Tselem demuth elohim artinya peta teladan Allah. Manusia adalah peta teladan Allah, apa artinya? Apa yang terjadi dengan peta teladan Allah setelah Adam dan Hawa berdosa? Apa yang terjadi dengan peta teladan Allah setelah Yesus Kristus menanggung dosa manusia? Apa yang terjadi dengan Peta teladan Allah setelah seseorang menjadi Kristen? Apa pula yang terjadi dengan Peta teladan Allah ketika seorang Kristen berbuat dosa?
Peta Teladan Allah Di Dalam Alkitab
Walaupun menyatakan manusia peta teladan Allah, namun Alkitab sama sekali tidak menjelaskan artinya dengan gamblang. Bila Allah menginginkan manusia mengerti, walaupun catatannya tidak gamblang, kita tetap bisa menarik kesimpulan dengan benar. Tubuh manusia bukan peta teladan Allah, karena Alkitab mengajarkan bahwa Allah itu Roh sementara binatang juga memiliki tubuh. Roh manusia bukan peta teladan Allah, sebab malaikat adalah makluk roh. Binatang hanya memiliki tubuh sementara malaikat hanya memiliki Roh. Di antara binatang, kemampuan tubuh manusia bukan yang paling hebat, sementara Alkitab mencatat secara roh manusia lebih rendah dibandingkan malaikat. Namun, manusia adalah penguasa dunia dan peta teladan Allah. Apa yang membuat manusia begitu istimewa?
Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran." Yohanes 4:24
Pengkotbah alam roh mengajarkan, menyembah Allah dalam roh berarti hanya roh manusia yang menyembah dengan bahasa roh sementara tubuh dan akal budi sama sekali tidak ikut serta. Ajaran demikian bertentangan dengan ajaran Alkitab. menyembah Allah dalam roh bukan menyembahNya dengan bahasa roh, itu sebabnya Alkitab mengajarkan bahwa bahasa roh adalah tanda untuk orang tidak beriman (1 Korintus 14:22) dan melarang orang Kristen berbahasa roh beramai-ramai apalagi tanpa penerjemah (1 Korintus 14:27-28). Menyembah Allah dalam roh bukan menyembah Allah tanpa akal budi, itu sebabnya Allah memberi perintah agar manusia mengasihiNya dengan segenap akal budi. Menyembah Allah dalam roh bukan hanya roh yang menyembahNya, itu sebabnya Allah menciptakan tubuh, Kristus bangkit di dalam tubuh (Lukas 24:39) dan manusia akan dibangkitkan tubuhnya (1 Korintus 15:42).
Menyembah Allah dalam roh adalah menyembah Allah sebagai makluk roh, tanpa wujud dan tanpa rupa. Perintah menyembah Allah dalam roh di tuangkan di dalam perintah kedua dari Sepuluh Perintah Allah, jangan menyembah Allah dalam wujud dan rupa (berhala)! Berhala bisa berbentuk benda juga bisa berwujud gambaran Allah menurut hikmat manusia. Hanya manusia satu-satunya makluk roh bertubuh yang mampu menyembah Allah dalam roh.
Jangan membuat bagimu patung yang menyerupai apa pun yang ada di langit di atas, atau yang ada di bumi di bawah, atau yang ada di dalam air di bawah bumi. Jangan sujud menyembah kepadanya atau beribadah kepadanya, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, adalah Allah yang cemburu, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat dari orang-orang yang membenci Aku, tetapi Aku menunjukkan kasih setia kepada beribu-ribu orang, yaitu mereka yang mengasihi Aku dan yang berpegang pada perintah-perintah-Ku. 20:4-6
Kata kebenaran di dalam Yohanes 4:24 diterjemahkan dari kata Alethea. Menurut saya kata tersebut lebih tepat bila diterjemahkan sebagai kebajikan atau righteousness dalam bahasa Inggris dan de dalam bahasa mandarin. Kebajikan artinya segala sesuatu yang baik, benar, adil dan menguntungkan. Binatang dan Malaikat tidak memiliki kebajikan. Hanya manusia dan Allah yang memiliki kebajikan.
