Submitted by victorc on

"dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu." - Yoh. 8:32

Pendahuluan

Shalom saudaraku. Setelah beberapa waktu mengamati debat antara TP dan KK/KK2 di forum ini, disertai komentar JF, DT, Guestx dll, izinkan saya menuangkan uneg-uneg saya dengan harapan dapat mempertajam diskusi di forum ini. Awalnya saya agak enggan menulis artikel ini, karena saya juga beberapa kali di-bully oleh TP.

Sebagai komentar awal, pada intinya saya setuju dengan TP bahwa ajaran universalisme yang disiarkan oleh KK/KK2 pada dasarnya heretikal (di luar iman kristiani ortodoks), dan karenanya perlu dimoderasi agar tidak menyebar. 

Namun demikian, agak berbeda dari TP, saya juga melihat bahwa tampaknya KK bukanlah penulis blog yang naif, kalau benar pengakuannya bahwa dia mengajar di salah satu sekolah (atau seminari?) pascasarjana. Artinya kemungkinan besar KK menuangkan ajarannya secara konsisten dan dengan sengaja, dan itu dapat dianggap sebagai bagian dari fenomena "gunung es" yaitu pembusukan dalam kekristenan yang dengan mudah dapat dijumpai di mana-mana. 

Sebelum kita masuk ke diskusi tentang pembusukan, izinkan saya mengambil metafora dari film Divergent dan Insurgent yang menurut hemat saya cukup menarik untuk diterapkan dalam konteks diskusi ini.

Divergent

Dalam serial film Divergent dan juga kelanjutannya, Insurgent, dikisahkan bahwa di suatu waktu di masa depan, terdapat suatu kota di negeri antah berantah. Situasi di kota tersebut boleh dikatakan aman dan damai secara temporer, karena masyarakat dibagi menjadi beberapa kelompok (faksi). Ada faksi Erudite yang pintar, faksi Dauntless yang pemberani, faksi Amity yang cinta damai, dst. Tapi tampaknya Erudite berusaha mengendalikan keempat faksi lainnya dengan cara totalitarian, dan ada satu kelompok yang nyaris punah karena selalu dikejar-kejar untuk dimusnahkan, namanya adalah Divergent. Divergent memiliki ciri keempat faksi lainnya sekaligus, namun juga sanggup menemukan kelemahan faksi Erudite yang berkuasa. Karena itu para Divergent cenderung menolak untuk tunduk pada faksi Erudite yang berkuasa. Kisah dua film ini berkisar pada bagaimana dua orang Divergent bernama Tris dan Four bahu membahu memperjuangkan keadilan bagi semua faksi tanpa dominasi Erudite. Bagi Anda yang belum menonton, saya kira film ini cukup menarik dan banyak pelajaran yang dapat dipetik.

Sekarang mari kita bumikan film futuristik ini ke dalam konteks diskusi seputar universalisme yang diusung oleh KK. Sejauh yang saya simak sampai saat ini, tampaknya situasi dapat disederhanakan sebagai berikut: KK yang erudite tampaknya berusaha mendominasi forum untuk memenangkan ajaran heretikalnya, sementara  TP yang dauntless tanpa kenal lelah memperjuangkan iman kristen yang sehat dengan penuh keberanian walaupun sering di-bully dan juga mem-bully yang lain. Para komentator lainnya sebagian besar menerapkan iman kristen yang cinta damai, artinya menoleransi ajaran heretikal KK secara amity.
 
Kalau metafora ini dapat diterima, maka diperlukan satu unsur lagi, yaitu lensa berpikir Divergent, yaitu menemukan pola pembusukan yang parah di balik kecerdasan ajaran universalisme. Mungkinkah? 

Pembusukan di mana-mana

Kata "pembusukan" saya dengar satu kali diucapkan baru-baru ini oleh seorang pimpinan yayasan Kristen, satu kali saya baca dalam email seorang rekan misionaris asal Jepang, dan satu lagi tersirat dalam diskusi dengan seorang ahli biblika Katolik. Mari kita periksa satu per satu.

Dalam suatu sesi refleksi, seorang pimpinan yayasan mengatakan bahwa ada proses pembusukan yang beliau amati baik di gereja-gereja maupun di STT-STT, khususnya dalam hal pola ajaran yang cenderung kurang menekankan lagi tentang pokok-pokok ajaran iman ortodoks misalnya pembenaran oleh iman, digantikan dengan ajaran yang bercorak humanisme berupa perbuatan baik, hidup rukun dan toleransi. Menurut dia, sepertinya pokok-pokok ajaran dasar kekristenan kurang populer dibandingkan topik-topik psikologi dan humanisme. Dan ini bisa diamati dalam berbagai kotbah minggu di banyak gereja saat ini.
Sementara itu, seorang rekan misionaris asal Jepang menceritakan pengalamannya melayani di Australia, di mana ia menyaksikan proses pembusukan (decay) dari beberapa gereja di sana. Dia menceritakan bagaimana kehidupan kristen di sana cenderung dibuat nyaman (comfortable) tapi melupakan tugas menjangkau masyarakat yang tersisih atau mencari orang-orang  baru. Misalnya bagaimana setiap kali pulang kebaktian diadakan perjamuan makan. Memang tidak keliru, tapi kalau setiap orang Kristen ke gereja hanya untuk perjamuan makan, bukankah esensi melayani masyarakat tersisih menjadi terlupakan? Gejala itu juga dijumpainya di beberapa negara lain termasuk gereja-gereja di Thailand, di mana banyak orang Kristen berpuas diri dengan bersekutu dalam gereja tapi kurang tergerak untuk melayani orang-orang yang masih terhilang. 

