Submitted by
Purnomo
on
Jika pertanyaan di atas diajukan oleh anak Anda yang baru berusia SD, apa jawab Anda? Saya yakin lebih banyak ibu yang akan menjawab “tidak ada” agar anaknya tidak ketakutan. “Tetapi guru Sekolah Minggu cerita di Gadara ada orang yang kesurupan hantu.” O, itu jaman dulu waktu Yesus hidup di dunia. Sekarang hantu tidak ada lagi. Mengapa? Karena walau sering byar-pet sekarang ada PLN yang ingin Indonesia makin terang dan terang terus sehingga hantu menghilang dan manusia bisa makin tidak terus terang.
Sewaktu saya masih di SD, saya tidak pernah mengajukan pertanyaan itu kepada orang tua saya. Saya beserta teman-teman bermain yang hidup di sebuah kampung di tengah kota tahu hantu itu ada karena pengalaman sehari-hari. Bagi kami hantu adalah mahluk yang tidak kasatmata. Ada yang baik ada yang jahat ada yang bisa diajak bermain.
Kami tahu yang baik merasuki tubuh perempuan tua yang kami kenal sebagai penyembuh orang sakit. Jika seorang anak badannya panas selama berhari-hari dan dibawa ke depannya, ia akan membaca mantera di depan segelas air dalam suara parau dan kemudian menyembur-nyemburkan ludahnya ke arah gelas itu. Air di gelas itu diminumkan kepada si anak dan tak lama kemudian ia sembuh. Pengobatan cara ini lebih enak daripada anak itu harus minum air tim-timan cacing tanah yang gemuk. Atau, air rendaman ari-ari kering yang lepas dari pusarnya. Ibu saya menyimpan “dendeng” milik sembilan orang anaknya dalam kantong kecil dari kain putih yang ditulisi nama setiap pemiliknya. Kami tidak tahu apakah khasiatnya dikarenakan dendeng itu masih mengandung obat antibiotik yang dulu ditaburkan ke pusar kami kala masih basah, atau karena kami patuh untuk istirahat total dengan tinggal dalam kamar karena takut dicekoki untuk kedua kalinya. Suatu kali saya dan adik-adik yang sudah besar mencapai kata sepakat untuk memusnahkan benda-benda ini karena kami jijik. Sampai hari ini kami tidak memberitahu Ibu barang-barang itu hilang bukan karena dia lupa tempat menyembunyikannya, tetapi karena telah kami buang ke kali.
Kami tahu yang jahat sering merasuki tubuh orang yang suka black magic. Suatu siang kampung kami gempar. Dari sebuah rumah ada orang berteriak-teriak ketakutan. Saya menyeruak kerumunan orang di depan rumah itu. Seorang perempuan paruh baya sedang nangkring di atas partisi ruang tamu dengan ruang tidur yang tingginya hampir 3 meter. Orang-orang mengatakan perempuan itu kesurupan roh jahat karena tidak mungkin ia bisa memanjat naik ke atas partisi itu tanpa kekuatan dari dunia lain. Ia memanjat dinding seperti cicak merayap. Tidak ada yang berusaha menolongnya untuk turun. “Berbahaya,” kata mereka, “kalau roh itu belum pergi, ia bisa pindah masuk ke tubuh orang yang menolongnya. Biarlah dia merasakan akibatnya sering ke orang pandai.”
Tetapi kami juga tahu ada yang bisa diajak bermain. Pada malam Jumat, kadang kami bermain jailangkung. Kami mencari keranjang bambu dan menegakkan siwur (gayung dari batok kelapa yang diikat pada sebatang kayu) di dalamnya. Lalu seorang dari kami melepaskan bajunya untuk menyelimuti keranjang itu. Dengan kapur tulis kami menggambar mata, hidung dan mulut pada batok kelapanya. Kapur itu kemudian kami ikatkan di dadanya. Selembar batu tulis yang dulu menjadi bawaan wajib anak SD kelas 1 dipegang di depannya oleh seorang anak. Kami menyalakan sebatang lilin dan meletakkan sepotong jajan pasar di depan keranjang itu. Dua anak memegangi jailangkung dan kami mulai mengguman memanggil arwah. Saya tidak ingat syair mantera itu karena selalu berubah-ubah. Intinya, “kami harap arwah yang sedang lewat mampirlah kemari.”
