"Alkitabku kok isinya agak lain dari Alkitabmu?" merupakan pertanyaan yang wajar pada masa sekarang. Juga bukan sesuatu yang aneh jika kita mendengar pernyataan "Alkitabmu ada ayatnya yang tidak ada dalam Alkitabku ya?"
Pertanyaannya sekarang, mengapa?
Pertanyaan-pertanyaan di atas sebenarnya kudapat dari sebuah buku yang kubaca akhir pekan ini. Acara di televisi begitu membosankan, film yang disewa oleh teman sekantor juga tidak sesuai seleraku. Sebuah film sepertinya cukup bagus, film perang, tetapi dalam seperempat jam pertama yang ada cuma seorang jenderal mondar-mandir di tepi pantai. Akhirnya aku mencari buku di perpustakaan kantor, menemukan buku berjudul "History of the New Testament in Plain Language". Sebuah buku yang ditulis oleh seorang profesor Terjemahan Perjanjian Baru dari Golden Gate Baptist Theological Seminary, California.
Buku ini juga mengingatkanku pada sebuah buku di Gramedia. Judulnya aku lupa, tetapi aku ingat pada saat membaca sampul belakangnya, darahku sedikit mendidih. Penulisnya seolah-olah mengatakan isi Alkitab merupakan sebuah kebohongan. Katanya Perjanjian Baru sebagian telah diubah.
Sebulan kemudian aku melihat plastik pembungkusnya sudah terbuka. Waktu membaca sekilas, aku pikir penulisnya seorang Kristen yang murtad. Tetapi ketika membaca bagian kesimpulan, sadar penulis hanya mengungkapkan kenyataan yang ada, tidak menyerang kekristenan. Bahkan kalau tidak salah, ada bagian yang berkata, "Perubahan-perubahan dilakukan untuk memudahkan pemahaman kita terhadap isi Alkitab."
***
Waktu kuliah, gerejaku juga mengadakan ibadah bahasa Inggris. Tidak akan pernah kulupakan sebuah "kesalahan" yang dilakukan oleh pemimpin pujian dalam salah satu acara ibadahnya. Ia meminta seluruh jemaat membuka Alkitab bahasa Inggrisnya masing-masing. Lalu meminta mereka membaca bersama-sama sebuah perikop. Keluarlah segala macam kalimat Inggris logat Indonesia.
Sebenarnya logat Indonesianya tidak masalah, pemimpin pujian sudah terbiasa dengan ibadah kita, Alkitab yang dibawa biasanya hanya satu, TB-LAI. Sehingga ketika ada pembacaan Alkitab bersama-sama, suara yang keluar tetap sama. Apalagi jemaat yang membawa TB-BIS kebanyakkan tidak akan berani membaca keras-keras. Sekarang, dalam ibadah kali ini, jemaat membawa Alkitab versi NIV, KJV, RSV, dll. Jadi, bisa dimaklumi keluar segala macam suara dari masing-masing versi Alkitab tersebut.
Setelah kejadian ini, tidak ada lagi pembacaan Alkitab secara bersama-sama dalam ibadah bahasa Inggris kami.
Kembali ke buku pinjaman dari kantor, pertanyaannya sekarang adalah mengapa? Mengapa ada yang berbeda? Apa dasar adanya perbedaan dalam versi-versi terjemahan tersebut? Apakah ini bisa menimbulkan keraguan terhadap realibilitas dan autoritas Alkitab?
Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, kita harus menyadari beberapa kenyataan dulu. Salah satunya, kita harus mengakui teks Perjanjian Baru yang diakui sekarang memiliki beberapa perbedaan dari teks yang berkembang sebelum abad ke-16.
Kita juga harus menerima kenyataan bahwa kita tidak memiliki teks Perjanjian Baru yang asli. Kemungkinan besar teks aslinya ditulis pada lembar-lembar papirus, bahan yang tidak akan bertahan lama kalau tidak disimpan di tempat yang benar-benar kering.
