
Itulah yang sering saya katakan apabila orang yang saya ajak melibatkan uangnya dalam sebuah kegiatan pelayanan mempertanyakan hasil akhirnya. Jika kita tidak yakin dari orang-orang yang kita beri Alkitab gratis ada yang bertobat, buat apa kita mengeluarkan biaya dan tenaga sebanyak ini? Jika kita tidak yakin dari anak-anak yang kita santuni uang sekolahnya kelak ada yang mau menjadi anggota gereja kita, buat apa saya menyumbang pelayanan beasiswa gereja? Jika warga jemaat tidak yakin melalui sekolah-sekolah Kristen banyak siswa yang akan menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, buat apa gereja terus mendanai yayasan pendidikan ini?
Lidah saya kelu ketika seorang warga jemaat kaya menolak ikut membantu biaya pengobatan seorang mantan penatua yang sudah tua dengan berkata, “Jika dokter sudah menyatakan penyakitnya tidak bisa disembuhkan, buat apa kita susah-susah membelikannya obat?” Saya tidak menanggapi pernyataannya sebab saya tidak suka orang memberi karena terpaksa atau dipaksa.
Dua bulan kemudian di gereja saya bertemu kembali dengannya dan ia berkata, “Apa kata saya. Orang itu akhirnya meninggal juga, bukan?”
“Betul,” jawab saya. “Tetapi ia meninggal di rumah ketika tidur, dengan tenang dan tanpa merasa sakit. Ia meninggal dengan bahagia karena tahu walau miskin ia punya banyak saudara seiman yang peduli akan keadaan dirinya. Saudara-saudara seiman yang setia datang membawakan makanan kesukaannya, obat-obatan dan uang. Saudara-saudara seiman yang menyayanginya seperti anak-anak yang menyayangi ayah kandungnya sendiri.”
Ia pergi meninggalkan saya tanpa berkomentar. “Tambah musuh satu lagi, Pur,” kata saya dalam hati.
Saya punya keyakinan yang sampai hari ini tidak goyah bahwa setiap kegiatan pelayanan yang saya lakukan dengan tulus sebagai ungkapan terima kasih kepada Tuhan Yesus, tidak akan sia-sia walaupun mata saya tidak melihat hasil akhirnya. Jika saya ingin sebuah jembatan dibangun sementara saya hanya memiliki satu batang batu bata, saya tidak akan membuang impian ini. Saya akan membawa batu ini ke tengah sungai untuk meletakkan di tempat yang tepat walau orang menertawakan ketololan ini dan saya harus menanggung risiko basah kuyup kedinginan dan digigiti lintah. Jika Allah berkenan akan tindakan saya ini, pasti Ia akan menggerakkan orang lain untuk meletakkan batu-batu lain di atasnya sehingga pada suatu saat sebuah jembatan akan berdiri kokoh di situ.
Keyakinan ini makin teguh ketika beberapa hari yang lalu saya menerima sebuah kartu undangan pernikahan dari koster gereja. Nama kedua calon mempelai tidak saya kenal. Nama empat orang tua mereka juga tidak saya kenal. Pernikahan mereka diteguhkan di gereja lain. Alamat mereka ada di perumahan kelas menengah.
“Ini dari siapa?” tanya saya.
“Tidak tahu. Aku juga tidak kenal yang mengantarnya.”
“Siapa lagi yang menerima undangan ini?” saya berharap bisa mencari informasi dari penerima lainnya.
“Hanya Pak Yulianto.”
Informasi secuil itu agak lama diolah oleh otak saya sehingga muncul bayang samar-samar dan kembali saya meneliti nama 4 orang tua mereka. Eureka! Nama ibu calon mempelai wanita mengingatkan saya pada sebuah peristiwa yang telah lama berlalu. 
“Kamu lihat gadis remaja itu? Sekarang dia duduk di kelas 3 SMP. Ibunya janda tak punya kerja tetap, adiknya dua. Sering dia diambil-paksa dari sekolah oleh ibunya untuk diajak mengemis. Dia berkeliling Pecinan mengikuti ibunya sambil menangis. Aku diam-diam membayari uang sekolahnya sejak dia kelas 3 SD sampai sekarang. Aku ingin dia meneruskan sekolahnya ke Sekolah Asisten Apoteker agar setelah itu dia bisa langsung bekerja. Tapi uang sekolahnya mahal sekali, 8 kali SMA. Aku tidak kuat membayarinya lagi. Tolong kamu ke majelis minta beasiswa buat dia.”
