Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Kartini

victorc's picture
Shalom, selamat siang saudaraku. Dalam rangka menyongsong peringatan hari kelahiran ibu R.A. Kartini, 21 April, kali ini izinkan saya menulis sedikit tentang beliau. Bukan, saya bukan akan memberikan spoiler tentang Dian Sastro di film dengan judul yang sama yang baru rilis beberapa hari ini. Namun, penulis hanya ingin memberi ruang kepada beberapa teman dan kerabat untuk menyampaikan pendapat dalam survei kecil-kecilan yang saya adakan 2 minggu lalu. 
Dalam survei ini, penulis meminta komentar singkat 2-3 alinea dari beberapa teman dan kerabat dengan topik: "Makna Kartini bagi saya."
Berikut ini adalah 6 komentar yang masuk:

a. Diane (ibu rumah tangga dan wiraswastawati, teman kuliah)
Makna Kartini bagi saya:
Kata emansipasi di era modern ini sering dijadikan senjata bagi sebagian wanita untuk mendapatkan hak-hak yang sama dengan laki-laki tanpa mengindahkan kodrat  dan kewajibannya sebagai wanita, dan kukira ini sangatlah bertentangan dengan maksud emansipasi yang Kartini perjuangkan.
Aku setuju jika wanita memiliki hak yang sama dalam pendidikan, dalam penghormatan, atau pun hak-hak lain yang pada zaman dahulu tidak dimiliki wanita. 
Namun tentu tidak boleh kebablasan sampai melupakan kodratnya sebagai wanita, sebagai istri dan sebagai ibu.

b. Rina (peneliti dan editor)
Makna Kartini bagi saya:
Hidup saya nyaris sebagian besar terinspirasi oleh eyang Putri (dari pihak Ibu) dan Ibu saya. Mereka wanita yang hebat, tetapi memiliki banyak hambatan untuk maju karena mendahului jamannya. Beliau berdua mendapatkan kesempatan beasiswa ke luar negeri untuk pendidikan lanjutan, tetapi dilarang oleh orang tuanya. Apakah beliau berdua terinspirasi oleh Ibu Kartini atau tidaknya, sejujurnya belum pernah saya tanyakan. Bagi saya, beliau berdualah "Kartini" yang sesungguhnya.
Cerita tentang Ibu Kartini, mendatangkan kekaguman saya atas upayanya belajar dan berkembang di sela-sela keterbatasan yang ada saat itu. Juga kejujurannya tentang kekurangpahamannya terhadap agama karena kurangnya bahan untuk mempelajarinya dan pengakuannya untuk meralat pendapatnya ketika telah berkesempatan memperoleh bahan yang cukup.. Saya menilai, beliau memiliki sikap ilmiah yang cukup kritis dan independensi yang relatif  tinggi. 
Sikap ilmiah dan independensi ini dalam beberapa kesempatan sering saya contohkan bila kebetulan bertemu dengan wanita yang enggan berpikir dalam dan menyalahkan keadaan dengan alasan yang klasik. Bahwa sikap ilmiah dan independensi merupakan salah satu bekal yang amat diperlukan dalam mengarungi kehidupan. Bagi saya, alasan "sebagai wanita" tidaklah patut dijadikan alasan untuk disalahkan bila kalah dalam persaingan ataupun ketertinggalan. Ibu Kartini telah membuktikannya pada saat beliau hidup.

c. Jessica (mahasiswi semester 2)
Makna Kartini bagi saya:
1. Menjadi sosok perempuan yang tegar dan kuat dalam segala hal. Tentunya kita tahu bahwa wanita selalu dianggap kaum yang menunggu dan lemah. Akan tetapi dengan adanya perjuangan Kartini mengangkat hak-hak wanita menjadikan wanita lebih bersemangat untuk tahu bahwa kodratnya mulia dan layak untuk diperjuangkan.
2. Selalu jujur, terbuka dan dengan lantang mengambil keputusan bijak, demi suatu perubahan yang membebaskan diri dari perlakukan semena-mena.
3. Menjadi seorang yang tulus dan taat. Keikhlasan sekarang yang dicari, dia membantu tanpa mengharapkan timbal balik, menjadi pemberontak tapi dengan aturan yanq belum ia ketahui juga apa yang akan terjadi ke depannya.
4. Memiliki sikap nasionalis dan tak memandang SARA, itulah yang ingin diperjuangkan bahwa Tuhan menciptakan semua orang sama, cuma bagaimana kita mengolah ciptaan Tuhan itu menjadi ibadah yang mendatangkan berkah bagi kita.
5. Berkeyakinan, Tuhan tak akan membiarkan anak-Nya sendiri. Jika Kartini berjuang untuk masa itu, kita berjuang untuk masa kini, karena melihat adanya penindasan terhadap perempuan, kita harus yakin dan menegakkan hak kita.