Ketika membunuh anak sulung bangsa Mesir malaikat tidak mempertanyakannya. Bukankah Allah yang mengeraskan hati Firaun? Kenapa rakyat mesir ikut menanggung hukumannya (Keluaran 12:29)? Ketika membunuh bangsa Israel karena Daud menghitung warga negaranya, malaikat tidak mempertanyakannya. Bukankah DAud yang bersalah, kenapa rakyat Israel yang dibunuh (2 Samuel 24:16)? Adilkah, benarkah, berbelaskasihankah? Malaikat tidak mempertanyakan apalagi menafsirkan perintah Allah, mereka hanya mematuhinya.
Ketika melarang manusia makan buah pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dan memberitahu akibatnya bila makan, Allah sama sekali tidak memberitahu khasiat buah pohon tersebut. Allah juga tidak memberitahu apakah perintah itu juga berlaku bagi binatang? Manusia menerimanya sebagai kebenaran. Selain menaatinya, mereka juga menafsirkannya, itu sebabnya selain tidak makan mereka juga tidak berani menyentuhnya. Iblis datang dengan informasi baru. Selain memberitahu khasiat buah pohon tersebut dia juga menyatakan manusia tidak akan mati bila memakannya.
Mungkin Adam dan Hawa mulai mengamati pohon tersebut dan memikirkan khasiat buahnya. Mungkin keduanya mulai meragukan keterangan dari Allah karena melihat binatang-binatang yang makan buah pohon tersebut tidak mati. Mungkin pula pada saat itu ular dengan lahap memakan buah pohon tersebut dan tidak mati. Mungkin pula mereka berpikir dirinya siap mati setelah tahu hal yang baik dan yang jahat. Mungkin pula manusia menyangka setelah seperti Allah mereka akan mampu mengatasi kematian.
Pada hakekatnya, Hawa makan buah terlarang bukan karena lebih percaya kepada Iblis dibandingkan Allah atau ingin melawan Allah. Akal budinya menyimpulkan bahwa buah itu baik untuk di makan, perasaannya menyimpulkan bahwa buah itu sedap rasanya sedangkan ambisinya menyimpulkan bahwa itu kesempatan untuk seperti Allah. Adam dan Hawa berdosa karena mengandalkan kebajikannya sendiri. Alkitab mencatat:
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagipula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya. Kejadian 3:6
Ketika menerima perintah Allah melalui nabi Samuel untuk membunuh seluruh bangsa Amalek, Saul mempertimbangkannya lalu mengambil tindakan berdasarkan kebajikannya sendiri. Walaupun berdosa melanggar perintah Allah, namun Saul sama sekali tidak pernah melawan Allah, bahkan sehari sebelum kematiannya dia masih berusaha mencari Allah. inilah ucapan Saul ketika nabi Samuel menuduhnya.
Lalu kata Saul kepada Samuel: "Aku memang mendengarkan suara TUHAN dan mengikuti jalan yang telah disuruh TUHAN kepadaku dan aku membawa Agag, raja orang Amalek, tetapi orang Amalek itu sendiri telah kutumpas. Tetapi rakyat mengambil dari jarahan itu kambing domba dan lembu-lembu yang terbaik dari yang dikhususkan untuk ditumpas itu, untuk mempersembahkan korban kepada TUHAN, Allahmu, di Gilgal." 1 Samuel 15:20-21
Manusia mempertanyakan bahkan menafsirkan perintah Allah karena manusia memiliki kebajikan. Peta teladan Allah di dalam manusia adalah kebajikan, itu sebabnya hanya Allah dan manusia yang memiliki kebajikan. Kebajikan manusia bukan kebajikan Allah. Kebajikan manusia adalah peta teladan kebajikan Allah. Kebajikan manusia harus takluk pada kebajikan Allah. Kebajikan manusia yang takluk pada kebajikan Allah disebut iman, yang menyimpang disebut dosa. Ketika kebajikan manusia menyimpang dari kebajikan Allah, maka peta teladan Allah rusak.
