Berada dalam laju yang demikian cepat, saya hanya mampu memejamkan mata sambil berdoa dalam hati, “Tuhan mohon lindungi kami.” Sebuah rasa ironis pun menyeruak. Meski kendaraan yang saya tumpangi berlari secepat kilat menuruni jalur berliku di lereng gunung itu, seolah perjalanan untuk sampai ke bawah memakan waktu berabad-abad.
Dengan mata tertutup, perpaduan jalan menikung dan bus yang terus melesat kencang itu berhasil mengaduk-aduk perut saya. Sensasi itu membuat saya membuka mata. Di samping saya duduk Mbak Nonik, dara manis teman seperjalan pulang dari kopdarnas yang diadakan di dataran tinggi Tawangmangu yang berhawa sejuk. Saya berdecak kagum memandangnya masih berfacebook ria via telepon selulernya dalam kondisi sedemikian. Bangku di depan kami ditempati oleh wanita cantik yang juga berpartisipasi di acara yang sama, Mbak Pyo dan Mbak Evi. Mbak Evi tampak berpegangan erat pada sebilah besi di samping jendelanya untuk mengurangi dampak guncangan bus, dan Mbak Pyo yang ekspresif nampak berusaha “menikmati” perjalanan itu. Sementara, Mas Rian yang posisinya jauh di depan kami kelihatan anteng-anteng saja –hebat betul dia. Ya Tuhan, perjalanan ini demikian mendebarkan.
Saya tengah berusaha melafalkan Doa Bapa Kami dalam hati dan berharap kami segera sampai di tujuan dengan selamat ketika sebuah gambar terlintas di benak saya. Dalam pikiran saya tergambar sebuah perahu kayu yang tengah terombang-ambing di tengah danau ketika sekonyong-konyong angin ribut mengamuk. Layaknya awak kapal di tengah badai, semua orang di atas biduk itu pontang-panting mempertahankan keseimbangan perahu. Tapi tunggu dulu, bila diamati lagi, ada seorang penumpang yang justru tidur pulas di tengah goncangan hebat itu.
Siapakah dia yang dapat terlelap dalam amukan badai? Siapapun dia tentulah sosok yang luar biasa. Perahu kayu itu ditumpangi oleh Yesus dan murid-muridnya, dan dia yang tertidur itu adalah Yesus. Mendapati Sang Guru sedang terlelap, reaksi para murid serupa dengan reaksi saya dalam bus yang dikendalikan pengemudi dengan gaya Schumy di lintasan Formula satu ini. Mereka datang membangunkan Dia dan dengan panik berkata, “Tuhan, tolonglah kita binasa.” Yesus pun bangun dan berkata, “ Mengapa kamu takut, kamu yang kurang percaya?” kemudian bangkit dan menghardik angin ribut. Dalam sekejap, danau yang bergejolak itu pun menjadi teduh kembali. Demikian tenang seolah tak pernah ada badai mengamuk di situ.
Seperti halnya deru badai yang melembut tenang di danau itu, saya akhirnya dapat menguasai gejolak rasa mual , dan memandang ke luar jendela bus yang masih saja terus menambah kecepatannya. Ternyata pemandangan di luar begitu hijau dan asri sehingga begitu sayang untuk dilewatkan bahkan dari balik jendela kendaraan yang bak roller coster ini sekali pun. Keindahan yang hanya dapat dinikmati ketika saya memindahkan fokus dari rasa takut ke dalam sebuah penyerahan total pada Dia yang dapat menenangkan amukan badai manapun.
Beberapa detik kemudian, Mbak Pyo menengok ke belakang dan bertanya pada saya. Seingat saya ia menawarkan plastik pada saya. Bagaimana dia tahu kalau saya tengah bergulat mengendalikan sensasi tak nyaman itu, padahal saya tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ternyata selain ekspresif, Mbak Pyo juga pribadi yang sensitif, perhatian, baik hati dan penolong. Beruntunglah pendampingnya kelak mendapatkan wanita yang cakap ini sebagai penolongnya. Begitupun, tawaran yang baik hati itu saya tolak.
Saya kembali memusatkan perhatian saya pada indahnya hijau rimbun tanaman yang tumbuh di sisi jalan. Entah berapa lama saya terhisap oleh indahnya alam hingga akhirnya saya tertidur dalam bus yang terus bergoncang – sama seperti Yesus yang lelap dalam biduk itu. Yang saya tahu, saya terbangun ketika bus sudah sampai pada jalur yang datar dan relatif lurus. Perjalanan selanjutnya berjalan mulus dan tenang bahkan hingga kami berpencar dan saya tiba di Salatiga –kota indah dan tenang tempat saya tinggal. Lewat layanan pesan singkat, saya mengetahui bahwa Mbak Nonik pun telah tiba di Yogyakarta dengan selamat dan sejahtera bahkan tengah menyeruput semangkuk bakso di belahan lain pulau Jawa nun jauh di sana.
Semua berakhir baik. Goncangan dan sensasi tidak nyaman di bus itu pun pasti segera menghilang, namun kesan yang diukirnya agaknya sulit terhapus. Kesan yang membawa pesan tentang rasa takut yang begitu sering muncul karena berbagai hal – baik itu hal besar maupun yang kecil. Takut yang membawa khawatir apakah diri sanggup sampai ke ujung perjalanan dengan selamat. Perjalanan itu mengajarkan saya bahwa rasa takut hanya berdampak menghancurkan ketika pikiran kita terpaku pada ketakutan itu. Ketika perhatian itu dialihkan pada Sang Pemelihara hidup, maka takut itu akan berganti damai meski di tengah badai. Terima kasih pada Pak Supir yang berbakat menjadi pemain pengganti di film action itu, karena ia mengajarkan saya untuk dapat berkata, “segala kuatirku akan kutaruh di kakiMu Allahku," dan setiap kali melalui jalan berliku saya akan mencoba menyempatkan menikmati pemandangan indah di sisi-sisinya.
Yesaya 41:10
janganlah takut, sebab Aku menyertai engkau, janganlah bimbang, sebab Aku ini Allahmu; Aku akan meneguhkan, bahkan akan menolong engkau; Aku akan memegang engkau dengan tangan kanan-Ku yang membawa kemenangan.