d. Priskila (mahasiswi semester akhir)
Makna Kartini bagi saya:
Ibu Kartini adalah sosok wanita yang terus bermimpi untuk meningkatkan strata para wanita di tengah dominasi para pria saat itu. Beliau adalah orang yang tidak lelah berjuang dan berusaha memperbaiki kondisi wanita saat itu hingga apa yang menjadi cita-citanya boleh dibilang terwujud dengan baik hari ini. Hari ini mayoritas wanita sudah bisa merdeka dengan kondisi masing-masing. Merdeka yang sederhana dimulai dari wanita sudah bisa membaca dan menulis. Tidak hanya itu mereka bisa mengajari anak cucu mereka untuk membaca dan menulis. 
Lebih dari itu wanita sudah bisa bekerja dan menghidupi kebutuhannya sendiri tanpa bergantung pada pria, dan bisa membantu menopang kebutuhan keluarga. Beberapa wanita menjadi pemimpin bagi para pria. Bagi saya itu adalah kemenangan terbesar dari Ibu Kartini atas mimpi-mimpinya.
Namun di sisi lain kemenangan Kartini menjadi titik balik para wanita menjadi dominan, di mana hari ini banyak wanita yang tidak patuh terhadap suami karena merasa mampu melakukan segalanya sendiri, para wanita yang tidak ingin menikah karena tidak menemukan pasangan yang tepat secara materi dan hal-hal fisik, para wanita yang merasa hebat hingga melakukan kekerasan pada pasangan, anak-anak maupun orangtua. Sehingga menurut saya, "independent woman" yang dimaksudkan oleh Kartini menjadi bias dan berubah makna seiring dengan kemenangan hak-hak para wanita hari ini.
Padahal Tuhan menciptakan manusia dan seorang wanita ditakdirkan untuk tunduk kepada pria sebagai pemimpin, namun hal ini semakin hari semakin pudar seiring dengan makna kemenangan Kartini yang diimpikannya.

e. Diah Retno (insinyur pengairan dan teman SMA)
Makna Kartini bagi saya:
Siapa wanita Indonesia yang tidak mengenal Kartini? Wanita yang dinobatkan sebagai Putri Indonesia sejati nan harum namanya. Pahlawan kesetaraan kedudukan wanita terhadap pria. Yang keteladanannya membuka jalan bagi wanita Indonesia untuk tidak lagi sekedar berperan sebagai "kanca wingking" pria, yang layak diperkenalkan ke publik sebagai garwa (akronim dari sigaraning nyawa, belahan jiwa), kekasih, sahabat, mitra, ibu dari anak-anak yang hebat.
Bagi saya, inspirasi Kartini ada pada tradisi menulisnya. Bagaimana struktur gagasan dan pemikiran didokumentasikan dalam surat-surat yang ditujukan kepada Ny. Abendanon. 
Kebisaan menulis hampir selalu didahului dengan tradisi membaca terlebih dahulu. Kartini memancanglan tonggak intelektualitas secara mengagumkan, untuk ukuran zaman itu, ketika hak perempuan mendapatkan pendidikan belum ada. Dengan caranya sendiri, Kartini tidak sekadar berwacana, tapi bertindak nyata dalam upayanya memberdayakan dan mengembangkan potensi perempuan.
Terlepas dari Kartini tidak berhasil menjadikan dirinya sendiri sebagai perempuan mandiri yang merdeka dalam mewujudkan cita-citanya, dengan membiarkan diri takluk pada "kekejaman adat" bangsawan kala itu: dinikahi menjadi istri ke sekian dari bagsawan Singgih Djoyo Adhiningrat. Betapa pun ironis, pejuang emansipasi ini suaminya berpoligami, apa yang sudah dimulai Kartini tetap bisa dilanjutkan dan diperjuangkan perempuan-perempuan generasi selanjutnya.
Terimakasih Kartini, engkaulah pembuka cakrawala keluasan bagi kesempatan perempuan Indonesia menemukan harkat martabat kemanusiaannya.

