Submitted by Vantillian on

Meninggal adalah proses natural yang harus dialami oleh setiap manusia. Bagaimana cara seseorang mati sampai CARA terakhir mengakhiri tubuh di dunia umumnya terbagi atas dua, yaitu : dikuburkan atau dikremasi. Beberapa golongan Kristen menolak dikremasikan karena berbagai alasan yang tidak alkitabiah. Menurut mereka, penguburan merupakan cara yang lebih alkitabiah dalam mengakhiri tubuh orang percaya. Anda bisa klik disini untuk mengetahui pandangan dasar penolakan kremasi dimana merupakan keputusan Sinode Bible Presbyterian Singapore. Di Indonesia, salah satu orang yang menolak kremasi yaitu Ir. Herlianto, M.Th yang telah memiliki reputasi sebagai ahli apologetika dan penulis buku serta pembicara khususnya topik New Age, Liberalisme, aliran Mistik dan lain-lain.

Blog ini akan menguji pandangan Herlianto terhadap penolakkannya atas kremasi sehingga pembaca SS bisa menilai apakah memang cara terakhir mengakhiri tubuh kita HARUS dikuburkan dan TIDAK DIPERBOLEHKAN dikremasi? 
 
Sumber tulisan Herlianto dalam blog ini diambil dari artikel yang ditulisnya pada Jurnal Veritas Volume 9 Nomor 1 ( April 2008 ) dengan judul : DIKUBUR atau DIKREMASI? Tanggapan atas artikel “ Analisis pola hermeneutic Jusuf BS, HL Senduk dan Herlianto tentang pandangan Alkitab terhadap kremasi.” Penerbit SAAT Malang
 
Rupanya tulisan ini merupakan artikel bantahan atau tanggapan Herlianto terhadap kritik dari artikel yang ditulis oleh Wahyu Pramudy dalam Jurnal Veritas Oktober 2007. Sebelumnya Herlianto telah menuliskan artikel dengan judul “ Kremasi atau Dikuburkan” yang dibukukan dalam Majalah Sahabat Awam ( MSA ) seri 70. Karena tidak dapat mengakses dan tidak memiliki MSA seri tersebut, maka saya akan mengkritisi pandangannya berdasarkan artikel di Veritas April 2008 terbitan Seminari Alkitab Asia Tenggara ( SAAT ) pada halaman 37-43.
 
Untuk memudahkan pembaca menganalisa, maka saya menuliskan beberapa kutipan Herlianto, meskipun terlihat lebih panjang, dengan tujuan tidak bias dalam menilai pandangannya. Kutipan Herlianto saya kelompokkan dalam 5 point topic yang telah dirangkumkan berdasarkan kutipannya ( kalimat di-Italic). 
 
Beberapa rangkuman pemikiran Herlianto dalam artikel Veritas adalah :
 
1. Roh seseorang yang meninggal bisa menderita ketika mengalami pembakaran sebelum berpisah dengan tubuhnya
 
Dalam kehidupan, bila manusia mengalami penganiayaan, bukan saja daging yang kesakitan tetapi batin/roh yang kekal itu juga mengalami luka-luka batin/rohani. Kasus Polycarpus yang dibakar tentu bukan hanya terbakar aspek dagingnya tetapi berakibat juga pada batin/rohnya yang terluka. Kisah orang kaya yang rohnya menderita sengsara( Lukas 16:23-24) juga bisa merasakan penderitaan batin hingga mengeluh, demikian juga penderitaan roh pada penghakiman terakhir ( Markus 9: 42-48)----Hal 39
 
Karena itu, dalam proses kematian dimana kita tidak bisa dengan jelas dan pasti mengetahui dengan tepat bilamana saatnya keterkaitan aspek roh itu dari tubuhnya terputus, tentu kremasi memiliki dampak terhadap kesatuan holistic daging dan roh itu.---hal 39
 
Kremasi justru merupakan spekulasi dengan mengabaikan keterkaitan kedua aspek manusia itu ( yang tidak jelas berapa lamanya ), sehingga penguburan yang merupakan pembusukan wajar menghindari spekulasi itu.---hal 39
 
Tanggapan Vantillian
Sejujurnya, HAMPIR SEMUA tulisan dan pemikirannya dalam artikel Veritas ini TIDAK didasarkan atas Firman, atau hanya merupakan spekulasi dari beliau. Salah satunya adalah roh manusia yang bisa menderita bila terbakar. Saya tidak tahu DARIMANA beliau bisa menyimpulkan bahwa Polycarpus pada waktu dibakar, rohnya menderita/terluka? Apakah Polycarpus memberitahu seseorang? Atau apakah perkataannya tercatat dalam sejarah? Seseorang yang kesakitan ketika terbakar TIDAK MEMBUKTIKAN bahwa rohnya menderita. Itu sama dengan mengatakan pada waktu sakit kanker, maka rohnya sakit juga. Itu pendapat menggelikan. Apalagi menderita luka batin. Apa maksudnya dengan luka batin? Apakah itu sama dengan trauma masa lalu? Luka batin itu seperti apa? 
 
