi kepribadian dan motivasi, yang mau disampaikan bahwa dalam fenomena puncak es, ketrampilan dan pengetahuan itu secara transparan dapat terlihat dibandingkan dengan konsep diri, kepribadian dan motivasi yang juga menjadi pondasi pembentuk dari ketrampilan dan pengetahuan, misalnya orang yang tekun membaca buku-buku manajemen, relatif memiliki pengetahuan mengenai manajemen dibandingkan orang yang tidak suka membaca.

k2.jpg

 

  

Kemudian lebih dijelaskan lagi, bahwa prilaku yang dapat diamati, adalah puncak gunung es yang Nampak dipermukaan, sedang lapisan-lapisan yang membentuknya terdiri dari motivasi, kepribadian dan ketrampilan serta pengetahuan.

Misalnya motivasi orang tersebut adalah untuk mengembangkan dirinya selalu, sedang sifat kepribadiannya adalah pembelajar yang cepat sehingga ia memiliki ketrampilan untuk berkomunikasi dengan baik dan memiliki pengetahuan sesuai dengan hubungan pekerjaannya.

Untuk memberikan suatu pemahaman yang lebih komprehensif dan aplikatif, sesuai dengan rincian kompetensi yang dimiliki oleh salah satu perusahan aviasi di Inggris dengan praktek yang sebenarnya sudah dilakukan oleh orang percaya di dalam Alkitab terkhusus dilakukan oleh Yusuf ;

 

 

Ket

Atribut atau karakter yang dimiliki Yusuf

Core competencies

 

Passion for customer service

 

 

 

 

 

Jiwa melayani orang lain

Kej 40:6  Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati.

Kej 40:7  Lalu ia bertanya kepada pegawai-pegawai istana Firaun yang ditahan bersama-sama dengan dia dalam rumah tuannya itu: "Mengapakah hari ini mukamu semuram itu?"

 

Yusuf sungguh memiliki empati dan sifat yang suka melayani orang lain, ketika orang lain yang dari bahasa tubuhnya terlihat sedang kesulitan, Yusuf mau menunjukan keperduliannya dan bertanya kepada orang yang dalam kesulitan tersebut

Ini merupakan suatu kompetensi yang sebenarnya dimiliki oleh setiap orang percaya, perwujudan kasih melalui keperdulian

 

Tuhan memberikan perintah untuk memiliki sikap keperdulian yang tinggi

 

Mat 25:35  Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan;

 

Mat 25:36  ketika Aku telanjang, kamu memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku; ketika Aku di dalam penjara, kamu mengunjungi Aku.

 

1Tim 3:13  Karena mereka yang melayani dengan baik beroleh kedudukan yang baik sehingga dalam iman kepada Kristus Yesus mereka dapat bersaksi dengan leluasa.

 

Apa yang diperintahkan Tuhan itu sesuai dengan kebutuhan akan kompetensi semangat  untuk memberikan service kepada customer (customer service)

 

Teamwork

 

Kemampuan dalam bekerjasama

Kej 39:22  Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.

 

Yusuf mengurus logistic para tahanan dalam penjara tersebut, tentu dalam mengurus urusan perbekalan/logistic Yusuf dituntut dapat bekerja sama, apalagi Yusuf adalah seorang asing di suatu negri yang memiliki latar belakan budaya yang berbeda, namun tercatat bahwa Yusuf menjadi orang kepercayaan dari kepala penjara, tanpa kemampuan kerja sama yang baik tentu Yusuf tidak akan berhasil dalam pekerjaannya

 

Ef 4:2  Hendaklah kamu selalu rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Tunjukkanlah kasihmu dalam hal saling membantu.

 

Ef 4:3  Dan berusahalah memelihara kesatuan Roh oleh ikatan damai sejahtera:

 

Kis 18:3  Dan karena mereka melakukan pekerjaan yang sama, ia tinggal bersama-sama dengan mereka. Mereka bekerja bersama-sama, karena mereka sama-sama tukang kemah.

 

Gal 6:2  Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.

 

Dalam Firman orang percaya tidak hanya di dorong untuk bekerja sama, namun juga saling menanggung beban, kemampuan bekerja-sama ini bukan hanya sekedar sama-sama bekerja namun mengerjakan sesuatu dengan kesamaan visi, persepsi dan ritme kerja. Bukan berarti orang percaya jika bekerja sama dengan orang yang belum percaya harus memaksakan visi dan persepsinya, namun dalam kemampuan teamwork, banyak peran yang dapat diambil oleh orang percaya untuk mengerakan teamwork tersebut

 

Achievement drive

 

Dorongan untuk berprestasi

Kej 39:2  Tetapi TUHAN menyertai Yusuf, sehingga ia menjadi seorang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya; maka tinggallah ia di rumah tuannya, orang Mesir itu.

