Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Gelisah

victorc's picture
Shalom saudaraku, selamat siang. Kali ini izinkan saya berbagi perenungan dari perbincangan dengan seorang guru SD swasta yang kemarin kami kunjungi. Untuk kesopanan, baiknya nama guru tersebut serta nama sekolahnya tidak akan saya sebutkan. Yang pasti sekolah SD tersebut cukup berreputasi dan terletak di wilayah Jatim.

UAS?
Guru tersebut, sebut saja A, menyampaikan kegelisahan banyak guru SD yang masih bingung dengan kurikulum yang berubah-ubah dalam 2-3 tahun terakhir ini. Mulai dari tahun 2006 para guru telah menerapkan KTSP (kurikulum tingkat satuan pendidikan) dengan hasil yang cukup baik, namun ternyata ada perubahan paradigma ke Kurikulum 2013 (K13) yang menggunakan pendekatan tematik. Lalu Mendikbud pada bulan desember 2014 membuat keputusan untuk kembali ke KTSP. [2]
Persoalan masih belum selesai, karena banyak guru yang masih pusing bagaimana mempersiapkan anak didik mereka yang kelas 6 dalam menghadapi UAS. Persoalan utama adalah bahwa anak didik tersebut waktu kelas 4 mendapat KTSP, lalu kelas 5 dan 6 mendapat K13 dan kini kembali ke KTSP. Bukankah ini berarti para peserta didik mendapat pelajaran sepotong-sepotong? Lalu bagaimana mereka akan dapat mempersiapkan diri untuk menghadapi UAS bulan mei nanti?
Persoalan tersebut diperunyam dengan kenyataan bahwa di beberapa daerah, Depdikbud setempat sudah membuat keputusan kontroversial bahwa UAS nanti masih akan menggunakan K13. Hal tersebut seakan tidak menggubris keputusan dan surat edaran dari Mendikbud bulan desember lalu. Wah, bukannya hal ini membuat para guru jadi tambah bingung? Lalu bagaimana mereka akan menyiapkan peserta didik untuk UAS? 
Bayangkan, kalau guru-guru SD di sekolah-sekolah swasta yang baik di kota besar saja masih kebingungan, apa jadinya dengan sekolah sekolah di daerah-daerah yang masih tertinggal?

K13
Kurikulum 2013 (K13) seringkali dipromosikan memiliki ciri pembeda yang bersifat paradigmatis dibandingkan dengan KTSP (Kurikulum 2006). Ciri utama itu adalah pendekatan tematis, dibandingkan dengan KTSP yang merupakan penyempurnaan dari kurikulum-kurikulum sebelumnya.
Selain tematik, K13 sering dipromosikan sebagai kurikulum yang berbasis siswa, dan mengutamakan kurikulum inti dan kompetensi [1]. Padahal kurikulum KTSP juga memiliki ciri-ciri tersebut. Artinya, perbedaan antara K13 dan KTSP kurang signifikan.
Pengalaman penulis sendiri dalam membimbing kemenakan penulis tahun 2013 yang lalu, memang pelajaran cenderung melompat-lompat dan kurang pendalaman.
Guru yang curhat dengan saya kemarin juga memberi contoh kesulitan yang dihadapi guru dalam melaksanakan K13. Misalnya mengajarkan tentang diagram, kalau di KTSP diberikan pendahuluan bahwa diagram berasal dari data, dan baru diolah menjadi diagram. Namun dalam K13 pendahuluan tersebut tidak diberikan, sehingga banyak siswa yang kesulitan menangkap konsep diagram. Saya yakin banyak guru SD yang juga kesulitan mengajarkan konsep-konsep jika menggunakan K13, sehingga keputusan Mendikbud untuk kembali ke K2006 patut direspons dengan baik. Tinggal masalahnya apakah seluruh jajaran Depdikbud mau menerapkan keputusan tersebut secara konsisten, termasuk dalam penyelenggaraan UAS 2016 di daerah-daerah nanti. Jangan sampai anak didik hanya jadi korban UAS yang dijadikan proyek oleh penyelenggara pendidikan.

Penutup
Kalau boleh saran sedikit, sebaiknya Mendikbud Anies Baswedan sering melakukan cek dan ricek di lapangan, untuk memastikan manakah kurikulum yang akan digunakan dalam UAS 2016, KTSP atau K13? Atau, mungkin malah diperlukan keputusan setingkat kepres oleh Presiden. Sehingga tidak terjadi kesimpangsiuran di antara para guru dan penyelenggara pendidikan.
Kiranya sekelumit permenungan ini dapat berguna bagi para pengambil keputusan di daerah maupun di pusat, selagi masih ada waktu untuk mempersiapkan para peserta didik untuk menghadapi UAS 2016.

Bagaimana pendapat Anda?

Jika ada komentar dan saran silakan kirim ke email: victorchristianto@gmail.com

Versi 1.0: 21 Januari 2016, pk. 15:16
VC

Referensi:
[1] http://kampuspendidikan.blogspot.co.id/2014/05/persamaan-dan-perbedaan-kurikulum-2013.html
[2] http://sdmuhsinarfajar.sch.id/berita/detail/32/mendikbud-resmi-kurikulum-2013-dihentikan-dan-kembali-ke-ktsp
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.

victorc's picture

Komentar pembaca

Berikut ini komentar dari pak Hadiwiratama per tgl 21 januari 2016:

Tks,sejak awal lahirnya konsep K13, bukan Kurikulumnya yg sy tentang, tetapi perecanaannya yg tdk dilakukan secara rinci dan cermat yg dimotori oleh GB dari Lembaga tinggi Kependidikan terkenal juga. 

? Mereka2 ini sama sekali tak punya pengalaman membangun lembaga pendidikan skala besar seperti Ind dimana problim utamanya adalah dimensi dan distribusi : wilayah yg luwas,jumlah penduduk dari densitas tinggi sampai rendah, daya jangko dll.

Tiap perubahan memerlukan time constant (Tau/RC) yg menghasilkan rise time? . Bukankah  ?RC Ind itu besar sekali, mengapa Rise Time dibikin "nol",itu hal yg tidak mungkin ?
Menyiapkan guru utk menjalankan KTSP saja belum tuntas, mengapa harus segera menjalani K13 yg tematik ?

? Bisa dipahami kalo guru2 jadi "Bingung" ,mengapa utk "sementara" tidak kembali saja ke UJIAN SEKOLAH -- gurulah yg paham kemampuan muridnya sesuai persepsi standar mutu mereka masing2 ??

Apa benar penataran guru2 utk K13 itu cukup dgn ceramah tanpa pemahaman praktis yg sebenarnya multidisipliner itu ? Ini bukan semata2 masalah content tapi juga contex. Jangan2 yg natarpun tak paham , cuma copy and paced dari buku2 theori ?

Slm,Hw ?
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.