Sering mantera kami tidak manjur. Ini bisa ditengarai dari wajah cengengesan anak yang memeganginya. Tetapi sering pula ada arwah yang mampir sehingga membuat pucat pemegangnya. “Keranjangnya berat,” bisik mereka. Lalu kami mengajukan pertanyaan dan jailangkung menuliskan jawabannya dengan kapur tulis di atas batu tulis. Tulisannya jauh lebih rapi daripada bila keranjang itu tidak “berisi” padahal pemegangnya anak-anak yang baru belajar menulis yang terpaksa mau memeganginya karena dipaksa oleh para seniornya. Kami mengajukan berbagai pertanyaan, bahkan memberi soal berhitung bila arwah itu mengaku pernah lulus SD. Setelah kami bosan bermain, kami minta arwah itu pergi. Bagaimana bila ia bandel? Anak yang paling besar akan menendang keranjang itu dan menginjak-injaknya. Ingatan saya memastikan tidak ada anak yang kemudian kesurupan.
Jailangkung adalah permainan populer anak-anak “kelas bawah” sebelum tahun 1960. Karena itu walau sering bermain jailangkung (dengan posisi sebagai penonton) saya tidak pernah menyatakan saya adalah anak pemberani. Sebaliknya, saya penakut. Ayah pernah marah ketika saya menolak disuruh ke rumah temannya di kampung sebelah setelah tahu itu dikarenakan saya takut berjalan di lorong penghubung yang gelap, sepi dan ada pohon besar. “Manusia lebih tinggi harkatnya daripada hantu. Hantu takut kepada manusia, kecuali orang itu penakut,” teriaknya. Saya tahu ayah saya tidak pernah takut kepada hantu. Suatu kali pernah ia bercerita ketika saya masih bayi setiap malam saya menangis berkepanjangan. Ia tahu penyebabnya ketika pada suatu malam ia pergi ke halaman belakang. Di atas sebuah pohon ia melihat gendruwo, hantu bertubuh raksasa. Ia tidak menceritakan apa yang dilihat kepada Ibu. Tetapi pada keesokan harinya dengan tangannya sendiri ia menebang pohon itu. Ayah belum Kristen dan juga tidak bersembahyang di kelenteng. Sejak itu saya tak lagi menangis pada malam hati tanpa sebab.
Kalau Ayah sudah marah, saya tidak berani membantah. Maka saya kemudian berjalan memasuki lorong gelap itu. Ayah melarang saya melalui jalan lain. Saya harus melalui lorong itu. Sendiri, tidak boleh ditemani orang lain. Kaki saya terasa berat waktu melangkah. Kegelapan itu menakutkan. Kegelapan menyusutkan kemampuan panca indera manusia. Karena ia tidak bisa melihat dengan jelas, maka gerakan daun di pohon tidak bisa ia ketahui penyebabnya. Lalu otaknya mereka-reka penyebabnya dan selalu saja tiba pada kesimpulan yang menyeramkan. Ketika kemudian ada suara orang menyanyi lirih, telinganya tidak bisa memastikan arah datangnya suara itu sebab otaknya sudah membeku karena ketakutan. Saya berjalan dengan cepat. Suara yang ditimbulkan oleh gesekan sandal saya dengan tanah terdengar makin lama makin keras di telinga. Rasanya suara itu bukan berasal dari dua sandal, tetapi empat. Saya berlari dan sampai di kampung sebelah dengan berkeringat.
Tetapi Ayah bukan orang kejam. Ketika saya duduk di kelas 3 SD, kami sekeluarga pindah ke Jakarta. Ayah hobi membaca tetapi tidak punya cukup uang untuk membeli buku. Karena itu pada malam hari ia sering bersepeda ke toko buku Gunung Agung untuk numpang membaca. Saya sering diajaknya setelah ia tahu saya membaca koran bekas. Selalu saja kami melalui sebuah jalan sempit yang sepi dan gelap di samping rel kereta api. Saya tidak takut. Hingga suatu malam ketika kami melintasi jalan itu, saya melihat ada seorang berdiri di tepi jalan. Orang itu juga memandang ke arah saya. Badan saya langsung dingin membeku setelah menyadari kepala orang itu ada dua. Saya tidak sanggup menggerakkan lidah untuk memberitahu Ayah agar ia mempercepat laju sepedanya. Baru ketika sampai di jalan besar, saya memberitahu Ayah. Ia bersikeras tidak melihat orang itu. Tetapi ia meluluskan permintaan saya agar nanti pulangnya tidak lewat jalan itu lagi. Hari-hari kemudian tanpa menyelidiki apakah yang saya lihat sekedar halunasi atau imajinasi, ia tak lagi melintasi jalan itu walau itu berarti ia harus mengayuh sepeda lebih lama.