 

Yusuf tidak sekedar meratapi “nasibnya”, walaupun ia menghadapi suatu kenyataan pahit, dimana sebelumnya ia adalah anak kesayangan ayahnya dan agak cenderung diproteksi,ia harus menjadi budak di negri asing, bisa dibanyangkan kesulitan-kesulitan seperti kesulitan dalam memahami bahasa, lingkungan yang berbeda kebudayaan, dsb

 

Namun Yusuf tidak terpuruk dengan keterbatasan dan kesulitan serta kenyataan yang pahit yang dialaminya, Yusuf bukan sekedar tegar namun ia mendorong dirinya untuk berprestasi dalam pekerjaannya.

 

Yusuf bekerja keras dan ia disertai oleh Tuhan, setiap anak-anak Tuhan sebenarnya mempunyai hak yang sama seperti Yusuf, dan Yusuf bisa menjadi teladan hidup bagi anak-anak Tuhan, yang walaupun punya banyak alasan untuk terpuruk namun memilih untuk bekerja keras dan berprestasi sehingga dapat memberikan dampak bagi lingkungannya

 

 

Bicara keberhasilan dan dorongan untuk berprestasi atau memberikan yang terbaik adalah kodrat dari Tuhan itu sendiri.

 

Ketika IA menyiapkan segalanya untuk manusia, IA menyediakan yang terbaik, bukan sekedar-sekedarnya saja atau “asal jadi”.

 

Mentalitas medioker harus dienyahkan dari karakter anak-anak Tuhan, kita tidak bisa tahu sampai kapan kita hidup, hidupilah hari ini sebaik-baiknya seakan-akan esok tiada hari lagi, berikanlah dan upayakanlah yang terbaik dari setiap kesempatan sekecil apapun juga

 

Maz 127:4  Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda.

Kita ini adalah anak-anak panah di tangan pahlawan, our super hero is JESUS, setiap kita memiliki purpose masing-masing, persiapkan diri kita sebaik-baiknya dengan melatih diri melakukan yang terbaik dari hal-hal yang kecil yang biasa kita lakukan

 

Perkara yang besar dimulai dari perkara yang kecil, keberhasilan yang besar dimulai dari keberhasilan untuk hal-hal yang kecil

 

Initiative

 

Menginisiasikan suatu ide atau perbaikan

Kej 39:8  Tetapi Yusuf menolak dan berkata kepada isteri tuannya itu: "Dengan bantuanku tuanku itu tidak lagi mengatur apa yang ada di rumah ini dan ia telah menyerahkan segala miliknya pada kekuasaanku,

 

Saya ingin menyoroti kalimat “ tidak lagi mengatur apa yang ada dirumah ini”, berarti sebelum Yusuf hadir dan bekerja di tempat Potifar, Potifar masih mengatur beberapa hal dalam rumahnya, Potifar masih campur tanggan untuk urusan-urusan rumah tangganya

 

Namun ketika Yusuf bekerja dan terus mendapatkan kepercayaan, saya sangat yakin bahwa Yusuf berinisiatif untuk mengerjakan tugas-tugas pengaturan yang mungkin selama ini masih dikerjakan oleh Potifar sendiri, sehingga secara perlahan-lahan Potifar mendelegasikan dan menyerahkan apa-apa yang sebelumnya masih diatur oleh Potifar karena melihat inisiatif yang Yusuf lakukan memberikan hasil kerja yang memuaskan.

 

 

Tuhan Yesus sendiri pernah berpesan kepada orang-orang percaya :

 

Mat 7:12  "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

 

Jelas kalimat perbuatlah sesuatu yang ingin kita kehendaki orang lain perbuat kepada kita itu mengandung arti aktif atau inisiatif.

 

Artinya jika kita ingin orang lain ramah kepada kita, tersenyumlah terlebih dahulu kepada orang tersebut, bukan menunggu orang itu tersenyum lebih dahulu, artinya Tuhan mengingginkan orang-orang percaya yang aktif berinisiatif bukan menjadi pasif menunggu diperintah-perintah.

 

Kandungan makna dalam Mat 7:12 sungguh dalam dan sentral, bisa dikatakan itulah hukum interaksi sosial yang paling mumpuni; inisiatif (lakukan terlebih dahulu)

 

Rom 12:10  Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat.

 

Dalam hal mengasihi ditekankan suatu sikap inisiatif dengan mendahului memberikan yang terbaik dan melakukan yang terbaik

 

Role-specific competencies

 

Influencing business

 

Impact and influence

 

Memiliki kehidupan yang berdampak dan berpengaruh

Kej 41:39  Kata Firaun kepada Yusuf: "Oleh karena Allah telah memberitahukan semuanya ini kepadamu, tidaklah ada orang yang demikian berakal budi dan bijaksana seperti engkau.

Kej 41:40  Engkaulah menjadi kuasa atas istanaku, dan kepada perintahmu seluruh rakyatku akan taat; hanya takhta inilah kelebihanku dari padamu."

