Submitted by PlainBread on

Sebuah catatan singkat.

 

Dualisme merupakan suatu situasi dan kondisi, di mana ada dua hal yang memiliki kosa kata berbeda, dan dianggap sebagai berlawanan.

Baik vs jahat. Terang vs gelap. Allah vs Iblis. Dan begitu seterusnya.

 

Saya tidak akan berbicara mengenai etimologi dualisme maupun filosofi dualisme seperti membicarakan Descartes atau Zoroastrianisme. Saya hanya akan sedikit mengupas mengenai dualisme yang pada kenyataannya tidak harus selalu berlawanan.

 

Sebelum melabel apakah sesuatu itu baik atau buruk, tentulah kita harus mengakui bahwa hal tersebut adalah suatu kenyataan. Terang adalah realita. Gelap adalah realita. Mengakui bahwa hal-hal tersebut adalah suatu kenyataan atau realita merupakan langkah pertama untuk masuk ke dalam dualisme.

 

Kenyataan inilah yang akhirnya diperdebatkan untuk memilah mana yang benar dan salah, mana yang baik dan mana yang jahat. Dan dualisme juga yang membuat orang terjebak didalamnya, menganggap bahwa kalau hal pertama bersifat positif, hal yang terlihat berlawanan berarti bersifat negatif. Konsepsi umum yang sebenarnya keliru. Mengapa keliru? Seperti kata "terlihat" yang saya tandai, bahwa apa yang kita lihat memang belum tentu merupakan realita sebenarnya.

 

Kita ambil contoh pertama: Allah dan kebaikan.

Di dalam dualisme, Allah dan kebaikan akan berdualisme dengan Iblis dan kejahatan. Pada kenyataannya jika kita ingin membahas dari sudut pandang alkitab, Iblis tidak mungkin berlawanan dengan Allah karena Iblis adalah ciptaan Allah. Sekalipun dianggap lawan, kedua pihak ini tidak sepadan atau tidak seimbang. Lagipula apakah benar bahwa Allah sinonim dengan kebaikan? Benar. Ada banyak ayat untuk mendukung hal tersebut, misalnya:

Luk 11:11 Bapa manakah di antara kamu, jika anaknya minta ikan dari padanya, akan memberikan ular kepada anaknya itu ganti ikan?

Yak 1:17 Setiap pemberian yang baik dan setiap anugerah yang sempurna, datangnya dari atas, diturunkan dari Bapa segala terang; pada-Nya tidak ada perubahan atau bayangan karena pertukaran.

Dari ayat-ayat seperti saya kutip di atas, orang bisa saja mengambil tafsiran bahwa Bapa bersinonim dengan kebaikan. Tidak mungkin Bapa memberikan ular jika si anak meminta roti.

Tapi jangan kita melupakan, bahwa ada ayat-ayat lain yang terlihat menyatakan hal yang sebaliknya:

Yes 45:7 yang menjadikan terang dan menciptakan gelap, yang menjadikan nasib mujur dan menciptakan nasib malang; Akulah TUHAN yang membuat semuanya ini.

Kej 6:17 Sebab sesungguhnya Aku akan mendatangkan air bah meliputi bumi untuk memusnahkan segala yang hidup dan bernyawa di kolong langit; segala yang ada di bumi akan mati binasa.

 

Hal yang sama juga terjadi ketika orang-orang kristen memperdebatkan antara kehendak bebas (free will) dan predestinasi. Begitu juga antara status orang kristen sebagai hamba dan anak Tuhan. Perdebatan yang sering kali tidak berakhir, karena masing-masing memiliki amunisi berupa ayat-ayat alkitab yang mereka percaya sebagai kebenaran. Namum pada saat yang sama, pihak lawan juga memiliki amunisi yang sama yaitu ayat-ayat alkitab.

Kembali ke pembicaraan saya sebelumnya. Hal yang esensial dalam membicarakan dualisme pertama kali adalah mengakui bahwa:

1. Hal-hal tersebut merupakan realita karena kita melihatnya sendiri

Kita bisa melihat sendiri terang seperti apa, gelap seperti apa. Kita bisa melihat sendiri bahwa kita memiliki free will karena sebagai manusia dan sebagai anak Allah kita memiliki kuasa, dan pada saat yang sama kita mengakui bahwa Tuhan memiliki rancangan dan ketetapan.

2. Hal-hal tersebut seringkali bukan merupakan negasi satu sama lain karena sebenarnya mereka didukung oleh banyak ayat-ayat alkitab.

Apakah saya bisa menyangkal bahwa free will sama sekali tidak ada ketika alkitab mengatakan bahwa banyak hal terjadi karena pilihan orang-orang yang tercatat kisahnya di alkitab? Apakah saya bisa menyangkal bahwa Allah memiliki rancangan dan ketetapan ketika alkitab mengatakan dengan jelas Allah kita adalah Alfa dan Omega?

 

Dengan melihat kenyataan dan hal-hal yang terlihat bertentangan tetapi sebenarnya tidak berlawanan (beberapa orang menyebutnya dengan istilah paradox), kita akhirnya bisa melihat bahwa tidak selalu dan tidak semua hal yang ada di dalam dualisme selalu harus bertentangan. Free will tidak harus bertentangan dengan predestinasi. Status hamba tidak harus bertentangan dengan status anak. Keberadaan hal-hal tidak selalu bisa dikatakan berlawanan, karena di dalam dualisme ada yang sifatnya meniadakan (api vs air), ada yang sifatnya berlawanan (kutub utara vs kutub selatan), ada juga yang sifatnya melengkapi (beras vs kentang).

Dengan mengerti ini, kita akan menghemat banyak waktu dan tenaga dalam berdebat atau latah sebagai apologist dalam mempertahankan pendapat kita bahkan memilih ayat-ayat yang kita sukai untuk mendukung pendapat kita.

Dengan mengerti ini, kita tidak akan terjebak dalam dualisme di mana kita harus mempertentangkan segala sesuatunya. Karena kedua hal yang terlihat berbeda belum tentu bertentangan. Waktu  dan tenaga yang sering kita pakai untuk memperdebatkan hal-hal ini bisa kita pakai untuk mempelajari peran, apa, bagaimana, dan kenapa hal-hal tersebut menjadi suatu realita atau kenyataan. Kita bisa mempelajari, misalnya, kapan dan bagaimana kita berstatus sebagai anak Bapa, dan kapan atau bagaimana kita berstatus sebagai hamba Tuhan.

Dengan mengerti ini, kita berharap bahwa kita mengerti kehendak Allah dan tujuan kita di dunia ini dan di dunia yang akan datang.