Submitted by PlainBread on

Seorang Jackie Chan membuat film terkenal yang berjudul, WhoamI, kisah seorang karakter yang jagoan kung fu tapi terkena amnesia.

Seorang Will Smith membintangi film terkenal yang laris hingga saat ini, I, Robot, yang menengahkan pesan terselubung bahwa pada akhirnya, ciptaan akan bisa bertindak seperti penciptanya.

Seorang BF Skinner, seakan membuat kotak pandora, ketika beliau terkenal dengan kotak yang dibuatnya, yang diberi nama orang-orang sebagai Skinner's Box, dengan maksud mengamati reaksi tikus-tikus di dalam kotak tersebut terhadap stimulus dan manipulasi yang diberikan.

Seorang Alice, tokoh di cerita terkenal, Alice in Wonderland, yang nanti filmnya akan di-remake tahun ini, bertanya kepada dirinya sendiri, "Who in the world am I?", dan ketika ditanya oleh si kepompong,"Who are you?", dia dengan kikuk mengatakan,"I hardly know, Sir."

 

Sejak memasuki kuliah tahun kedua, saya sering membagikan (baca: mengkotbahi) teman-teman saya yang kristen, bahwa kekristenan mainstream sepertinya terlalu menekankan kepada mengasihi sesama, daripada mengasihi diri sendiri. Jawaban mereka beraneka ragam. Ada yang bilang bahwa sesama lebih penting. Ada yang bilang mengasihi sesama itu seperti mengasihi Tuhan. Ada juga yang bilang bahwa diri atau being itu adalah terkandung sifat jahat, patut ditaklukkan di kaki Tuhan.

Saya tidak mempersalahkan sepenuhnya jawaban-jawaban mereka, namun saya juga tidak melihat bahwa jawaban mereka memiliki korelasi kuat dengan apa yang saya nyatakan ke mereka.

 

Salah satu ucapan Yesus yang terkenal adalah diambil dari ayat berikut ini:

Mat 22:39 Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.

Kebanyakan dari kita lebih menekankan pada yang saya underline, bukan kepada yang saya bold. Padahal keduanya memiliki makna yang sama pentingnya, itulah sebabnya Yesus memparalelkan keduanya dengan menyambungnya memakai kata seperti.

Orang bisa saja mengklaim bahwa mereka mengasihi sesama, tapi tidak mau mengasihi diri sendiri. Tapi itu sama saja melanggar perintah Yesus. Dan itu adalah suatu kemustahilan. Bagaimana mungkin orang bisa mengasihi sesama tanpa mengasihi diri sendiri? 

Kalau mau ditarik lebih jauh lagi, perintah tersebut juga paralel dengan perintah-perintah tersebut di bawah ini:

1 Yoh 4:20 Jikalau seorang berkata: "Aku mengasihi Allah," dan ia membenci saudaranya, maka ia adalah pendusta, karena barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya, tidak mungkin mengasihi Allah, yang tidak dilihatnya.

Tidak mungkin seorang mengaku mengasihi Allah namun membenci saudaranya. Dan bagaimana mungkin orang mengaku mengasihi Allah tapi tidak mengasihi dirinya?

Ef 5:25 Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diri-Nya baginya

Demikian juga perintah di kitab Efesus ini. Sebagaimana Kristus mengasihi jemaat, hal tersebut paralel dengan suami yang mengasihi istri.

Dan inilah berbagai hal tersebut: diri sendiri, sesama (saudara), suami, istri, dan Tuhan, haruslah dikasihi.

 

Yang saya tekankan bukanlah mengenai sesama, mengenai suami, istri atau Tuhan. Sudah banyak orang dan pengajaran yang mengupas mengenai cara, tujuan dan berbagai hal mengenai mengasihi mereka.

Tapi bagaimana halnya dengan mengasihi diri sendiri?

 

Diri sendiri.

Seringkali disangka sebagai sesuatu yang jahat, sesuatu yang berlawanan dengan Tuhan, bahkan dengan kasih itu sendiri. Tapi bukankah Yesus berkata kasihilah sesamamu manusia seperti engkau mengasihi dirimu sendiri?

Pertanyaan berikutnya adalah. Bagaimana kita bisa melakukan sesuatu, entah itu mengasihi, membenci, menaklukkan, sesuatu jika kita tidak mengenali sesuatu itu? Apakah kita mengenali diri kita sendiri? 

Apa itu diri atau being, sudah menjadi pertanyaan yang berumur ratusan atau bahkan ribuan tahun. Bagaimana kita bisa melihat telapak tangan kita, memperhatikan tekstur di kulitnya, dan bisa menggerakkan jari-jari tersebut, tanpa kita mengambil waktu untuk merenungkan, "how is this possible?" But it is. Walaupun tangan tersebut bisa kita gerakkan, namun mengapa tangan orang lain tidak bisa kita gerakkan dengan cara yang sama kia menggerakkan tangan kita sendiri? 

 

Siapakah seorang PlainBread? Apakah PlainBread mengenali dirinya sebagaimana dia mengenali istrinya? Apakah PlainBread mengenali Tuhannya sebagaimana dia mengenali dirinya?

Pertanyaan tersebut yang saya pernah dan bahkan sering saya renungkan.

Apakah kalau nama saya bukan Brad Pitt (ha ha ha), berarti saya bukan diri saya lagi?

Apakah kalau saya tidak lahir di kota A, bersekolah di B, saya bukan diri saya lagi?

Apakah kalau saya tidak memiliki orang tua yang sama, itu berarti saya bukan diri saya lagi?

Apakah kalau saya lahir dengan gender dan dari suku yang berbeda, itu berarti saya bukan diri saya lagi?

 

Pertanyaan-pertanyaan di atas bukan saya tulis untuk minta dijawab, bahkan diperdebatkan. Pertanyaan-pertanyaan di atas yang menjadi bahan perenungan saya pribadi, bahkan sampai hari ini.

 

Adalah suatu kemustahilan jika saya mengaku mengasihi sesama, tapi saya tidak mengenali diri sendiri, apalagi mengasihi diri sendiri.

Adalah suatu kemustahilan jika saya mengaku mengasihi Allah, tapi saya tidak mengasihi sesama, karena saya tidak mengasihi diri sendiri, akibat dari tidak mengenali diri sendiri.

Adalah suatu kemustahilan jika saya mengaku mengasihi istri saya, sebagaimana Kristus mengasihi jemaat, namun saya tidak bisa mengasihi Allah, karena saya tidak mengasihi saudara dan sesama saya, karena saya tidak mengasihi diri sendiri, akibat dari saya tidak mengenali diri sendiri dari awalnya.