Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Nuklir

victorc's picture

Nuklir dan jurnalisme investigatif

Shalom, saudaraku. Pagi ini izinkan saya menulis tentang energi nuklir serta kaitannya dengan jurnalisme investigatif. Dalam kaitan dengan peringatan 5 tahun bencana nuklir Fukushima, ada suatu berita menarik yang hanya muncul sekilas kemudian berlalu begitu saja. Berita itu adalah tentang dituntutnya 3 orang mantan eksekutif TEPCO di Jepang karena dianggap lalai mengambil langkah-langkah pencegahan yang sebenarnya bisa dilakukan untuk mencegah terjadinya bencana nuklir Fukushima, 11 Maret 2011. Mereka adalah Katsumata, Muto dan Takekuro. Saya melihat liputan berita tersebut di salah satu televisi swasta sekitar akhir Pebruari, tapi setelah  saya cek ternyata banyak media yang juga meliput berita ini, termasuk harian The Asahi Shimbun (1)(2).
Artikel ini tidak akan membahas secara detail tentang Fukushima atau TEPCO, melainkan mengenai mana istilah yang lebih tepat: bencana nuklir atau kecelakaan nuklir? Serta kaitannya dengan jurnalisme investigatif.
Bencana atau kecelakaan nuklir?
Dalam kaitan ini, baru-baru ini saya mengirimkan sebuah naskah semi-ilmiah untuk dipertimbangkan oleh salah satu berkala ilmiah nasional, artikel itu dapat diperoleh di (3). Setelah menunggu proses review selama beberapa bulan, akhirnya Editor berkala tersebut mengirimkan daftar berisi hal-hal yang perlu dikoreksi, dan menyatakan bahwa naskah saya tidak akan diterbitkan kecuali saya bersedia mengoreksi naskah tersebut sesuai komentar reviewer. 
Di luar komentar-komentar yang bersifat teknis, ada sebuah komentar yang menarik, yaitu bahwa reviewer tersebut keberatan dengan istilah bencana nuklir yang saya gunakan untuk menyebut musibah Fukushima dan lain-lain. Menurutnya, lebih baik saya menggunakan istilah kecelakaan nuklir, merujuk pada skala peristiwa nuklir yang dikeluarkan oleh IAEA yaitu skala INES (international nuclear and radiological event scale). (4) Setelah saya mempertimbangkan komentar-komentar reviewer, saya memutuskan untuk tidak meneruskan revisi naskah tersebut. Salah satu pertimbangan adalah saya agak berkeberatan jika musibah yang jelas-jelas membawa "bencana" direduksi menjadi "kecelakaan." Memang kalau melihat skala INES yang dikeluarkan oleh IAEA, terdapat dua kategori besar, yaitu incident (peristiwa) dan accident (kecelakaan). Lebih jelasnya, INES memilah musibah nuklir menjadi 7 kategori:
0. Deviasi
1. Anomali
2. Insiden
3. Insiden serius
4. Kecelakaan dengan konsekuensi lokal
5. Kecelakaan dengan konsekuensi lebih luas
6. Kecelakaan serius
7. Kecelakaan mayor
Dari ketujuh kategori tersebut, jelas tidak ada kata bencana (disaster) dalam kamus IAEA. Terus terang saya agak berkeberatan dengan peristilahan tersebut, baik karena alasan rasa bahasa maupun praktis.  Dari sudut pandang rasa bahasa, musibah sekelas Fukushima yang disebabkan oleh proses pelelehan (meltdown) jelas-jelas bernuansa bencana. Hal ini ditegaskan oleh penggunaan istilah "disaster" dalam berbagai laporan tentang Fukushima, meskipun beberapa laporan juga menggunakan istilah "accident." Sementara itu dari sudut pandang praktis, jika sebuah pembangkit listrik tenaga uap mengalami musibah dan timbul korban jiwa, maka itu disebut "kecelakaan" kerja karena dampaknya terbatas. Namun jika sebuah PLTN mengalami pelelehan pada inti teras reaktornya serta kebocoran radioaktif yang membuat puluhan ribu orang terkena imbasnya, maka itu jelas-jelas adalah "bencana."

