Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Glossolalia

victorc's picture
Shalom saudaraku,
Selamat hari Pentakosta buat Anda semua, sore ini saya akan berbagi sedikit tentang bahasa lidah. Terlepas dari denominasi Anda, saya kira kita semua meyakini peristiwa turunnya Roh Kudus dalam bentuk lidah api ke atas murid-murid di Yerusalem. 

Sore ini saya tidak akan membahas tentang makna Pentakosta yang saya yakin sudah banyak dibahas, tapi perkenankan saya membahas topik bahasa lidah atau glossolalia. 

Topik bahasa lidah sering menjadi pokok perdebatan di antara umat Kristen, baik yang pro maupun yang alergi. Bagi yang pro, bahasa lidah merupakan tanda awal dari pertobatan dan kepenuhan Roh Kudus. Karena itu kalau Anda beribadah di salah satu gereja karismatik, bahasa lidah sering ditekankan.

Perdebatan seputar perlu tidaknya orang percaya berbahasa lidah tidak begitu mencolok, tapi ada satu buku yang baru saya temukan beberapa bulan lalu yang membahas bahasa lidah dari sudut pandang neuroscience (ilmu tentang syaraf). Yang membuat buku ini cukup populer adalah klaimnya bahwa penjelasan yang diberikan sepenuhnya ilmiah. Misalnya, Alper mengatakan bahwa fenomena bahasa lidah bersifat lintas budaya, artinya bisa dijumpai di beberapa suku termasuk tradisi Voodoo di Haiti. Lihat (1). Ia juga mengatakan bahwa gejala tersebut bisa dijelaskan sebagai kerja fungsi otak berdasarkan ilmu syaraf.

Kalau Anda terkesan dengan penjelasan Alper, cobalah lihat bab-bab awal. Salah satu bab berjudul God as word  ( Tuhan sebagai kata). Meskipun ia mengutip ayat Yohanes 1:1 bahwa Firman itu adalah Allah, penafsirannya cenderung semaunya sendiri. Ia bahkan mengatakan bahwa Tuhan tidak bisa dikenali, dan tidak ada mukjizat sejak zaman pertengahan, yaitu permulaan sains modern. Meskipun mukjizat memang sangat langka dewasa ini, bukan berarti kita tidak memiliki laporan tentang orang orang yang mengalami kesembuhan, apabila kita mau mendengar dan membaca buku-buku kesaksian. Tapi kalau Anda berusaha menemukan mukjizat di antara laporan-laporan medis, tentu tidak akan ketemu.

Kesan saya, Alper terlalu menggeneralisir persoalan bahasa lidah, dan menyamakan dengan fenomena strange utterance (ucapan-ucapan aneh) dalam berbagai budaya lainnya. Apalagi dalam kesaksian Kisah Para Rasul 2 dalam teks Yunani, tidak ada satupun kata yang menyebut glossolalia, yang ada adalah hetero lalein, yang artinya berbicara dalam bahasa-bahasa yang berbeda. Terjemahan bebasnya: yang terjadi pada hari Pentakosta adalah para rasul berbicara dalam berbagai bahasa asing yang bukan bahasa ibu mereka. Namun orang-orang dalam berbagai bahasa itu dapat mengerti apa yang diucapkan para rasul. Tentu ini sulit dijelaskan melalui ilmu syaraf, selain oleh karya Roh Kudus.

Tentang glossolalia yang ada di teks lain dalam PB tentunya masih dapat diperdebatkan apakah memang dapat dijelaskan oleh ilmu syaraf, tapi setidaknya peristiwa Pentakosta itu sendiri tetap sulit dijelaskan secara ilmiah.

Kesimpulan, jangan terlalu percaya pada pendapat Alper tersebut. Ia hanya kritis terhadap hal-hal yang spiritual, tapi tidak kritis terhadap asumsi-asumsinya sendiri. Ini mungkin lebih tepat disebut pseudosains. Lebih jauh, pendapat Alper itu masuk dalam kawasan Neurotheology yang sudah agak ditinggalkan. (2)

Catatan: saya bukan penutur bahasa lidah, meskipun ada teman yang menyarankan saya untuk ikut kursus bahasa lidah. Saya yakin bahasa lidah bukan satu-satunya karunia yang dikenal dalam PB.

Bagaimana pendapat Anda? Jika ada komentar silakan kirim ke victorchristianto@gmail.com

24 mei 2015, pk. 16:21
VC

Ref.
(1) Matthew Alper. The God part of the brain. Url: http://www.godpart.com
(2) http://en.m.wikipedia.org/wiki/Neurotheology
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.