Masa itu setelah kembali dari Pembuangan, bangsa Israel sedang bergumul dengan kesulitan ekonomi dan ancaman serta serangan yang terus menerus dari pihak musuh (lih. Neh 1:3,4). Situasi dan kondisi yang sedemikian berat membuat mereka tidak mampu melihat banyak bukti tentang kasih Allah sebagaimana yang menjadi titik tolak pelayanan Maleakhi. Oleh karena itu, Israel diminta untuk melihat kepada bangsa Edom (keturunan Esau), saudara mereka yang juga mengalami nasib yang sama dengan Israel, yakni dijajah oleh Babel, tetapi tidak dipulihkan (lih. Kitab Obaja). Di sini, Allah menyatakan kasih-Nya terhadap umat perjanjian-Nya dalam hal Ia mengasihi Yakub, tapi membenci Esau. Edom dimusnahkan, sementara Israel dipulihkan dan akan melihat serta belajar bahwa nama Allah akan dipermuliakan di luar wilayahnya (lih. Mal 1:2-5).
Allah bangkit murka-Nya kepada Israel, khususnya kepada para Imam karena sekalipun Ia telah menyatakan kasih-Nya kepada mereka; namun, para Imam tersebut justru tampil menjadi teladan dalam hal menghina Allah. Para Imam itu tidak segan-segan mencemari 'meja Tuhan' dengan memberikan persembahan korban-korban yang bercacat sehingga hal tersebut merupakan penghinaan terhadap Allah (lih Mal 1:7-14).
Sebab dari terbitnya sampai kepada terbenamnya matahari nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, dan di setiap tempat dibakar dan dipersembahkan korban bagi nama-Ku dan juga korban sajian yang tahir; sebab nama-Ku besar di antara bangsa-bangsa, firman TUHAN semesta alam. Tetapi kamu ini menajiskannya, karena kamu menyangka: "Meja Tuhan memang cemar dan makanan yang ada di situ boleh dihinakan!" (Maleakhi 1:11-12).
Siapakah yang dimaksudkan oleh Tuhan sebagai bangsa-bangsa yang mempersembahkan korban bagi nama-Nya dan juga korban sajian yang tahir kepada-Nya itu?
Ada berbagai tafsiran mengenai ayat di atas, khususnya ayat 11. Beberapa penafsir mengisyaratkan bahwa ayat ini menggambarkan pengharapan zaman Mesias ketika bangsa-bangsa kafir akan beribadat bersama orang-orang Yahudi (bdg. Yes 66:18-21; Za 14:21).
Lainnya mengaitkan ayat ini dengan keadaan orang-orang Yahudi di diaspora dengan kegiatan sinagoga mereka (studi dan doa), yang menggantikan ibadat kurban.
Lainnya lagi mengaitkan ayat ini yang mengacu kepada suatu saat nanti, tatkala kabar baik itu sudah tersebar ke seluruh dunia, dan Allah yang benar akan disembah oleh semua bangsa (bdg. Mal 1:5).
Pustaka:
-
Knowles, Andrew, 2001. The Bible Guide. Sandy Lane West, Oxford, England: Lion Publishing plc.
-
Yayasan Kalam Hidup, 2002. Pedoman Lengkap Pendalaman Alkitab. Sandy Lane West, Oxford, England: Lion Publishing plc.
-
Editor: Bergant, Dianne, CSA, dan Karris, Robert J, OFM, 2002. Tafsir Alkitab Perjanjian Lama. Jakarta: Penerbit Kanisius.
-
Douglas, J.D. et al, 2002. Ensiklopedi Alkitab Masa Kini. Jakarta: Yayasan Komunikasi Bina Kasih/OMF.