Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Loading

Eksposisi Roma 1:16-17: KEDAHSYATAN INJIL KRISTUS

Denny Teguh S-GRII Andhika's picture

Seri Eksposisi Surat Roma :
Hamba Kristus dan Fokus Injil-5


KEDAHSYATAN INJIL KRISTUS

oleh: Denny Teguh Sutandio


Nats : Roma 1:16-17

 

 

Setelah kita merenungkan dua ayat sebelumnya, yaitu di ayat 14-15, tentang dua kerinduan Paulus yaitu mengasihi jiwa dan memberitakan Injil, maka selanjutnya di ayat 16—17, Paulus mengajarkan, “Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani. Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman.” Di dalam kedua ayat ini, Paulus menjelaskan alasan mengapa di ayat 15, ia berkeinginan untuk memberitakan Injil kepada jemaat di Roma, yaitu karena Injil adalah kekuatan Allah. Di dalam ayat 16, Paulus dengan berani memproklamasikan bahwa dirinya tidak malu akan Injil (KJV: “For I am not ashamed of the gospel of Christ”). Terjemahan King James Version ini lebih sesuai dengan naskah aslinya di mana kata ashamed dalam naskah Yunaninya, epaischunomai yang berarti to feel shamed for something. Sungguh menarik sekali akan apa yang Paulus nyatakan, mengingat dulunya Paulus adalah seorang yang membenci Kristus dan para pengikut-Nya. Tetapi setelah dirinya diperbaharui oleh-Nya, ia tidak lagi malu akan Injil bahkan rela mati demi Injil. Inilah jiwa seorang hamba Kristus. Di dalam zaman postmodern ini, banyak sekali orang “Kristen” yang menamakan diri pengikut “Kristus” tetapi herannya tidak suka membicarakan dan memberitakan tentang Injil, salah satunya adalah karena malu. KeKristenan menurut mereka hanya salah satu agama di antara banyak agama, sehingga tidak keunikan dan finalitasnya. Tidak heran, mengapa di abad postmodern yang “memutlakkan” kerelatifan, jiwa membawa dan memberitakan Injil menjadi berkurang di kalangan banyak orang “Kristen” apalagi mereka yang mengklaim diri dengan bangganya sedang “melayani tuhan” ?! Benarkah seorang yang aktif di dalam gereja dan terlibat di dalam “pelayanan” tidak lagi mau memberitakan Injil ? Tentu tidak benar. Mereka boleh saja mengklaim diri sedang “melayani tuhan”, tetapi sebenarnya yang mereka layani adalah diri mereka sendiri, sama sekali bukan Tuhan, mengapa ? Karena seorang yang melayani Tuhan menempatkan diri di bawah Tuhan, menjadi hamba/budak-Nya yang siap diperintah oleh Sang Tuan, yaitu Tuhan Yesus sendiri. Kita harus dan perlu belajar semangat menjadi hamba dari teladan Paulus yang menghambakan diri secara total kepada Kristus dan men-Tuhan-kan Kristus, sehingga ia tidak malu sedikitpun akan Injil. Paulus tahu di mana titik keunikan dan finalitas Injil, sehingga ia tidak malu akan finalitas Injil yang ia beritakan. Berbeda total dengan banyak orang “Kristen” yang hari-hari tidak berbeda dengan orang-orang dunia yang merelatifkan segala sesuatu termasuk merelatifkan Kebenaran di dalam Kristus dan Alkitab.

 

