Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Perlunya Pendidikan Seks

Purnawan Kristanto's picture

Pendidikan SeksBegitu mendengar ”seks”, secara otomatis pikiran kita akan membayangkan sesuatu yang hanya pantas untuk orang dewasa saja. Kita hampir tidak pernah menghubungkan kata ”seks” dengan anak-anak. Padahal menurut pakar seksual, Wimpie Pangkahila, manusia adalah makhluk seks.
Seksualitas tidak muncul begitu saja ketika kita menjadi remaja atau dewasa. Seksualitas mulai berkembang sejak bayi, bahkan sejak dalam kandungan. Seksualitas ini harus berkembang selaras dengan perkembangan tubuh, jiwa dan roh. Kalau perkembangan ini tidak selaras, maka dapat terjadi trauma seksual dan penyimpangan orientasi seksual.
Sebagai contoh, apa yang Anda lakukan jika mendapati anak Anda memainkan alat kelaminnya? Apakah buru-buru memarahi? Jika ya, maka sang anak akan mengalami trauma seksual berupa perasaan bahwa alat kelaminnya itu tidak baik.
Dalam budaya Timur, soal seks memang masih dibicarakan dengan bisik-bisik, disertai muka merah karena malu. Masih ada tabu-tabu yang pantang dilanggar. Banyak orangtua kesulitan mengatakan ”vagina”, ”penis” atau ”payudara” tanpa rasa malu. Mereka bahkan menggantinya dengan istilah-istilah yang tersamar.
Sesungguhnya, seks dan alat kelamin itu adalah ciptaan Tuhan yang baik. Jika kita tidak memberikan informasi yang benar dan lengkap tentang seks pada anak ,maka mereka diam-diam akan mencari tahu dari sumber-sumber lain yang dipenuhi mitos. Yang lebih buruk lagi, mereka terjebak di dalam kecanduan pornografi. Ketidaktuahuan tentang seks juga menyebabkan anak-anak rentan terhadap pelecehan seksual. Itulah pentingnya pendidikan seks.
Sayangnya, masih banyak orang yang mencampur-adukkan antara pendidikan seks dengan pornografi. Pendidikan seks dibayangkan seperti memperlihatkan gambar-gambar erotis kepada anak-anak. Sesungguhnya ada perbedaan antara pornografi dan pendidikan seks.
Ketika kaisar Tiberius Claudius Nero berkuasa di Romawi (tahun 14-37 M), dia senang mengkoleksi benda-benda pornografi eksplisit, yang sebagian besar berasal dari wilayah Timur. Koleksinya ini dinamai: "kumpulan tulisan tentang perempuan sundal". Dari sinilah, orang Yunani kuno lalu menciptakan istilah pornografi. Dalam bahasa Yunani,   pornographos berarti "tulisan tentang prostitusi" (porne = "prostitusi" + graphein= "tulisan").
Kata ini berdekatan dengan kata pernanai yang artinya "menjual". Sedangkan menurut ensiklopedi Britanica, pornografi memiliki tiga makna : (1) Pelukisan tentang perilaku erotis (dalam bentuk gambar atau tulisan) yang bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (2) materi (seperti buku atau foto) yang menggambarkan perilaku erotis dan sengaja bertujuan untuk menciptakan kenikmatan seksual; (3) Penggambaran perbuatan dalam bentuk sensasional sehingga bisa menimbalkan reaksi emosi secara cepat dan kuat.
Singkatnya tujuan pornografi adalah untuk membangkitkan nafsu seksual/erotis dan ada unsur komersialisasi di dalamnya. Sedangkan pendidikan seksual bertujuan memberikan informasi yang benar seputar seksualitas. Meski tak bisa terhindarkan dalam menyinggung organ-organ seksual, tapi semua itu disajikan secara proporsional dan tidak vulgar. Kami pernah memasukkan materi pendidikan seks ini dalam acara camp Anak Sekolah Minggu. Ternyata dapat diterima anak dengan baik, tanpa rasa malu atau sungkan.
Siapa yang sebaiknya memberikan pendidikan seks? Orangtua! Sebagian besar hidup anak dihabiskan bersama orangtua. Oleh karena itu, orangtua perlu menjalin komunikasi dengan anak-anak. Jika komunikasi lancar, anak-anak merasa bebas untuk bertanya atau bercerita pada orangtua jika mengalami persoalan seputar seks.
[dikembangan dari tulisan Wimpie Pangkahila, oleh Purnawan]

__________________

 

Tulisan PurnawanFoto Purnawan  Video karya Purnawan

sarlen's picture

tanggung jawab setiap orang

Setiap orang yang sudah pernah mendapatkan pendidikan seks yang benar, wajib untuk menyampaikannya kepada pihak-pihak lain, khususnya kepada anak-anak.

