Submitted by tonypaulo on

Dalam manajemen prinsip Pareto merupakan suatu pendekatan klasik yang lazim digunakan dalam beberapa aspek, misalnya dalam mencari sumber masalah yang berkaitan dengan bussines performance, kinerja sebuah tim, atau sebagainya.

Esensi yang diajukan dalam aplikasi hukum pareto adalah 80/20, dalam studinya Pareto menyampaikan dalam suatu formula matematis mengenai ketidakmerataan distribusi dari kesejahteraan di negaranya (Italia), melalui formula matematis tersebut Pareto meng-konklusikan bahwa hanya 20 % dari masyarakat yang menguasai 80% kesejahteraan, artinya hampir mayoritas atau 80% masyarakat menikmati sisa 20% hasil ekonomi atau kesejahteraan.

Kemudian prinsip ini dikembangkan oleh Juran untuk aplikasi manajemen kualitas (quality management), meniadi suatu konklusi bahwa bahwa 20% sebab menghasilkan 80% problema, atau 20% tanggung jawab menghasilkan 80% hasil, namun prinsip inipun adalah prinsip yang dinamins dimana prinsip cateris parebus juga berlaku (berlaku untuk kondisi-kondisi tertentu).

Dalam aplikasinya prinsip 80/20 disebabkan oleh ketidakmaksimalan atau kurang berdayanya eksekusi dari apa yang telah direncanakan (lack of execution), sehingga hasil dari eksekusi itu 80%nya ada dikarenakan 20% dari hasil eksekusi yang dilakukan.  Misalnya 80% stock berasal dari 20% supplier, 80% hasil penjualan dihasilkan oleh 20% tenaga penjualan, 80% nilai tambah (added value) dihasilkan oleh 20% staff yang punya kompenten dan komitmen, dsb.

Pendekatan melalui Pareto law dalam konteks manajemen kualitas yang memberikan suatu metode kuantifikasi benar-benar telah menghasilkan dampak dan teruji. Jika dihubungkan dengan prinsip-prinsip bagaimana orang percaya menjalani keseharian ada beberapa hal yang menarik untuk dicermati

Pertama ; kuantitas waktu menentukan kualitas kedalaman suatu hubungan

Saya bukan seseorang yang mempercayai suatu pandangan umum mengenai bahwa bukan kuantitas waktu yang menentukan suatu subtansi dari sebuah hubungan, banyak orang-orang berkelit bahwa yang penting waktu yang berkualitas dalam suatu hubungan. Terlihat dari orang tua yang mulai larut dalam kesibukannya sehingga hanya menyisakan waktu sangat sedikit bagi anak-anak atau pasangannya sendiri, itupun sering disertai dengan amarah dan kepenatan akibat pekerjaan.

Baiklah saya tidak perlu melihat ke orang lain, saya akan lebih konsekuen jika melihat diri saya sendiri saja, seberapa keseharian saya menjebak saya untuk tidak memperhatikan kualitas hubungan saya dengan Tuhan dan dengan orang-orang sekitar saya

Beberapa saat yang lalu (long time ago…), kurang lebih pola hidup saya seperti ini

Waktu

Aktifitas

Pekerjaan

Keterangan

06.00-08.30

Mandi, sarapan dan berpakaian

Perjalanan ke kantor

-

08.30-12.00

Bekerja

Buat laporan, buat perencanaan, dsb

Berinteraksi dengan banyak orang baik internal maupun ekstrenal

12.00-13.00

Makan siang

-

Dengan orang-orang yang selalu sama atau pergi makan sendiri saja

13.00-17.30

Bekerja

Menghadapi “people and problem “ dsb

Terkadang suka lupa status anak Tuhan….

17.30-20.00

Pulang, atau hang out atau pacaran

Perjalanan ke rumah

-

20.00-22.00

Kalau ingat baca Firman atau doa, kalau keasikan nonton, atau online bisa lupa doa

-

Karena sibuk sering jadi alasan biar Tuhan bisa ngertilah dan bukan masalah besar kalau lupa baca atau tidak sempat Firman atau doa

22.00-….

Tidur

-

-

 

Kemudian di hari sabtu atau minggu, ibadah minggu sekitar 2 jam saja

Dari total waktu yang saya “konsumsi” atau “pinjam”  paling hanya 2-5 jam saja saya khususkan untuk Tuhan dari 168 jam yang ada ( 24 jam x 7 hari), jika di persentasikan sekitar 0.01% - 0.02% saja dari keseluruhan. Secara lebih proposional saya kalkulasikan waktu saya yang benar-benar tersedia atau aviable untuk saya dedikasikan kepada Tuhan

168 jam itu dipotong 40 jam untuk bekerja, 7 jam untuk makan siang, 20 jam untuk menuju dan dari tempat kerja, dan 5 jam yang berhubungan dengan pekerjaan, kemudian dipotong lagi dengan waktu tidur 56 jam, berarti waku saya yang benar-benar tersedia adalah 40 jam.

