Submitted by tonypaulo on

 

Bukan begitu, begini kataku…!

Tidak, tidak begitu, begini katamu…!

Memang kamu pikir kamu siapa bisa mengatur aku, kataku!

Memang kamu pikir kamu siapa bisa melarang aku mengatur kamu katamu!

Terlalu banyak tanda seru yang begitu ketus, padahal baru sepata kata yang terucap….

 

Darimana ini bisa begini? tanyaku

Darimana itu bisa begitu ? tanyamu

Saling bertanyapun tak ada jawaban…

Bahkan memang tidak ada pertanyaan sama sekali

Karena pertanyaan adalah kedok dari pernyataan…

 

Apa kamu demikian tidak bernalarnya untuk menyatakan ini! seru ku

Kamu yang tidak memakai nalar, karena memang ini adalah ini! seru mu

Mau sampai kapan seperti ini?

Sampai akhirnya nalarpun lumpuh karena emosi semata?

Atau sampai salah satu tergeletak bermuluran darah karna nalarnya terluka parah

Tertusuk pedang lawannya? Sementara tombak yang tergeletak pun menghujam nalar yang menusuk

Keduanya tergeletak, tidak ada kemenangan mutlak, terkapar dan tidak berdaya

 

Sudah sampai terkaparpun masih terus….

Sudahlah percuma saja bicara dengan orang bebal semacam kamu, kataku

Bebal katamu, kamulah yang bebal seperti keledai tua, katamu

Tidak sadarkah kita, bahwa baik aku dan kamu sama bebalnya dengan si bebal?

Malah si bebal mungkin lebih bijaksana untuk diam, duduk dan mendesahkan nafasnya..hhmmm

Dan berkata kepada kita, ternyata kalian semua adalah anak-anak debat, bukan anak-anak pembawa damai…

 

Sesaat aku tersadar…

Hari besok masih tersadar

Hari besok dari besok masih terjaga

Hari besok dari besok dari besok agak mulai lupa lagi

Hari besok dari besok dari besok dari besok, aku kumat lagi

Mari kita berdebat lagi kalau perlu sampai ada yang terkapar lagi

 

Kemudian aku tersadarkan lagi, mengapa damai sejahtera ini hilang

Sukacita ini pergi, keteduhan jiwa ini pudar?

Kemana mereka semua pergi meninggalkanku?

Tidak bisakah mereka berjaga-jaga denganku barang satu hari saja?

Daging memang penurut tapi roh lemah, debat ini memang begitu seperti candu bagi kedaginganku yang melemahkan rohku

Aku memulainya kembali untuk kesekian kali

 

Tersadar untuk kesekian kali plus satu kali

Kemudian lupa lagi…

 

Oh TUHAN maafkan aku, mengapa aku gadai damai sejahteramu demi kebanggaanku semata?

Tapi TUHAN aku menegakan titah-titahmu, aku meluruskan jalan-jalan mu, dari para orang-orang yang tidak tahu berterima kasih kepada Mu

Walau aku harus kehilangan damai sejahtera Mu, ini kulakukan untuk Mu seorang, hanya untuk Mu, karena aku ada sebagaimana aku ada untuk membela Mu

Oh Tuhan maafkan aku, ternyata akupun luput dari sebagai pembawa damai sejahtera Mu, bagaimana aku bisa disebut orang-orang pembawa damai?

Tapi Tuhan, ini kulakukan demi nama Mu…

Oh Tuhan, sudahilah pergumulanku ini,….

Aku sangat lelah dengan perdebatan semua ini

Haruskah aku biarkan saja pemahaman-pemahaman ini menghujani teman temanku yang lain?

Haruskah aku menjadi payung untuk ini semua?

Oh tidak, aku tidak boleh merasa benar!

Aku harus hidup benar tanpa merasa aku benar

Kebenaran Mu lah yang membenarkanku

 

Ternyata aku tahu….bahwa dengan membawa damai akupun dapat menyampaikan pemahamanku, ketidaksetujuanku dan ketidaksepahamanku, dengan damai dan sejahtera sebagai pesan yang utama

 

Terima kasih Tuhan, untuk satu langkah lagi Kau tuntun aku, untuk semakin memahami Mu dan menjadi serupa seperti Mu… walau tidak mudah aku akan belajar untuk setia

 

Mohon ingatkan aku selalu Tuhan….bahwa aku adalah pesan damai Mu, kesan sejahtera Mu...

menjadi pena yang menulis sejahtera damai Mu Tuhan dalam hati siapapun