Demokrasi, di gereja bisakah?
Hampir di seluruh dunia, orang berseru untuk demokrasi, namun mereka lupa bahwa Adolf Hitler terpilih melalui sebuah pemilihan demokrasi. Demokrasi adalah pemerintahan oleh orang-orang yang dalam artian yang mayoritas. Di pemerintahan yang demokratis, kekuasaan utama di’jubah’kan kepada orang-orang dan dilaksanakan mereka secara langsung ataupun tidak langsung melalui suatu sistem representasi (perwakilan) yang biasanya secara periodik diselenggarakan pemilihan bebas.
Demokrasi adalah salah satu kebohongan besar di abad ke 20 ini. Seseorang tidak dapat menyenangkan semua orang di semua waktu. Demokrasi menyebabkan penduduknya berperang satu sama lain. Sekarang demokrasi memasuki masa-masa yang menentukan. Demokrasi sesungguhnya adalah suatu sistem yang terbuka untuk manipulasi. Kita memilih (–vote-) orang-orang yang membuat janji-janji yang kita dan mereka tahu bahwa mereka tidak dapat penuhi. Dan dalam banyak pemilihan, partai yang menang bahkan tidak mencapai 50% dari total vote. Ini dikarenakan cara yang mana para konstituen dimanipulasikan. Bahkan kapitalisme bergantung kepada penggodaan (seduction) melalui advertising (iklan-iklan) agar roda terus berputar.
Dalam sebuah pemilihan demokrasi, dengan dua partai-yang kekuatannya seimbang, maka yang minoritas mulai memainkan kontrol yang berlebihan. Agar supaya satu partai yang memenangkan pemilihan itu mereka selalu berusaha untuk memperoleh ‘perkenanan’ dari kelompok minoritas itu tadi. Jadi mayoritas yang diam yang memiliki keinginan-keinginan dan hak-hak mereka dikorbankan demi minoritas tadi.
Seseorang mengatakan, “Kapanpun sebuah otoritas yang lebih rendah melaksanakan otoritas atas otoritas yang lebih tinggi, anda memiliki/mengalami sihir”.
Jadi, bila gereja (orang-orang Kristen) meng-adopsi demokrasi sebagai tatanan Allah, bisa seperti apa jadinya? Padahal gereja harus menjadi contoh dalam pemerintah yang kesatuan, damai sejahtera dan saleh.
Apa yang kamu pikirkan mengenai hal ini?