Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

JGLT

victorc's picture
Shalom, selamat siang saudaraku. Beberapa bulan yang lalu, seorang sahabat di gereja memberikan saya sebuah oleh-oleh dari perjalanannya.* Oleh-oleh tersebut berupa buku yang cukup penting karya W.R. Telford berjudul the New Testament.(1)
Sejujurnya, hingga sekarang saya baru membaca beberapa lembar dari buku tersebut. 

Nama YHWH
Namun buku tersebut baru terasa sangat berguna akhir-akhir ini, terutama karena dalam 2 minggu terakhir ini ada diskusi yang cukup hangat dalam sebuah grup di whatsapp berkisar tentang bagaimana cara terbaik untuk menyebut the Supreme God: apakah TUHAN, Allah, YHWH, atau Yahweh. Diskusi ini lalu dihubungkan dengan pertanyaan: manakah terjemahan Alkitab dalam bahasa Indonesia yang paling dapat dipertanggungjawabkan baik secara teologis maupun penafsiran literal?***
Di antara para peserta diskusi, ada yang menyatakan bahwa terjemahan LAI 1974 agak kompromistis, dan mereka merasa bahwa terjemahan yang paling baik adalah yang disebut ILT, ILT3 atau MILT (modified indonesian literal translation). Namun tidak kurang juga yang menyanggah bahwa terjemahan LAI justru sudah tepat, malahan versi ILT justru memasukkan kata Yahweh dalam teks PB, yang sulit untuk dipertanggungjawabkan secara literal. Dengan kata lain, ILT atau MILT meski bersumber dari Alkitab terjemahan Jay Green almarhum, namun justru dalam Alkitab versi Jay Green tidak ada kata Yahweh dalam PB. Alkitab Jay Green kerap disebut KJ3.
Kalau mau lebih tajam, tampaknya tim MILT yang kalau tidak keliru dipimpin oleh Pdt. Yakub Sulistyo justru telah bersikap tidak konsisten, yaitu dengan cara melibatkan pra-anggapan dengan cara memasukkan Hebrew New Testament sebagai rujukan mereka dalam menerjemahkan PB. Bukanlah ini sama saja dengan melakukan "eisegesis," ketimbang eksegesis?

Respon
Namun karena saya merasa bahwa itu bukan bidang kompetensi saya, maka saya menahan diri untuk tidak berkomentar dalam diskusi yang ramai tersebut, sampai kemarin malam baru akhirnya saya memutuskan untuk mulai menyuarakan pendapat saya kira-kira sebagai berikut (sudah diedit sedikit):

"Shalom rekan-rekan yang baik, izinkan saya urun rembug sedikit. Saya memang bukan ahli bahasa Ibrani, tapi pernah ikut dalam proyek penerjemahan Alkitab. Saya sependapat bahwa secara teknis tidak masalah jika ILT ingin mengembalikan TUHAN menjadi YHWH sesuai teks ibrani. Tapi itu hanya untuk PL.
Kalau untuk PB, jika ILT mau menggunakan YHWH untuk menggantikan Kurios, itu hanya berdasarkan "asumsi" bahwa dulu teks PB ditulis dalam bahasa Ibrani. Namun diduga bahwa sebagian PB ditulis dalam Aramaik, dan sebagian lagi dalam Greek Koine.
Lagipula itu merupakan bagian dari kontekstualisasi Injil untuk kebutuhan saat itu. Bukankah kita membaca:
a. Yesus memanggil Bapa dalam bahasa Aram
b. Yesus berseru: Eloi, Eloi lama sabakhtani
c. Paulus memperkenalkan YHWH bangsa Israel kepada orang athena menggunakan konsep yang sudah mereka kenal: Agnostos Theos... Bukan YHWH.
Sekali lagi, bukan bermaksud lancang kepada para senior, namun sebaiknya kita belajar dari Rasul Paulus, jangan mengibranikan orang Indonesia, namun mari menyeberangkan konsep YHWH ke dalam alam berpikir Indonesia. Mungkin nama panggilan: "Gusti Romo" cukup memadai."

Penutup
Pembaca dipersilakan memutuskan sendiri dari diskusi di atas, mana terjemahan yang lebih pas. Hanya saja hendaknya pilihan tersebut diambil berdasarkan pertimbangan akal sehat dan hati nurani yang murni, bukan untuk kepentingan menjual buku senilai $7-$10.
Dan bagi tim penerjemah LAI yang kabarnya sedang menggodok versi revisi terhadap Alkitab LAI edisi 1974, mungkin sebaiknya juga mempertimbangkan terjemahan edisi JGLT/KJ3 dan juga NET Bible yang memasukkan ribuan catatan kaki tentang sumber-sumber yang masih diperdebatkan.
Kebetulan saya menyimpan naskah NET Bible dalam versi MS Word, jika ada yang berminat silakan menghubungi, nanti saya akan emailkan.*
Sebagai catatan penutup, sebaiknya kita tidak terlalu terjebak dalam diskusi yang berkepanjangan tentang mana terjemahan yang paling benar. Justru kita mesti memperhatikan bahwa generasi Z dan milenial bisa hilang jika tidak dikembangkan Alkitab yang sesuai untuk dunia mereka. 
Salah satu langkah yang bisa saya usulkan adalah menerjemahkan beberapa edisi Alkitab Manga ke dalam bahasa Indonesia. Kiranya itu akan membantu menjembatani jurang komunikasi antar generasi.

Versi 1.0: 27 juni 2017, pk. 12:52
VC

Catatan:
*terimakasih buat mas Rudeng. 
**kebetulan penulis pernah ikut sebagai salah satu editor dalam suatu proyek penerjemahan Alkitab, tapi bukan MILT.
***terimakasih kepada para peserta diskusi di grup Iluminasi yang telah memperluas wawasan penulis.

Referensi:
(1) W.R. Telford. The New Testament. 2nd ed. London: Oneworld publications, 2014.
(2) https://dedewijaya.wordpress.com/2016/05/16/11-alkitab-indonesia-yang-perlu-anda-tahu/
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.