Abraham bukan pendekar gagah perkasa. Ketika merasa nyawanya terancam dia bukan hanya menyangkali bahkan mengorbankan istrinya. Allah memberinya gelar Bapak Orang Beriman. Gelar itu dia peroleh karena ketika Allah memberinya perintah untuk mengorbankan anaknya Ishak, dia tidak mempertanyakannya apalagi menafsirkannya. Dia menaklukkan kebajikannya pada kebajikan Allah. Takluk seperti Yesus Kristus takluk. Itulah Iman!
Peta Teladan Allah Di Mata Theolog
Thomas Aquinas (1225-1274) mengajarkan bahwa peta Allah adalah pikiran dan perasaan. Perasaan memungkinkan manusia merasakan berbagai hal sedangkan pikiran memungkinkan manusia memahami berbagai hal. Teladan Allah adalah donum superadditum, anugerah adikodrati yang membuat manusia mampu melakukan kebajikan. Karena berdosa, Adam dan Hawa kehilangan teladan Allah namun tidak kehilangan peta Allah itu sebabnya manusia kehilangan kemampuan untuk melakukan kebajikan namun masih memiliki perasaan dan akal budi.
Plato (424-328SM) mengajarkan bahwa manusia yang paling rendah hidup dengan nafsu, manusia menengah hidup dengan perasaan sedangkan manusia mulia hidup dengan akal budi. Akal budi bisa mengendalikan perasaan sementara perasaan bisa mengendalikan nafsu. Dengan demikian, manusia berakal budi yang senantiasa hidup mengandalkan akal budinya akan menjadi manusia suci, karena mampu mengendalikan perasaan dan nafsunya.
Ajaran Thomas Aquinas dibangun di atas ajaran Plato, saat ini ajarannya dianut oleh sebagian orang Kristen Katolik. Dia mengajarkan bahwa manusia dengan akhlak dan akal budinya dapat mengenal Allah dan mengendalikan dirinya untuk melakukan kebajikan dengan meneladani Yesus Kristus. Yesus Kristus adalah teladan yang harus diteladani, itu sebabnya manusia selamat adalah mereka yang memilih untuk melakukan kebajikan dengan meneladani Kristus.
Martin Luther (1483-1546) mengajarkan bahwa peta teladan Allah hilang karena Adam dan Hawa berdosa, itu sebabnya mustahil bagi manusia untuk mengetahuinya. Setelah mati dan masuk surga, barulah manusia bisa memahami peta dan teladan Allah, karena pada saat itu peta teladan Allah di dalam manusia dipulihkan. Peta teladan Allah adalah kesucian, kemuliaan dan keindahan yang menghalangi manusia menjadi tua, sakit dan mati. Segala kemalangan dan penderitaan di dunia ini adalah akibat kehilangan peta teladan Allah. Karena peta teladan Allah telah hilang, mustahil bagi manusia untuk mengenal Allah dan hidup dalam kebajikan. Itu sebabnya, keselamatan adalah anugerah, itu sebabnya hanya manusia terpilih yang diselamatkan.
John Calvin (1509-1564) mengajarkan bahwa peta teladan Allah adalah pikiran, perasaan, akhlak dan kehendak bebas. Walaupun tidak hilang namun peta teladan Allah mengalami kerusakan menyeluruh (total depravity) ketika manusia berdosa. Kita tidak tahu sejauh mana kerusakan itu namun kita yakin bahwa kerusakan itu membuat manusia mustahil mampu mengenal Allah dengan benar. Walaupun masih bisa mengembangkan akal budinya namun mustahil bisa mengenal Allah dengan benar. Walaupun masih bisa mengembangkan perasaannya namun mustahil bisa mencintai dengan benar. Walaupun masih memiliki kehendak bebas, namun mustahil mampu memilih dengan benar. Walaupun masih memiliki peta teladan Allah namun mustahil mampu menggunakannya dengan benar. Karena tidak ada manusia yang mencari Allah maka satu-satunya jalan keselamatan bagi manusia adalah Allah memilih dan menetapkan sementara manusia tidak bisa menolak pilihan tersebut.