Begitulah cerita Yulianto seorang guru Sekolah Minggu kepada saya. Saya menjelaskan kepadanya bahwa gereja kami memberikan beasiswa kepada anggotanya saja. Sedangkan gadis itu belum ikut katekisasi. Jikalau diberi, itu pun jauh di bawah SPP yang harus dibayarnya nanti. Tetapi ia terus mendesak. Siapa tahu ketrampilan salesmanship saya bisa merubah peraturan gereja.
Majelis menolak walau sudah saya jelaskan gadis ini sejak kecil rajin ke Sekolah Minggu dan Kebaktian Remaja. Teman saya marah. Saya coba menenangkannya.
“Kata kamu gadis itu berkelakuan baik. Aku lihat wajahnya lumayan juga. Apalagi kalau sedang sendu dan melankolis begitu. ‘Kan gampang solusinya.”
“Usulmu apa?” tanyanya dengan gairah tinggi.
“Begitu dia lulus SMP, kamu nikahi dia.”
Dia mengumpat berkepanjangan. Habis, mau gimana lagi? Gereja yang duitnya banyak saja tidak bisa membantu, lalu kita yang gajinya pas-pasan ini bisa apa? Tetapi ia tidak berhenti berusaha. Ia menggalang dana dari beberapa teman. “Daripada kamu memberi perpuluhan ke gereja pelit ini, berikan saja kepadaku,” begitulah ia membujuk sambil menodongkan Yakobus 1: 27 “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”
Saya ditugasi untuk menyampaikan donasi yang terkumpul sementara para donatur tidak mau menampakkan wajahnya. Suatu siang dia ke rumah saya bersama ibunya. Ibunya menuntut saya selain memberi uang SPP juga memberi beras. Saya menolak sehingga ibunya marah.
“Buat apa Lili sekolah jika tidak bisa makan?”
“Bagaimana saya bisa memberi Ibu beras kalau saya sendiri miskin? Lihat rumah saya dan banjir yang hampir selutut ini. Rumah kecil ini dijejali 11 orang. Ini rumah liar, tidak punya surat. Kalau saya punya uang, saya sudah lama pindah dari sini,” jawab saya.
“Kalau begitu lebih baik Lili tidak sekolah saja. Biar saya suruh dia bekerja.”
“Bagus! Besok pagi keluarkan dia dari sekolah. Saya akan sampaikan kepada orang-orang yang membayari uang sekolahnya. Uang untuk Lili bisa dialihkan membantu paling sedikit 5 murid SMA.”
Langsung ibunya tanpa berpamitan menyeret Lili keluar dari rumah saya menerjang banjir. Saya masih sempat melihat Lili menangis.

Hari Minggu saya menemui Lili di gereja.
“Maaf kalau kemarin saya memarahi ibumu. Para donatur tidak ingin kamu keluar dari SAA walau biayanya tinggi.”
Dia menganggukkan kepala.
“Mereka memasukkan kamu ke SAA karena berharap kamu bisa langsung bekerja setelah selesai sekolah sehingga kamu bisa membiayai hidup ibu dan adik-adikmu.”
Dia kembali menganggukkan kepala.
“Rajinlah belajar. Jangan mengecewakan mereka yang membantumu.”
Dia menatap saya dengan diam.
“Kamu sudah melihat rumah saya. Seorang donaturmu dulu rumahnya jauh lebih parah daripada yang saya tinggali. Pagi ia ke sekolah tanpa sarapan. Selesai sekolah selalu saja ia ikut ke rumah temannya untuk belajar bersama. Siang ini ke rumah si A, siang besok ke rumah si B, siang lusa ke rumah si C. Tujuannya sebetulnya bukan untuk belajar bersama, tetapi ia berharap ditawari makan siang oleh ibu temannya. Tetapi ia tidak pernah mengeluh atau mengatakan Tuhan tidak adil. Penderitaan membuatnya ulet dan kuat. Ia sangat berharap kamu kelak bisa lebih berhasil daripadanya.”