Jika diperbandingkan dengan waktu yang saya dedikasikan 2-5 jam dari 40 jam yang saya miliki. Itu baru 5% sampai 12% saja dari keseluruhan waktu saya yang tersedian (available).

Kemudian pola ini berubah lagi ketika saya mengikut pemuridan, dimana saya sambil tetap bekerja dimuridkan dan mengikuti aturan yang sudah ada

 

Waktu

Aktifitas

Pekerjaan

Keterangan

06.00-07.00

Doa pagi dan baca renungan bersama

 

Wajib setiap hari untuk diikuti

07.00-08.30

Mandi, sarapan dan berpakaian

Perjalanan ke kantor

-

08.30-12.00

Bekerja

Buat laporan, buat perencanaan, dsb

Berinteraksi dengan banyak orang baik internal maupun ekstrenal

12.00-13.00

Makan siang

-

Dengan orang-orang yang selalu sama atau pergi makan sendiri saja

13.00-17.30

Bekerja

Menghadapi “people and problem “ dsb

Selalu berusaha untuk jadi anak Tuhan yang baik

17.30-20.00

Pulang ke asrama

 

Perjalanan ke asrama

-

19.30-21.30

Kegiatan gereja

-

Senin : latihan vocal

Rabu : komunitas sel

Jumat : seminar di Gereja Induk

21.30-22.30

Doa malam (pujian penyembahan dan doa syafaat)

-

Wajib setiap hari untuk diikuti

22.30-….

Tidur

-

-

 

Hari sabtu ada breakthrough worship dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang, dilanjutkan makan siang bersama, kemudian pulang ke asrama dan biasanya menyiapkan bahan-bahan untuk presentasi kotbah gembala untuk dibuatkan powerpoint, kurang lebih 1 jam untuk mempersiapkannya, hari minggu ibadah dari jam 9 pagi sampai jam 2 siang, dan baru pulang sekitar jam 4 sore

Jika dihitung dari 168 jam selama satu minggu, hampir 30-36 jam saya dedikasikan untuk pelayanan dan pertumbuhan rohani saya, suka atau tidak suka saya jalani pola itu selama kurang lebih 1 tahun. Hampir 17%-21%, jika dihitung dari waktu saya yang tersedia 40 jam, hampir 75%-90% saya berikan.

Saya menyadari bahwa hanya beberapa gereja yang menerapkan pola pemuridan seperti di gereja saya, namun secara pribadi saya merasakan dampak dari pola tersebut. Bahwa kuantitas waktu yang kita investasikan kepada Tuhan menghasilkan kualitas kedalam hubungan kita dengan Tuhan.

Kembali ke prinsip Pareto, jika anak-anak Tuhan dalam kehidupannya menghasilkan “80%” perbuatan-perbuatan kasih dan terang, itu dihasilkan dari “20%” komitmen dan upaya menjalankan komitmen itu sendiri. Waktu yang ditabur untuk memiliki suatu relasi dengan Tuhan akan menuai dampak dalam kehidupan kita masing-masing. Mungkin hanya 20% dari waktu yang kita miliki akibat kesibukan dan pekerjaan kita masing-masing, namun dari 20% itu bisa kita manfaatkan untuk memiliki waktu saat teduh, berdoa, memuji dan menyembah dan baca Firman

Sebagian besar orang percaya bekerja dan berusaha, mungkin waktu yang tersisa mungkin sekitar 30-50 jam dalam seminggu, dari waktu yang tersedia tersebut berapa jam yang kita khususkan buat Tuhan? bukan selalu dalam artian harus melayani Tuhan dalam bentuk-bentuk pelayanan gereja, namun yang paling penting untuk diperhatikan adalah waktu untuk bersekutu dengan Tuhan secara pribadi dan waktu untuk bertumbuh dalam suatu persekutuan antar orang percaya.

Cukup 5 menit dalam satu hari? Atau berapa jam dalam satu hari yang kita sediakan untuk memuji, menyembah, berdoa dan membaca Firman Tuhan?

Raja Daud, adalah seorang Raja yang sangat sibuk, namun ada suatu keteledananya yang diberikannya;

Maz 5:4

(ITB)  TUHAN, pada waktu pagi Engkau mendengar seruanku, pada waktu pagi aku mengatur persembahan bagi-Mu, dan aku menunggu-nunggu.