Arminius (1560-1609) juga mengajarkan bahwa peta teladan Allah rusak menyeluruh (total depravity) karena dosa. Karena anugerah maka manusia berdosa mendapatkan kembali kehendak bebasnya. Setiap manusia mampu dan bebas memilih menerima atau menolak anugerah keselamatan. Predestinasi adalah Allah dengan kemahatahuanNya hanya memilih orang-orang yang diketahui akan menerima tawaran keselamatan dariNya (Election based on foreknowledge). Karena memiliki kehendak bebas, maka keselamatan yang telah diterima akan hilang bila yang bersangkutan tidak memeliharanya dengan dengan benar.
Peta Teladan Yang Rusak
Menguji dan mencobai adalah dua hal yang berbeda. Tujuan pencobaan adalah menghukum orang yang dicobai, namun pengujian bertujuan mengetahui kualitas diri orang yang diuji agar bisa disempurnakan. Ketika seorang murid gagal di dalam ujian, kemampuannya tidak berkurang sama sekali. Kegagalannya justru menambah pengetahuannya akan kelemahannya. Apakah yang terjadi di taman Eden? Di mata Iblis itu adalah pencobaan, namun di mata Allah dan manusia itu adalah pengujian. Bagaimana kita tahu bahwa yang terjadi di Eden adalah pengujian? Karena setelah Adam dan Hawa berdosa, Allah segera memberitahu mereka jalan kelepasannya. Itu sebabnya para nabi dan rasul mengajarkan bahwa kedatangan Mesias sudah dinubuatkan di dalam Kejadian 3:15.
Banyak orang Kristen menyangka ujian di taman Eden adalah pencobaan, itu sebabnya mereka percaya bahwa Allah menghukum Adam dan Hawa ketika mereka berdosa. Bahkan banyak sekali yang mengajarkan bahwa Allah bukan hanya menghukum Adam dan Hawa namun juga menghukum seluruh keturunan mereka. Pandangan demikian muncul karena pemahaman yang salah tentang peta teladan Allah. Apabila tidak memahami doktrin-doktrin dasar dengan benar, maka anda mudah sekali melakukan kesalahan ketika mencoba memahami ajaran-ajaran Alkitab lainnya. Itu sebabnya, ketika mengajar murid-muridNya, hal pertama yang dilakukan oleh Kristus adalah menegakkan pemahaman yang benar atas doktrin-doktrin dasar kerajaan Allah. Hal itu dilanjutkan oleh para rasul dan bapa-bapa gereja.
Agustinus (354-430) adalah seorang Theolog agung yang dipakai Allah untuk menegakkan ajaran Alkitab. Sebelum mencoba untuk memahami ajarannya, anda harus memahami bahwa pada hakekatnya dosa adalah kondisi ketika manusia hidup mengandalkan kebajikannya sendiri. Dia mengajarkan, sebelum berdosa Adam dan Hawa ada dalam status posse peccare posse non peccare (mungkin berdosa mungkin tidak berdosa), namun setelah keduanya berdosa maka status seluruh umat manusia adalah non posse non peccare (tidak mungkin tidak berbuat dosa), ketika diselamatkan oleh Kristus, status orang yang diselamatkan adalah posse non peccare (mungkin tidak berdosa), setelah masuk surga, statusnya adalah non posse peccare (tidak mungkin berdosa).
Mereka yang tidak mempelajarinya dengan benar umumnya menyangka Agustinus mengajarkan bahwa Allah menghukum seluruh umat manusia karena Adam dan Hawa berdosa. Hukuman itu berbentuk kutukan agar manusia hidup menderita dan jahat. Itu sebabnya selain hidup menderita manusia juga tidak mungkin tidak berbuat dosa (non posse non peccare). Apabila Allah tidak mengutuk manusia, bukankah seharusnya, walaupun Adam dan Hawa berdosa, status manusia adalah posse peccare posse non peccare (mungkin berdosa mungkin tidak berdosa)?
