Submitted by PlainBread on

Sudah awal bulan. Mengawali babak baru dalam pekerjaanku dan istriku. Semenjak istriku mendapatkan pekerjaan di malam hari, aku juga memindahkan pekerjaanku di waktu yang sama. Hal itu tidak kami lalui dengan mudah, harus melewati perbincangan yang memakan waktu berhari-hari. Menimbang-nimbang keuntungan dan kerugiannya. Kalau dia bekerja di malam hari, sementara aku tetap bekerja di pagi hari, maka waktu kami menghabiskan waktu berdua akan semakin berkurang. Belum lagi kalau dihitung ongkos bensin dan berbagai pengeluaran lainnya. Akhirnya kami memutuskan untuk berada di rumah dan bekerja pada waktu yang sama.

Bekerja di waktu malam hari berbeda sekali dengan bekerja di siang hari. Nenek-nenek juga tahu itu, mungkin begitu orang bakal bilang. Lalu kenapa aku menulis kalimat itu? Karena aku mendapatkan kesimpulan itu dengan cara yang tidak mudah. Hal yang sama juga pernah dikatakannya, kesayanganku.

Jarak tempat kami bekerja tidak begitu jauh, hanya sekitar tujuh menit. Aneh memang, sekarang orang mengukur jarak dengan menggunakan waktu. Suatu hari aku pernah bertanya kepada teman kerjaku, berapa jauh jarak antara rumahnya dengan tempat kerja. Jawabannya juga sama. Setengah jam. Ketika aku tanya berapa miles, dia bilang dia tidak tahu. Yang jauh adalah jarak tempat kerja kami dengan tempat tinggal kami. Sekitar empat puluh menit. Tapi kami berdua melihatnya sebagai sesuatu yang menyenangkan. Kami jadi punya waktu lama untuk bisa berbagi rasa selama di jalan.

Waktu kerja kami seperti biasa, dari jam sebelas malam sampai jam tujuh pagi. Di mana-mana biasanya juga begitu, mulai dari toko-toko grocery sampai rumah sakit, mulai dari pompa-pompa bensin sampai penjara.

Sesuatu yang juga menguntungkan bagi kami, walaupun hal ini pernah kami diskusikan beberapa kali. Sistem di dunia ini membuat manusia seperti robot. Ada jam kerja. Ada seragam sekolah. Ada rambu lalu lintas. Semuanya serba diatur dan menjadi rutinitas. Kami agak senang melihat jadwal kerja kami tidak seperti jadwal kerja kebanyakan orang, di mana kebanyakan mulai dari jam sembilan pagi sampai jam lima sore. Jam kerja kantor, istilahnya. Dengan begitu minimal kami bisa menghindari macet semenjak kami memiliki pekerjaan ini. Walaupun ternyata kami juga tahu, mau tidak mau kami adalah bagian dari sistem yang ada karena jadwal kerja kami juga dimiliki oleh ribuan orang lainnya, para pekerja malam. Tidak apa-apa.

Dulu istilah pekerja malam terdengar agak buruk di telinga banyak orang. Orang tua kami juga berpikir begitu. Sewaktu kami memberitahukan mereka bahwa kami bekerja malam, sepertinya mereka tidak begitu senang walaupun mereka tidak terlalu menunjukkannya.

 

Malam Ini

Setelah mengantarkan istriku ke tempat kerjanya, aku berputar arah menuju ke tempat kerjaku. Tidak jauh. Hanya melewati beberapa blok, dan sekian lusin toko-toko, gedung dan satu dua komplek perumahan. Aku menyukai cahaya neon yang menghiasi jalan. Istriku juga menyukainya. Cahaya neon yang ada di atas gedung, yang ada di depan toko, bahkan cahaya neon yang ada di bawah mobil. Rasanya begitu berbeda. Seperti mengarungi dunia lain.

Apalagi kalau melihat lampu-lampu tersebut dengan diiringi dengan lagu-lagu yang kami gemari. Seperti sekarang, Eurodancer yang dibawakan DJ Mangoo terus menerus berputar sejak kami meninggalkan rumah. Membuat kami semakin bersemangat untuk bekerja.

 

Gedung bertingkat enam. Agak tinggi. Begitu aku memasukkan kode untuk mematikan alarm dan memperlihatkan tanda pengenal lewat kamera, aku melangkah masuk. Bukan pertama kalinya aku berada di sini. Beberapa tahun lalu aku juga pernah mampir ke sini. Bedanya saat itu siang hari dan ditemani beberapa teman kerja. Sekarang aku melangkah masuk sendirian. Menurut informasi yang aku terima, ada dua puluh pasien yang tinggal di sini dan sepuluh orang staff yang malam ini sedang bekerja, termasuk dokter dan perawat.

Pasien yang ditugaskan ke aku malam ini hanya satu orang. Setelah membaca buku si pasien, termasuk keterangan latar belakang dan informasi mengenai dirinya, aku berkata bahwa aku siap menemuinya. Petugas yang aku ajak berbicara hanya mengangguk, berdiri dan kemudian melangkah. Seakan tahu bahwa aku akan mengikutinya.

