Submitted by
Hannah
on
Di suatu waktu, di suatu masa aku menemukan sebuah kampung kecil dalam perjalanan pengembaraanku. Kampung itu terlihat asri, aman dan tentram. Kampung Rembulan namanya.
Aku melihat-lihat suasana kampung itu dan akhirnya memutuskan untuk menetap sementara di sana.
Di kampung itu ada orang-orang dari berbagai kampung lain, ada yang dari kampung Mars, kampung Uranus, kampung Neptunus dan masih banyak lagi. Pak RTnya sendiri berasal dari kampung Venus.
Tidak lama kemudian datanglah seorang pengembara lain dan dia pun sepertinya menyukai Kampung Rembulan. Dia langsung memutuskan untuk menetap di Kampung Rembulan. Namanya adalah Bejo.
Pada awalnya aku tidak terlalu memperhatikan sepak terjang Bejo biarpun sesekali kami saling bertegur sapa sewaktu kami berpapasan di pasar. Namun kemudian kudengar Pak RT mengangkat Bejo menjadi salah seorang pengurus kampung.
Karena tertarik dengan keputusan Pak RT aku pun mulai memperhatikan lagak si Bejo ini. Dia terlihat sopan, ramah dan bersahaja tapi ternyata tidak berlangsung lama.
Sekali waktu aku terlibat percakapan dengan warga kampung lainnya dan Bejo pun ikut nimbrung. Dia berbicara panjang lebar tapi sedikit pun aku tidak mengerti kata-katanya.
Aku mencoba bersabar dan menjelaskan tapi dia sepertinya tidak mengerti kata-kataku.
"Mungkin karena kami berasal dari kampung yang berbeda." Kataku dalam hati sambil mencoba bersabar.
Kemudian dia melontarkan kata-kata yang arogan dan merendahkan warga lain. Aku pun menegurnya di muka umum dan menyatakan ketidaksetujuanku dengan sikapnya.
Lalu aku pun pergi meninggalkannya.
Begitu aku tiba di gubukku, aku menemukan sepucuk surat. Dari Bejo.
Dia meminta maaf kalau dia sudah menyinggungku. Dia tidak pernah bermaksud begitu, katanya. Namun karena aku masih sebal, aku melemparkan suratnya ke lantai.
Ternyata maaf tinggal maaf. Keadaan tetap tidak berubah, malah semakin buruk. Berkali-kali kutemukan Bejo mengganggu warga kampung lainnya dengan sikapnya yang arogan dan kadang menyudutkan. Beberapa warga kampung pun melampiaskan rasa prihatin mereka kepada Pak RT tapi Pak RT mempercayai Bejo dan memberinya kesempatan berulang kali.
Suatu hari ada seorang pengembara lain yang mendatangi Kampung Rembulan dan Bejo pun memulai aksinya. Dia mendatangi pengembara itu dan menyudutkannya. Bejo mengikutinya kemanapun si pengembara pergi dan membuat si pengembara merasa disudutkan. Akhirnya pengembara itu meninggalkan Kampung Rembulan dengan susah hati.
Aku dan warga kampung lainnya menjadi marah dengan sikap Bejo ini. Kami menegur Bejo di muka umum dan melaporkannya ke Pak RT tapi seperti biasa Pak RT sepertinya tidak melakukan apa-apa.
Namun tidak lama setelah itu akhirnya Pak RT tidak bisa berdiam diri lagi. Bejo pun diturunkan statusnya dari seorang pengurus menjadi penjaga pintu gerbang.
Di satu pihak aku senang karena kampung kami terasa lebih tenang tapi di pihak lain hatiku kasihan setiap kali aku melihat Bejo berdiri di pintu gerbang memandangi kami dari kejauhan.
Biarpun dia sudah menulis surat permohonan maaf yang kemudian dipajang di dinding pengumuman di kantornya Pak RT tapi masih banyak warga yang tidak bisa melupakan kelakuannya. Dia mencoba berubah dan kulihat dia beberapa kali minta maaf kepada warga kampung lainnya. Aku pun jadi makin kasihan dan sedikit malu karena aku pribadi tidak akan punya nyali untuk menghadapi orang-orang yang sepertinya tidak menyukaiku dan minta maaf seperti itu.
Biarpun aku tetap tidak setuju dengan sikapnya dulu dan sering kali aku tidak sepaham dengannya tapi entah kenapa aku kok jadi agak salut sama dia.
Beberapa bulan kemudian aku pun memutuskan untuk melanjutkan pengembaraanku. Kusinggahi kampung demi kampung tapi tidak menemukan kampung yang menarik hati. Akhirnya kubiarkan kakiku membawa diri ini kemana mereka mau dan aku pun tiba di Kampung Rudal.
Aku memutuskan untuk singgah sementara di kampung yang ramai ini tapi ternyata banyak pengembara lain yang mendatangi Kampung Rudal juga, termasuk Bejo.
Tidak seperti warga Kampung Rembulan, beberapa warga Kampung Rudal memukuli Bejo karena mereka tidak menyukainya. Setiap hari kulihat Bejo dipukuli dan dinista. Tidak sedikit yang meludahi muka Bejo sambil memakinya.
Bejo mencoba membela diri sembari melindungi kepalanya dengan tangan tapi pukulan demi pukulan diterimanya setiap hari.
Ingin rasanya aku membantu Bejo karena entah kenapa saat kulihat Bejo, aku jadi teringat seorang pengembara miskin di kampung lain yang dianggap gila oleh orang banyak sampai mati dibunuh warganya.
Kemudian diketahui bahwa pengembara itu ternyata seorang yang kaya raya dan dia meninggalkan harta warisan yang tidak ternilai untuk orang-orang yang sudah membunuhnya.
Kemudian diketahui bahwa pengembara itu ternyata seorang yang kaya raya dan dia meninggalkan harta warisan yang tidak ternilai untuk orang-orang yang sudah membunuhnya.
Maafkan aku, Bejo. Kamu sudah mengajariku banyak hal.
"Sebab ketika Aku lapar, kamu tidak memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu tidak memberi Aku minum;
ketika Aku seorang asing, kamu tidak memberi Aku tumpangan; ketika Aku telanjang, kamu tidak memberi Aku pakaian; ketika Aku sakit dan dalam penjara, kamu tidak melawat Aku.
Lalu merekapun akan menjawab Dia, katanya: Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar, atau haus, atau sebagai orang asing, atau telanjang atau sakit, atau dalam penjara dan kami tidak melayani Engkau?
Maka Ia akan menjawab mereka: Aku berkata kepadamu, sesungguhnya segala sesuatu yang tidak kamu lakukan untuk salah seorang dari yang paling hina ini, kamu tidak melakukannya juga untuk Aku." (Mat 25:42-45)