Agustinus lahir ketika Alkitab sudah selesai ditulis. Apa yang ditulisnya bukan wahyu baru juga bukan ajaran baru berdasarkan pemikirannya sendiri namun pemahamannya atas ajaran Alkitab. Salah satu keunikan Alkitab adalah kita bisa melihat dunia melalui mata Allah yang tidak terikat ruang dan waktu.
seperti ada tertulis: "Tidak ada yang benar, seorang pun tidak. Tidak ada seorang pun yang berakal budi, tidak ada seorang pun yang mencari Allah. Roma 3:10-11
Roma 3:10-11 adalah kesimpulan yang ditulis sebelum dunia kiamat. Itu adalah kesimpulan Allah yang mahatahu. Itulah salah satu ayat Alkitab yang menjadi dasar ketika Agustinus menulis, setelah Adam dan Hawa berdosa, status manusia adalah tidak mungkin tidak berbuat dosa (non posse non peccare) karena Allah menyatakan bahwa semua manusia berbuat dosa. Tidak mungkin tidak berbuat dosa, karena kenyataannya semua manusia berbuat dosa. Berbuat dosa berarti hidup mengandalkan kebajikan sendiri.
Hukum Taurat atau Sepuluh Hukum Allah adalah alat untuk membuktikan, apakah seorang manusia berdosa? Silahkan menggunakannya untuk menguji semua manusia baik yang anda kenal maupun tidak, baik yang hidup dalam generasi ini maupun yang hidup dalam generasi-generasi sebelumnya. Tidak ada yang lolos. Mungkin ada yang lolos dari hukum ke lima hingga ke sepuluh, namun adakah yang lolos dari hukum pertama hingga kesepuluh? Tidak Ada!
Pdt. Dr. Stephen Tong adalah salah satu Theolog terbesar generasi ini, dia menulis:
Setelah manusia jatuh ke dalam dosa, ada cacat dalam peta dan teladan Allah dalam manusia. Peta dan teladan itu masih ada, tetapi tidak lagi dalam kondisi yang sama. Telah terjadi distorsi pada seluruhnya. Dari ujung rambut sampai ke ujung kaki, dosa sudah menguasai, sehingga di dalam seluruh aspek, emosi, jiwa, kemauan, raga, tidak ada satu inci yang dianggap beres oleh Tuhan. Itulah kerusakan total. Berarti ada kerusakan dalam setiap sudut. Peta dan Teladan Allah hal 31
Setiap aspek peta teladan Allah dalam manusia sudah dicemari dosa. Pikiran, perasaan, tindakan pasti sudah tercemar oleh dosa. Abraham Kuyper berkata, “Biarlah tidak ada satu incipun dari kehidupanku yang tidak menjadi takhta Tuhan.” Dia mengerti kalimat ini; Wujud pengembalian peta dan teladan Allah yang sesungguhnya. Ibid. hal 31
Melalui kalimat-kalimat tersebut di atas, Pdt. Dr Stephen Tong hanya menjelaskan apa yang terjadi ketika seseorang berbuat dosa, sama sekali tidak mengajarkan bahwa Tuhan menghukum manusia. Doktrin peta teladan Allah yang rusak menyeluruh (Total Depravity) mengajarkan kondisi manusia ketika berdosa, sama sekali tidak mengajarkan hukuman Allah atas dosa manusia, karenahari penghukuman belum tiba.
Predestinasi dan Freewill
Para penentang menyangka bahwa doktrin Predestinasi mengajarkan dua hal yang bertentangan dengan ajaran Alkitab. Pertama, manusia hanya wayang tanpa kehendak bebas. Kedua, Allah yang menentukan seseorang menjadi baik dan orang lainnya menjadi jahat. doktrin predestinasi bertentangan dengan sifat Allah yang mahakasih dan mahaadil juga kenyataan di mana semua orang Kristen menjadi orang Kristen karena secara sukarela memutuskan untuk menjadi Kristen. Banyak orang yang menganut doktrin predestinasi walaupun belum pernah mempelajarinya. Banyak pula yang mengajar walaupun tidak memahaminya dengan benar. Baik yang menentang maupun yang mengajarkan namun tanpa pemahaman yang benar, sama-sama sia-sia.