Kej 41:41  Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir."

 

Kisah Yusuf sangat memberikan insipirasi bagi saya pribadi, bukan karena “cinderela syndrome”, namun determinasi dan ketegaran Yusuf menghadapi yang Tuhan ijinkan terjadi dalam hidupnya

 

Dari saat di rumah Potifar, Yusuf memang sudah memiliki kehidupan yan berdampak dan berpengaruh, di dalam penjara pun demikian

 

Col 3:23  Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan seKejap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.

 

Memiliki kehidupan berdampak dan berpengaruh kepada orang banyak, adalah suatu kodrat bagi setiap anak-anak Tuhan yang terpanggil menjadi dampak di tenggah lingkungannya masing-masing.

 

Kehidupan orang percaya berbicara tentang dampak, dapat dibayangkan bagaimana ketika 11 rasul dan simpatisan (orang percaya), membentuk suatu komunitas (jemaat mula-mula), kemudian menghasilkan dampak (multiplikasi) menjadi 3000an orang (Kis 2:41), kemudian menjadi miliaran orang hingga saat ini.

 

Mat 21:19  Dekat jalan Ia melihat pohon ara lalu pergi ke situ, tetapi Ia tidak mendapat apa-apa pada pohon itu selain daun-daun saja. Kata-Nya kepada pohon itu: "Engkau tidak akan berbuah lagi selama-lamanya!" Dan seketika itu juga keringlah pohon ara itu.

 

Tuhan Yesus dalam suatu saat pernah  begitu “berharap” kepada pohon ara, apalagi kepada orang-orang yang dikasihi-Nya, IA menaruhkan harapan agar setiap orang percaya memiliki suatu kehidupan yang berdampak untuk membesarkan kerajaan sorga.

 

Planning and organising

 

Memiliki kemampuan untuk merencanakan dan mengorganisasi

Kej 41:33  Oleh sebab itu, baiklah tuanku Firaun mencari seorang yang berakal budi dan bijaksana, dan mengangkatnya menjadi kuasa atas tanah Mesir.

 

Kej 41:34  Baiklah juga tuanku Firaun berbuat begini, yakni menempatkan penilik-penilik atas negeri ini dan dalam ketujuh tahun kelimpahan itu memungut seperlima dari hasil tanah Mesir.

 

Yusuf tidak sekedar dapat mengartikan mimpi saja, saya kagum dengan kemampuan Yusuf berpikir strategis dengan sangat cepat, ia pun mampu menemukan solusi dari permasalahan yang akan dihadapinya dengan membuat suatu perencanaan yang menurut saya sangat brilian.

 

Untuk melakukan suatu forecasting (perkiraan berdasarkan pengamatan), tidaklah mudah, bahkan banyak perusahaan besar khusus menyewa konsultan hanya untuk melakukan forecasting, dan begitu sangat mahal biaya yang dikeluarkan untuk itu, Yusuf secepat kilat sudah bisa melakukan forecasting, dengan memperkirakan bahwa 1/5 hasil tanah dalam 7 tahun masa kelimpahan cukup untuk 7 tahun masa kekeringan, buat saya Yusuf sangat brilian dan jenius.

 

Saya tidak melebih-lebihkan, fakta yang ada belum pernah ada pemikir seperti Yusuf yang dapat melakukan itu, biasanya itu harus dihitung dengan cermat selama beberapa hari lewat pengolahan data, dsb. Saya masih belum bisa memastikan apakah solusi itu hasil dari inspirasi Roh Kudus atau berdasarkan pengalaman Yusuf mengelola logistik di penjara? (atau kombinasi keduanya), namun yang jelas itu adalah kombinasi dari insting dan estimasi yang sangatlah brilian dan terbukti ketika 7 tahun masa kekurangan itu datang

 

Kemampuan planning dan organizing Yusuf buat saya brilian dan membuktikan bahwa orang-orang percayapun mampu melakukan seperti yang dilakukan oleh Yusuf sesuai yang direncanakan Tuhan pada setiap orang percaya

Luk 14:28  Sebab siapakah di antara kamu yang kalau mau mendirikan sebuah menara tidak duduk dahulu membuat anggaran biayanya, kalau-kalau cukup uangnya untuk menyelesaikan pekerjaan itu?

Luk 14:29  Supaya jikalau ia sudah meletakkan dasarnya dan tidak dapat menyelesaikannya, jangan-jangan semua orang yang melihatnya, mengejek dia,

 

Tuhan Yesus sendiri memberikan akal budi agar manusia dapat melakukan perencanaan dan bagaimana mengatur sumber daya (waktu, uang dan SDM) agar suatu pekerjaan dapat terselesaikan dengan baik

 

 

BIla kita bicara perencanaan tentu kita bicara tentang bagaimana sesuatu pekerjaan dapat diselesaikan dengan baik, untuk menyelesaikannya dibutuhkan pengelolaan (organisasi) perencanaan tersebut berjalan sesuai baik dari sisi anggaran, waktu dan tenaga.