Apakah hantu itu ada? “Ada,” kata seorang teman yang hafal isi Alkitab sekaligus sarjana psikologi, “tetapi pengalaman penampakan hantu melalui pancaindera entah itu melihat, mendengar, merasakan atau membaui kehadirannya adalah bohong. Semua bisa dijelaskan secara ilmiah.” Lalu ia menjelaskan tentang fantasi, ilusi, fobia, paranoid, parapsikologi, poltergeist, psikokenesis spontan yang uncontrolable dan berbagai istilah yang susah saya ingat.
Pernyataannya tidak sepenuhnya salah dan juga tidak sepenuhnya betul. Seumur hidup ia tidak pernah merasakan manifestasi kehadiran hantu. Selalu saja saya mengakhiri perdebatan dengannya dengan mengatakan, “Berbahagialah kamu yang tidak pernah merasakan pengalaman mistis. Semoga begitu seterusnya sampai akhir hidupmu.”
Tidak boleh dipungkiri banyak cerita hantu adalah rekaan belaka. Jika seorang ibu sulit menghentikan anaknya bermain di luar rumah sampai hari menjelang malam, ia akan mengingatkan “magrib adalah waktu hantu mulai keluar kelayapan.” Cerita hantu bisa saja dikarang untuk menakut-nakuti orang untuk tidak melakukan tindakan yang terlarang atau merugikan orang lain. Tempat-tempat yang perlu dilindungi mempunyai cerita-cerita mistis yang menyeramkan. Misalnya saja pekuburan yang sepi bisa mengundang orang berbuat jahat dengan membongkar kubur untuk menjarah benda-benda berharga yang ada dalam peti mati. Kenyataannya, banyak piramida yang sudah dijarah hartanya walau sudah “dilindungi” dengan cerita seram. Waktu saya kecil ada cerita seram yang beredar tentang pekuburan Kristen di pinggir kota. Ada sepasang manusia ML di situ. Esok hari mereka ditemukan penjaga masih lengket seperti anjing. Mereka diangkut ke rumah sakit seperti bayi kembar siam untuk dipisahkan. Saya tidak tahu bagaimana dokter memisahkan mereka. Mungkin dengan amputasi, mungkin dengan menyiramkan bensin seperti bila saya membersihkan lem yang melekat di jari saya usai menambal ban sepeda yang bocor. Sudah jelas pesan yang terkandung dalam cerita isapan jempol ini. Memang asyik kok pacaran di sana. Lho, kok tahu?
Cerita tentang segitiga Bermuda sekarang tidak lagi populer karena kemajuan teknologi sudah dapat memetakan posisi terakhir pesawat-pesawat yang menghilang dari layar radar. Walau bangkai pesawat yang terbaring di dasar laut tidak bisa diangkat, kita tahu pesawat itu tidak menghilang karena dimangsa hantu atau alien. Sayang tidak semua kejadian aneh bisa dijelaskan seperti yang pernah saya alami sekitar tahun 1983.
Saat itu saya dipindahtugaskan ke Surabaya dan berkantor di daerah Ngagel di tepi sungai. Suatu hari seorang salesman senior disertai office boy melapor. Setiap Sabtu sore sisa barang yang dibawa oleh salesman yang bertugas di kota Surabaya dititipkan ke gudang kantor karena gudang barang yang melayani pengiriman barang ke seluruh Jawa Timur dan Indonesia Timur sudah tutup tengah hari. Gudang kantor kami berukuran 5 x 5 meter tanpa jendela dan dipergunakan untuk menyimpan barang-barang reklame. Di sepanjang dinding ada rak tinggi untuk menyimpan poster, spanduk, umbul-umbul, booklet, flyer dan juga arsip-arsip kantor yang tidak boleh dimusnahkan sebelum berusia 5 tahun. Senin pagi ketika salesman mengambil barang titipannya ini, ternyata ada yang berkurang. Dari catatan yang diperlihatkan kepada saya, kehilangan ini tidak besar dan tidak terjadi setiap minggu. Tetapi nilai kumulatipnya dalam waktu setengah tahun bila dihitung dengan kurs saat ini sudah mendekati 1 juta rupiah.