Sebaiknya kita memperhatikan sekarang apa yang dikemukakan oleh Alkitab mengenai pemilihan dan penolakan itu. Apabila Paulus mengajarkan bahwa kita dipilih dalam Kristus sebelum dunia dijadikan (Efesus 1:4), maka sudah pasti diperhatikan sama sekali apakah kita layak memperolehnya. Dengan demikian ia seakan-akan berkata bahwa, mengingat bahwa Bapa di surga tidak menemukan dalam seluruh keturunan Adam sesuatu apapun yang layak bagi pilihanNya, maka pandanganNya diarahkanNya kepada KristusNya, supaya dari tubuh Kristus dipilihNya anggota-anggota untuk diterimaNya agar mendapat bagian dalam kehidupan. Maka hendaklah bagi orang-orang percaya berlaku pikiran ini: bahwa kita diterima di dalam Kristus untuk mendapat bagian dalam warisan surgawi, karena diri kita sendiri tidak mampu mencapai kemuliaan demikian. JOHN CALVIN, INSTITUTIO, CHAPTER XXI-XXIV - E 933-31
John Calvin sama sekali tidak mengajarkan bahwa manusia kehilangan kehendak bebas dan hak pilihnya ketika Adam dan Hawa berdosa. Dia mengajarkan, Allah memilih setelah menemukan tidak ada satu orang pun yang layak bagiNya. Allah memilih setelah manusia memilih.
Ketika orang berdosa, ia berdosa atas kemauan sendiri dan kalau orang itu tidak diselamatkan, itu disebabkan karena ia sudah menolak Kristus, meskipun sudah diberikan kesempatan dengan penyodoran Kristus kepada mereka. Penolakan mereka terhadap Kristus, tetap berdasarkan keinginan mereka menolak. Tetapi pada saat seorang mau menerima Kristus, itu bukan karena mereka sendiri mempunyai kesanggupan menerima Kristus, tetapi berarti Roh Kudus sudah bekerja menghidupkan mereka kembali, menormalisasikan mereka kembali, sehingga ada kemungkinan bagi mereka untuk mengatakan “ya” kepada Tuhan. Sehingga barang siapa masuk ke dalam neraka tidak boleh mencela, mengapa Allah tidak menyelamatkan mereka, karena Allah tidak hutang apapun untuk harus menyelamatkan orang itu. Tetapi Allah berhak menghakimi dosa siapapun, sehingga yang berdosa harus menanggung hukuman yang setimbang dengan dosa yang diperbuatnya. Contoh yang paling cocok dan paling singkat adalah Yudas yang menjual Yesus. Menurut panggilan umum, Yudas dipilih, menurut panggilan khusus Yudas ditolak. Karl Barth sekaligus memakai kedua istilah ini untuk oknum Yudas, yaitu kaum pilihan sekaligus juga adalah kaum buangan. Saya menganggap kalimat ini kurang bertanggung jawab. Di dalam Theologia Reformed, kita percaya kepada general calling (panggilan umum) dan special calling (panggilan khusus). Allah memanggil, “Barang siapa datang kepadaKu akan diselamatkan.” Ini disebut panggilan umum. Tetapi yang betul-betul bisa datang kepada Tuhan adalah orang-orang yang diberi tahta kerajaan. Tetapi pada waktu mereka mendengar panggilan itu berkata, “saya tidak mau!” mereka harus menanggung hukuman, karena mereka menolak. Mereka mengatakan tidak mau atas kemauan mereka sendiri. Waktu mereka mengatakan “mau!” mereka baru tahu bahwa itu tidak mungkin, itu karena adanya pertolongan Tuhan. Oleh karena itu, ketika Yudas menjual Yesus Kristus, saudara tidak perlu membela dia, percuma, karena dia tidak mau saudara bela. Banyak orang berkata, “Wah, Yudas, kasihan ya,” Yudas akan mengatakan, “Tidak perlu.” Mengapa? Yudas sendiri sebelum meninggal, melemparkan uang-uang itu ke dalam Bait Allah dengan satu alasan, “Aku telah mengalirkan darah orang yang tidak bersalah.” Itu berarti dia mengaku dosa sendiri, dia tahu bahwa dia sendiri sudah bersalah. Untuk apa saudara membelanya karena dia sendiri sudah mengaku bahwa dia bersalah? Jadi sebelum dia mati, dia merasa bahwa dia memang patut mati dan dia gantung diri, karena dia tahu dia yang berdosa. Dosa Keadilan & Penghakiman hal 130-131