Titik finalitas Injil yang dipercaya oleh Paulus, dipaparkannya di dalam pernyataan, “karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya, pertama-tama orang Yahudi, tetapi juga orang Yunani.” Injil bukan membuat orang sakit menjadi sembuh, atau membuat orang miskin menjadi kaya, atau bahkan membantu orang-orang miskin, itu sama sekali bukan Injil, tetapi “injil” murahan/palsu yang Paulus kutuk habis di dalam Galatia 1:6-10. Injil Kristus sejati yang Paulus tekankan tetap berintikan kepada Kristus, karya pengorbanan-Nya di kayu salib dan pengampunan serta penebusan dosa. Injil tidak boleh dipisahkan dengan penebusan dan karya Kristus. Di dalam pernyataan ini, Paulus mengartkan Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan. Mari kita merenungkan dua prinsip penting di dalam pernyataan ini. Pertama, Injil adalah kekuatan Allah. Kata “Injil” dalam bahasa Yunani euaggelion yang berarti good message atau kabar sukacita/baik dan kata “kekuatan” diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, power dan dalam bahasa Yunani, dunamis yang dapat diterjemahkan mighty, miracle, power, ability, dll. Ini berarti Injil yang berarti kabar sukacita itu adalah kekuatan/kuasa Allah sendiri. Mengapa disebut kuasa Allah ? Karena di dalam Injil, Allah menyatakan kedaulatan-Nya yang melampaui logika yaitu mengutus Kristus yang bernatur 100% Allah dan 100% manusia (bandingkan Roma 1:3-4). Logika ini benar-benar tidak masuk akal di mata dunia, karena apa yang Allah anggap baik selalu dianggap tidak baik oleh manusia, itu namanya supralogika (atau melampaui logika manusia). Selain penciptaan, Allah memakai sarana Injil sebagai kuasa-Nya, sehingga tidak ada hal yang perlu ditambahkan untuk melengkapi apa yang telah Allah sediakan. Dengan kata lain, Injil saja sudah cukup tidak perlu ditambahi oleh buku-buku atau kitab-kitab “suci” manapun untuk menyatakan keseluruhan Pribadi Allah. Itulah finalitas Injil yang berkuasa. Tetapi Injil yang berkuasa tidak berhenti sampai di sini, maka dari itu Paulus melanjutkan pernyataan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan (poin kedua). Maksud Injil diberikan bukan untuk menyombongkan diri, tetapi untuk menyelamatkan. Injil itu diberikan oleh Allah melalui anugerah-Nya untuk membawa manusia pilihan-Nya yang sudah berdosa kembali direkatkan hubungannya dengan Allah yang Mahakudus. Matthew Henry di dalam tafsirannya Matthew Henry’s Concise Commentary menyatakan, “In these verses the apostle opens the design of the whole epistle, in which he brings forward a charge of sinfulness against all flesh; declares the only method of deliverance from condemnation, by faith in the mercy of God, through Jesus Christ; and then builds upon it purity of heart, grateful obedience, and earnest desires to improve in all those Christian graces and tempers, which nothing but a lively faith in Christ can bring forth.” Matthew Henry mengajarkan dan mengingatkan kita bahwa satu-satunya jalan kita dibebaskan dari belenggu kutuk dosa adalah melalui iman di dalam anugerah Allah, melalui Yesus Kristus. Itulah Injil Kristus sejati membawa manusia pilihan-Nya yang sudah jatuh ke dalam dosa untuk direkatkan kembali hubungannya dengan Allah yang Mahakudus. Kristus itu satu-satunya jalan. Sekali lagi, fokus Injil sejati adalah Kristus, sedangkan “injil-injil” palsu berfokus kepada manusia dan tentunya ide di baliknya adalah setan sebagai bapa pendusta. Setiap Injil yang tidak berfokus kepada Kristus, pasti 100% bukan Injil tetapi “injil” palsu dan setiap pengajar “injil” palsu selalu mencari keuntungan dan kemuliaan bagi diri sendiri (Galatia 1:10). Renungkanlah hal ini. Injil sejati membawa manusia mengenal Allah yang sejati di dalam Kristus melalui karya Roh Kudus. Injil sejati memerdekakan manusia dari dosa, sebagaimana Tuhan Yesus berfirman, “Jikalau kamu tetap dalam firman-Ku, kamu benar-benar adalah murid-Ku dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu.” (Yohanes 8:31-32) Kembali, oleh Paulus, di dalam 2 Timotius 1:10, ia menyatakan bahwa kuasa Injil, “telah mematahkan kuasa maut dan mendatangkan hidup yang tidak dapat binasa.” Inilah kekekalan sifat Injil Kristus. Injil bukan saja mematahkan kuasa maut tetapi mendatangkan hidup yang kekal, sebagaimana Kristus sendiri berfirman di dalam Yohanes 3:16, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” Injil Kristus menjamin setiap manusia pilihan-Nya yang percaya di dalam-Nya tidak binasa selama-lamanya. Inilah jaminan keselamatan anak-anak Tuhan yang kekal dan tidak dapat hilang. Itulah sebabnya di dalam theologia Reformed, Calvin mengajarkan bahwa keselamatan di dalam Kristus tidak dapat hilang. Karena theologia Reformed sangat mempercayai providensia Allah melalui janji-Nya yang memelihara setiap orang pilihan-Nya yang percaya di dalam-Nya. Mengapa Injil juga bisa mendatangkan hidup yang kekal ? Karena Injil adalah kekuatan Allah. Kalau Injil itu kekuatan Allah, maka otomatis Allah yang Kekal juga menjamin setiap anak-anak-Nya pasti memperoleh hidup kekal bersama-Nya karena mempercayai Injil tersebut.