 

Banyak sekali pembelajaran menKejai Manajemen (Planning, Organizing, Actualing, Controling) yang dapat diambil dari Alkitab, kita tinggal mengeksplorasikannya saja

 

Communication

 

Kemampuan dalam berkomunikasi dengan baik dan benar

Kej 41:16  Yusuf menyahut Firaun: "Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga yang akan memberitakan kesejahteraan kepada tuanku Firaun."

 

Yusuf memiliki suatu ketrampilan berkomunikasi “sekelas” diplomat, namun sebenarnya Yusuf  hanya mengkomunikasikan apa yang ada dihatinya saja, karena hatinya bersih dan tulus, kata-kata yang keluar dari mulutnya pun menjadi luar biasa, memiliki makna dan dampak.

 

Apalagi ketika Yusuf berbicara bukan dengan bahasa bangsanya, ketika ia berbicara dengan bahasa bangsa asing yang dipelajarinya selama di Mesir, ia tidak mengalami suatu kendala bahasa, bukan saja dalam artian teknis namun ia dapat menjelaskan segala sesuatunya dengan baik. Ini menjadi cerminan bagi kita orang percaya yang punya “bahasa” yang sama terkadang bisa sering salah paham.

 

Beberapa tahun yang lalu, saya berpikir keras kira-kira dalam satu kalimat saja, apa yang mewakili cara berkomunikasi yang baik, untuk menjadi suatu konklusi dari materi training yang akan saya bawakan

 

Thanks God, saya menemukannya (secara orisinil) ;

 

“Good man speak well, Great man speak nothing but truth”

 

Dulu jaman saya kuliah saya pernah mendapatkan suatu sesi seminar menKejati ketrampilan retorika (seni berbicara), saya sangat tertarik untuk mengeksplorasinya lebih dalam lagi, saya pelajari ilmu retorika tersebut, dimana itu dimulai oleh ahli-ahli pidato jaman Yunani, untuk kepentingan politis pada saat itu (dan sampai sekarang). Ada beberapa tehnik yang memang bisa diaplikasikan, dari cara mengolah kata-kata, intonasi, gestur tubuh, dsb.

 

Namun saya tidak menemukan suatu kesejatian esensi dari ilmu retorika tersebut, masih ada yang kurang buat saya (mungkin karena didorong hati nurani), saya coba cari dari Alkitab, apa esensi dari ilmu komunikasi itu sebenarnya

 

Hasilnya? Wow banyak sekali “tersimpan” esensi ilmu komunikasi dalam Alkitab, jika kita eksplorasi saya percaya akan tercipta beberapa buku prinsip dan aplikasi ilmu komunikasi menurut atau berdasarkan kisah di Alkitab

 

Untuk kali ini saya “hanya” sampaikan 3 yang utama saja tentang prinsip komunikasi

 

Kej 3:9  Tetapi TUHAN Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: "Di manakah engkau?"

 

Prinsip pertama adalah; Tuhan Allah kita adalah Allah yang menginginkan dan merindukan komunikasi

 

Tuhan tidak mungkin tidak tahu “dimana Adam dan Hawa” ketika mereka memakan buah pengetahuan itu, namun yang saya sangat kagumi adalah Tuhan masih mau berkomunikasi dengan manusia yang  jelas telah menyakiti hati-Nya, karena itu manusia sebagai mahluk komunikasi, ketrampilan berkomunikasi itu sudah ada dalam diri manusia itu sendiri, tinggal bagaimana manusia itu mau bekerja keras untuk mengembangkannya.

 

Mat 5:37  Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat.

Prinsip kedua adalah; dalam aturan berkomunikasi ada “golden rule”nya, katakan ya jika memang ya, katakan tidak jika memang tidak, jangan sampai karena untuk kepentingan “diplomatis” yang ya kita katakana “seolah-olah” menjadi tidak ya lagi.

 

Diplomasi itu bukan seni untuk menutup-nutupi sesuatu atau menyembunyikan yang tidak baik, namun bagaimana dari yang kondisi yang terburuk kita dapat menyampaikan dengan cara yang terbaik, disinilah seni dari ilmu retorika dan diplomasi, untuk berkelit terhadap sesuatu yang buruk itu mudah dilakukan, namun untuk menyampaikan dengan baik sesuatu yang buruk, itu cerdas namanya. Karena kebenaran seburuk apapun memang harus disampaikan sebagai suatu kebenaran apa adanya.

 

Mat 15:18  Tetapi apa yang keluar dari mulut berasal dari hati dan itulah yang menajiskan orang.

 

Prinsip ketiga adalah ; hati yang belum dibersihkan oleh Tuhan memang akan mengeluarkan perkataan yang selaras dengan “ke-belum-bersihan” hati tersebut.

