Submitted by king heart on
Di sebuah desa di bawah kaki gunung tinggal sebuah keluarga yang sangat sederhana. Mereka terdiri dari Bapak, Ibu dan dua anak mereka, si sulung Mujihat dan si bungsu Mujino. Sedari kecil, prestasi sekolah Mujihat cukup membanggakan, itu sebab kedua orang tuanya sangat berharap kelak dia mampu mengangkat kehidupan keluarga. Mujino sering dinasehati untuk mengikuti teladan kakaknya. Tetapi dasar nakal, Mujino cuma mencibir dan sedikit menyengir ketika nasehat diberikan.
 
Mujihat menyadari kadaan keluarganya yang pas pasan, sebab itu ia memutuskan hendak berhenti sekolah demi membantu mencukupi kebutuhan keluarga. Bapak dan Ibunya menolak mentah mentah sambil berkata :” Nak, sudahlah kamu berkonsentrasi belajar saja. Belajar yang pintar. Biarpun Bapak menjadi kerbau dan ibumu menjadi sapi membanting tulang, itu sudah tugas dan tanggung jawab kami sebagai orang tua. Kelak kamu jangan hanya menjadi petani miskin seperti kami ini”
 
Mujihat begitu terharu dan bangga memiliki orangtua yang sangat agung itu. Ia juga melihat dengan mata kepala sendiri betapa keras Bapak dan Ibunya membanting tulang agar anaknya bisa menjadi orang. Bapak, tepat seperti yang dikatakan bekerja lebih keras lagi membajak sawah layaknya kerbau karena mereka tidak memiliki kerbau. Sawahpun cuma sepetak peninggalan leluhur. Ibu pun tidak kalah hebat, benar benar bekerja layaknya sapi yang diperah tenaganya, subuh sudah bangun menyiapkan makan buat sekeluarga kemudian langsung pergi ke pasar berjualan sayur hingga petang.
 
                         
                            " Bapakku dan Ibuku dan Aku "
 
Waktu cepat berlalu, alhasil Mujihat lulus dari Fakultas Pendidikan dan kembali ke desanya mengabdi sebagai guru sekaligus kepala sekolah di SMP satu satunya yang ada di desa. Ketika mengajar ataupun berpidato saat upacara bendera, Mujihat tidak pernah lupa menceritakan masa lalunya :” Saya dulu hidup sangat susah, makan nasi kadang hanya ditaburi garam dan ditambah lauk timun dan sambal. Tetapi saya tidak pernah berputus asa. Orang tua saya adalah “sapi “ dan “kerbau” ( sambil dua tangannya memberi tanda “ ) buat anak anak anaknya. Itu sebabnya anak anaknya bisa sukses seperti sekarang ini.”
                       
                                         
 
Mujino pun tidak kalah dari kakaknya. Selepas lulus dari Fakultas Pertanian, ia bekerja sebagai penyuluh pertanian di desanya. Ketika ditanya mengenai pengabdiannya, ia hanya mengatakan :” Saya bekerja di sini demi untuk mengenang jasa kedua orang tua saya yang bekerja keras bahkan sangat keras demi kesuksesan anak anaknya. Selain itu juga untuk membalas budi demi mereka dan desa tempat saya dilahirkan ini.”
 
Prestasi Mujihat lebih bagus dan mentereng di banding sang adik. Ia kemudian dicalonkan untuk menjadi lurah. Ketika berkampanye, cerita mengenai ayah dan ibunya yang menjadi “sapi” dan “kerbau” tidak lupa dibawa karena ternyata warga sangat mengagumi cerita Mujihat. Apalagi ditingkahi dengan gaya yang sungguh menarik simpati dan haru banyak orang. Slogan kampayenya adalah :”Pilihlah Mujihat anak “Kerbau dan Sapi yang Sukses “ disingkat “Muka Sak” tentu saja sambil memberi tanda “ dengan dua jarinya.
 
Akhirnya, Mujihat memenangkan pemilihan lurah. Hari harinya kemudian dipenuhi dengan undangan banyak orang merayakan kemenangannya. Dalam sambutannya sambil membanggakan keberhasilan dan program yang akan digunakan untuk membangun desa tidak lupa kisah “sapi dan kerbau” juga diceritakan. Di belakang panggung tampak gambar besar Sapi dan Kerbau dibentangkan. Tak lupa Mujihat menyatakan bahwa Sapi dan Kerbau akan dijadikan maskot desa.
 
