Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

MENGUSIR ROH BISU TULI

Tante Paku's picture

     KETIKA seseorang mengatasnamakan ROH KUDUS demi memuliakan YESUS dengan perbuatan yang dibalut kemurahan hati serta didampingi oleh keinginan diketahui orang, bukanlah kemurahan hati lagi. Karena TUHAN bukanlah pelayan kosmos yang membawakan segala sesuatu yang kita perlukan kalau kita memijat bel.

     Pak Muci kebingungan, ketika anaknya yang berusia 5 tahun tiba-tiba menjadi bisu dan tuli. Seketika ia memeriksakan ke dokter anak di kotanya. Sang dokter tidak bisa mengobatinya. Bahkan sampai ia membawanya berobat ke kota besar dengan dokter kelas wahid dalam bidangnya, toh tak menemukan penyebab dan obat yang tepat untuk membuat sang anak sembuh. Akhirnya semua dokter menyerah, tak bisa mengobatinya.

     Demi sayangnya terhadap anak perempuan satu-satunya itu, ia membawa ke "orang pintar" di berbagai penjuru kota. Orang pintar yang dimaksud bisa dukun atau paranormal, ia tak perduli bila dianggap "sesat" oleh mereka yang tak percaya dunia perdukunan. Dari mulai dukun yang dijuluki Gendeng atau julukan lain yang serem-serem, ia coba datangi.

     "Anak bapak kemasukan Roh yang amat kuat, oleh sebab itu harus dilakukan ritual yang cukup besar biayanya, apakah bapak sanggup?" tanya sang dukun bertampang serem itu. Pak Muci setuju saja, berapa pun biaya, akan ia sediakan, uang bukan masalah bagi pak Muci yang pengusaha itu.

     Namun setelah menghabiskan biaya yang cukup besar, buat sembelih sapi, nanggap wayangan bahkan melarung sesajian di laut selatan, toh tak membuahkan hasil juga. Sang anak tetap bisu tuli !

   Pada suatu hari,temannya yang rajin ke gereja memberitahukan bahwa bila mau didoakan, anak itu pasti bisa disembuhkan. Pak Muci tentu saja bersedia, pokoknya jalan apapun akan ditempuhnya, asal sang anak bisa kembali seperti sediakala. Sang teman pun mengajak pak Muci dan anaknya ke Gereja Kristen yang cukup besar dan banyak umatnya.

     Pendeta yang bermata tajam dan percaya diri itu menatap sang anak yang juga memandangnya dengan bengong.

     "Hmm...anak ini kerasukan roh jahat yang kuat membekap mulut dan telinga bapak. Lihatlah, saya akan mengusirnya demi nama Yesus dan Roh Kudus yang berkuasa atas diriku saat ini," berkata begitu sang Pendeta lalu menempelkan telapak tangan kanannya ke kepala sang anak sambil berdoa dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh pak Muci. Memang Pendeta itu memakai bahasa Roh. Ternyata ada tamu yang hadir memahami bahasa roh tersebut dan menterjemahkannya pada pak Muci.

     "Hebat sekali Pendeta itu, itu bahasa roh ya? Lalu anda tau maksudnya?" tanya pak Muci pada teman di sebelah kursi duduknya. Dengan tersenyum tamu yang berambut gondrong itu menjelaskannya.

     "Ia mengatakan : Tugase Pendeta nyontoni tindak sing mulyo. Tugase pejabat ngusir Mo Limo. Tugase Wong Sugih, nyah-nyoh bondo. Tugase wong mlarat donga lan nrimo. Iku kabeh dadi cagake agomo, supoyo mbok trimo kanti ati sing lego, ben mlebu swargo...."

    "Bah, itu bahasa Jawa, tolong dong diterjemahkan!" bisik pak Muci penasaran.

     "Tugasnya Pendeta memberi contoh tindakan mulia. Tugas Pejabat mengusir kelima larangan (minuman keras, main perempuan, judi, ganja, mencuri). Tugas orang kaya memberikan banyak sedekah. Tugas orang miskin berdoa dan menerima apa adanya. Itu semua tiang agama, agar diterima dengan hati tulus, biar nanti masuk surga...."

     Pak Muci manggut-manggut. Entah memahami atau tidak kata-kata tersebut dan berkaitan atau tidak kata-kata itu dalam proses pengusiran roh yang memasuki anaknya, ia hanya memandang sang anak, yang juga memandangnya sambil senyum-senyum.

     Akhirnya sampai suaranya serak, sang Pendeta tidak berhasil mengusir rob bisu tuli yang menghinggapi anak itu. Ia hanya mengatakan, lain kali dibawa kesini lagi.

