Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

How Low Can You Go?

yujaya27's picture

Ini tulisan seri kedua sebelum tulisan pertama dengan judul "Bukan Basa Basi", bukan sebuah kebetulan kalau judulnya memakai sebuah iklan rokok dari merek yang sama, bukan juga bermaksud mempromosikan rokok tersebut, karena saya yakin orang Kristen yang bukan KTP dan Bukan Basa Basi seharusnya tidak  merokok, jadi saya sengaja memakai judul ini, karena tulisan ini merupakan kelanjutan dari tulisan sebelumnya, yang masih berputar sekitar tentang kehidupan kita sebagai orang Kristen.

Hari Sabtu kemaren (01 Apr) ketika makan malam bersama beberapa teman, seorang teman men-sharing-kan kotbah seorang pendeta yang dia dengar di youtube. kotbahnya tentang menara kesombongan, yang membuat saya menjadi agak penasaran, sehingga keesokan(hari minggu) paginya langsung saya cari dan dengarkan di youtube, sungguh saya tertegur dan banyak belajar setelah mendengar kotbah tersebut. Saya bagikan 3 point saja di sini, bukan karena saya pelit loh, tapi kalau terlalu banyak, bisa tidak cukup halamannya, dan juga saya tidak mau dituduh melanggar hak cipta :), di bawah ini 3 point tersebut:

1. Kesombongan itu seperti virus di dalam tubuh kita, sering kali kita tidak menyadari keberadaannya di dalam tubuh kita, bahkan munculnya pun sering tidak kita sadari. Jauh sebelum manusia jatuh ke dalam dosa, kesombongan itu sudah ada, Adam dan Hawa ingin jadi seperti Tuhan, sehingga memakan buah pengetahuan baik dan jahat.

2. Kesombongan itu adalah bapa dari segala dosa (Pride as the father of all sins - Thomas Aquinas). Dari dosa bisa lahir dosa-dosa yang lainnya, seperti kebohongan untuk menutupi kekurangannya, iri hati karena tidak bisa menerima orang lain lebih baik dari padanya, narsisisme mencintai diri sendiri yang berlebihan.

3. Kesombongan adalah dosa yang paling dibenci oleh Tuhan, karena orang yang sombong berasa dirinya benar, sehingga tidak memerlukan pemgampunan dari Tuhan, bahkan bisa saja dia menganggap dirinya sebagai (wakil dari) Tuhan.

Kesombongan itu ada di mana-mana, di dalam gereja, orang Kristen dan pendeta pun tidak kebal dengan dosa kesombongan, lalu bagaimana dengan jemaat di Spore? Yahhh... sama sajalah, walaupun jemaat di Spore itu umumnya sejak dari Indonesia (sudah lama) menjadi orang Kristen, tetap saja tidak kebal dengan hal tersebut, apalagi orang yang dapat tinggal kerja di Singapore itu tidak sembarangan loh, terlepas dari apapun pekerjaannya, tidak semua orang mempunyai kesempatan seperti itu, apalagi kalo orangnya itu hebat, sudah memegang jabatan penting di perusahaan besar, atau mempunyai perusahaan sendiri, atau menjadi pembicara ngetop, yang sering pergi ke sana ke mari, semuanya itu membuat kita yang tinggal di Singapore,  mempunyai sesuatu yang lebih untuk dijadikan sebuah kebanggaan dibandingkan dengan yang lainnya.

Padahal kita dipanggil/dipilih menjadi orang Kristen, adalah untuk menjadi murid Kristus, seorang murid seharusnya rela untuk belajar dan mengikuti teladan gurunya, seperti yang tetulis di dalam 1 Petrus 2:21 "Sebab untuk itulah kamu dipanggil, karena Kristuspun telah menderita untuk kamu dan telah meninggalkan teladan bagimu, supaya kamu mengikuti jejak-Nya". Salah satu ciri seorang murid adalah kerendahan hati, dan Yesus sudah menunjukkan teladan kerendahan hati-Nya, bahkan dengan sangat begitu rendahnya, mengambil rupa seorang hamba yang taat sampai mati di kayu salib (Filipi 2:7-8). Ia adalah Allah pencipta yang Maha Agung dan Maha Besar, tetapi harus membungkuk dengan begitu rendah, menjadi bayi yang merayap dan merangkak (Philip Yancey). Jadi tidak pandang sudah berapa lama kita menjadi orang Kristen, ataupun jabatan yang kita sudah pernah pegang, baik pendeta, penatua, atau majelis, jati diri kita tetap adalah seorang murid Kristus, yang harus terus belajar rendah hati, lalu sampai sejauh mana rendah hatinya? Yaaa.... serendah-rendahnya sampai seperti Kristus. Sekarang pertanyaanya How Low Can You Go?

Singapore 04 April 2017

Tulisan untuk advertorial Camp Jemat 2017