Lili mengusap matanya. Saya menyalaminya. Dia tidak saya beritahu si tukang numpang makan siang keliling itu adalah Yulianto mantan guru Sekolah Minggunya.
Lili menepati janjinya. Dia tidak pernah tinggal kelas. Gadis ini kemudian bekerja di laboratorium sebuah rumah sakit swasta dan berhasil mengentaskan keluarganya dari kemiskinan. Pernah dalam suatu kebaktian saya melihatnya hadir bersama suaminya. Saya berbisik kepada teman wanita di sebelah saya.
“Masih ingat siapa perempuan muda itu?”
“Ya. Saya senang apa yang kita lakukan dulu berhasil menolongnya. Seandainya teman kita yang edan itu tidak merampok perpuluhan kita, ngeri rasanya membayangkan di mana dia sekarang berada. Omong-omong, dia tahu tidak siapa-siapa yang membayari uang sekolahnya dulu?”
“Sampai kapanpun dia tidak akan saya beritahu. Dia hanya kenal saya sebagai penghubung para penyantun gelapnya.”
Lili juga tidak akan sempat bertanya karena beberapa kali bertemu kami hanya saling menganggukkan kepala. Kejarangan kami bertemu dikarenakan setelah bekerja dia tidak lagi berjemaat di gereja saya. Saya sudah melupakannya ketika meninggalkan kota ini pergi merantau ke kota-kota lain di Jawa dan Sumatera mencari nafkah.
Di pintu masuk ruang pesta 4 orang tua mempelai menyalami para tamu. Ketika saya menyalami Lili, dia masih mengenali saya walau hampir 20 tahun kami tak berjumpa. Dia menyebut nama saya dan mengucapkan terima kasih atas kedatangan saya. Dia cantik dalam pakaian pesta. Dari penuhnya ruang pesta saya memperkirakan ada hampir 1500 tamu undangan yang hadir. Saya duduk semeja dengan Yulianto. Di sebelahnya duduk seorang pendeta emeritus.
Ketika sedang menyantap hidangan saya mendengar Yulianto berkata kepada tetangganya, “Kalau selama 60 tahun kelenteng Gang Lombok bisa menyelenggarakan SD gratis, mengapa gereja-gereja kita sampai sekarang tidak bisa melakukan hal yang sama?”
Ups, pasti ia sedang menceritakan proyek terbaru kami.
Ketika saya kembali ke kota kelahiran, ia selalu mengungkit-ungkit keberhasilan Lili dalam menyemangati saya untuk menghidupkan kembali “konspirasi diaken bayangan” (begitulah kami menyebut mereka yang dengan senyap melakukan pelayanan diakonia di luar organisasi gereja). Walau tidak ikut dalam kelompok yang sedang merintis proyek “SD Kristen Gratis” karena ia ada dalam kelompok lain yang menyantuni mahasiswa teologi, saya selalu mengabari perkembangan proyek ini. Setelah berlangsung selama 8 bulan, kami sudah berhasil mengambil alih SPP sekitar 80 siswa yang duduk di kelas 6 sampai 3. Sekarang kami sedang mencari donatur baru agar pada bulan Juli-2010 siswa kelas 1 dan 2 bisa ikut terbantu.
Lili tak akan pernah tahu bahwa perjuangannya untuk tidak mengecewakan para donaturnya telah menyemangati mereka untuk meneruskan pelayanannya.
Lili tak tahu dia telah memberi andil besar dalam proyek-proyek yang telah membantu biaya pengobatan dan pendidikan puluhan orang tanpa memandang etnis, denominasi dan usia serta memperbaiki tempat ibadah dan membantu beberapa penginjil menambah pengetahuannya.
Lili tidak pernah memberikan uangnya, tetapi kegigihannya untuk terus berjuang dalam penderitaannya telah memotivasi banyak orang untuk berbagi. Berbagi dalam senyap, berbagi tanpa wajah, berbagi karena bersyukur atas kasih Tuhan Yesus yang telah dianugerahkan kepada mereka.
Dan kami makin meyakini sekalipun kami harus menabur di jalan tol, Tuhan tak pernah membiarkan benih itu terbuang percuma.
(07.03.2010)
*** semua nama telah disamarkan.
*** gambar diambil dari google sekedar ilustrasi.