Kembali pada predestinasi, orang dihukum hanya karena mereka patut dihukum. Pada waktu Allah menghukum mereka, Allah menghukum berdasarkan keadilan dan kesucian Allah sebagai patokan kebenaran dan keadilan yang mutlak. Allah tidak bersalah, karena Allah tidak pernah hutang kepada siapapun sehingga tidak ada seorangpun boleh berkata, “Allah harus menyelamatkan saya!” Kalau hanya melihat keadilan, semua orang harus masuk neraka, tetapi di antara semua yang harus masuk neraka, Tuhan masih memberikan anugerah, maka anugerah tidak boleh dimengerti melalui keadilan, tetapi dimengerti melalui ketidaklayakkan. Yang tidak layak sekarang dilayakkan. Apakah ini tidak adil? Ini terlepas dari status dan lingkungan keadilan, sudah masuk dalam lingkungan kehendak kedaulatan Allah. Ibid. hal 132
Pdt. Dr. Stephen Tong dengan tegas mengajarkan bahwa manusia tidak pernah kehilangan kehendak bebas dan hak pilihnya ketika berdosa. Allah memilih setelah manusia memilih!
Ajaran John Calvin disebut Calvinisme, ajaran Stephen Tong disebut Theologia Reformed Injili, namun keduanya sama-sama mengajarkan doktrin Predestinasi sesuai dengan ajaran Alkitab. Calvinisme dan Theologia Reformed Injili hanya nama untuk membedakannya dari ajaran-ajaran lain yang juga mengaku mengajarkan kebenaran Alkitab. Keduanya menjadikan Alkitab sebagai standard kebenaran, itu sebabnya, walaupun sama-sama mengajarkan kebenaran Alkitab, namun selalu mengajak orang Kristen untuk menguji ajaran mereka dengan Alkitab.
Predestinasi VS Pengalaman Pribadi
Dalam kehidupan sehari-hari kita bertemu dengan orang-orang yang mengambil keputusan untuk menjadi Kristen, pengikut Kristus. Dari kesaksiannya kita mengetahui bagaimana mereka mengambil keputusan untuk menjadi orang Kristen. Bahkan sebagai orang Kristen kita tahu pasti apa alasan kita memutuskan untuk menjadi Kristen. Secara logis kita menyimpulkan bahwa kita menjadi Kristen karena memutuskan untuk menjadi Kristen secara sukarela. Secara logis pula kita menyimpulkan bahwa orang lain menjadi Kristen karena mereka memutuskan untuk menjadi Kristen secara sukarela. Orang Kristen sejati adalah orang yang memutuskan untuk menjadi Kristen secara sukarela. Pada hakekatnya, menjadi Kristen adalah Allah menawarkan keselamatan dan kita menerimanya. Keselamatan itu memang gratis, namun bila kita tidak menerimanya maka mustahil kita menjadi Kristen.
Seseorang menawarkan hadiah dan saya menerimanya dengan senang hati, bukankah itu anugerah? Bolehkah saya membanggakan diri? Tidak! Ketika orang itu menawarkan hadiah, saya percaya dia memang akan memberikannya. Bukankah itu yang disebut iman? Ketika Roh Kudus menawarkan kehidupan kekal, saya menerimanya dengan senang hati. Walaupun belum menerimanya namun saya percaya akan mendapatkannya. Bukankah itu iman? Bukankah itu yang terjadi selama ini? Saya mengalaminya sendiri sementara orang lain menyaksikan pengalamannya dengan penuh keyakinan. Bukankah hal demikian masuk akal? Bukankah Alkitab mengajarkan bahwa karena kasih karunia kita diselamatkan oleh iman? Kasih karunia Allah adalah keselamatan di dalam Yesus Kristus dan iman saya adalah menerima dan mempercayainya?
