Hari ini, tiba-tiba saja aku takut mati. Penyebabnya sepele. Saya membaca berita dari sebuah koran yang sudah usang. Sebuah potongan koran yang diberikan kepada saya untuk membungkus nasi dan lauk pauk yang saya beli tadi malam di 'restoran favorit'. Warung Tegal dekat rumah. Ceritanya, ada seorang pengemis yang tertabrak mobil hingga tewas di tempat. Pengemis tersebut bukannya ditolong oleh sang penabrak, malahan melarikan diri. Akibatnya, dia tergeletak mati tak berdaya di tempat itu selama beberapa menit. Tak ada satu orangpun yang berada di tempat itu bersedia untuk mengangkatnya. Mereka hanya menaruh papan yang dijadikan tiang sebagai semacam tanda bahaya lalu menutup seadanya dengan koran.
Saya tiba-tiba saja takut mati dengan membayangkan seandainya diri saya yang berada di tempat itu. Saya menjadi korban tabrak lari lalu mati sia-sia. Betapa mudahnya kita kehilangan nyawa. Betapa rapuhnya kehidupan dan betapa gampangnya kita pada akhirnya harus meninggalkan dunia ini. Saya benar-benar takut mati. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana saya akhirnya harus meninggalkan istri, anak-anak, keluarga dan teman-teman. Mereka pasti akan sedih dan lambat laun akan melupakan aku.
Setelah sekian lama merenung, pada akhirnya saya menyadari bahwa kematian itu adalah sebuah bagian dari perjalanan hidup manusia. Tidak dapat dihindari dan tidak bisa diabaikan. Siap atau tidak siap, suatu hari dengan cara apa saja dia akan datang dan melengkapi hidup kita sebagai rangkaian terakhir dari perjalanan hidup kita. Saya takut mati bukan karena kematian itu sendiri. Saya takut mati karena saya sadar bahwa tidak ada yang bisa saya bawa setelah kematian. Kesenangan, harta, keluarga, teman dan uang pada akhirnya harus ditinggal. Kita datang ke dunia ini dengan tidak membawa apa-apa, dan akhirnya kita harus meninggalkan dunia ini juga dengan cara yang sama. Tidak membawa apa-apa
Oleh karena itu, saya akhirnya tahu bahwa kehidupan yang ada sekarang ini tujuannya hanya satu. Memberi buah. Memastikan hidup kita dapat memberi warna bagi kebaikan orang lain. Keberadaan kita dapat memberkati kehidupan orang lain. Kita ada untuk menjadi solusi bagi kesulitan yang dialami oleh orang lain.
Saya memang tidak ubahnya dengan pengemis itu. Kami sama-sama akhirnya harus mati. Caranya saja yang mungkin beda. Apapun caranya bukan itu persoalan utama. Pengemis itu mungkin mati dengan tidak memberikan pengaruh apa-apa buat orang lain. Tapi bagaimana dengan Albert Einstein, Abraham Lincoln, Jendral Sudirman, atau siapapun nama-nama besar yang kita tahu. Mereka bukan cuma orang hebat semasa hidupnya, meskipun akhirnya harus takluk dengan kekuatan kematian tapi nama mereka masih tetap dikenang sebagai orang yang mempunyai kontribusi yang luar biasa buat orang di zamannya dan orang yang di zaman ini.
Semestinya inilah yang menjadi tujuan hidup kita. Apa yang bisa menjadi kontribusi kita terhadap lingkungan kita. Tidak peduli kita mengerjakan hal besar atau hal kecil. Tidak peduli apakah kita negarawan yang memimpin negara besar atau hanya kepala keluarga yang memimpin keluarga kecil. Kita dapat melakukan banyak hal yang dapat memberikan warna buat lingkungan kita. Kita dapat memberikan pengaruh positif buat orang lain. Lupakan soal uang, kekayaan, ketenaran. Semua itu pada akhirnya terkubur bersama dengan berakhirnya hidup kita. Tapi kebaikan, kemurahan, kasih akan tetap tinggal selamanya kepada orang-orang yang menerima kebaikan kita.
Kini, saya takut mati bukan karena kematian itu sendiri. Saya takut mati kalau saya belum berbuat apa-apa buat orang lain. Saya takut mati kalau saya justru selama ini hanya menjadi batu sandungan buat orang lain. Meskipun begitu, saya bersedia mati asalkan hidup saya sudah menjadi sesuatu yang berguna buat orang lain. Dengan demikian Istri, anak-anak, keluarga dan teman-teman saya pada akhirnya merasa mereka tidak pernah kehilangan. Semua senang, semua gembira, semua diberkati. Ahhh.. what a wonderful life...
Submitted by
peterkambey
on