 

Biasanya orang benar dan baik, sebelum ia bicarapun, ia membawa suasana damai sejahtera dan menyejukan, dan ketika ia bicara ia hanya semakin menegaskan suasana damai sejahtera dan menyejukan itu. Hati yang benar dan mau dikuduskan oleh Tuhan, itulah pusat kehidupan dan pusat komunikasi, jika sumbernya saja sudah banyak “terdistorsi” pesan dan kesannya pun akan tertangkan sebagai suatu “distorsi” (bisa berupa ketidak percayaan, ketidakjelasan dan kesalahpahaman).

 

Dari ketiga prinsip yang diekstraksikan dari Alkitab tersebut, itu prinsip-prinsip komunikasi yang dapat dipegang oleh orang percaya untuk mengingkatkan kompetensi dalam kemampuannya berkomunikasi

 

Interpersonal communication

 

Interpersonal understanding

 

 

Kemampuan untuk mengerti orang lain

 

Kej 41:41  Selanjutnya Firaun berkata kepada Yusuf: "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir."

 

Kej 40:6  Ketika pada waktu pagi Yusuf datang kepada mereka, segera dilihatnya, bahwa mereka bersusah hati.

 

Mengapa Firaun begitu mempercayai kepada Yusuf? Baru saja bertemu namun sudah begitu mempercayai Yusuf?

 

Yusuf mengerti kegelisahan Firaun, Yusuf peka terhadapa permasalahan orang lain, Yusuf memiliki “kemauan” empati yang sungguh dalam.

 

Ketika Firaun merasakan bahwa Yusuf dapat memahaminya, maka tentu faktor tersebut menjadi suatu “alasan rasional” mengapa Firaun begitu mempercayai Yusuf

 

Yusuf mengerti terlebih dahulu, baru kemudian minta dimengerti, itulah salah satu kompetensi yang dimiliki oleh Yusuf yang menghantarkannya menjadi orang “nomor dua” di bangsa asing

 

Mat 25:45  Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku.

 

Mat 7:12  "Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka. Itulah isi seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi.

 

Tuhan Yesus mengajarkan, mengertilah orang lain terlebih dahulu, berikan perhatian kepada orang lain dan lakukanlah yang terbaik buat orang lain, milikilah kepekaan untuk merasakan apa yang sedang dirasakan orang lain

 

Suatu hari ketika saya menginap di rumah sahabat saya agar kami bisa berangkat bersama ke sebuah acara, saya dikenalkan oleh kakak dari istri sahabat saya tersebut, kemudian tak lama kemudian suaminya datang, kita bicara hanya sebentar saja, pada malam hari saya bermimpi bahwa kakak dari istri sahabat saya ini tidak menginginkan suaminya menjual properti mereka, paginya dalam perjalanan ke acara tsb, saya sampaikan kepada sahabat saya perihal mimpi saya, sahabat saya sedikit terkejut, namun karena sahabat saya anak Tuhan yang luar biasa juga, ia menjelaskan bahwa memang sedang ada masalah dalam rumah tangga kakak istrinya menyangkut harta dan kesetiaan, buat sahabat saya, mimpi yang saya ceritakan kepadanya memberikan peneguhan menKejai apa yang ia harus upayakan untuk membantu pemulihan rumah tangga kakak istrinya.

 

Buat saya pribadi begitu sangat banyak orang yang memang sedang butuh dimengerti, merasa tidak berdaya dan tidak memiliki jalan keluar, saya belajar untuk “mengosongkan” ego saya agar saya tidak memperhatikan kepentingan-kepentingan diri saya sendiri, agar bisa juga saya belajar untuk memberikan perhatian buat orang lain.

 

Kasih adalah berbuat sesuatu terlebih dahulu, tanpa menunda-nunda (ini jadi kelemahan besar saya), Kasih itu pro-aktif dan member perhatian kepada orang lain adalah salah satu perwujudan kasih yang paling mudah untuk dilakukan.

 

Building and

leading teams

 

Kemampun membangun dan memimpin tim

Kej 41:48  maka Yusuf mengumpulkan segala bahan makanan ketujuh tahun kelimpahan yang ada di tanah Mesir, lalu disimpannya di kota-kota; hasil daerah sekitar tiap-tiap kota disimpan di dalam kota itu.

Kej 41:49  Demikianlah Yusuf menimbun gandum seperti pasir di laut, sangat banyak, sehingga orang berhenti menghitungnya, karena memang tidak terhitung.

 

Tentulah Yusuf tidak bisa bekerja sendiri untuk melaksanakan tanggung jawab yang didelegasikan kepadanya. Yusuf membentuk sebuah tim yang mengumpulkan, menyimpan, mencatat, mengawasi. Namun ketika memang sudah sangat banyak dan tak terhitung lagi, Yusuf tetap menyimpan, dan Yusuf berhasil membangun dan memimpin tim tersebut

 

Luk 6:13  Ketika hari siang, Ia memanggil murid-murid-Nya kepada-Nya, lalu memilih dari antara mereka dua belas orang, yang disebut-Nya rasul:

 

Tuhan Yesus sendiri memilih 12 orang murid untuk bersama dengan-Nya menjalankan pelayanan-Nya, IA membangun dan memimpin tim-Nya tersebut.

