Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Memperkuat roh

mujizat's picture

Adapun anak itu bertambah besar dan makin kuat rohnya. Dan ia tinggal di padang gurun sampai kepada hari ia harus menampakkan diri kepada Israel (Lukas 1:80)

Ayat tersebut mengisahkan Yohanes Pembaptis saat usia pertumbuhannya. Anak Zakharia itu secara fisik bertambah besar, tetapi secara roh dia semakin kuat. Dan di usia tertentu, ia tinggal di padang gurun, tempat mana Yohanes mengalami penguatan rohnya. Sebelumnya, ia telah dipenuhi Roh Kudus sejak masih dalam kandungan (ayat 15). Mudah diduga bahwa di padang gurun itu Yohanes hidup "bergaul dengan Tuhan", dan bukannya melakukan sesuatu kegiatan yang tidak jelas, dan sepertinya di padang gurun itu pula Yohanes suatu ketika menerima "pewahyuan" untuk membaptis orang dengan air (Yoh 1:33). Pergaulan dengan Allah menguatkan roh Yohanes Pembaptis.

Lalu sekarang, bagaimana kita dapat mengalami pertumbuhan atau penguatan roh kita?

Ketika kita sudah menerima Roh Kudus saat kita percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juruselamat pribadi, maka kita dapat mengikuti dorongan Roh Kudus untuk dapat mengalami pertumbuhan roh(ani) yang benar, sehingga roh(ani) kita menjadi kuat; atau sebaliknya, kita dapat mengabaikan dorongan Roh Kudus yang akan dapat memadamkan api Roh Kudus dan mengerdilkan roh(ani) kita.

Tuhan Yesus pernah bersabda demikian:

.... Perkataan-perkataan yang Kukatakan kepadamu adalah roh dan hidup (Yoh 6:63)

Perkataan Yesus adalah roh; firman Tuhan adalah roh. Oleh karena itu, melahap Firman akan menguatkan roh(ani) kita yang melakukannya.

Puji Tuhan.

Makan Firman Tuhan dengan takaran yang cukup setiap hari, dengan gairah yang terus diperbaharui oleh Roh Kudus, rupa-rupanya boleh menjadi kiat sampai kita mengalami pertumbuhan roh kita menjadi roh yang kuat. Tetapi berapa takaran yang cukup sebagai "makanan harian" ? Satu pasal? Dua pasal? Lima pasal?

Saya berpendapat bahwa walau jumlah pasal yang dikonsumsi cukup penting, namun menikmati firman tak kalah penting. Andai saya punya target dua pasal sehari, saya bisa melakukannya dengan santai, namun bisa dengan terburu-buru. Jadi, sepertinya akan lebih efektif jika ukuran jam yang diterapkan, misal satu jam sehari. Entahkah dalam waktu satu jam kita bisa MENIKMATI sepuluh pasal, ataukah mungkin cuma satu perikop, namun waktu PERENUNGAN satu jam bisa menghasilkan makna LEBIH jika dibandingkan dengan hanya mengejar target, misal 5 pasal sehari.

Sebagai perbandingan, seorang siswa yang sedang belajar bahasa Inggris bisa saja mentargetkan untuk menghafal 10 kosa kata baru per-hari, dengan harapan bahwa setiap tahun ada tambahan 3650 kata-kata baru yang bisa diingat. Namun bisa kah di akhir tahun tetap dapat mengingat dengan baik 100 kosa kata yang pernah dihafal pada 10 hari pertama?

Berbeda, jika metode pembelajaran menggunakan momen-momen khusus, maka setiap kata baru yang didapat dengan - misalnya - melihat sebuah obyek di tempat tertentu, akan mengguratkan suatu memory yang kuat,...

Jadi, jika sebuah perikop dapat dinikmati, dapat direnungkan, sepertinya pemahaman akan sebuah perikop di pasal-pasal alkitab akan menghasilkan memori yang lebih kuat, setidaknya dibandingkan dengan pembacaan mengejar target, kecuali kalau kita ikut-ikutan kepercayaan "sebelah" yang meyakini bahwa hanya dengan membaca satu ayat saja dari kitab suci akan mendapat pahala,.. :)D

Terserah, kita mau jadi pembaca ataukah penikmat, mana yang dirasa baik, Anda lebih tahu.

Salam.

__________________

 Tani Desa