Transsaintifik
Salah satu hal yang sering diabaikan dalam wacana tentang penggunaan ilmu nuklir untuk berbagai kepentingan adalah apa yang disebut oleh Alvin Weinberg sebagai sifat transsaintifik.(8) Yang dimaksud dengan transsaintifik adalah suatu pertanyaan yang berasal dari suatu ilmu, tapi jawabannya berada di luar jangkauan ilmu tersebut. Dengan kata lain, ilmu nuklir merupakan bidang ilmu yang sangat kompleks yang belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan, sehingga senantiasa ada kemungkinan bahwa suatu reaktor nuklir akan mengalami keadaan kritis dalam waktu yang amat cepat. Di sinilah maka kecepatan respons manusia (operator) selalu lebih lambat dibandingkan dengan kecepatan reaksi berantai yang mungkin terjadi akibat suatu musibah.
Menurut Prof. Liek Wilardjo**, reaktor yang kapasitas dayanya rendah, dengan ukuran teras yang sama akan memberikan rapat daya yang lebih rendah, sehingga bahangnya lebih cepat dapat diambil oleh zat-pendingin. Dengan demikian risiko terjadinya pelelehan (meltdown) berkurang juga (meskipun tetap saja tidak menjadi nol). Atau dengan kata lain, reaktor riset yang kecil memiliki risiko meltdown yang lebih kecil juga dibandingkan dengan reaktor daya komersial karena aspek transsaintifik terebut. Sementara itu, saya cenderung berpendapat bahwa sifat ilmu nuklir itu sendiri memang transsaintifik, sehingga baik reaktor kecil maupun besar tetap memiliki faktor X yang dapat membuatnya liar dan menjadi genting. 
Sebagai contoh, berikut ini adalah cuplikan suatu diskusi tentang salah satu reaktor riset di Bandung yang diperoleh penulis dari salah satu milis Batanwatch**, yang menurut para pejabat Batan dalam kondisi baik-baik saja sehingga dapat dioperasikan kembali, namun menurut laporan pengamat internal, reaktor tersebut menunjukkan sejumlah anomali. Sayang sekali, pejabat yang bertugas mengawasi dari Bapeten sudah meninggal, sehingga akhirnya reaktor tersebut diijinkan beroperasi kembali.
"Begini 2000 itu dulu sekitar 100watt thermal, lalu teras Bandung dipindah ke Yogya di upgrade jadi 250 WTh. Dan Bandung diupgrade jadi 2000WTh atau 2MWTh, sekitar Tahun 2000. Setelah diupgrade lalu komisioning atau persiapan operating. Di dalam perjalanannya ditemukan oleh almahum .... (pejabat Bapeten waktu itu) ada MINIMAL LIMA keanehan:
- Pertama control rod tumpul, sehingga tidak dapat nol energi jika dipancung, scram shutdown.
- Kedua, adanya paparan radiasi berlebih pada control room, membahayakan operator, sehingga bibir sumur atau kolam reaktor atas ditambah shieldingbrake, bata timbal penahan radiasi.
- Ketiga, adanya thermal buble, gelembung panas dari dasar reaktor yang membawa radiasi dari teras ke atmosfer yabg dilepas dipermukaan atas air kolam ke lingkungan.
- Keempat ada noise vibrasi pada perpipaan teras reaktor yang di upgrade, terutama saat Bandung Gempa Pangandaran Tsunami, Sukabumi Gempa.
- Kelima dikabarkan/perlu check ulang ada limbah radiasi yang terbuang ke sungai lingkungan.
 Sayang witnessnya sudah meninggal, sehingga Bapeten saat ini SETELAH 16 TAHUN KOMISIONING, DAN BAPETEN SEDANG DIRUNDUNG KORUPSI MENGIZINKAN REAKTOR BANDUNG BEROPERASI LAGI DAN PTRKN HARUS MENGAWASI PALING TIDAK EMPAT POIN TERUTAMA MASALAH TERMOHIDRAULIK THERMAL BUBLE."

Peran jurnalisme
Lalu bagaimana seharusnya peran jurnalisme? Peran jurnalisme jelas, yaitu perlu menerapkan jurnalisme investigatif untuk mengantisipasi pelbagai anomali serta musibah yang berkaitan dengan ilmu nuklir. Tidak saja berkaitan dengan reaktor-reaktor riset yang ada di Indonesia, melainkan juga aplikasi nuklir dan radioaktivitas (isotop) untuk rekayasa genetik dan bioteknologi juga perlu dicermati, karena berpotensi membawa dampak kerusakan genetis yang berantai. (5)(6) Misalnya pemuliaan benih padi membuat bibit tersebut tahan wereng, tapi wereng juga berevolusi menjadi lebih kebal, dan seterusnya. 
Sebagaimana yang dapat kita pelajari dari para mantan eksekutif TEPCO yang awalnya mencoba mengabaikan potensi dampak yang bisa ditimbulkan oleh bencana, tampaknya memang para pejabat yang bertanggung jawab atas keamanan nuklir cenderung menutup-nutupi fakta yang sebenarnya. Di sinilah jurnalisme investigatif berperan untuk menguak apa yang sebenarnya terjadi. (7)
Izinkan saya menutup artikel ini dengan menyitir kalimat terkenal Lord Acton: "kekuasaan cenderung korup, kekuasaan absolut akan korup secara absolut." Kiranya itu satu pesan penting dalam hubungannya dengan tuntutan terhadap 3 eksekutif TEPCO tersebut. Tentu kita perlu belajar banyak dari bencana Fukushima. 

versi 1.0: 10 maret 2016, pk. 22:25; versi 1.1: 11 maret 2016, pk. 11:47
VC*

Catatan: 
*Email: victorchristianto@gmail.com
**terimakasih kepada Prof. Liek Wilardjo dan Dr.ing. Nengah Sudja.

Referensi:
(1) http://ajw.asahi.com/article/0311disaster/fukushima/AJ201602290064
(2) http://www.fukushima-is-still-news.com/2016/02/tepco-s-executives-indicted.html
(3) Victor Christianto, "Enuk, risiko, dan asuransi penjaminan," url: http://www.researchgate.net/profile/Victor_Christianto
(4) https://en.m.wikipedia.org/wiki/International_Nuclear_Event_Scale
(5) Risks of radioactive isotopes, url: http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2056106/
(6) Risks and precautions of genetically modified organisms, ISRN, 2011, url: http://www.hindawi.com/journals/isrn/2011/369573/
(7) http://nuclear-news.net/2015/11/16/yes-virginia-there-still-is-investigative-journalism-nbc4s-nuclear-scandal-atory/
(8) Alvin Weinberg. Science and Trans-Science. Minerva, 1974. Url: http://www.quantamike.ca/pdf/Weinberg-Minerva.pdf

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.