Handai taulanku, tanpa mengurangi rasa hormat, bukankah menjadi tidak masuk akal ketika anda mengajarkan bahwa Alkitab mengajarkan bahwa saya menjadi Kristen bukan karena saya memutuskan untuk menjadi Kristen, namun karena Allah memilih dan menetapkan saya menjadi Kristen sementara saya sama sekali tidak mampu menolaknya? Kawanku, tidakkah anda sadar bahwa hal itu selain bertolak belakang dengan pengalaman pribadiku juga menentang kesaksian orang-orang Kristen lainnya. Apakah anda tidak merasa keterlaluan mengharapkan saya dan orang-orang Kristen lainnya percaya bahwa yang anda ajarkan, itulah yang sebenarnya terjadi karena itulah yang diajarkan oleh Alkitab? Sahabatku, apabila Allah yang memilih dan menetapkan, kenapa saya yang memutuskan untuk menjadi Kristen?
Jurus Sang Alfa
Ketika melatih seekor anjing, saya ingin dia melakukan apa yang saya inginkan dan tidak melakukan apa yang tidak saya inginkan. Berdasarkan pengetahuan dan kemampuan maka saya bisa memaksa anjing itu patuh 100%. Memaksa anjing untuk patuh tidak memberikan kebanggaan sama sekali. Saya ingin dia patuh secara sukarela, karena saya adalah TU(H)ANNYA (Sang Alfa).
Untuk memaksa anjing duduk dapat dilakukan dengan menekan pinggulnya hingga dia duduk. Agar dia tidak mengigit, gunakan kalung penjerat yang akan menjerat lehernya ketika rantai ditarik. Tekan pinggulnya, tarik rantainya ke atas, bila anjing itu tidak patuh, lehernya akan terjerat. Dia terpaksa patuh.
Cara termudah melatih anjing duduk adalah, genggam makanan di tangan lalu perlihatkan kepada anjing itu. Dia akan mendongak melihat makanan itu. Dorong tangan ke arah belakang anjing itu, maka dia akan terus mendongak mengikuti tangan, agar nyaman, dia lalu menekuk kaki belakangnya dan duduk. Ketika anjing itu hendak duduk, beri perintah dengan suara datar, “duduk!”. Setelah beberapa kali diulang, anjing itu akan mengerti arti perintah, “duduk!”.
Dengan cara kedua, Sang Alfa yang memilih dan menetapkan agar anjing itu duduk, namun bagi anjing itu, dialah yang memutuskan untuk duduk secara sukarela. Cara demikian disebut Jurus Sang Alfa. Sang Alfa yang menetapkan namun anjing menaatinya dengan sukarela.
PREDESTINASI
Apabila anda bertanya kepada saya, “Apakah predestinasi itu?” Maka secara singkat saya akan menjelaskannya seperti ini. Dari generasi ke generasi Yesus mengetok:
Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetok; jikalau ada orang yang mendengar suara-Ku dan membukakan pintu, Aku akan masuk mendapatkannya dan Aku makan bersama-sama dengan dia, dan ia bersama-sama dengan Aku. Wahyu 3:20
Namun tidak ada seorangpun yang mau mendengar suaranya dan membukakan pintu bagiNya. Itu sebabnya Dia mengeluh:
Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Yohanes 3:19
Namun kita membantah ucapanNya, “Tuhan, bukankah aku membuka pintu hatiku? Bukankah aku mengundangMu masuk? Bukankah Engkau masuk dan kita makan bersama-sama?” Dengan senyum dikulum Yesus menganguk-angguk lalu berkata:
Tidak ada seorang pun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman. Yohanes 6:44
Handai taulan, itulah predestinasi. Tentu saja kebenaran demikian tidak mudah untuk dipahami, itu sebabnya Paulus menghibur kita,
Tetapi manusia duniawi tidak menerima apa yang berasal dari Roh Allah, karena hal itu baginya adalah suatu kebodohan; dan ia tidak dapat memahaminya, sebab hal itu hanya dapat dinilai secara rohani. 1 Korintus 2:14