Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Narnia

victorc's picture

"I dislike Allegory - the conscious and intentional allegory - yet any attempt to explain the purport of myth or fairytale must use allegorical language."
J.R.R. Tolkien

Shalom, selamat malam saudaraku. Sebagai salah seorang penggemar film terutama kisah-kisah epik, tentu saya menyambut gembira jika ada sutradara yang berani mempertaruhkan karir dan reputasinya demi menggarap film-film dengan tema klasik. Sebut saja misalnya "Passion of the Christ" atau "the Ten Commandments."
Demikian juga halnya dengan film-film epik kolosal seperti LOTR atau Hobbit yang diangkat dari karya CS Lewis.

Gandalf
Ada kisah yang agak lucu tentang LOTR. Ada yang menafsirkan kisah ini sebagai petualangan dalam perjalanan kemuridan seorang Frodo (murid) dalam mengikuti Sang Gandalf yang agung (Yesus). Kira-kira seperti perjalanan para rasul dalam kitab Kisah Para Rasul yang dikisahkan ulang dalam versi Tolkien, begitulah...
Namun, ada juga yang sedikit usil lalu menafsirkan kisah epik tersebut sebagai petualangan seorang kandidat doktor dalam mengikuti ide-ide atau proyek gila-gilaan yang disarankan oleh seorang profesor (promotor). Awalnya sang promotor (Gandalf) menjanjikan petualangan yang menantang secara intelektual, namun di tengah jalan ternyata dia pergi entah mengejar riset yang lebih ambisius atau pensiun, sehingga praktis si hobbit berjalan terseok-seok sendirian.(2)
Yang agak lucu di sini adalah beberapa tahun lalu ada seorang sahabat lama yang mengambil program doktoral di Moscow, dan setelah beberapa bulan kami tidak bertemu dia sempat mencurahkan uneg-unegnya via email kepada saya bahwa dia kerap buntu dalam progres penelitiannya.
Lalu saya teringat kisah Gandalf ini, dan saya jawab kira-kira begini: "ya ada waktunya kamu merasa ditinggalkan oleh Gandalf, namun di akhir perjalanan kamu akan menemukan hadiah yang sepadan." Kebetulan tubuhnya memang agak kecil jadi waktu itu saya betul-betul membayangkan kisah hobbit ...;-) Untungnya sekarang dia sudah lulus dan mengajar di sebuah kampus bergengsi, dan kini menjadi kolega peneliti saya.
Namun ada satu seri film epik yang sampai kini saya agak sulit menangkap apa pesannya, yaitu riwayat Narnia. Memang beberapa kali film ini ditayangkan di stasiun televisi lokal, namun saya masih belum "ngeh," sampai di adegan ketika Aslan memberikan dirinya sebagai ganti hukuman bagi sahabat-sahabatnya.
Lalu saya mulai menanyakan: apakah sebenarnya teologi penebusan dalam kisah Aslan paralel dengan teologi penebusan Kristus?

Aslan
Dalam kisah Narnia yang telah difilmkan tersebut, ada adegan di mana Aslan memberikan hidupnya sebagai ganti atas kesalahan yang dilakukan Edmund. Beberapa kritikus menafsirkan plot tersebut sebagai alegori atas kisah penebusan Yesus di atas kayu salib.(1)
Yang menjadi masalah, dalam bukunya Mere Christianity, C.S. Lewis menulis bahwa dia tidak setuju dengan teori substitusi penal (penggantian). Mungkinkah dalam kisah Aslan tersebut Lewis ingin melukiskan suatu kisah penggantian yang lebih bersifat mistis dan magis?
Ada yang mengatakan bahwa Lewis bagaimanapun bukanlah seorang teolog, misalnya John McArthur.(1) Untuk lebih memahami posisi teologis CA Lewis, lihat misalnya (3)(4)(5).
Namun ada juga yang menyarankan bahwa kita mesti belajar memahami teori substitusi secara ontologis.
Apapun itu, iman Kristen yang rasuli menyatakan bahwa Yesus telah mati untuk menebus dosaku dan dosamu. Meskipun demikian, banyak penulis non-kristen yang menuduh bahwa ajaran substitusi dan penebusan dosa itu hanyalah rekaan Paulus belaka, namun ada beberapa ayat yang meneguhkan konsep ini, baik dari PL, ucapan Yohanes Pembaptis maupun ucapan Yesus sendiri:

a. Nubuat Nabi Yesaya

"Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh." Yes. 53:5

b. Kesaksian Yohanes Pembaptis

Pada keesokan harinya Yohanes melihat Yesus datang kepadanya dan ia berkata: "Lihatlah Anak domba Allah, yang menghapus dosa dunia." - Yoh. 1:29

c. Kesaksian Yesus

Yohanes 15:13
"Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya."

Penutup
Kiranya menjadi jelas bahwa teori substitusi Yesus merupakan salah satu pesan utama dalam serial riwayat Narnia, meskipun secara teologis penggunaan alegori dan kisah mistis masih dapat diperdebatkan.
Meski demikian memang agak sulit menjelaskan secara terperinci bagaimana persisnya proses substitusi itu menyebar kepada seorang yang lahir baru. Ini memerlukan tindakan iman (leap of faith).
Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 6 juli 2017, pk. 15:50
Versi 1.1: 12 juli 2017, pk. 20:00
VC

Referensi:
(1) http://nagasawafamily.org/article-cslewis-paper-atonement.pdf
(2) Dave Pritchard. Url: http://danny.oz.au/danny/humour/phd_lotr.html
(3) https://faithalone.org/journal/2000i/townsend2000e.htm
(4) http://www.charliewstarr.com/c-s-lewis/lewis-course/best-student-papers/theology-philosophy-and.html
(5) http://communiohamiltondiocese.org/2011/paper/the-thomistic-challenge-of-c-s-lewis’s-sermon-“learning-in-war-time”/

__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.