Juga kita harus menerima kenyataan bahwa tidak ada kemungkinan suatu saat kita menemukan teks yang asli. Meskipun kemungkinan ini tetap ada, mengingat banyaknya penemuan akhir-akhir ini. Tetapi seandainya pun kita menemukan sebuah manuskrip kuno, sangat sulit mengatakan itulah yang asli.
Kenyataan lain, alat cetak belum ditemukan pada jaman kuno. Sekarang kita memang bisa mencetak ribuan buku yang semuanya sama persis. Dulu pencetakan Perjanjian Baru dilakukan dengan tangan dan orang yang melakukannya bukanlah ahli taurat yang terlatih. Baru setelah agama Kristen menjadi agama resmi Kekaisaran Roma, ahli terlatih dibayar untuk melakukan penyalinan. Masalahnya, beberapa perubahan telah banyak dilakukan pada teks sebelumnya.
Kenyataan terakhir, ketika perubahan-perubahan dilakukan terhadap teks Perjanjian Baru, teks ini tidak dipandang sebagai Kitab Suci. Orang Kristen mula-mula sudah mempunyai sebuah kitab, Perjajian Lama. Teks-teks Perjanjian Baru tidak dianggap setara dengan Perjanjian Lama, sehingga beberapa perubahan tidak begitu dipedulikan.
Jika ada yang berkata "proses penyalinan Alkitab itu dilakukan dengan sangat teliti, dengan menghitung jumlah-jumlah karakter sehingga tidak pada kemungkinan kesalahan."
Ya, benar. Aku juga pernah mendengar pendetaku berkata seperti itu. Tetapi sekarang aku tahu, memang benar penyalinan dilakukan dengan sangat teliti, sehingga tidak memungkinkan adanya kesahalan. Masalahnya tidak semua orang tahu penyalinan seteliti ini hanya dilakukan terhadap teks Perjanjian Lama.
Ahli Taurat yang melakukan penyalinan Perjanjian Lama bahkan menghitung jumlah karakter dalam setiap baris, untuk memastikan tidak ada yang ketinggalan atau ditambahkan. Lalu setelah sebuah salinan dinyatakan akurat. Teks asli harus dihancurkan karena teks ini dianggap terlalu kudus untuk dibiarkan dalam keadaan tidak sempurna. Sekali lagi cara ini hanya dilakukan untuk teks Perjanjian Lama.
Bukan hanya teks Perjanjian Baru ditulis bukan oleh ahli-ahli profesional. Penyalinanpun selama bertahun-tahun harus dilakukan secara rahasia. Pada akhir abad pertama, orang Kristen benar-benar dalam penganiayaan. Bahkan mereka harus menyerahkan tulisan-tulisan ini kepada penguasa. Baru abad keempat kita dapat menggunakan "penerbitan" untuk memproduksi Kitab Suci.
Ya, setelah agama Kristen diakui sebagai agama resmi, baru bisa memproduksi kitab suci secara besar-besaran. Penyalinan dilakukan oleh sekelompok juru tulis, biasanya budak. Ada sekitar 50-an yang duduk di sebuah meja. Mereka menulis apa yang dibacakan oleh budak lain, sehingga memungkinkan terjadinya kesalahan. Disamping itu, penyalinnya mungkin juga bukan orang kristen, sehingga ada kemungkinan faktor ketidakhati-hatian.
Ada dua jenis kesalahan yang terjadi dalam proses penyalinan teks Perjanjian Baru, kesalahan tidak disengaja dan kesalahan disengaja. Kesalahan jenis pertama dapat berupa kesalahan mata, telinga, ingatan atau penilaian.