 

Kemudian, pada pernyataan selanjutnya di ayat 16, Paulus menjelaskan siapa yang diselamatkan oleh Injil, yaitu mereka yang percaya baik orang Yahudi maupun orang Yunani. Lalu, mungkin di dalam benak kita muncul pertanyaan, mengapa hanya dua macam golongan orang yang muncul di dalam pernyataan ini ? Kembali, kita harus melihat konteks di kota Roma yang terdiri dari mayoritas kedua orang dari bangsa ini. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, maka Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) mengganti kata “juga orang Yunani” dengan kata, “dan bangsa lain juga.” Perhatikan urutannya. Paulus mengungkapkan bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan pertama-tama : orang Yahudi baru kedua : orang-orang dari bangsa lain. Mengapa harus orang-orang Yahudi dahulu ? Karena keselamatan memang diperuntukkan terlebih dahulu bagi orang-orang Yahudi yang telah menerima Taurat. Taurat adalah penyataan diri Allah yang menjadi teladan dan pemimpin moral, etika, dll bagi umat Israel, tetapi melalui Taurat, mereka bukannya tidak sadar akan keberdosaan dan kelemahan mereka, malahan membanggakan diri sebagai ahli Taurat yang sudah menghafal Taurat, tetapi tidak menjalankannya. Oleh karena itu, di dalam Matius 23, dengan sengit Tuhan Yesus melawan dan menegur kemunafikan banyak ahli Taurat dan orang Farisi yang mengaku menghafal Taurat, tetapi perbuatannya tidak sesuai dengan Taurat. Di dalam rencana Allah, Ia tahu bahwa meskipun Taurat diberikan sebagai penuntun moral dan etika bangsa Israel, tidak ada satu orangpun yang sanggup menjalankannya, oleh karena itu, Bapa mengutus Kristus sebagai satu-satunya wakil untuk menggenapkan seluruh hukum Taurat supaya kebenaran Kristus dapat dilimpahkan kepada kita sehingga kita pun dapat dibenarkan melalui iman di dalam karya Kristus. Paulus sangat mengasihi orang Yahudi karena dulunya ia adalah penganut Yudaisme yang kolot. Inilah hutang Injil yang ia ungkapkan di dalam Roma 1:14. Ia sangat berhutang Injil khususnya kepada orang-orang Yahudi yang belum mendengar tentang Injil, padahal Injil itu yang dinubuatkan dan ditunjukkan oleh Taurat dan kitab-kitab Perjanjian Lama. Kedua, Paulus juga berkata bahwa Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan orang-orang Yunani atau bangsa lain juga. Ini berarti wilayah kuasa Allah di dalam Injil tidak terbatas hanya bagi orang-orang Yahudi saja, tetapi juga orang-orang dari bangsa lain yang percaya. Mungkin sekali lagi kita bertanya, “Apakah orang itu harus percaya terlebih dahulu akan Injil, baru Injil itu menyelamatkan dirinya ?” Tentu, pertanyaan ini timbul dari ajaran Arminianisme yang menitikberatkan pada kehendak bebas manusia. Pertanyaan ini tidak patut untuk dipertanyakan, karena jelas, jawabannya tidak. Urutan di dalam ayat ini sangat jelas, Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang yang percaya. Bukan karena percaya dahulu, baru Injil menyelamatkan, tetapi Injil dahulu yang berkuasa menyelamatkan umat pilihan-Nya setelah Roh Kudus melahirbarukan mereka, baru mereka dapat meresponi berita Injil dengan bertobat dan percaya di dalam-Nya. Lalu, siapakah “orang yang percaya” di dalam ayat ini ? Apakah orang yang percaya adalah orang-orang yang tiba-tiba percaya di dalam-Nya atas kesadaran sendiri ? Tidak. “Orang yang percaya” dalam ayat ini sama dengan pernyataan “orang yang percaya kepada-Nya” di dalam Yohanes 3:16 di mana kata “percaya” sama-sama menggunakan bahasa Yunani pisteuo? yang berarti mempercayakan diri ke dalam. Orang yang percaya jika dikaitkan dengan Yohanes 3 secara keseluruhan maka orang yang percaya pasti berarti orang-orang yang diperanakkan dari Allah atau orang-orang yang telah dipilih oleh Allah sebelumnya. Orang percaya tidak bisa dilepaskan dari umat pilihan-Nya, karena tidak mungkin orang dapat beriman di dalam Kristus tanpa Allah sendiri yang pertama kali berinisiatif mengerjakan seluruh proses keselamatan, dengan mengefektifkan karya penebusan Kristus di dalam hati umat pilihan-Nya melalui tindakan aktif Roh Kudus. Sehingga kuasa Injil hanya berlaku efektif bagi umat-umat pilihan-Nya yang pasti beriman di dalam-Nya.