Gejala pembusukan yang agak mirip juga disinyalir oleh seorang dosen salah satu STT, demikian menurut penuturan seorang ahli biblika yang saya kenal. Menurut penuturan tersebut, dosen STT ini mengeluhkan bahwa pengajaran teologi di banyak STT cenderung tidak lagi bertolak dari landasan biblika yang kuat, melainkan hanya sibuk membahas pandangan berbagai teolog kontemporer. Selain itu, ada kecenderungan umum untuk menempatkan Alkitab sebagai kitab tulisan manusia yang terbuka untuk dikritik dan dipreteli, sebaliknya tulisan-tulisan para teolog kontemporer dianggap begitu agung dan tidak terbantahkan. Hal ini antara lain dipicu oleh maraknya penggunaan kritik historis yang bahkan dalam beberapa kasus telah menjadi kritik radikal (radical criticism).

Setelah mendengar penuturan ahli biblika tersebut, saya kemudian menemukan sebuah buku karya dosen teologi yang diceritakannya. Dan memang dalam salah satu bab awal bukunya, beliau mengkritik penggunaan metode kritik historis. Beliau menulis bahwa kritik historis menemui jalan buntu (1). Beliau juga mengkritik metode yang digunakan oleh tim Jesus Seminar (1). Saya mesti acungkan jempol kepada teolog tersebut (Dr. Yonky Karman) yang sebagai teolog dari negara berkembang berani mengambil sikap berbeda dengan pandangan para teolog dari negara maju yang dianggapnya melenceng. 

Penyebab pembusukan

Kalau ditelusuri lebih lanjut, upaya menggantikan ajaran biblika dengan psikologi dan humanisme memiliki hulu pada penggunaan metode historis kritis secara gencar untuk hampir semua aspek ajaran kristen. Akibatnya kita digiring menuju relativisme yang merupakan salah satu ciri postmodernisme. 

Salah satu artikel menelusuri "metode" historis kritis ini sebagai bagian dari operasi psikologis yang dipelopori oleh Tavistock Institute of Human Relations (TIHR) yang berbasis di 30 Tabernacle Street, London (2)(3). Karena institusi ini antara lain bermaksud mengubah perilaku manusia, maka tidak heran bahwa akibatnya meluas hingga pada desakralisasi ajaran-ajaran iman kristen ortodoks. (2) 

Salah satu implikasi dari ideologi historis kritis tersebut adalah berkembangnya pandangan bahwa penulisan sejarah (historiografi) mesti bebas dari intervensi Tuhan, sehingga kemudian muncul gagasan bahwa apapun yang berbau mukjizat atau bahkan kebangkitan Yesus dari kubur, mesti dilepaskan dari unsur-unsur mitologinya (demitologisasi). Dengan kata lain historisitas banyak kisah dalam Alkitab menjadi dipertanyakan. (2) Demikian juga, muncul pembedaan antara Yesus sejarah dan Kristus iman, seperti yang diterapkan oleh tim Jesus Seminar.(1)

Dapat diduga bahwa KK/KK2 yang seorang dosen pascasarjana (menurut pengakuannya) dan kemungkinan besar telah mengenyam pendidikan strata 3 bisa jadi juga terpengaruh dengan ideologi-ideologi buatan Tavistock Institute atau kroninya, termasuk universalisme yang diusungnya di berbagai blog. Bahkan kalau mau dilacak di google, ada seorang yang mempromosikan Universal Salvation University, artinya Kk bukan sendirian dalam mengusung ideologi yang heretikal tersebut.

Sebagai catatan tambahan, meskipun sampai saat ini saya belum menemukan hubungan langsung, tapi saya menduga bahwa Tavistock Institute ada hubungannya dengan inisiatif One World Religion yang disponsori oleh beberapa lembaga yang berasosiasi dengan United Nations (4). Jika ini benar, maka tampaknya ada upaya sistematis untuk mendiskreditkan ajaran kristen ortodoks, dan mempromosikan iman universal, perbuatan baik dan toleransi. Pada akhirnya lembaga-lembaga tersebut berusaha untuk mendirikan satu agama dunia yang memiliki banyak kemiripan dengan agama Gaia (pemujaan bumi) dari Romawi kuno. Menurut para pencetusnya, suatu agama dunia atau One World Religion diperlukan untuk memantapkan satu pemerintahan global yang disebut Orde Dunia Baru (NWO), lihat (5).

Saya tidak akan membahas lebih jauh tentang agama dunia ini. Pembaca yang berminat silakan lihat artikel saya tentang topik URI dan Gaia ini dalam blog yang lain.

Penutup

Demikianlah sekelumit uneg-uneg saya, dengan harapan kiranya artikel otokritik ini dapat menjadi bahan perenungan bagi bapak ibu para gembala sidang dan para pimpinan di jemaat gereja-gereja maupun STT-STT di Indonesia.

Pesan utama: stop pembusukan kekristenan di berbagai gereja dan STT!

Bagaimana pendapat Anda?

Jika ada komentar dan saran, silakan kirim ke email: victorchristianto@gmail.com

Version 1.0: 14 oktober 2015, pk. 1:39, version 1.1: 14 oktober, pk. 11:16


VC

Referensi:

(1) Yonky Karman. Bunga rampai Teologi Perjanjian Lama. Jakarta: Penerbit BPK, 2011.

(2) http://www.worldviewweekend.com/news/article/magic-historical-criticism-biblical-criticism

(3) www.tavinstitute.org

(4) http://www.catholicculture.org/culture/library/view.cfm?recnum=166

(5) http://www.thirdworldtraveler.com/New_World_Order/Tavistock_HumanRelations.html