Sehari sesudah pelantikan mejadi lurah, Mujihat mengunjungi orang tuanya, tentu tidak lupa memakai baju safari batik baru, baju kebesarannya sebagai lurah. Orang tua dan adiknya Mujino tidak hadir ketika pelantikan karena Bapak “sang Sapi” tidak enak badan. Sambil melempar senyum bangga dan melambaikan tangan kepada para penduduk di sepanjang jalan, Mujihat sampai di rumah orang tuanya. Rumah itu tidak berubah kecil dan sederhana. Hanya sekarang rumahnya sudah bertembok bata mentah tetapi tanpa polesan semen.
 
Mujihat masuk dan melihat Bapak, Ibu dan Mujino sedang duduk mengobrol ditemani makanan singkong rebus dan kopi panas. Herannya mereka tampak cuek menyambut kedatangan Mujihat sang Lurah baru. Tidak tampak tanda penyambutan yang hangat dan bangga. Belum sempat Mujihat berbicara sepatah kata, Mujino berkata dengan cukup keras :” Wah si penunggang kerbau dan sapi datang!’. Ini diucapkan dengan senyuman masam. “Eh, ada apa ini ?” tanya Mujihat. “Bang, kamu keterlaluan ya, mengeksploitasi Bapak dan Ibu untuk kepentinganmu sendiri. Merendahkan Bapak dan Ibu di depan banyak orang. Bapak dan Ibu sampai tidak keluar selama beberapa hari karena malu dipanggil Bapak Kerbau dan Ibu Sapi.” Mujihat dengan sedikit gusar menjawab :”Aku tidak pernah merendahkan Bapak dan Ibu, aku malah menyanjungdan meninggikan mereka. Naif sekali kamu ini, No. Sekolah tinggi tinggi kok ya masih bodoh begini! Malu aku jadi kakakmu”.
 
Ibu sambil menghela nafas panjang hanya menggeleng gelengkan kepala. “Sudahlah Pak, Bu jangan dengarkan hasutan Mujino. Sekarang ini aku Mujihat sudah sukses dan aku akan membuat Bapak dan Ibu tidak lagi dicibir sebagai orang miskin. Kalian sekarang aku ajak pindah ke rumah dinasku.” Bapak menjawab :” Tidak, Ji, Bapak dan Ibu tidak akan pindah. Sampai mati kami akan tinggal di sini. Tidak pantas Kerbau dan Sapi tinggal di rumah yang bagus.” “ Dasar, anak tidak tahu diuntung, apa yang kamu katakan kepada Bapak dan Ibu, No?” sergah Mujihat menggelegar murka.
 
“Bang Muji yang terhormat, mereka orang yang memiliki hati dan bukan orang bodoh. Tidak ada anak yang menyanjung dan membanggakan orang tuanya dengan mengatakan mereka “Sapi dan Kerbau” meski pakai ini!” Mujino berkata sambil membengkokkan jari tangannya. “Bang Muji kalau masih waras pasti sudah keblinger.” Mujihat bertambah murka, katanya:”Tidak mungkin aku bisa sesukses ini tanpa mereka menjadi “Sapi dan Kerbau” No, kamu ingat itu. Bagi aku, ini membanggakan punya orang tua “Sapi dan Kerbau”, kalau menurutmu lain karena engkau bodoh, naïf dan picik itu urusanmu sendiri. Persetan dengan semua pikiranmu dan perasaanmu yang sensitif itu. Bapak dan Ibu adalah “Kerbau dan Sapiku”. Titik. Persetan orang mau ngomong apa.Lihat kesuksesanku sekarang ini, lihat bagaimana orang terkesan akan cerita mengenai aku dan “sapi Kerbau” ku dan buktinya yang nyata. Jika kamu Cuma bisanya iri karena tak sesukses aku atau terus hidup bagai katak di bawah tempurung terus itu urusanmu ”
 
Mujino sambil menghela nafas menyahut :”Kamu memang tidak mempunyai hati, Bang. Gelimang kesuksesanmu mengaburkan matamu. “Kerbau dan Sapi” mu ini mempunyai hati dan perasaan bukan seonggok patung atau kawanan hewan yang menyokong kesuksesanmu semata melalui cerita cerita kosongmu itu.. Semoga Tuhan mengampunimu Bang.”
 
 

" Saya ini si gembala sapi, young lide, young lie, young liede ......."