"Bagaimanakah kisah enam orang buta yang berdebat soal gajah akan ditulis jika ternyata bukan hanya enam orang tersebut yang buta, tapi seluruh manusia tak dapat melihat ?"
Kisah enam orang buta yang berdebat soal sosok gajah sudah berulangkali diceritakan dari generasi ke generasi. Keenam orang buta yang masing-masing merasa paling tahu tentang gajah menjadi contoh untuk mengajarkan keterbatasan manusia untuk memahami realitas. Orang tidak bisa memahami secara lengkap tentang suatu fenomena - setiap orang memiliki representasi yang berbeda tentang realitas dan karenanya akan memahami dunia secara berbeda pula.
Kisah enam orang buta dan gajah biasanya cukup mudah dimengerti, bahkan oleh anak-anak. Pesannya juga cukup jelas. Namun, itu tak membuat orang-orang berhenti mengulangi kesalahan yang sama : kebanyakan orang tetap yakin bahwa hanya dirinya yang paham dengan benar tentang suatu realitas.
Mengapa bisa begitu ?
Ketika mendengarkan cerita 'enam orang buta dan gajah', setiap orang memposisikan diri sebagai orang yang celik mata. Orang-orang menertawakan 'kebodohan' orang buta sambil melakukan hal yang sama dalam hidupnya sehari-hari.
Orang-orang tidak menyadari bahwa kisah "enam orang buta dan seekor gajah" mengasumsikan bahwa di dunia ada orang yang celik matanya. Bagaimanakah kisah itu akan ditulis jika di dunia ini bukan hanya ada enam orang buta, tetapi seluruh manusia tak dapat melihat ? Siapa yang berhak mengklaim dirinya paling tahu secara lengkap 'apa itu gajah' ? Siapa yang bisa menuliskan cerita "kebodohan enam orang buta" itu ?
Bahkan meskipun tidak sama-sama buta total, orang seharusnya menyadari bahwa tidak semua memiliki kemampuan penglihatan yang sama. Tunjukkanlah Ishihara Color Blind Chart pada seorang buta warna, maka dipaksa seperti apapun dia tidak akan bisa melihat angka atau tulisan yang di dalam gambar, padahal angka itu begitu jelas bagi mereka yang bermata normal. Apa yang jelas terlihat bagi seseorang bervisus 20/20, ternyata tak dapat dikenali oleh mereka yang bermata myopia. Atau, apa yang begitu mudah dibaca dalam jarak dekat oleh seseorang berpenglihatan normal, ternyata tak terbaca oleh orang yang mengalami hypermetropia.
Manakala orang-orang hypermotropia bertemu dengan orang-orang myopia, maka masing-masing dapat menyombongkan "ketajaman" matanya. Tidak paham bahwa orang lain memiliki "mata yang berbeda", orang-orang menjadi "enam orang buta" yang memaksakan "apa yang dilihatnya" sebagai realitas dan kebenaran yang juga harus dilihat oleh orang lain.
Jika dalam hal yang bersifat fisik saja orang-orang sebenarnya tidak "melihat" dengan cara yang sama, lebih-lebih dalam memahami fenomena non-fisik. Disadari atau tidak, setiap manusia memiliki "lensa yang berbeda" dalam "melihat dunia". Perbedaan "lensa" itu merupakan agregasi dari perbedaan pengetahuan, pengalaman, budaya dan sistem nilai. Lebih buruknya lagi, ada orang yang tanpa disadarinya mengenakan lensa tambahan berupa lensa mikroskop atau lensa teleskop. Mereka yang menggunakan lensa mikrosop akan untuk membesar-besarkan hal yang kecil, sedangkan yang menggunakan lensa teleskop akan menjadikan penting hal-hal yang tak relevan.
Perdebatan dalam memahami agama dan ajaran agama seringkali menjadi runyam dan tak produktif karena "enam orang buta" tak sadar bahwa mereka buta atau punya lensa mata yang berbeda. Alih-alih saling mendukung untuk bisa melengkapi pemahaman masing-masing, setiap orang menghabiskan waktu untuk "memaksa" yang lain "melihat" seperti apa yang dilihat dirinya. Alih-alih mencari tahu apa yang "dilihat" orang lain, setiap orang getol memaksa yang lain untuk menerima saja potret karyanya sebagai satu-satuya kebenaran. Kalau tidak mau ? Labeli saja orang lain itu dengan atribut derogatif, mulai dari naif, tak logis, hingga sesat!
Ketika orang lupa bahwa bukan hanya ada "enam orang buta", maka "saya celik kamu buta" akan menjadi norma dalam diskusi agama.
# by GX 09.09.2015