Guru-guru SD (bag 4 - kepsek dll)

y-control's picture
Semua guru yang pernah menjadi wali kelasku sudah kubahas, jadi setelah ini adalah guru-guru di SD yang bukan wali kelas tapi cukup berkesan untukku. Nama pertama aku pilih pak Tomo saja. Guru olahraga ini masih muda. Badannya tinggi dan tegap dengan rambut yang tipis dan model agak kuno, ia juga selalu terkesan berpeluh, mungkin karena pakaian yang ia kenakan juga selalu tampak terlalu ketat di badan. Aku rasa ia tak begitu pintar dalam mengajar di kelas, tapi kalau di lapangan, para murid banyak yang mengaguminya. Ia agak keras dalam mengajar, tapi jarang menghukum, hanya sebatas menghardik dan memelototi. Ternyata, kakak pertamaku bilang kalau istri pak Tomo adalah mantan kekasih pacarnya kakak pertamaku (yang sekarang menjadi kakak iparku).
Guru olahraga lain adalah pak Yo. Tapi, sebenarnya aku agak kurang yakin kalau pak Yo pernah mengajarku. Aku mengingatnya karena rumah kami sama-sama di Mojosongo. Tapi walau pak Yo bukan guruku di sekolah, ia adalah guru kakak-kakakku. Pak Yo juga pernah menjadi guru sekolah mingguku. Rumahnya dipakai sebagai tempat mengadakan kebaktian sekolah minggu. Dengan memakai nama pena Yoyok HS, pak Yo (kependekan dari Yohanes) juga menulis buku pelajaran olahraga dan bukunya dipakai sebagai diktat di sekolahku selama bertahun-tahun. Pak Yo adalah guru dengan tampilan yang sangat konvensional. Sangat khas Solo, suka memakai baju batik, rambut potongan khas tukang cukur bawah pohon, kumis rapi, dan gerak-geriknya tertata. Ketika perang Teluk jilid pertama berlangsung, pak Yo datang ke rumahku, hanya untuk menumpang melihat tayangan CNN dari parabola tentang jalannya perang itu. Gambar yang ditayangkan di CNN sebenarnya hanya latar gelap agak hijau dengan titik-titik bunga api berloncatan, tapi ia menganggap itu menarik. Sebenarnya ada seorang guru olahraga lagi, tapi aku lupa namanya. Sebenarnya pak guru itu adalah guru matematika, tapi seperti sudah kubilang, di SDku semua guru pria harus bisa mengajar olahraga. Jadi, meski sudah memakai baju kaos dan celana training, postur tubuh pak guru itu, dengan perut buncit dan tangannya yang kecil terlihat tidak meyakinkan.

Guru pria lain yang kuingat ada dua, keduanya adalah kepala sekolah, pak Sardi dan pak Petrus. Pak Sardi bernama lengkap Sardipon bla bla bla… Ia selalu menceritakan bahwa tambahan 'pon' itu diberikan karena ia dilahirkan pada zaman Jepang (Nipon). Pak Sardi orangnya gemuk, pipi besar, mukanya hitam, berkumis tipis, kacamatanya berframe tebal warna coklat gelap senada dengan warna kacanya. Ia pernah mengajar di kelasku sebagai guru pengganti di pelajaran Matematika karena bu Tjien Hwa mendadak izin pulang karena pusing tekanan darahnya naik. Meski tidak galak, tapi ia juga tetap tegas, atau setidaknya kami semua agak takut dengannya. Kepala sekolah kami sendiri gitu loh… Sebagai kepala sekolah Widya Wacana 3 (kelas A, kelasku), ia menggantikan bu Endang kira-kira sejak aku di kelas 4. Pak Sardi juga adalah pakdenya Wilis, temanku beda kelas. Wilis adalah anaknya Pak In, guru juga, mengajar di Widya Wacana Warungmiri, dan sepupu Yiska, teman sekelasku yang adalah anaknya bu Naomi, guru di TK ku tapi kemudian juga mengajar di SD ku. Jadi, ada semacam klan keluarga guru di sekolah kami.

Kepala sekolah Widya Wacana 5 (kelas B) adalah pak Petrus, lengkapnya Petrus Sutimin. Ia lebih fleksibel lagi, kalau tidak salah ia juga pernah menjadi guru SMP. Pak Petrus orangnya tinggi dan kurus, rambutnya selalu tersisir rapi, hidung mancung, muka dan kepala kecil, dagu berwarna kehijauan, bekas brewok yang dicukur habis, giginya kelinci, dan ke mana-mana mengendarai vespa. Pak Petrus tinggal di daerah Mojosongo juga. Dari dalam angkot, aku sering melihatnya mengendarai vespanya. Aku sama sekali tak pernah diajar pak Petrus, tapi kakak-kakakku pernah, baik ketika SD atau SMP. Kalau kepala sekolah kelas A adalah bu Endang lalu pak Sardi dan kepala sekolah B adalah pak Petrus, maka kepala sekolah kelas C di masaku adalah bu Febe, biasa dipanggil bu Fe. Bu Fe membuka lembaga kursus semua mata pelajaran bernama Vita Class. Kalender dari Vita Class aku ingat menghiasi setiap kelas di sekolahku. Bu Fe orangnya putih, rambut keriting, dan kabarnya cukup galak. Kini, rupanya ia masih aktif dan menjadi kepala sekolah SD (atau TK?) Pratama di Solo Baru, sekolahnya dua keponakanku. Jadi, ia menjadi kepala sekolah atau paling tidak pernah mengajar dua generasi karena kakak pertamaku (ibu dari dua ponakanku itu) juga adalah mantan anak didik bu Fe juga.

kisah lengkap di sini dan juga ini
Tampilan Terbaik di 1024 x 768