Bagaimanapun, selain dosa, seks yang dilakukan tidak pada waktunya, akan menimbulkan efek yang tidak baik pada perkembangan hidup seorang anak, khususnya perkembangan moral seorang anak.

Pornografi adalah industri yang mengekspose seks. Jadi, pornografi adalah industri yang tidak mendidik. Sebaiknya setiap orang tua menjauhkan anak-anak mereka dari maraknya industri pornografi.

.Sarlen

sahabat's picture

Salam kenal Purnawan, Saya

Salam kenal Purnawan,

Saya ikutan komentar secara panjang lebar ya.

Pornografi sepatutnya dihindari oleh semua lapisan umur manusia. Namun seiring dengan kemajuan teknologi telekomumikasi, pornogarfi senang saja diakses di mana-mana. Bahkan tempat-tempat terpencil sekali pun bahan-bahan ini mudah saja menyusup masuk. Jadi kelihatannya manusia tidak akan dapat menghindari pornografi ini. Buka saja newspaper di pagi hari, pasti ada gambar-gambar yang berbentuk pornogarfi. Pasti ada saja cerita-cerita yang berbau seks walaupun sedikit. Kalau di kota-kota, lihat saja di sekeliling anda maka denga mudah anda mendapati objek2 berunsur pornografi.  Pendidikan seks tidak pernah menyelesaikan jenayah seks atau penyimpangan seks. Buktinya negara Barat yang sememangnya mempunyai pendidikan seks menghadapi jenayah seks setiap hari. Bahkan dengan dorongan daripada pengetahuan tentang pencegahan kehamilan, remaja dan anak muda/i dengan santai saja melakukan seks luar nikah. Pendidikan seks hanya mampu memberi pengetahuan tentang seks. Pendidikan seks hanya mampu mempersiapkan kanak2 menghadapi alam remaja. Pendidikan seks hanya mampu mempersiapkan dua pasangan menghadapi alam perkahwinan.Pendidikan seks hanya mampu mempersiapkan orang dewasa menghadapi hari tuanya. Pendidkan seks hanya mampu mengajar seseorang menjaga dirinya dalam hal-hal seks. Pendidikan seks tidak akan menyelesaikan masalah jenayah seks atau keruntuhan moral. Namun demikian adalah jauh lebih baik bagi orang tua membincangkan masalah-masalah seks dengan anak-anak mereka daripada mendiamkan diri.Gereja-gereja juga perlu ada pendidikan seks. Tidak dinafikan bahawa kerohanian yang teguh menjadi benteng pertahanan anak-anak muda daripada penyimpangan seks2.

 

Tuhan memberkatimu dan seisi keluargamu

sahabat

__________________

"Aku yakin dengan sepenuhnya bahawa Berita Baik itu kuasa Allah yang menyelamatkan semua orang yang percaya kepada Yesus, mula-mula orang Yahudi, dan juga orang bukan Yahudi" - Roma 1: 16

Purnawan Kristanto's picture

@ Sahabat:cermati lagi tesis saya

 1. Salam kenal juga Sahabat. Terimakasih untuk komentar kritisnya.

2. Terimakasih untuk kata "jenayah" sebagai lema baru untuk kata "penyimpangan."

3. Mohon membaca tulisan saya dengan teliti sekali lagi. Bagian mana dari tulisan saya yang mengatakan bahwa pendidikan seks dapat menghapus pornografi? Saya tidak pernah membuat tesis: "Pendidikan seks akan menghilangkan pornografi."  Tesis saya adalah: "Kalau sang anak tidak mendapat pendidikan seks yang benar, kemungkinan besar sang anak akan mencari pengetuhan tentang seks dari sumber lain yang kurang dapat dipertanggungjawabkan, terutama pornografi."

 

__________________

 

Tulisan PurnawanFoto Purnawan  Video karya Purnawan

sahabat's picture

@Purnawan: anda benar

Damai Sejahtera bagimu dan seisi keluargamu sahabat
__________________

"Aku yakin dengan sepenuhnya bahawa Berita Baik itu kuasa Allah yang menyelamatkan semua orang yang percaya kepada Yesus, mula-mula orang Yahudi, dan juga orang bukan Yahudi" - Roma 1: 16

sahabat's picture

@admin & @Purnawan

 

@Admin Something wrong. Kenapa tulisan saya hanya sebahagian saja yang di pamerkan a?

@Purnawan : Anda benar,  maaf untuk ketidaktelitian saya.

 

Tuhan memberkatimu dan seisi keluargamu

sahabat

__________________

"Aku yakin dengan sepenuhnya bahawa Berita Baik itu kuasa Allah yang menyelamatkan semua orang yang percaya kepada Yesus, mula-mula orang Yahudi, dan juga orang bukan Yahudi" - Roma 1: 16