(KJV)  My voice shalt thou hear in the morning, O LORD; in the morning will I direct my prayer unto thee, and will look up.

Tentu Raja Daud bukan sekedar berdoa secara “formalitas”, namun jelas Raja Daud menyampaikan ia berseru kepada Tuhan, ia mengatur persembahan dan ia menunggu, tentu Raja Daud mengerti bahwa pada waktu memulai hari ia bersekutu dengan Tuhan, walaupun fungsi dan tanggung jawabnya sebagai raja tentu akan sangat menyita waktunya, raja Daud menyadari bahwa pada waktu pagi penting baginya (sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidupnya) untuk duduk diam dikaki Tuhan.

Begitupula dengan Daniel;

Daniel 6:11

(ITB)  Demi didengar Daniel, bahwa surat perintah itu telah dibuat, pergilah ia ke rumahnya. Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.

 

(KJV)  Now when Daniel knew that the writing was signed, he went into his house; and his windows being open in his chamber toward Jerusalem, he kneeled upon his knees three times a day, and prayed, and gave thanks before his God, as he did aforetime.

 

Saya hanya bisa bilang WOW, terhadap apa yang dilakukan Daniel untuk mendevosikan waktunya bagi Tuhan, bersekutu dengan Tuhan sudah menjadi kebutuhan utama bagi Daniel.

 

Sudah diperhadakan dengan ancaman kematianpun Daniel tak gentar untuk tetap berdoa kepada Tuhan, sungguh itu membuat saya malu, ditengah kebebasan dan keluasaan untuk berdoa, saya sering tidak dengan sungguh hati berdoa.

 

Malah sepertinya saya hanya sungguh-sungguh berdoa kalau sedang susah hati dan punya permintaan saja, maafkan saya Tuhan.

 

Daniel sudah menikmati kesuksesan yang luar biasa,menjadi orang kepercayaan Raja (Dan 6:1-2). Sebenarnya secara manusiawi, Daniel punya pilihan untuk berhenti berdoa atau bersembunyi jika mau berdoa, kariernya di istanaraja Darius membuat para pesaingnya ingin menjebaknya.

 

Daniel sudah hidup sangat enak di istana raja Darius, bukan hanya kariernya yang dipertaruhkan namun nyawanya juga.

 

Kalau saya, belum juga diancam jika berdoa akan binasa sudah sering “alpha” atau “ijin” dengan alasan lelah dan sibuk, dsb.

 

Tapi sekarang saya sudah “memaksakan” diri sendiri harus berdoa agar bisa dispilin dan tekun untuk berdoa, untuk menjadi tekun memang harus “dipaksa”.

 

Setelah kuantitas waktu menentukan kualitas kedalaman suatu hubungan, maka kedua ; kualitas kedalaman suatu hubungan itu memang harus dipelihara

 

 

 

Ada pepatah lama yang menyatakan lebih mudah untuk meraih sesuatu dibandingkan mempertahankan sesuatu yang sudah kita raih tersebut.

Kualitas suatu hubungan untuk terus berkembang memang harus dipelihara dan dijaga, saya ingat ketika saya “dilanda” kasih mula-mula , saya merasakan tiada waktu tanpa memuji dan bertekun dalam Tuhan, namun ketika saya tidak memperhatikan bagaimana saya harus memelihara dan menjaga kualitas hubungan saya dengan Tuhan, kualitas hubungan pribadi saya memang akan terdegradasi.

Hubungan dengan Tuhan adalah hubungan yang dua pihak, dimana Tuhan tentu dapat menjaga kita, namun untuk menjaga hubungan Tuhan dengan manusia, Tuhan tidak bisa “bertepuk sebelah tanggan”, bagaimana  respon hati manusia itu juga adalah medium relasi manusia dengan Tuhan (prinsip persekutuan).

Saya lupa atau lalai dalam berjaga-jaga dan waspada, sehingga kasih mula-mula dengan semangat yang membara, seiring dengan waktu memudar, bahkan sampai meredup dan mati, sampai dimana saya tidak bisa merasakan lagi indahnya persekutuan dengan Tuhan, dan saya sepenuhnya sadar bahwa permasalahannya ada di diri saya, yang tidak tekun dan lalai untuk berjaga-jaga.

Kembali kepada prinsip Pareto 80/20, saya merasakan bahwa untuk menghasilkan suatu kualitas hubungan yang semakin hari semakin dalam, tentu diperlukan suatu usaha dan kerja keras untuk bertekun didalam Tuhan.

