Submitted by Melvin Silitonga on

Sekali waktu Tuhan berkata kepada saya, bahwa usia saya hanya akan tinggal 2 tahun lagi. Saya sangat terkejut dan mulai berpikir, apa yang akan saya kerjakan selama 2 tahun ini ya?

Saya berencana akan melakukan misi ke daerah terpencil dan tinggal di sana selama 22 bulan dan memberitakan Injil di sana. Dan untuk sisa 2 bulan lagi akan saya habiskan dengan istri dan anak2 saya, jalan2, bercengkrama, bernyanyi dan melakukan segala hal yang menyenangkan hati.

Tiba2 beberapa waktu kemudian, Tuhan berkata lagi kepada saya, bahwa usia saya ternyata tidak sampai 2 tahun lagi, tetapi 2 bulan lagi.

Saya sangat terkejut, dan segera saya merubah semua rencana yang sudah sempat saya susun sebelumnya. Saya mencoret beberapa hal yang menurut saya tidak sempat untuk dilakukan, diantaranya adalah perjalanan misi ke daerah terpencil itu.

Dalam 2 bulan, saya akan ajak istri dan anak2 untuk bersama-sama menginjil dan bersaksi ke daerah2 yang mungkin juga terpencil. Dan selama itu berjalan, kami akan selalu bersama2 tanpa ada satupun yang memisahkan diri. Segala sesuatu yang kami lakukan haruslah bersama2, kecuali hal2 yang sifatnya pribadi tentunya.

Setelah rencana tersebut matang, eh tiba2 Tuhan berkata lagi kepada saya, bahwa ternyata ada perubahan. Rupanya usia saya tidak jadi 2 bulan lagi, tetapi yang benar adalah 2 minggu lagi.

Langsung saja saya merubah semua rencana yang sudah saya buat untuk 2 bulan ke depan, dan mulai menghapus hal2 yang tidak akan sempat saya lakukan. Kalau waktu hanya 2 minggu, artinya saya hanya bisa berkunjung ke rumah2 keluarga saya dan meminta maaf atas segala kesalahan yang saya perbuat selama saya hidup. Karena saya selama hidup adalah seorang yang sangat menjemukan dan mengesalkan. Bahkan untuk memandang sebelah matapun mereka tidak mau. Sebab memang menurut mereka saya adalah pribadi yang sangat menjengkelkan.

Dan selama melakukan hal2 itu, kami sekeluarga akan tetap bersama2 kemanapun dan dimanapun, tentunya kecuali hal2 yang pribadi.

Pagi harinya, ketika akan mulai melakukan semua yang sudah direncanakan, tiba2 Tuhan berkata bahwa ada perubahan lagi. Usia saya hanyalah tinggal 2 hari lagi dan bukannya 2 minggu.

Saya sangat bingung, apa yang bisa saya lakukan bila waktunya hanya 2 hari?? Mungkin saya hanya sempat menelpon orang2 terdekat saya dan berkata kepada mereka untuk menjaga dan memperhatikan keluarga yang saya tinggalkan. Dan sepanjang waktu 2 hari itu, kami tidak akan keluar rumah dan tidak akan bertemu dengan siapapun, hanya kami saja, dan menghabiskan waktu dengan ngobrol dari hati ke hati diantara kami.

Belum lagi usai rasa bingung saya, tiba2 Tuhan berkata lagi, bahwa hidup saya hanya tinggal sampai jam 8 malam ini. Itu artinya sisa usia saya hanya +/- 12 jam lagi. Apa yang harus saya lakukan? Saya sangat bingung dan tidak tahu harus melakukan apa.

Akhirnya saya ambil keputusan, bahwa selama 12 jam ini, kami sekeluarga akan berdoa dan baca Firman sampai waktu ketika Tuhan akan menjemput saya pada pukul 8 malam ini. Kami akan bernyanyi memuji Tuhan sepanjang waktu itu, dan tidak melakukan hal lainnya. Dalam waktu itu juga saya akan mengatakan kepada istri dan anak2 saya, betapa saya sangat mencintai mereka, bahkan lebih dari diri saya sendiri. Saya akan memberikan pelukan yang terbaik yang bisa saya lakukan bagi mereka.

Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 7 malam, suasana hati kami menjadi tidak karuan. Istri saya sudah tidak lagi bisa berkata2, anak2 juga hanya diam membisu sambil menangis tersedu2. Suasana sangat hening dan tanpa kata. Kami semua hanya berpelukan seakan2 tidak mau terpisahkan. Gitar yang kami gunakan untuk memuji dan berdoa dibiarkan tergeletak. Alkitab yang kami pegang juga sudah tidak lagi di tangan. Seakan tidak peduli atas apapun di sekitar kami. Situasi terasa sangat mencekam hati kami, dan hal itu terpancar dari wajah kami semua.

Di mata saya, seakan2 semua yang telah terjadi selama  saya hidup, apa yang saya lakukan, apakah itu perbuatan yang baik atau buruk, semuanya melintas di depan mata saya seperti sebuah tayangan bioskop dan tanpa suara.

Ahh, seandainya waktu bisa diulang, maka saya tidak akan melakukan semua hal yang tidak berguna dalam hidup saya. Saya tidak akan mau menyakiti orang2 yang saya kasihi. Saya akan pergunakan waktu saya untuk melayani Tuhan. Saya  akan menjadi pelayanNya. Seandainya....seandainya....seandainya.......

Tetapi semua harus berakhir...., waktu tidak bisa ditunda......, sebab segala sesuatu ada waktunya. Dan bagi saya sudah tiba waktunya, dan saya tidak bisa melangkah melintasi batas yang Tuhan sudah tetapkan bagi saya. Semua sudah terlambat untuk bisa mengubahnya..!

Sekali lagi saya berpikir.....:"SEANDAINYA WAKTU BISA DIULANG?"