 

Dalam setiap aspek berkehidupan masyarakat, banyak kelompok-kelompok yang terbentuk, baik yang formal maupun tidak, dari tim kerja, untuk mengerjakan pekerjaan rutin baik pekerjaan proyek, bai sebagai pekerja atau panitia Natal, Paskah, Retreat,dsb

 

Suka atau tidak suka setiap orang adalah “team player” , kemampuan untuk membangun dan memimpin sebuah tim adalah suatu persyaratan bagi kemaksimalan hidup seseorang

 

Developing people

 

Kemampuan dan kemauan untuk mengembangkan orang lain

Kej 50:20  Memang kamu telah mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekakannya untuk kebaikan, dengan maksud melakukan seperti yang terjadi sekarang ini, yakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar.

 

Yusuf dari awal sudah memaafkan perbuatan saudara-saudaranya yang telah ingin membunuh yang akhirnya menjual Yusuf. Saudara-saudaranya telah berbuat salah, Yusuf memberikan pembelajaran (bukan “pelajaran”) agar kesalahan yang saudaranya perbuat diakui dan dijadikan instropeksi bagi saudara-saudaranya tersebut

 

Untuk mengembangkan orang lain. Yusuf mengerti bahwa orang tersebut harus instropeksi terhadap dirinya sendiri, karena orang yang tidak berkembang adalah orang yang selalu melakukan kesalahan yang sama, dan tidak belajar dari kesalahannya sendiri

 

2Pe 3:18  Tetapi bertumbuhlah dalam kasih karunia dan dalam penKejalan akan Tuhan dan Juruselamat kita, Yesus Kristus. Bagi-Nya kemuliaan, sekarang dan sampai selama-lamanya.

 

Saya percaya pertumbuhan kerohanian seseorang akan juga menumbuhkan kapasitas intelektual dan emosionalnya, mungkin saat ini sedang trend ESQ untuk melengkapi IQ, atau kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual.

 

Kej 1:22 (KJV)  And God blessed them, saying, Be fruitful, and multiply, and fill the waters in the seas, and let fowl multiply in the earth.

 

Tuhan Allah sendiri ingin manusia itu berkembang (multiply) secara “perkalian” bukan “pertambahan”, pertumbuhan yang progesif dengan percepatan-percepatan yang Tuhan lakukan dalam hidup orang percaya

 

Ketika Petrus, Yohanes, dan murid-murid yang lain “diseleksi” oleh Tuhan Yesus, IA tidak melihat kapasitas mereka pada saat itu, Tuhan Yesus tertarik kepada masa depan (future) Petrus, Yohanes dan murid-murid yang lain, dalam artian Tuhan Yesus ingin mengembangkan potensi murid-murid Nya, yang pad aakhirnya kedua belas orang muridnya, kecuali Yudas Iskariot adalah orang yang sanggup untuk bermultiplikasi kembali atau mengembangkan orang lain lagi.

 

Jika kita ingin berkembang secara maksimal dan mengalami suatu percepatan, mililki kebiasaan untuk mengembangkan orang lain, dengan mengembangkan orang lain secara otomatis kita akan berkembang dan tidak mengalami stagnasi

 

Holding people accountable

 

 

 

Menjadi orang yang dapat dipercaya dan diandalkan

 

 

 

Kej 39:22  Sebab itu kepala penjara mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf, dan segala pekerjaan yang harus dilakukan di situ, dialah yang mengurusnya.

 

Mengapa kepala penjara tersebut mempercayakan semua tahanan dalam penjara itu kepada Yusuf? Apa ia tidak tahu kejahatan apa yang dituduhkan kepada Yusuf?

 

Secara rasional kepala penjara mengambil suatu resiko yang besar mempercayakan hal yang besar kepada Yusuf, karena dakwaan terhadap Yusuf adalah menghianati kepercayaan yang diberikan oleh tuan-nya, namun seiring dengan waktu kepala penjara itu sendiri melihat bahwa tuduhan tersebut hanyalah tuduhan kesewenangan, sehingga ia mempercayai hal yang besar kepada Yusuf.

 

Bagi kepala penjara Yusuf memiliki kapabilitas dalam seorang yang dapat dipercaya dan diandalkan, seorang pekera keras yang tidak bermurung diri atas peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam hidupnya

 

1Ti 6:20a  Hai Timotius, peliharalah apa yang telah dipercayakan kepadamu.