f. Elmi (notaris dan teman SMA)
KARTINI DULU DAN KARTINI MASA KINI
Mendengar nama Kartini disebut, membuat saya membayangkan sosok perempuan yang hidup di masa lalu dengan balutan busana jawa yang sederhana, wajah yang sangat klasik tanpa polesan makeup yang glamour, gaya bicara yang halus dan perilaku yang sangat santun. Itu yang ada di benakku. Benar-benar dalam nuansa etika tata krama Jawa yang kental dan luhur. Sejalan dengan keberadaan pada masa itu,  secara fakta, konsep pergaulan sosial bagi Kartini pada masa itu sangat kecil kemungkinan dan peluangnya untuk bisa berinteraksi dengan orang lain, terlebih dengan mahluk lawan jenis, dengan dunia luar. 
Figur sebagai “Wanita” yang mempunyai peran sebagai ibu bagi anak-anaknya, sebagai “konco wingking” bagi suaminya, yang mencapai kemajuan dengan jalan sembunyi-sembunyi, karena adat dan tradisi yang memasung kebebasan “wanita”. Bahkan kalau boleh saya mendeskripsikan, bahwa sosok Kartini pada masa lalu sangat identik dengan sebuah pengabdian (=abdi ; hamba) penuh bagi keluarga.
Kartini masa kini, sejauh yang saya kenal dan bahkan mungkin juga saya menikmati peran sebagai kartini masa kini. Hampir sebagian besar kaum hawa tidak mau lagi menempatkan dirinya dalam posisi sebagai Wanita, yang full day dalam peran seperti masa Kartini dahulu. Kartini masa kini lebih leluasa mengambil peran sebagai perempuan (= per - empuan), mempunyai makna yang empunya atau yang memiliki/mempunyai.
Apa yang dipunyai? Itu menjadi pertanyaan yang sudah pasti membutuhkan jawaban. Banyak hal yang bisa dimiliki/dipunyai, bahkan semua hal tersebut menjadi satu target, ukuran tersendiri bagi Kartini masa kini. Kartini sekarang tidak lagi mengambil posisi sebagai konco wingking, abdi, melainkan telah mengambil peran “sejajar” dalam setiap kesempatan berinteraksi, baik dalam keluarga maupun dalam pergaluan dan peran sosialnya di dalam masyarakat.
Bagi saya, dalam merefleksikan sebuah perubahan peran dan sikap serta mental dari keberadaan terbelenggu kemudian terjadi transformasi diri pada sebuah keleluasaan dan kesempatan untuk maju dan berkarya secara nyata, itu membutuhkan “bekal” tersendiri. Bagi saya bentuk kemajuan yang bisa diambil alih oleh perempuan masa kini tetap harus kontekstual. Saya maksudkan tetap pada koridor dan peran fungsinya sebagai perempuan dengan segala kodrat dan hakekat penciptaannya. Bahwa perempuan adalah merupakan bagian dari sebuah kehidupan yang dengan segala kuasa dan kekuatan ataupun kemampuan yang dimilikinya tidak lepas kendali. Bahwa dia tetap menjadi bagian dari sebuah kehidupan keluarga dalam peran sebagai ibu bagi anak-anaknya, sebagai istri dari seorang suami yang Tuhan anugerahkan sebagai mitra sekerja dalam hidup berkeluarga.  
Sehingga bagi saya perempuan dengan kemajuan yang dia raih, keberhasilan yang dia capai, semuanya bagi saya tetap harus kembali berpulang pada sebuah pertanggungjawaban secara pribadi pada harkat dan kodrat penciptaannya.

Penutup
Demikianlah beberapa komentar yang telah masuk dalam survei kecil-kecilan yang penulis lakukan. Tentunya komentar-komentar ini jauh dari memadai untuk mewakili keberagaman pendapat dan kesan para perempuan se-Indonesia tentang ibu Kartini, namun kiranya sedikit dapat memberikan gambaran tentang bagaimana makna ibu Kartini bagi para perempuan hari ini.
Responden dipilih dari para kenalan dan kerabat penulis, dan penulis yakin mereka menulis komentar di atas dengan bebas dan tanpa tekanan.
Sebagai penutup, memang sengaja penulis mencantumkan nama depan para responden ini, meski mereka bukanlah orang-orang terkenal menurut ukuran publisitas media. (1)(2)
Tulisan ini didedikasikan untuk para Kartini hari ini, baik yang berkarir maupun menjadi ibu rumah tangga.
Selamat merayakan hari Kartini!

Catatan: terimakasih kepada Diane, Rina, Jessica, Priskila, Diah Retno dan Elmi.

Versi 1.0: 13 april 2017, pk. 12:21
versi 1.1: 17 april 2017, pk. 20:17
versi 1.2: 20 april 2017, pk. 2:04
VC

Bacaan lanjutan:
(1) Mary A. Kassian. The Feminist Gospel. Illinois: Crossway Books, 1992.
(2) Cathy Ross. Without faces: Women's perspectives on contextual missiology
__________________

"If You Want to Walk on Water, You've Got to Get Out of the Boat‎." - J. Ortberg

The Second Coming Institute