 

Kedua, apakah kuasa Injil hanya berhenti pada kuasa untuk menyelamatkan saja ? Tidak. Pada ayat 17, Paulus mengungkapkan, “Sebab di dalamnya nyata kebenaran Allah, yang bertolak dari iman dan memimpin kepada iman, seperti ada tertulis: "Orang benar akan hidup oleh iman."”Kuasa Injil tidak berhenti hanya untuk menyelamatkan tetapi memimpin iman. Paulus mengungkapkan bahwa di dalam Injil dan Injil itu sendiri adalah kebenaran Allah. Kata “kebenaran” diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dikaiosune? yang berarti pembenaran/justification. Apakah kebenaran atau pembenaran Allah itu ? Terjemahan Bahasa Indonesia Sehari-hari (BIS) di dalam ayat 17 ini mengartikan, “Sebab dengan Kabar Baik itu Allah menunjukkan bagaimana caranya hubungan manusia dengan Allah menjadi baik kembali; caranya ialah dengan percaya kepada Allah, dari mula sampai akhir. Itu sama seperti yang tertulis dalam Alkitab, "Orang yang percaya kepada Allah sehingga hubungannya dengan Allah menjadi baik kembali, orang itu akan hidup!"”Pembenaran Allah yang dimaksud adalah bagaimana cara Allah merekatkan hubungan manusia dengan-Nya melalui Kristus yang di dalamnya kita harus percayai dan taati secara mutlak dari awal sampai akhir. Itulah yang Injil kerjakan yaitu membenarkan manusia berdosa melalui karya Allah Anak dan juga memimpin iman. Di sini, Paulus mengaitkan konsep kebenaran/pembenaran Allah dengan konsep iman. Iman sejati tidak bisa dilepaskan dari kebenaran/pembenaran Allah. Dengan kata lain, iman harus terus-menerus berpaut kepada dan berada di dalam kebenaran Allah (Kristus) sebagai Obyek sekaligus Subyek Iman. Saya memberikan dua istilah bagi Tuhan yaitu sebagai Subyek dan Obyek Iman. Hal ini sesuai dengan pemaparan Paulus di dalam ayat 17 ini, di mana kebenaran Allah memimpin iman yang mula-mula kepada iman pada akhirnya. Di sini ada perjalanan iman. Pdt. Dr. Stephen Tong memberikan empat macam iman, yaitu pertama, iman natural (benih iman yang telah Allah tanamkan di dalam diri setiap orang tanpa kecuali), kedua, iman di dalam Kristus Yesus (iman eksklusif bagi umat pilihan-Nya), ketiga, karunia iman di dalam pelayanan, dan keempat, iman yang bergantung kepada Tuhan. Nah, di dalam ayat 17 ini, iman yang dimaksudkan tentu iman macam kedua. Allah adalah Pemberi atau Sumber/Subyek Iman yang memberikan iman sejati di dalam Kristus kepada umat pilihan-Nya. Ini berarti iman adalah anugerah Allah, sesuai jawaban dari pertanyaan Katekismus Singkat Westminster pasal 86 tentang “Apakah yang dimaksud dengan iman di dalam Yesus Kristus ?” yang mengatakan, “Iman di dalam Yesus Kristus adalah suatu anugerah yang menyelamatkan, yang dengannya kita menerima dan bersandar hanya kepada-Nya untuk keselamatan, sebagaimana yang Dia tawarkan kepada kita di dalam Injil.” Iman bukan hasil usaha kita sendiri, tetapi anugerah Allah. Starr Meade di dalam bukunya “Membentuk Hati, Mendidik Akal Budi” mengajarkan, “Allah menghendaki kita untuk beriman kepada Tuhan Yesus Kristus agar terhindar dari kutuk yang layak diterima dosa kita. Apa yang telah Yesus lakukan untuk menggantikan kita itulah yang menyelamatkan kita. Iman adalah cara kita untuk menggapai dan menerima bagi diri kita sendiri apa yang telah dilakukan-Nya. Iman di dalam Kristus bukanlah sesuatu yang kita kerjakan sendiri. Seandainya demikian, pasti kita dapat