Kode akses ditekannya. Lampu alarm di atas pintu kamar si pasien berhenti berkedip. Si petugas membuka pintu dan mempersilahkan aku masuk. Di balik pintu aku melihat si pasien sedang duduk membaca buku sambil mendengarkan radio. "Nocturnal," bisikku dalam hati. Dia tidak peduli akan kehadiran kami berdua di situ walaupun aku tahu dia mendengar alarm dimatikan dan suara derit pintunya yang baru saja dibuka.

Si petugas melangkah pergi setelah menutup pintu. Aku mengambil kursi yang ada di situ dan memulai percakapanku.

"Boleh aku duduk?" Kataku membuka diri.

Dia menoleh, menatapku dan tersenyum. Dia memutar arah kursinya. Ke arahku. Memberikan gesture kepadaku, menggerakkan tangannya ke arah kursi yang kosong itu.

"Silakan."

Pekerjaan ini adalah pekerjaan standar. Mengisi berbagai paperwork, dan memastikan bahwa dia berada di track yang tepat, alias mengikuti semua prosedur dan program yang telah disediakan untuknya.

Aku belum pernah bertemu dengan pasien ini sebelumnya. Orangnya cukup muda, berusia 45 tahun. Pernah menikah tapi bercerai. Punya dua orang anak dan mereka tinggal di kota yang lain.

Ada lebih dari lima jam aku duduk di situ, berbicara dengannya. Setiap jam petugas yang sama yang mengantarkan aku, memberikan aku break sekitar 15 menit. Aku selingi dengan pergi ke kamar mandi, atau sekedar melangkah keluar gedung, sambil menyeruput kopi yang aku bawa dari rumah. Udara di luar cukup dingin, walaupun sekarang seharusnya sudah hampir memasuki musim panas. Aku tidak mau berlama-lama menghabiskan waktu istirahatku di luar. Situasi di dalam gedung yang kaku tidak membuatku enggan untuk melangkah masuk. Udara di dalam lebih hangat.

Sudah hampir jam enam pagi. Ratusan helai kertas menumpuk yang aku bawa agak berceceran di mejanya. Penuh dengan tulisan-tulisanku. Juga tape recorder yang aku bawa, aku biarkan berada di meja yang sama.

"Lelah?" Katanya kepadaku

"Lumayan." Kataku sambil tersenyum. Raut wajahku ternyata tidak susah terbaca. Mungkin dia juga melihat mataku yang mulai merah karena belum terbisa bekerja malam.

"Saya punya satu pertanyaan untukmu", katanya lagi.

"Silahkan." Kataku sambil membereskan kertas-kertas yang berceceran.

"Bagaimana perasaan anda jika anda tahu bahwa anda akan mati hari ini?"

Pertanyaan yang janggal, tapi sebenarnya sering aku dengar sepanjang aku menjalani pekerjaanku.

Yang membuatku menahan nafas, adalah ketika aku mendengar suara seperti hammer pistol yang ditarik. Aku mendongak sedikit, melihat ke wajahnya. Suara apa itu?

"Fu*k!" Teriakku dalam hati.

Lengan dan tangannya membentuk garis lurus, sejajar dengan keningku. Di ujung tangannya dia menggenggam pistol. Tepat mengarah di antara kedua alis mataku.

Dia tersenyum.

"Bagaimana, pertanyaan saya belum anda jawab," Katanya sambil tetap tersenyum.

Otakku seperti pita kaset.

Berputar.

Satu-satunya aku mengalami hal seperti ini ketika berada di Indonesia. Hanya karena sebuah mobil terhalang oleh mobilku, si pengemudi langsung keluar sambil membanting pintunya.

"Elo mau mati ya!" Teriak si bapak berkulit hitam. Dia menarik pistol yang ada di pinggangnya dan menodongkannya tepat ke arah wajahku.

"P dua" Kataku dalam hati sewaktu melihat pucuk pistol yang diacungkannya. Buatan Pindad.

Untungnya dia langsung melangkah pergi dan masuk ke mobilnya, setelah disadarinya bahwa ada sebagian orang yang melihatnya.

"Tentara bangsat!" Umpat temanku saat itu yang juga ada di dalam mobil.

"Halah, elu beraninya pas dia udah pergi!" Kataku sambil tertawa dan menggelengkan kepala. Dia juga ikut-ikutan tertawa.

 

Aku menatap si pasien. Mencoba tersenyum.

"Anda ingin aku menjawab apa?" Kataku balik bertanya.

"Jawab saja pertanyaanku." Dia bukan lagi tersenyum, tapi sudah menyeringai.

Aku harus tetap tenang. Jawaban yang salah bisa mengakibatkan nyawa melayang. Itu sudah terbukti berkali-kali, aku dapati di pekerjaanku atau terjadi di kehidupan orang lain. Walaupun aku tahu saat itu, di detik atau menit ke berapa pun, nyawaku bisa melayang di tangannya, tapi aku harus bisa merasakan nafas yang keluar dari hidung dan mulutku. Aku harus bisa merasakannya. Supaya aku bisa tenang.