Sebagai contoh, kesalahan mata ini berupa kesulitan untuk menentukan awal dan akhir sebuah kata. Untuk memahami hal ini, kita harus tahu dalam sebagian dari teks asli ada yang berbentuk uncial, artinya tidak ada spasi untuk memisahkan kata dalam sebuah kalimat. Semua karakter juga berupa huruf besar. Lihat saja,a ayat pertama Injil Yohanes dalam bahasa aslinya adalah seperti ini "PADAMULANYAADALAHFIRMANFIRMANITUBERSAMASAMADENGANALLAHDANFIRMANITU ADALAH ALLAH".
Dalam kasus seperti ini, kita lihat 1 Timotius 3:6, ada kata Yunani homologoumenos di ayat ini. Karena aslinya berbentuk uncial maka bisa jadi kata ini berupa satu kata atau dua kata. Jika hanya satu kata, menjadi sebuah kata keterangan yang artinya mengakui, tetapi jika dijadikan dua kata menjadi sebuah kata kerja "kami mengakui".
Disamping kesalahan-kesalahan kecil yang tidak disengaja, para penyalin kadang-kadang membuat kesalahan yang memang disengaja. Kesalahan jenis ini kadang-kadang disebut "perubahan" yang disengaja, Kebanyakan berupa perubahan bentuk, ejaan, atau tata bahasa. Perubahan ini dibuat untuk memastikan teks Perjanjian Baru ini dalam bentuknya yang terbaik.
Sebagai contoh, dalam Markus 9:29 Yesus menjawab murid-murid-Nya tentang alasan kegagalan mereka mengusir setan: 'Jawab-Nya kepada mereka: "Jenis ini tidak dapat diusir kecuali dengan berdoa."' Ketika puasa menjadi penting dalam kehidupan gereja, beberapa penyalin menambahkan kata "dan berpuasa". Tidak heran dalam NKJV kita akan membaca: 'So He said to them, "This kind can come out by nothing but prayer and fasting."' Atau dalam KL1863 kita membaca: "Maka Toehan berkata sama dia-orang: Ini djenis tidak bolih dikaloewarken, melainken lantaran meminta-doa dan berpoewasa."
Juru tulis (scribe) yang menyalin Perjanjian Baru juga manusia, sehingga tetap membuat kesalahan dalam menyalin manuskrip-manuskrip tersebut. Clayton Harrop penulis buku yang saya baca sambil tiduran di atas sofa bolong ini berkata, "Tetapi kita seharusnya lambat dalam mengkritik pekerjaan mereka. Jika bukan karena kesabaran dan penyerahan diri mereka untuk pekerjaan ini, pengetahuan kita terhadapa teks Perjanjian Baru akan jauh lebih terbatas. Mereka bekerja keras memproduksi ulang kisah Kabar Baik dengan hanya sedikit penghargaan dari manusia. Kita harus mengakui mereka telah setia menyediakan bagi kita bahan-bahan awal yang berhubungan dengan teks Perjanjian Baru. Masalah terbesar kita sekarang adalah jangan berbohong terhadap kegagalan mereka. Tetapi kita harus melihat betapa banyak yang telah mereka sediakan untuk kita.
Harrop melanjutkan, "Pertanyaan sekarang, apakah perbedaan-perbedaan dalam manuskrip berarti teks Perjanjian Baru dalam keadaan yang kacau balau. Dilihat dari permukaannya, ini mungkin saja, tetapi kenyataannya tidak. Lebih dari 450 tahun telah lewat sejak penerbitan pertama Perjanjian Baru Bahasa Yunani. Selama waktu ini hasil penelitian tekstual menunjukkan bahwa para sarjana yang mempelajarinya setuju apa yang kita punyai hari ini, sama seperti yang disampaikan oleh penulisnya. Memang di beberapa bagian masih ada keraguan, tetapi semuanya tidak terlalu penting. Tidak satupun dari ayat-ayat yang meragukan tersebut mempengaruhi doktrin utama iman kita. Kita boleh percaya apa yang kita baca saat ini sama seperti apa yang ditulis 1900-an tahun yang lalu."