berkata bahwa kita selamat oleh karena sesuatu yang kita lakukan. Iman di dalam Kristus adalah karunia dari Allah... Allah menuntut iman dari kita, kemudian Dia sendirilah yang mengaruniakan iman itu supaya kita dapat terlepas dari kutuk-Nya.” (Meade, 2004, halaman 383) Iman ini mengakibatkan anak-anak-Nya tidak terlebih dahulu berusaha keras untuk menggapai iman dan perkenanan Allah, tetapi menyerahkan keseluruhan hidup mereka kepada Tuhan yang menganugerahkan iman. Dengan kata lain, di dalam tahap iman awal/mula-mula ini, Allah bertindak aktif 100% menganugerahkan iman dan manusia pilihan-Nya bertindak pasif 100% hanya sebagai penerima anugerah iman dari Allah. Mengapa manusia pilihan-Nya harus bertindak pasif 100% ? Karena mereka tidak pernah sanggup dapat melepaskan diri dari dosa apalagi dapat memilih iman yang benar di dalam Kristus. Kerusakan total manusia mengakibatkan manusia tidak dapat memiliki keinginan dan motivasi yang beres dan memuliakan Allah. Hati, pikiran, keinginan, emosi, perkataan, sikap dan seluruh keberadaan mereka rusak total akibat dosa seperti noda teh atau minuman soda yang mengenai baju yang kita pakai. Kalau kita mau membersihkan noda kotor di baju kita, apakah baju itu dapat membersihkan dirinya sendiri ? TIDAK. Hanya sesuatu atau Pribadi di luar baju itu yang dapat melakukannya, itulah manusia yang menggunakan deterjen pemutih untuk menghilangkan noda tersebut. Demikian pula, noda itu adalah dosa dan baju itu adalah diri kita. Apakah mungkin jika baju itu dapat membersihkan noda yang menempel padanya ? Tidak. Demikian juga, manusia yang berdosa tidak mungkin dapat lepas dari masalah dosanya. Satu-satunya jalan keluar adalah membiarkan Allah menganugerahkan iman kepada kita di dalam Kristus yang telah menebus dan menyelamatkan kita dari dosa. Inilah yang saya sebut sebagai tindakan manusia pilihan-Nya yang pasif (tindakan manusia hanya pasif menerima). Lalu, apakah iman hanya berhenti sampai di sini saja ? Tidak. Karena iman bukan saja berhenti pada iman yang merupakan anugerah Allah untuk keselamatan, tetapi iman itu terus bertumbuh. Itu adalah pertumbuhan iman. Iman yang terus berhenti hanya di tataran untuk keselamatan dari dosa saja, itu bukan iman yang bertumbuh. Iman yang bertumbuh adalah iman yang berada di dalam proses terus-menerus bersama dan di dalam jalur Allah melalui firman dan Roh-Nya yang kudus. Di sini, saya mengaitkan konsep progressive faith dengan progressive sanctification and progressive knowledge in Christ. Iman yang terus-menerus pasti berkait dengan pengudusan terus-menerus ditambah pengetahuan terus-menerus di dalam Kristus (progressive knowledge in Christ). Iman yang bertumbuh adalah iman yang terus-menerus menghendaki hidup kudus sebagaimana Allah yang memanggil umat-Nya adalah Allah yang Kudus, dan kemudian, iman itu juga bertumbuh di dalam pengetahuan yang melimpah di dalam Kristus. Aspek afeksi dan rasio harus berjalan secara seimbang di dalam iman yang bertumbuh. Pertumbuhan iman inilah yang diajarkan oleh Paulus di dalam suratnya kepada jemaat di Efesus pasal 4 ayat 13-15, “sampai kita semua telah mencapai kesatuan iman dan pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh, dan tingkat pertumbuhan yang sesuai dengan kepenuhan Kristus, sehingga kita bukan lagi anak-anak, yang diombang-ambingkan oleh rupa-rupa angin