Jika 80% dari  hasil disebabkan oleh 20% dari usaha, hasil sebaik atau seburuk  apapun dihasilkan oleh faktor determinan (faktor penentu) yang dalam prinsip Pareto disebabkan dari 20% usaha terbaik tersebut. Maka jika setiap orang percaya punya komitmen total misalnya dalam waktu yang tersedianya digunakan 20% saja untuk bersungguh-sungguh dalam bertekun untuk menjaga dan memelihara hubungan yang berkualitas dengan Tuhan,  lewat jam-jam doa yang teratur dan disiplin, maka akan ada suatu kegerakan besar untuk menjalankan roda transformasi dimanapun orang percaya itu bermukim.

Waktu yang tersedia dari satu hari sering kita habiskan dengan semena-mena untuk suatu kegiatan yang sebenarnya kurang memberikan manfaat, misalnya nonton TV, online dengan suatu yang kurang jelas, main game, dsb

Bagaimana jika kegiatan tersebut diganti dengan doa pribadi, baca Firman setiap hari, baca bacaan rohani melalu buku, atau web-web rohani, atau belajar menuliskan kebaikan-kebaikan Tuhan dalam hidup kita, dsb

Mengapa saya menekankan pada WAKTU untuk menjaga kualitas hubungan pribadi kita dengan Tuhan, baik Rasul Petrus dan Rasul Paulus juga menekankan urgensi dari makna pengunaan waktu

Kol 4:5  Hiduplah dengan penuh hikmat terhadap orang-orang luar, pergunakanlah waktu yang ada.

Ef 5:16  dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat.

1Pet 4:2  supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah.

1Pet 4:3  Sebab telah cukup banyak waktu kamu pergunakan untuk melakukan kehendak orang-orang yang tidak mengenal Allah. Kamu telah hidup dalam rupa-rupa hawa nafsu, keinginan, kemabukan, pesta pora, perjamuan minum dan penyembahan berhala yang terlarang

Ada yang menyatakan waktu ada uang (time is money), secara pribadi buat saya waktu adalah suatu kesempatan menguji kebermanfaatan diri saya sendiri buat orang sekitar.

Saya sering lalai dalam mempergunakan waktu, banyak waktu yang sebenarnya hanya untuk kesenangan saya pribadi yang saya sesali saat ini, karena banyak kesempatan bagi saya ketika saya bisa lebih bermanfaat buat orang lain, ternyata tidak demikian faktanya, waktu saya habiskan untuk kesenangan saya sendiri.

Seringsekali saya juga melewatkan waktu yang sebenarnya bisa saya gunakan untuk memuji Tuhan, berdoa dengan pokok-pokok doa atau membaca Firman dan membaca buku-buku rohani atau mendengarkan mp3  kotbah-kotbah, tetapi tidak saya gunakan untuk itu.

Dengan demikian kasih mula-mula yang dulunya membakar sangat membara, perlahan namun pasti membuat api dan kegairahan saya terhadap Tuhan dan perkara-Nya menjadi meredup, karena saya tidak mempergunakan waktu semestinya, saya banyak menghabiskan waktu dan berharap bahwa Tuhan bisa mengerti walau sering “alpha” atau “ijin” bersekutu secara pribadi dengan Tuhan.

Bahkan sering sekali saya beralasan, tadi kan di gereja sudah berdoa, jadi “sisa” waktu yang ada adalah “milik” saya, padahal Tuhan sudah memberikan nyawanya pada saya secara keseluruhan, namun buat saya untuk memberikan keseluruhan waktu saya buat Tuhan, masih sangat berat sekali. Khususnya dalam jam-jam doa rutin dan baca Firman setiap hari.

Bukan berarti juga saya ingin setiap waktu yang tersedia saya gunakan seluruhnya untuk doa, pujian dan belajar Firman, setidaknya buat saya pribadi setidaknya saya bisa berdoa, memuji dan belajar Firman selama 2-3 jam dalam satu hari, setelah itu saya masih bisa nonton film korea kesukaan saya, menulis sesuatu, membaca dsb

Saya berketetapan hati untuk menjaga dan memelihara  kualitas hubungan pribadi saya dengan Tuhan, dengan menyediakan waktu khusus agar kasih mula-mula itu bisa terus ada dalam hati saya, walaupun bagi saya tidak mudah namun saya ingin tetap memelihara rasa haus dan lapar saya akan Tuhan tetap menjadi pengerak dalam kehidupan saya.

