Submitted by smile on

Bagi saya Sabda Space bisa berarti sekolah, bisa juga berarti tempat sampah. Kalau sudah busuk, ya saya tinggalkan saja. Kenapa? Toh saya pun tidak bisa membuatnya menjadi tidak busuk. Bila bisa, tentu saya akan menjadi cleaner untuknya.

Membaca blog Purnawan Kristanto, saya menganggapnya lumrah saja. Mengingat dia bukanlah anak kemaren sore yang baru ngeblog.



Melihat SS belakangan ini, saya ogah untuk membukanya,...karena bagi saya pribadi, perasaan monoton dan bosan menghadapi situasi seperti yang terjadi,membuat saya sebenarnya sangat sungkan untuk membuka situs SS. Tapi orang akan berpikiran berbeda tentunya, dengan kehadiran saya, SS tetap Ss, dengan keabsenan saya SS juga tetap masih menjadi SS,jadi, apalah gunanya saya disitu?



Hanya sebagai pemerhati? Sebagai partisan , atau sebagai seorang pedagang musiman saja? Melihat blog Erfen Gustiawan, membuat saya menjadi makin sadar, kalau banyak yang benci tapi rindu terhadap SS ini.Sewaktu dia mengatakan bla bla dan bla, tapi dia, (erfen) masih tetap menjadi bagian SS dengan menuliskan blog blog nya.Mau pergi, ga tega, mau diam ga tahan, mau diawa kemana semua perasaan ini?



Serba kontradiktif. Ada yang pro pasti ada yang kontra. Kalau dibilang perbedaan itu baik untuk mengasah daya pemikiran kita,bagi saya itu sah sah saja. Sama halnya dengan keimanan kita yang berbeda.



Kalau dibilang Indonesia adalah negara yang ber Bhinnneka Tunggal Ika, bagi saya itu baru muncul baru baru ini saja,…itu pun baru awal mula, kalau untuk persentase, masih sekitar 1 %, menurut saya.

Pluralisme hanya sebuah slogan. Slogan yang digemborkan agar dunia melihat Indonesia adalah negara yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.



Kalau HKBP bisa mengalami nasib tragis seperti itu, bagaimana dengan yang lain yang tidak naik ke permukaan?

Jika melihat Malaysia, saya pribadi malah bangga dan berangan angan, kapan negara Indonesia bisa seperti Malaysia? Walaupun mayoritas sama beragama islam, tapi kebudayaan nya jauh berbeda. Sangat berbeda, dan pantas disebut dengan perbedaan yang significant.



Mereka lebih maju dalam hal berpikir, dalam hal kebersamaan.Sedang Indonesia? Itulah “NEGARAKU”



Mungkin saya pribadi membandingkan Indonesia sama dengan SS, mau bertahan ga tahan, mau pergi ga tega, akhirnya, ya jadi patung. Ga ngapa ngapain.

Indonesia tanpa saya ga ada masalah, Indonesia ada saya juga ga masalah, sama seperti SS.



Beberapa lama ini saya banyak berpikir tentang kehidupan, tentang keimanan, tentang pluralisme, bukan hanya di Indonesia, tapi diseluruh dunia.Bagi orang Kristen, tentunya menganggap ajarn Kristen adalah yang paling benar. Walau mungkin orang bijak berpikiran bahwa ajaran agama lain juga benar. Tentu yang dianutnyalah yang paling dianggap sempurna.



Saya sendiri sangat menyukai ajaran Yesus Kristus,walau sering dan erap kali susah melakukan dan mengamalkan seperti yang diajarkanNya. Tapi saya juga tidak menganggap bahwa Islam, Budha, Hindu, Konghucu, dan agama lainnya adalah pantas dinamakan kafir. Menurut pengertian saya, Nabi Muhammad mengatakan untuk memerangi orang kafir. Kafir disini diartikan tidak secara mendalam oleh sebagian besar umatnya.Kafir bisa berarti sangat luas sekali. Seperti orang orang munafik, orang orang yang jahat, biadab, tidak mengenal (T)uhan, atau sama sekali tidak percaya adanya Sang Pencipta.Bukan orang dengan agama dan kepercayaan yang berbeda.

Apakah saya harus berkata tidak ada jalan kesurga selain dari percaya kalau Yesus Kristus adalah (T)uhan dan juruslamat? Tidak.



Saya tidak akan mengatakan demikian. Kitab suci Injil adalah sebuah janji dan firman (T)uhan yang hidup, apakah dengan mengimaninya, dan lalu percaya apa yang dikatakannya, lalu menutup jalan pemikiran kita kalau tidak ada seorangpun yang dapat menghadap Bapa kalau tidak melalui Yesus Kristus?



Kembali menjadi kontradiktif, apakah (T)uhan adalah pembual? Dan (T)uhan gemar menipu kita dengan firmanNya yang hidup tersebut?



Tentu saja tidak. Bagaimana saya dapat berkata seperti itu?

Memang benar Firman ya firman.Kita harus percaya firman tidak berbohong, ia adalah benar. Tapi, apakah kemudian kita tahu, umat lain yang begitu taat kepada (T)uhan, tanpa mengakui Yesus Kristus adalah (T)uhan dan juruslamat pasti masuk neraka? Apakah ada yang sudah pernah pergi kesurga dan kemudian balik lagi, apakah ada yang dapat berkata aku tahu seperti apa yang (T)uhan tahu?



Kita ini manusia, yang tidak bisa hidup mati dan hidup lagi, mati lagi. Sekali lahir, pasti akan diakhiri dengan kematian.Saya juga kadang menjadi kasihan kepada siapapun yang berkata telah mengalami mati dan hidup lagi, jalan jalan ke surga, melihat neraka,…..sungguh sebuah propaganda penuh kebohongan.



Pernahkah anda merasakan damai yang luar biasa ketika beribadah, merasakan kehadiran dan jamahan (T)uhan pada saat itu? Lalu bagaimana dengan umat Islam yang berdzikir, dan berdoa bersama mohon pertolongan (T)uhan. Lalu seorang Budha yang penuh kasih yang selalu taat berdoa, menyembah (T)uhan sang pencipta? Dan juga orang orang yang berdoa, dalam upacara, dan penyembahan kepada sang Hyang Widhi Wasa? Apakah dengan melihat ayat dalam firman (T)uhan tersebut lalu kita bisa mengatakan bahwa semuanya masuk neraka?



Sekali lagi, siapa Tahu? Semuanya hanya (T)uhan yang tahu, Dia berhak memutuskan, memasukan si A ke surga bersamanya, dan si B keneraka jauh dariNya, dan siapa tahu yang dipilihnya itu beragama apa? Bisakah mengatakan kepada saya, siapa sekarang yang berada dineraka, kecuali dari apa yang sudah tertulis di dalam alkitab?



Manusia hanya bisa menilai dari luar saja, secara lahiriah, tidak secara batiniah, ilustrasinya, manakah yang lebih disukai (T)uhan :

a.Orang miskin menyumbang 5000 rupiah

atau

b.Orang kaya yang dengan ikhlas menyumbang sama 5000 rupiah?

smile

September 15th-2010





Inti dari tulisan ini, adalah jika ya lakukan dengan sepenuh hati, mampu kerjakan, tidak mampu katakan tidak mampu, jauhilah kemunafikan, dan berlakulah jujur pada (T)uhan, diri sendiri dan orang lain.(T)uhan lah yang paling berhak atas kehidupan seorang manusia melebihi manusia itu sendiri.