 

Mat 25:21  Maka kata tuannya itu kepadanya: Baik sekali perbuatanmu itu, hai hambaku yang baik dan setia; engkau telah setia dalam perkara kecil, aku akan memberikan kepadamu tanggung jawab dalam perkara yang besar. Masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu.

 

Memelihara apa yang dipercayakan (bertanggung-jawab), itu adalah suatu perwujudan bahwa memang seseorang tersebut dapat diandalkan, atau untuk dapat menjadi orang yang dapat diandalkan, terlebih dahulu jadilah orang yang dapat dipercayai.

 

Tuhan Yesus memberikan suatu pemahaman, mengenai orang yang dapat diandalkan, yaitu orang-orang yang tidak menganggap kecil dan remeh tangung jawab yang diberikan, dengan mengerjakan tanggung-jawabnya secara sungguh-sungguh dan tidak lalai.

 

Dimulai dari hal-hal kecil yang menghasilkan hal yang semakin besar, Yusuf mulai dari rumah Potifar, penjara kemudian akhirnya sampai ke Istana Firaun, karena Yusuf setia terhadap perkara-perkara sekecil apapun yang dipercayakan kepadanya.

 

Kisah Yusuf adalah suatu inspirasi bagi setiap orang percaya untuk belajar untuk bertanggung jawab kepada hal-hal sekecil apapun yang dipercayakan kepadanya.

Personal

 

Adaptability and change

 

Kej 37:3  Israel lebih mengasihi Yusuf dari semua anaknya yang lain, sebab Yusuf itulah anaknya yang lahir pada masa tuanya; dan ia menyuruh membuat jubah yang maha indah bagi dia.

 

Saya kagum dengan kemampuan Yusuf dalam beradaptasi dan menyesuaikan dirinya (change). Yusuf dari anak yang diperlakukan dengan sangat istimewa oleh Israel, sedang saudara-saudaranya yang lain justru harus bekerja keras diladang, Yusuf tidak. Singkatnya Yusuf menjadi anak kesayangan (“anak mami”).

 

Namun ketika keadaannya berbalik 180 derajat, saat ia dijual sebagai budak, mungkin sebelumnya Yusuf belum pernah melakukan “pekerjaan kasar”, Yusuf sanggup beradaptasi dengan sangat cepat, Yusuf berubah menjadi pribadi yang mandiri dan tegar.

 

Tentu sangat sulit untuk ada dalam posisi Yusuf pada saat itu, sudah dijual, harus menjadi budak di Negara asing lagi, yang bahasa dan budayanya benar-benar berbeda, namun Yusuf menjadi seseorang yang bisa beradaptasi dengan sangat baik, buktinya dimanapun ia berada, ia dipercayakan oleh orang-orang yang secara sosio-budaya berbeda dengan dia

 

Mar 16:15  Lalu Ia berkata kepada mereka: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.

 

Amanat agung Tuhan Yesus bersifat global dan multi-kultural, jelas IA mengutus setiap orang percaya ke seluruh dunia, ketika Tuhan sendiri yang mengutus tentu Tuhan sudah memperlengkapi orang percaya untuk memiliki kemampuan beradaptasi dengan sangat baik tanpa harus menjadi kompromis atau oppurtunis.

 

 

 

Jika Yusuf “masuk” dalam assessment center untuk mengukur kompetensinya, dia akan mendapatkan hasil yang perfect atau sempurna untuk setiap kompetensi yang di-indikasikan sebagai suatu prasyarat performa seseorang. Saya percaya setiap anak-anak Tuhan memiliki suatu kesempatan dan potensi untuk menjadi Yusuf-Yusuf jaman sekarang, Tuhan dan dunia sedang menunggu.

 

Pembahasan yang saya sampaikan diatas hanya segelintir contoh saja dimana sebenarnya anak-anak Tuhan sudah diperlengkapi oleh kompetensi-kompetensi oleh Tuhan sendiri, hanya saja mungkin sering kita lalai dan “lambat” dalam mengeksplorasikannya.

 

Mat 25:15  Yang seorang diberikannya lima talenta, yang seorang lagi dua dan yang seorang lain lagi satu, masing-masing menurut kesanggupannya, lalu ia berangkat.

 

(16)  Segera pergilah hamba yang menerima lima talenta itu. Ia menjalankan uang itu lalu beroleh laba lima talenta.

 

(17)Hamba yang menerima dua talenta itupun berbuat demikian juga dan berlaba dua talenta.

 

(18) Tetapi hamba yang menerima satu talenta itu pergi dan menggali lobang di dalam tanah lalu menyembunyikan uang tuannya.

Buat saya talenta itu lebih dari kompetensi, talenta itu menyangkut kompetensi, motivasi dan nilai-nilai, talenta itu adalah potensi performa yang belum “dikerjakan”.