Tapi di sisi lain, aku sangat kesal. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki pistol di kamarnya? Bukankah salah satu protokol yang harus dia lewati adalah body search dan room search setiap tiga kali sehari? Dan ini hari pertama aku bekerja di malam hari. Great!

Aku melihat radionya yang masih tetap menyala dari sejak aku melangkah masuk. Kalau dia mau membunuhku, atau punya rencana untuk membunuh seseorang, dia tidak harus menggunakan pistol.

"Where did you get the piece?" Katanya bertanya kembali. Mempertanyakan sepucuk pistol yang ada ditangannya.

"Sekali lagi engkau bertanya, trigger ini akan saya tarik."

Sayangnya, kamar si pasien ini tidak ada surveillance camera. Biasanya seperti itu, kalau ada pasien yang baru masuk, mereka tidak akan langsung menaruh berbagai protokol yang ada, supaya si pasien bisa beradaptasi pelan-pelan. Dan itu juga harus melewati beberapa pertemuan dan diskusi antara pihak penyedia fasilitas dan si pasien. Birokrasi memang menyebalkan.

Aku mencoba mengingat-ingat semua yang aku sempat baca dibukunya sebelum aku berada di kamarnya ini. Buku yang sangat tebal. Menceritakan soal kelahirannya, kisah keluarganya, diagnosa penyakit fisik dan mental yang dideritanya. Termasuk daily log tentang aktivitasnya yang dicatat dan disimpan sejak dia berada di sini. Aku tidak ingat semuanya. Hanya beberapa bagian penting yang aku sempat baca. Setidaknya yang aku pikir penting. Pikiranku malah kembali ke beberapa jam yang lalu, rangkaian gambar  yang memperlihatkan tanganku membolak balik halaman-halaman bukunya. Aku tidak menemukan dan membaca bagian yang menarik perhatianku.

 

Aku menarik nafas. Pelan dan lambat.

"Bagaimana?" Tanyanya kembali.

Aku menatap matanya. Mungkin akan menjadi mata terakhir yang aku akan lihat di hidupku.

Aku tidak punya pilihan lain kecuali menjawabnya.

"Bagaimana?" Sudah tiga kali dia bertanya.

Aku melirik ke arah langit-langit. Wajah istriku yang sedang tersenyum melekat erat di pikiranku.

"Aku tidak punya istri. Aku tidak senang dengan pekerjaanku sekarang. Aku putus asa selama bertahun-tahun. Jadi kalau anda mau menarik pelatuk itu, silahkan lakukan. Apa yang saya rasakan sekarang dan apa yang saya rasakan kemarin sama saja, tidak ada yang berubah. Jadi apa yang anda akan lakukan sekarang tidak akan mengubah perasaanku."

Aku tidak boleh menarik nafas. Perintahku ke diriku sendiri. Tidak boleh.

Dengan pelan dan pasti, aku menutup mataku.

Tidak ada suara.

Tidak ada gerakan.

Kemudian dengan perlahan dia mengatakan sesuatu.

"Jawaban yang tepat." 

Aku membuka mataku.

"Lagipula, senjata ini rusak, tidak bisa dipakai. Tidak ada pelurunya juga."

Dia tertawa terbahak-bahak. Menyerahkan pistol yang ada di tangannya ke arahku. Dengan cepat aku ambil dari tangannya.

Aku menarik nafas. Kali ini nafas yang panjang.

Akhirnya.

Aku melihat jam di tanganku. Sudah jam setengah tujuh lewat sedikit.

"Saatnya aku pulang. Selamat pagi." Kataku sambil tersenyum.

Dia menatapku heran,"Kamu tidak akan memberi nasihat kepadaku? Tidak memakiku? Tidak mengatakan apa-apa tentang apa yang baru terjadi?"

"Buat apa? Kamu toh sudah pernah dengar semuanya itu sebelumnya."

Dia tersenyum. Membiarkan aku melangkah pergi dan menutup pintu.

Sebelum aku melangkah keluar dari gedung itu, aku membuat catatan kecil, rekomendasi untuk menaruh kamera di dalam kamarnya. Dan evaluasi untuk protokol body search dan room search yang sepertinya tidak benar-benar dilakukan dengan serius di tempat itu.

 

Aku menyalakan mesin mobil. Menyalakan radio. Seperti biasa, aku akan menjemput istriku karena dia juga sudah saatnya selesai kerja. Dan selalu tepat di waktu sekarang ini dia meneleponku. Handphoneku berdering. Suara ringtone yang aku buat khusus untuknya.

"How's work, hon?" Tanyanya seperti biasa.

Aku tersenyum begitu mendengar suaranya. Padahal baru delapan jam sebelumnya dia duduk di sampingku, berbincang-bincang sambil menggenggam tanganku. Tapi kali ini aku sangat merindukan mendengar suaranya.

"Same old, same old, dear. Just another day in paradise." 

Selalu jawaban itu yang aku berikan setiap kali dia menanyakan hal yang sama. Aku akan bertemu dengannya lagi dalam waktu sekitar tujuh menit. Membuat aku kembali tersenyum.