pengajaran, oleh permainan palsu manusia dalam kelicikan mereka yang menyesatkan, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.” Kata “iman” baik di dalam Roma 1:17 dan Efesus 4:13 memiliki arti yang sama di mana kata ini diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani pistis yang berarti kesetiaan/fidelity. Jadi, iman yang bertumbuh sama dengan sebuah kesetiaan yang terus-menerus kepada Allah dan firman-Nya sehingga, kata Paulus, kita tidak mudah diombang-ambingkan oleh angin pengajaran yang menyesatkan kita, tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih yang bertumbuh di dalam Kristus sebagai Kepala.Melalui Efesus 4:13-15, kita belajar beberapa aspek dari iman yang bertumbuh, yaitu pengetahuan yang benar tentang Anak Allah, kedewasaan penuh yang bertumbuh dan adanya kasih. Aspek pengetahuan (knowledge) tidak pernah dihilangkan dari konsep pertumbuhan iman, tetapi herannya banyak gereja kontemporer yang pop justru menghilangkannya dan mengatakan bahwa “roh kudus” melawan rasio. Iman yang bertumbuh tanpa melibatkan unsur penundukkan pengetahuan kita di bawah Kristus (pengetahuan yang benar tentang Kristus), maka iman itu pasti berhenti dan seperti iman anak-anak yang selalu ingin minum susu (suka hal-hal yang mudah dimakan/diserap, tetapi tidak mau makanan yang keras sebagai gizi untuk bertumbuh). Tetapi tidak berarti iman yang bertumbuh hanya berhubungan dengan pengetahuan yang bertumbuh, melainkan juga berhubungan dengan afeksi rohani yang terus bertumbuh. Afeksi ini meliputi kekudusan rohani kita, peka terhadap gerakan Roh Kudus yang mencerahkan hati dan pikiran kita, dll yang memimpin kita untuk tumbuh dewasa di dalam iman di dalam Kristus. Afeksi ini dapat dibuktikan tatkala kita menghadapi penderitaan, penganiayaan, pengucilan dari masyarakat, penghinaan, pemfitnahan, dll. Di situlah baru kita dapat merasakan bahwa iman kita dapat bertumbuh, tatkala kita peka akan gerakan Roh-Nya yang memimpin hati dan pikiran kita untuk tetap taat dan setia kepada-Nya. Di dalam afeksi yang bertumbuh, ada penundukkan diri secara mutlak di bawah Kristus, sehingga iman kita dapat terus bertumbuh dan kita terus-menerus menjadi sempurna menuju ke arah Kakak Sulung kita, Tuhan Yesus Kristus. Lalu, apakah di dalam iman “tahap” kedua ini mengandung 100% unsur jasa baik manusia ? TIDAK. Iman selama-lamanya tetap adalah anugerah Allah. Tetapi pada “tahap” kedua dari iman ini, iman dapat bertumbuh melalui pengenalan akan Allah dan firman-Nya. Dengan kata lain, manusia tidak lagi pasif dikontrol oleh Allah seperti robot, tetapi manusia bertindak aktif beriman di dalam-Nya, setia kepada-Nya sesuai pimpinan dan tuntunan dari Roh Allah dan Firman-Nya. Di sini, ada tanggung jawab manusia (pilihan-Nya), meskipun tidak berarti iman pada “tahap” pertama tidak menuntut tanggung jawab manusia. Ini yang saya sebut sebagai Tuhan sebagai Obyek Iman (tempat di mana kita melabuhkan iman kita satu-satunya).