     "Ia benar-benar roh yang hebat!" gumam Pendeta itu tak habis pikir.

     Sampai berulangkali pak Muci membawa anaknya untuk didoakan tak berhasil juga. Bahkan ia sudah berganti-ganti dengan banyak Pendeta, berganti bulan ke tahun, sang anak tetap bisu tuli sampai berusia 25 tahun !

     Mungkinkah roh bisu tuli itu memang bisu tuli? Artinya tidak bisa mendengar suara banyak Pendeta yang meneriakkan nama Yesus pada anak itu, hingga sang anak tetap bisu tuli. Roh bisu tuli memang tuli ! Begitu gumam mereka yang tidak berhasil menyembuhkannya.

     "Apa perlu pakai pengeras suara pak Pendeta?" tanya seorang umat.

     "Perlu kita coba!" jawab Pendeta muda itu dengan geram.

     Pengeras suara dikeluarkan, sang pendeta meneriakkan dengan sekuat tenaga, toh sang anak yang sudah menginjak usia dewasa itu tetap berdiri membisu, tanpa terpengaruh suara dari pengeras suara itu. Justru orang-orang yang lalu lalang di depan Gereja pada terperanjat dan ingin melihat.

     Pak Muci akhirnya putus asa. Biarlah kalau memang Tuhan tidak berkenan memberi kesembuhan pada anaknya itu. Anaknya walau bisu tuli, tapi berwajah cukup cantik. Ia juga menginginkan anaknya hidup normal, menjalani kehidupan biasa berumahtangga. Maka pak Muci mencarikan jodoh buat anaknya itu.

     Selama mencarikan kesembuhan buat anak satu-satunya itu, pak Muci sampai melalaikan tugas dalam pekerjaannya, sehingga usahanya mengalami kemunduran, bahkan diambang bangkrut. Untuk itulah ia butuh modal yang besar agar usahanya kembali berjalan dengan normal seperti sediakala. Tetapi bagaimana caranya? Utang di bank, tentu tidak mudah dan malah menambah beban, karena ia harus merintis dari awal lagi, tentu hasilnya belum tentu bisa buat mengangsur cicilan nanti.

    Akhirnya pak Muci menemukan seorang relasi yang berduit walau umurnya sudah tua, 70 tahun. Duda tua tanpa anak dan punya harta banyak, wah ini dia cocok buat dijadikan menantunya. Biarin menantu lebih tua daripada mertua, biarin apa kata dunia, yang penting cinta dunia bisa terlaksana.

     Pak tua itu ternyata tidak perduli dengan anaknya pak Muci yang bisu tuli, daun muda walau tidak sempurna, cukup buat "nyus-nyus"an, begitu batinnya. Lalu bagaimana dengan anaknya pak Muci sendiri?

     Dengan bahasa isyarat yang bisa dimengerti sang anak, pak Muci mengutarakan maksudnya. Dan sang anak mengiyakan apa kata orangtuanya yang begitu setia dan telaten mengurusi hidup dan kekurangannya itu. Pak Muci girang bukan main, maka ia segera menghubungi pak Tua untuk segera datang dan melamar sang anak.

     Dua jam kemudian pak Tua datang, dengan berjalan tertatih-tatih disangga  tongkat ukir yang mewah dalam genggaman tangan kanannya, ia melangkah masuk dengan dada berusaha dibusungkan layaknya anak muda yang gagah perkasa. Begitu melihat calon suaminya, sang anak terbelalak dan menjerit......

     "Aku tidak mau menikah dengan lelaki tua itu!!!!!" lalu ia berlari masuk kamar dan menangis.

     Pak Tua termangu.

     Pak Muci terperanjat.

     Roh bisu tuli pergi meninggalkan anak gadisnya dengan kejadian yang tidak ia duga sama sekali. Apakah ini mujizat-Mu Tuhan? Tanya pak Muci dalam hati. Bingung sendiri.

 

Semoga Bermanfaat Walau Tak Sependapat

 

    

    

 

    

    

__________________

Semoga Bermanfaat Walau Tidak Sependapat

hiskia22's picture

@Tante

halah...tante bisa aja......hi...hi..hi

Di dalam blog anda kasian tuh si pendeta.....he...he...he....bisa - bisa banyak nanti yang akan tersindir.....

GBU

__________________

GBU

kardi's picture

@tante paku, ngantuk saya hilang setelah baca cerita ini....

@tante paku, ngantuk saya jadi hilang setelah baca cerita ini, betul-betul obat yang mujarab, dibandingkan kopi capucino . kapan buat cerita humor alkitabiah, ditunggu ni, saya hanya bisa membaca saja....