Prosedur keamanan telah dilakukan. Setelah pintu dikunci, office boy mengambil secarik kecil kertas yang sangat tipis dan membubuhkan tanda tangannya di situ. Kemudian dengan lem yang sangat rekat kertas itu ditempel menutupi lubang kunci. Kunci kemudian dititipkan ke pos satpam. Senin pagi ia sendiri yang membuka pintu gudang setelah yakin kertas segel itu tidak rusak.
Salesman senior itu menjamin kejujuran office boy yang sudah sepuh ini. Tetapi salesman lain mulai mencurigainya. Kakek itu meminta saya membereskan masalah ini agar nama baiknya dipulihkan.
Melalui kesepakatan bersama, kerugian salesman diganti dengan uang yang diambil dari kas taktis. Sumber pemasukan kas ini berasal dari penjualan koran bekas, ban bekas dan bangkai reklame. Uang kas ini kami pergunakan untuk menyumbang karyawan yang mengalami musibah atau rekreasi bersama. Lalu saya mengambil alih tugas office boy pada Sabtu sore. Bersama salesman senior saya menerima titipan barang itu, menghitung dan mencocokkan dengan catatan yang saya terima. Untuk menandatangani kertas segel saya mempergunakan vulpen yang tintanya saya oplos sendiri dengan mencampur tinta merah, hijau dan biru. Selain itu saya juga membungkus anak kunci dan menyegelnya sebelum saya titipkan ke pos satpam. Kepada sekuriti saya jelaskan masalahnya sehingga mereka tidak sakit hati menerima anak kunci itu dalam sampul tertutup. Satu dua minggu tidak ada barang titipan yang berkurang. Pada minggu ketiga ada barang yang hilang. Walau nilainya tidak lebih dari 50 ribu rupiah, tetapi saya jengkel sekali karena tidak tahu sebabnya. Gudang itu tertutup rapat. Lobang-lobang ventilasi ditutup dengan kawat kasa yang kuat sehingga tidak bisa dirusak oleh tikus. Lantainya bersih. Udara tidak lembab dan sela antara sisi bawah daun pintu dengan lantai hanya beberapa milimeter. Saya mengambil uang kas taktis untuk mengganti kehilangan itu.
Sebulan kemudian saya memerintah office boy untuk mengeluarkan sisa barang-barang reklame yang sudah kadaluwarsa untuk dibakar. Tengah hari kakek ini bergegas masuk ke ruang kerja saya dan meminta saya ikut ke gudang. Ia tidak mau memberi penjelasan ketika mempersilakan saya memanjat tangga aluminium untuk melihat sisi teratas rak. Apa yang saya lihat? Di situ terletak barang-barang yang selama ini menguap hilang. Saya menunggui si kakek mengumpulkannya dalam sebuah kardus besar dan menghitungnya. Jumlahnya cocok dengan catatan kami. Kemasan barang-barang itu tidak bercacat, bahkan tergorespun tidak.
“Gudang ini ada yang menunggui,” bisik si kakek.
“Tetapi tidak mengganggu, hanya menggoda,” jawab saya. Saya tidak mengalami sesuatu yang aneh seperti udara yang mendadak terasa dingin, semilir angin yang mengelus tengkuk, lampu yang makin pudar nyalanya dan akhirnya padam, udara menjadi berat sehingga saya makin sulit bernafas.
Yang panik malah atasan saya. Ia menyuruh si kakek membuat sesaji dan saya disuruh menyelenggarakan pengajian. “Lebih baik jangan, Pak,” jawab saya. “Jika kita memberi apa yang tidak ia butuhkan, malah nanti ia marah. Apa tidak repot bila nanti seluruh isi gudang dibuat berantakan?”
“Dari mana kamu tahu ia tidak butuh?”
“Ia tidak mengabari.”
“Memangnya hantu bisa memberi kabar?”
“Kalau ia bisa memindahkan barang dari lantai ke atas rak yang hampir 3 meter tingginya, masa menulis surat ia tidak mampu? Tak perlu kuatir, Pak. Pasti ia tahu hirarki organisasi di sini sehingga Bapak nanti yang pertama menerima suratnya.”
Hehehe, sambil menggerutu tak jelas ia pergi meninggalkan kami.
Setelah itu si kakek tahu kemana harus mencari bila ada barang yang hilang di gudang kantor.
(end of file)
Kisah-kisah mistis.
bag 1: Jangan pipis dekat kuburan.
bag 2: Mama, hantu itu apa ada?