Oleh karena itulah, di akhir ayat ini, Paulus menyimpulkan, “Orang benar akan hidup oleh iman.” Siapakah “orang benar” di dalam kesimpulan ini ? Tentu mereka yang sudah dibenarkan Allah di dalam Kristus (umat pilihan-Nya), sehingga mereka pasti dapat hidup oleh iman. Mengapa mereka bisa hidup oleh iman ? Tentu karena Allah yang memimpin dan menuntun hidup mereka sehingga mereka tetap beriman. Adam Clarke di dalam Adam Clarke’s Commentary on the Bible memaparkan dua arti dari pernyataan “orang benar akan hidup oleh iman” yaitu, pertama, “That the just or righteous man cannot live a holy and useful life without exercising continual faith in our Lord Jesus: which is strictly true; for He only who has brought him into that state of salvation can preserve him in it; and he stands by faith.” Dan kedua, “It is contended by some able critics that the words of the original text should be pointed thus: ‘? ?? ??????? ?? ???????, ???????. The just by faith, shall live; that is, he alone that is justified by faith shall be saved: which is also true; as it is impossible to get salvation in any other way.” Dalam pengertian pertama, “orang benar akan hidup oleh iman” berarti orang benar tidak dapat hidup kudus atau memiliki kehidupan yang berarti jika tidak melatih iman yang terus-menerus di dalam Tuhan kita Yesus. Jadi, iman yang tidak bertumbuh tidak mungkin menghasilkan kekudusan hidup dan makna hidup sejati. Seperti yang sudah saya kemukakan di atas, bahwa iman yang bertumbuh adalah iman yang salah satunya berhubungan dengan pengudusan terus-menerus. Dalam pengertian kedua, Adam Clarke memaparkan bahwa sebenarnya terjemahan ini bukan “orang benar akan hidup oleh iman” tetapi “orang benar oleh iman akan hidup” sebagaimana Habakuk 2:4 memaparkan, “tetapi orang yang benar itu akan hidup oleh percayanya.” Jadi, intinya bukan hidup oleh iman, tetapi orang benar oleh iman dapat hidup (dan diselamatkan). Orang benar dapat hidup ketika beriman, sedangkan jika mereka tidak beriman, mereka pasti tidak dapat hidup, karena iman sesungguhnya bukan kepercayaan diri tetapi mempercayakan diri dan setia kepada Allah sebagai satu-satunya Sumber Hidup. Albert Barnes di dalam Albert Barnes’ Note on the Bible memaparkan, “In Habakkuk this means to be made happy, or blessed; shall find comfort, and support, and deliverance. So in the gospel the blessings of salvation are represented as life, eternal life. Sin is represented as death, and man by nature is represented as dead in trespasses and sins, Eph 2:1. The gospel restores to life and salvation, Joh 3:36; Joh 5:29, Joh 5:40; Joh 6:33, Joh 6:51, Joh 6:53; Joh 20:31; Act 2:28; Rom 5:18; Rom 8:6.” Hidup ini berarti hidup yang diberkati dan bersukacita, menemukan kenyamanan. Jadi, ketika orang benar oleh imannya dapat hidup berarti orang itu oleh imannya dapat menemukan kesukacitaan sejati, berkat sejati, kedamaian sejati dan hidup kekal. Inilah efek/akibat iman yang didapatkan oleh umat pilihan-Nya ketika mereka sungguh-sungguh beriman di dalam Kristus. Mereka mungkin sering mengalami aniaya karena nama Kristus, tetapi mereka tetap bersukacita di dalam iman mereka yang tidak bisa digantikan oleh kesuksesan materi atau kesenangan duniawi lainnya.

 

Hari ini, sudahkah kita menemukan Subyek dan Obyek iman sejati sehingga kita dapat hidup di dalamnya ? Sudahkah iman kita bertumbuh dan dibangun di atas Kristus dan firman-Nya ? Maukah kita kembali kepada Kristus saat ini, mengenal-Nya dan memuliakan-Nya melalui hati, pikiran, perkataan dan perbuatan kita yang telah dikuduskan-Nya ? Amin.

__________________

“Without knowledge of self there is no knowledge of God”

(Dr. John Calvin, Institutes of the Christian Religion, Book I, Chapter I, Part 1, p. 35)