Allah menciptakan manusia yang mempunyai kehendak bebas dan menempatkan manusia itu di taman Eden. Kemudian Allah membuat aturan: “Jangan makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat!”. Tetapi anehnya Allah menciptakan ular yang bisa berbicara dan punya hobby menggoda dan bergosip ria di Taman Eden! (Hal ini tetap dilakukan-Nya walaupun Dia tahu manusia itu akhirnya akan gagal.)
Selanjutnya kita tahu manusia gagal dan makan buah celaka itu setelah digoda oleh ular celaka. Lalu Allah mengusir manusia dari Taman Eden dan (anehnya lagi) sebelum diusir Allah mengadakan permusuhan antara keturunan perempuan dengan keturunan ular yang menggoda manusia untuk makan buah pengetahuan yang baik dan yang jahat. Benar-benar aneh!
Hanya karena makan buah celaka itu sebagian manusia harus dihukum di neraka bila tidak bertobat. Ampun deh, hukumannya gile beneer, dibakar di neraka sampai selama-lamanya hingga gosong! Busyet deh, kenapa sih Allah harus menghukum manusia sedemikian berat, hanya karena makan buah celaka itu?
Kalo dipikir-pikir, bukankah Allah adalah penguasa alam semesta, segala sesuatu adalah milik Nya, Dia tidak punya lawan yang sebanding. Kita tahu Bapa mengutus Anak-Nya untuk menebus manusia dari murka Allah. Kenapa harus repot-repot sih menjelma menjadi manusia untuk meghapus dosa manusia? Kenapa Allah tidak mengampuni manusia begitu saja? Katanya Allah maha kasih? Bila Allah mengampuni semua manusia tanpa harus ada syarat “percaya pada Yesus”, siapa yang akan protes: “Kenapa Engkau berbuat demikian?” Bila pun ada yang protes (Iblis mungkin?), bukankah Allah bisa berfirman “Lenyaplah dari alam semesta ini!”, maka tukang protes itu akan lenyap dalam sekejap mata?
Ah, tapi nyatanya tidak demikian, Alkitab berkata bahwa karena makan buah celaka setelah digoda oleh ular celaka, sebagian besar manusia akan binasa di neraka. Dan sang Penguasa alam semesta membuat permainan : “Siapa yang bertobat dan percaya Yesus akan selamat, yang tidak percaya Yesus akan binasa”. Aneh bin ajaib, orang percaya itu pun harus didakwa oleh sang Pendakwa siang dan malam!
Ngeri benar hidup ini. Kalo lah bisa memilih untuk tidak dilahirkan ke dunia ini?
"Biarlah hilang lenyap hari kelahiranku dan malam yang mengatakan: Seorang anak laki-laki telah ada dalam kandungan.
Biarlah hari itu menjadi kegelapan, janganlah kiranya Allah yang di atas menghiraukannya, dan janganlah cahaya terang menyinarinya.
Biarlah kegelapan dan kekelaman menuntut hari itu, awan-gemawan menudunginya, dan gerhana matahari mengejutkannya.
Malam itu--biarlah dia dicekam oleh kegelapan; janganlah ia bersukaria pada hari-hari dalam setahun; janganlah ia termasuk bilangan bulan-bulan.
Ya, biarlah pada malam itu tidak ada yang melahirkan, dan tidak terdengar suara kegirangan.
Biarlah ia disumpahi oleh para pengutuk hari, oleh mereka yang pandai membangkitkan marah Lewiatan.
Biarlah bintang-bintang senja menjadi gelap; biarlah ia menantikan terang yang tak kunjung datang, janganlah ia melihat merekahnya fajar, karena tidak ditutupnya pintu kandungan ibuku, dan tidak disembunyikannya kesusahan dari mataku.
Mengapa aku tidak mati waktu aku lahir, atau binasa waktu aku keluar dari kandungan? Mengapa pangkuan menerima aku; mengapa ada buah dada, sehingga aku dapat menyusu?
Jikalau tidak, aku sekarang berbaring dan tenang; aku tertidur dan mendapat istirahat bersama-sama raja-raja dan penasihat-penasihat di bumi, yang mendirikan kembali reruntuhan bagi dirinya, atau bersama-sama pembesar-pembesar yang mempunyai emas, yang memenuhi rumahnya dengan perak.
Atau mengapa aku tidak seperti anak gugur yang disembunyikan, seperti bayi yang tidak melihat terang?
Di sanalah orang fasik berhenti menimbulkan huru-hara, di sanalah mereka yang kehabisan tenaga mendapat istirahat. Dan para tawanan bersama-sama menjadi tenang, mereka tidak lagi mendengar suara pengerah. Di sana orang kecil dan orang besar sama, dan budak bebas dari pada tuannya.
Mengapa terang diberikan kepada yang bersusah-susah, dan hidup kepada yang pedih hati; yang menantikan maut, yang tak kunjung tiba, yang mengejarnya lebih dari pada menggali harta terpendam; yang bersukaria dan bersorak-sorai dan senang, bila mereka menemukan kubur; kepada orang laki-laki yang jalannya tersembunyi, yang dikepung Allah?
Karena ganti rotiku adalah keluh kesahku, dan keluhanku tercurah seperti air.
Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul." (Ayub 3:3-26)