Ketika Tuhan menyebut 5 (lima), 2 (dua) dan 1 (satu), itu bicara suatu kuantitias yang spesifik, setiap kita pasti diberikan suatu “bekal” atau potensi performa, dan ketika jelas kuantitasnya disebut secara spesifik, sebagai hamba yang baik, setiap orang percaya memiliki suatu kesempatan untuk bertanya langgsung kepada Tuhan, “berapa” talenta yang dimilikinya.

Berdoa kepada Tuhan agar IA memberitahukan “berapa” talenta yang diberikanNya kepada saudara, jangan-jangan ternyata ada puluhan talenta yang selama ini tidak kita ketahui, tetap saja suatu saat kelak kita akan dituntut mengenai talenta yang tidak kita kerjakan karena tidak kita mau ketahui itu.

Ketika hamba yang diberi 5 menghasilkan 5 talenta lagi dan yang diberi 2 menghasilan 2 lagi, berarti setiap talenta menghasilkan talenta lagi, tidak ada talenta yang tersia-siakan jika kita mengerjakan dan meneksplorasinya dengan sungguh-sungguh, karena itulah sebenarnya mengapa kita ada di bumi ini, untuk menghasilkan sesuatu bagi kemuliaan Tuhan, dan tentu Tuhan kita adalah Tuhan yang bertanggung jawab, IA sudah memberikan talenta kepada setiap kita, eksplorasikanlah talenta apa yang diberikan bukan untuk “pamer-pamer-an” namun untuk memperluas kerajaan sorga, karena masih sangat banyak jiwa-jiwa yang “menantikan’ Yesus.

Ketika kita bergerak di market-place (dunia pekerjaan dan usaha), dan memang sebagian besar, mungkin sampai dengan 98% orang percaya bergerak di market-place, sedang hanya 2% yang bergerak di Holy-place sebagai pelayan full-timer, kita harus sanggup menyesuaikan dengan tuntutan dari market-place, terutamanya bicara tentang performa = kompetensi x motivasi x value.

Kompetensi sudah diberikan kepada kita, tinggal kita mengekspolarsikan dan menumbuh-kembangkannya saja, sumber motivasi terbesar sudah bersama dengan kita ; Imanuel, sedang value sudah juga bersama dengan kita Firman (words) yang bisa kita dalami dan hidupi.

Apa lagi yang kurang?

Sementara orang-orang dunia ini hanya punya kompetensi saja, sumber motivasi  terbesar mereka belum mengenalnya begitupula dengan value yang dapat diekstrasi dari Firman, mereka belum mengerti dan memahami.

Lalu mengapa sering performa anak-anak Tuhan dibawah rata-rata? Mengapa sering tertangkap oeleh “pengelihatan” medioker spirit menjangkiti anak-anak Tuhan?

Lantas bagaimana orang-orang dunia meng-amini bahwa hanya Yesus Kristus lah satu-satunya jalan, kebenaran dan hidup ? sedang dalam bekerja saja hanya menunjukan performa dibawah rata2? Sering bicara Tuhan tapi tidak menghasilkan kehidupan yang berdampak dan dapat dijadikan contoh?

Berhentilah menjadi orang percaya yang medioker, setiap anak-anak Tuhan sudah diperlengkapi untuk mencapai destiny-nya masing-masing, jangan jadi “tikus yang mati di lumbung padi”, bekerja keraslah dan belajar keraslah untuk menjadi anak-anak Tuhan yang dapat menghasilkan kehidupan yang berdampak di ruang market-place, tunjukanlah performa yang superior bahkan melebih ekspetasi yang diharapkan, bukan karena virus workaholic atau karena “pelarian semata”, namun karena dengan demikian kota yang diatas bukit itu menjadi nampak, terang yang ditaruh diatas kaki dian itu bisa menerangi, atau garam itu bisa terasa keasinanya.

Jangan hanya ketika di gereja “semangat 45” kita tunjukan, sedang ketika hari Senin, sudah datang terlambat, kerja juga seadanya saja. Itu namanya tidak bertanggung jawab, bersyukurlah kepada Tuhan atas pekerjaan yang diberikan dan kerjakanlah pekerjaan itu dengan sepenuh hati untuk memuliakan Tuhan saja.

Jadi…………………sudah siap untuk memenangkan market-place buat Tuhan?

Rom 12:11  Janganlah hendaknya kerajinanmu kendor, biarlah rohmu menyala-nyala dan layanilah Tuhan.

Dalam roh yang menyala-nyala, mari sebagai surat terbuka Kristus, sampaikanlah wujud keberadaan Tuhan dalam hidup kita lewat performa yang cemerlang, dengan demikian orang-orang yang memperhatikan kehidupan kita, bisa mengamini, ada Tuhan dalam hidup kita.

Semoga dapat memberkati.

Referensi :

 HUMAN RESOURCE MANAGEMENT, A CONTEMPORARY APPROACH, Prentice Hall, 2004

The handbook of competency mapping: understanding, designing and implementing competency models in organizations/Seema Sanghi.Sage, 2007