Submitted by Hannah on

Gw baru bekerja selama 3 tahun lebih sedikit di kantor yang sekarang dan gw ada di tim gw yang sekarang sejak 2 tahun lalu. Biarpun ada member baru di tim gw, gw tetap merasa gw anak baru (newbie) dan masih dalam masa training. Gw merasa bidang yang gw geluti terlalu besar untuk dipelajari selama 2 tahun dan senior-senior gw yang sudah menggelutinya selama tahunan sampe puluhan tahun pun masih terus belajar karena selalu ada hal-hal baru di bidang yang kami geluti ini.

Kehadiran gw di tim gw ini tidak begitu mudah diterima oleh member-member senior dan gw dianggap sebagai sebuah ancaman. Sifat alami manusia yang menjadi defensive kalau merasa terancam adalah sesuatu yang gw anggap cukup normal dan gw sendiri pun mengalaminya. Jadi mereka defensif dan gw pun defensif juga. Sampai beberapa hari yg lalu.

Gw dan Supervisor gw lagi mendiskusikan sesuatu di ruangannya dan salah seorang senior menghampiri kami dalam keadaan terburu-buru dan berdiri di sebelah kami sambil menunggu dengan gelisah seakan-akan dia punya sebuah pertanyaan yang mendesak banget. Gw dan Supervisor gw berhenti berdiskusi dan menoleh ke senior gw itu yang kemudian mengajukan sebuah pertanyaan singkat ke gw.  Gw dan Supervisor gw merasa agak terganggu dengan interpusi kecil itu tapi gw gak menyangka Supervisor gw akan menjawab pertanyaan yang diajukan senior gw (ke gw) dengan ketus bin kasar ke senior gw itu cuma karena dia merasa diinterpusi. Mencoba menetralkan suasana, gw memberi jawaban singkat yang kurang lebih sama dengan jawaban Supervisor gw minus keketusannya dan senior gw itu pun berlalu dengan muka sebal campur sakit hati.

Gw merasa gak nyaman banget karena siapa seh yang mau dimarahi di muka umum apalagi di hadapan orang-orang yang kita anggap ‘junior’ kita? Setelah diskusi gw dan Supervisor gw selesai, gw menghampiri meja senior gw itu dan gw bilang sorry (karena gw menyesali atas apa yang terjadi sebelumnya) dan mencoba menjelaskan lagi tapi dia dengan ketus bilang gak perlu. Kalo nurutin hati, gw sebenarnya bete banget digituin tapi gw mencoba mengerti bahwa dia mungkin lagi terlalu emosi untuk bicara saat itu. Gw pun berlalu sambil mengangkat bahu.

Kemudian senior gw itu mungkin merasa gak enak juga sudah bersikap seperti itu ke gw dan dia mencoba bersikap baik ma gw dan sorenya waktu senior gw dan gw ada di ruang arsip dia mengeluarkan uneg-uneg dan amarahnya ke Supervisor gw yang kasar itu. Gw menghela napas dan berkali-kali bilang bahwa gw mengerti banget apa yg dia rasakan. Kekasaran Supervisor gw uda cukup tersohor di mana-mana jadi pengakuan gw itu sebenarnya bukan sesuatu yg mengejutkan tapi entah kenapa senior gw itu terlihat sedikit terhibur. Dalam hati sebenarnya gw kasihan banget ma dia karena dia dan Supervisor gw sama-sama keras kepala dan gw tau dari Supervisor gw bahwa mereka saling melaporkan masing2 ke HR karena mereka sering clash dan tentunya kita tau siapa yg bakalan menang dalam adu gulat ini.

Sejak sore hari itu sampe detik ini senior gw, yang biasanya ketus dan defensive itu, sekarang malah jadi super ramah ma gw. Gw pun berusaha melupakan past differences dan mencoba menjawab dengan ramah dan lebih sabar ke senior gw yang selalu curiga orang lain bikin salah dan gak sungkan-sungkan mengungkapkannya.  My philosophy is if I can change so can she and everybody else, right?  — Note that I use the word ‘can’ instead of ‘will’.

Jumat kemaren dia minta bantuan gw untuk mengerjakan sesuatu. Gw sebenarnya sibuk banget tapi gw gak tega juga karena tugas yang lagi dia kerjakan itu sesuatu yang sebenarnya tugas gw tapi karena seorang coworker gak masuk, gw harus mengerjakan kerjaan coworker yang gak masuk itu dan senior gw mengerjakan satu kerjaan dari sekian banyak kerjaan yang numpuk di meja gw. Jadi gw mengorbankan kurang lebih 20 menit untuk menjelaskan dan menuntun senior gw untuk mengerjakan tugas itu. Senior gw yang hepi banget karena penjelasan gw itu membuat waktu 20 menit yang terhilang dari schedule padat gw rasanya gak berarti.

Contoh yang gw kasih di atas hanyalah sebuah contoh sederhana dari yang namanya kompromi.

Setiap hari kita kompromi dengan hal-hal yang kita gak suka, gak setuju atau gak sesuai dengan aturan kita. Supervisor kasar, coworker ygan ketus, schedule kita yang jadi molor karena teman yang minta bantuan untuk suatu tugas yang menurut kita sepele, calon mertua yang sok tau, sodara yang berlaku seenaknya, pasangan yang sepertinya gak mau mengerti keadaan kita dllsb. 

Hal-hal lain yg membantu kita untuk kompromi adalah faktor etika dan budaya. Kita dari kecil diajarkan untuk bicara yang sopan dan gak kasar ke orang lain. Budaya-budaya tertentu, terutama di Asia, malah sering kali membuat kita merasa bersalah, gak sopan atau terkesan jahat kalau kita menyampaikan ketidaksetujuan terhadap suatu pendapat di muka umum. Sayangnya hal ini gak berlaku di dunia maya, dimana anonimitas melindungi identitas seseorang. Selain itu kata-kata yang diketik daripada diucapkan langsung membuat hal-hal yang diketik dan diarahkan secara langsung ke orang tertentu memberi efek yang gak langsung. Orang yang membaca tulisan kita bisa tersinggung atau marah tapi gak bisa memperlihatkan emosi mereka secara langsung ke kita sehingga kita gak terlalu merasa bersalah karenanya padahal mungkin orang itu mukanya merah padam karena marah atau mungkin menangis karena merasa disakiti oleh kata-kata yang kita ketik tanpa emosi apa pun.

Tapi terlalu banyak kompromi gak baik juga karena membuat kita menjadi seperti orang yg gak berprinsip atau parahnya bermuka dua. Sedangkan gak ada kompromi sama sekali juga gak baik juga karena kita bisa kehilangan pekerjaan, gak punya teman, ditinggalkan pasangan dan sanak sodara dan akhirnya kita akan jadi seperti pertapa yg cuma ditemani dengan ide-idenya dalam kesendirian. Jadi kuncinya adalah kesabaran dan cara kita menyampaikan pendapat kita karena gak semua orang mau diperlakukan seperti kita mau diperlakukan.

Alkitab bilang “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” tapi perintah ini harus dipraktekkan secara fleksibel mengingat kemajemukan budaya dan perbedaan karakter tiap orang. Just because we can take a punch in the face, it doesn’t mean other people want to take a punch in the face. Kita sudah melupakan logika kalo kita menganggap orang lain harus mau digebuk cuma karena kita gak takut digebuk.

Tapi untungnya kadang Tuhan kasih situasi atau orang-orang tertentu untuk mengingatkan kita saat kita sudah dianggap kelewat batas. Seperti ada ayat yg bilang:

“Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu seperti dalam kegeraman”  (Ibr 3:15)