 

Terakhir sesudah  kualitas kedalaman suatu hubungan itu memang harus dipelihara, prinsip 80/20 Pareto juga dapat memberikan suatu inspirasi bagi orang percaya, ketika 80% produktifitas dihasilkan oleh 20% orang-orang terbaik di suatu perusahaan, maka hanya 20% yang memberikan hasil 80%, dapat dibayangkan jika 80% terdorong menghasilkan sama seperti 20% orang-orang yang terbaik tentu akan menghasilkan empat kali lipat dari 80% yang dihasilkan oleh hanya 20%.

Manusia tidak diciptakan untuk hidup sendirian (bukan dalam artian pernikahan), setiap manusia membutuhkan suatu lingkungan sosial bersama dengan orang lain untuk menjalankan fungsi dan habitnya sebagai mahluk sosial.

Persekutuan jemaat mula-mula berdampak sangatlah luar biasa, mereka banyak menyediakan waktu untuk berkumpul, bahkan secara intens mereka berkumpul

Act 2:46  Dengan bertekun dan dengan sehati mereka berkumpul tiap-tiap hari dalam Bait Allah. Mereka memecahkan roti di rumah masing-masing secara bergilir dan makan bersama-sama dengan gembira dan dengan tulus hati,

 

Act 2:47  sambil memuji Allah. Dan mereka disukai semua orang. Dan tiap-tiap hari Tuhan menambah jumlah mereka dengan orang yang diselamatkan.

 

Kalau hal-hal itu dilakukan pada saat ini, pasti sudah dicap “gila” dan fanatik, kok “tiap tiap hari” (day after day) mungkin dalam satu minggu sedikitnya mereka berkumpul 3-4 hari dalam seminggu atau bahkan hampir setiap hari, mungkin tantangan pada saat itu tidak seperti sekarang, dimana ada puluhan station TV, PC games, facebook, dsb.

Lebih besar dari itu, tantangan jemaat mula-mula adalah nyawa dan keluarganya, ketika mereka bergabung ada konsekuensi yang harus dihadapi, sangat tidak mudah dan penuh resiko.

Sekali lagi saya malu dengan jemaat mula-mula, mengapa saya tidak lebih berapi-api dibandingkan mereka semua, saya tidak menghadapi dera siksa dan sebutan sekte, saya hanya menghadapi paling-paling macet dan lelah, tapi sering saya “dikalahkan” untuk melangkahkan kaki ke persekutuan

Padahal saya sadar saya membutuhkan persekutuan dengan sesama orang percaya, karena tidak mungkin saya bisa lepas dari persekutuan orang percaya sebagai tubuh Kristus ditengah tersedianya persekutuan dimana saya bisa bertumbuh dan berkembang.

Akhirnya buat saya adalah penting sangat untuk memperhatikan kuantitas waktu menentukan kualitas kedalaman suatu hubungan, saya harus memaksakan diri saya untuk mempunyai waktu khusus untuk bersekutu dengan Tuhan, kemudian untuk memelihara dan menjaga kualitas hubungan pribadi saya dengan Tuhan, saya harus berjaga-jaga dan waspada dengan berkumpul atau menyediakan waktu bersekutu bersama dengan orang percaya lainnya.

Untuk segala sesuatu ada harga yang harus dibayar, menyediakan waktu adalah harga yang memang harus dibayar untuk membangun suatu hubungany yang berkualitas, seperti yang Paulus sampaikan ;

Php 3:7  Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus.

 

Php 3:8  Malahan segala sesuatu kuanggap rugi, karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia dari pada semuanya. Oleh karena Dialah aku telah melepaskan semuanya itu dan menganggapnya sampah, supaya aku memperoleh Kristus,

 

Php 3:9  dan berada dalam Dia bukan dengan kebenaranku sendiri karena mentaati hukum Taurat, melainkan dengan kebenaran karena kepercayaan kepada Kristus, yaitu kebenaran yang Allah anugerahkan berdasarkan kepercayaan.

 

Php 3:10  Yang kukehendaki ialah mengenal Dia dan kuasa kebangkitan-Nya dan persekutuan dalam penderitaan-Nya, di mana aku menjadi serupa dengan Dia dalam kematian-Nya,

 

Suatu devosi akan selalu berhubungan dengan menyediakan waktu, dan waktu terus akan berputar dimana kesempatan-kesempatan itu terkadang tidak bisa kembali lagi.

Menjadi doa dan harapan saya agar saya dan teman-teman sekalian dapat terus memiliki kehendak (will), gairah (passion) dan semangat (determination) untuk mengenal Kristus dan serupa dengan DIA

Amin