Penafsiran nats Lukas 16 tentang orang kaya yang menderita adalah penafsiran yang SEMBARANGAN. Apakah kejadian di dunia “sana” BISA MEWAKILI dunia “sini”? Alkitab jelas menuliskan orang kaya tersebut telah berada di alam maut. Apakah dengan adanya penderitaan di alam maut dapat disimpulkan bahwa penderitaan ini SAMA juga yang diderita oleh roh manusia di dunia? Lalu, mengenai penghakiman terakhir, apakah yang menderita roh atau tubuh yang holistik? Bukankah beliau sendiri sangat menekankan kesatuan holistik tubuh-roh? Mengapa menekankan pada penderitaan roh pada penghakiman terakhir?  
 
Pendapat yang lebih menggelikan adalah bukankah beliau sendiri mengakui “kita tidak bisa dengan jelas dan pasti mengetahui” kapan roh terputus dari tubuhnya, tetapi mengapa berani menyimpulkan kremasi memiliki dampak terhadap tubuh dan roh manusia? Kalau seandainya sesudah meninggal, roh langsung meninggalkan tubuh, maka pendapatnya tidak relevan sama sekali. Kedua, bukankah orang mati pada umumnya disemayamkan terlebih dahulu, sebelum dikuburkan atau dikremasikan? Ada yang 2 hari, 3 hari, bahkan seminggu. Apakah roh manusia tinggal selama itu dalam tubuh manusia? Spekulasi ini tentu berbahaya dan tidak dapat diketahui dengan pasti. Karena tidak tahu, maka jangan sok tahu menyimpulkan kremasi menimbulkan dampak bagi penderitaan roh. Mengapa berani menyatakan bahwa penguburan adalah tindakan yang menghindari spekulasi ini? Bukankah itu berlaku untuk kremasi juga? 
 
2. Tokoh Alkitab PL melakukan praktek penguburan, bukan kremasi
 
Dalam Alkitab, secara implicit diungkapkan bahwa baik dalam Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, praktik yang dijalankan oleh umat Yahudi dan umat Kristen adalah penguburan, dan pembakaran lebih diartikan dalam kaitan hukuman. Memang benar bahwa api bisa melambangkan “penyertaan Allah” namun dalam konteks ini artinya lebih bersifat “tidak menghanguskan” sedangkan yang dikaitkan dengan penghukuman pembakaran bersifat “harfiah”----Hal 40
 
Tanggapan Vantillian
 
Dalam Alkitab, api dapat melambangkan banyak hal. Api dapat melambangkan penghukuman di neraka. Api juga dapat melambangkan Roh Kudus. Api juga melambangkan penyertaan Tuhan. Bahkan Tuhan digambarkan sebagai “api yang menghanguskan” ( Ibrani 12:29 ). Cara dikremasi TIDAK ADA RELEVANSI dengan symbol api di dalam Alkitab. Mengapa tidak kita tafsirkan bahwa ketika dikremasi, maka kita sedang “dibakar” dengan “api kemuliaan” Allah? Hahaha….Apakah ini pendapat yang lucu dan bodoh? Benar. Hal tersebut juga berlaku untuk pendapat yang menyatakan kremasi dikaitkan dengan penghukuman pembakaran. Itu namanya standar ganda penafsiran. Siapakah kita sehingga bisa menentukan mana yang “harfiah” mana yang “bukan harfiah”?
 
Memang dalam Alkitab PL dan PB, praktek yang paling umum dilakukan adalah penguburan. Tetapi Alkitab juga tidak melarang kremasi. Amos 2: 1 sering dijadikan sebagai dasar menentang kremasi.
Amos 2:1 Beginilah firman TUHAN: "Karena tiga perbuatan jahat Moab, bahkan empat, Aku tidak akan menarik kembali keputusan-Ku: Oleh karena ia telah membakar tulang-tulang raja Edom menjadi kapur...
Tafsiran yang menyatakan bahwa ayat ini menentang praktek kremasi adalah tafsiran yang mengada-ada. Inti ayat ini bukan pada tindakan membakarnya, tetapi kebencian Moab yang sangat luar biasa terhadap Edom yang sampai membakar tulang-tulang raja Edom. 
 
Bukankah anak Saul, Yonatan mati dan kemudian mayatnya dibakar? ( I Samuel 31:1-13). Meskipun Yonatan tidak dapat memilih untuk tidak dikremasi, sedangkan kita dapat memilih untuk tidak dikremasikan, Alkitab tidak melarang secara eksplisit maupun implisit soal dikremasi. Alkitab HANYA menggambarkan keadaan penguburan maupun pembakaran mayat TANPA menekankan adanya prinsip pengajaran. Itu bukan menyangkut masalah keselamatan dan pokok doktrin yang penting. Bandingkan dengan ayat di bawah ini :
 
Mazmur 79:1 Mazmur Asaf. Ya Allah, bangsa-bangsa lain telah masuk ke dalam tanah milik-Mu, menajiskan bait kudus-Mu, membuat Yerusalem menjadi timbunan puing.
Mazmur 79:2 Mereka memberikan mayat hamba-hamba-Mu sebagai makanan kepada burung-burung di udara, daging orang-orang yang Kaukasihi kepada binatang-binatang liar di bumi.
Mazmur 79:3 Mereka menumpahkan darah orang-orang itu seperti air sekeliling Yerusalem, dan tidak ada yang menguburkan.
 
 3. Manusia sebagai kesatuan Holistik
 
Mengenai soal mati yang didefinisikan sebagai terpisahnya roh dari daging bersifat spekulatif, karena hal itu bersifat  abstrak dan tidak bisa dilihat secara tiga dimensional, maka perlulah kita berhati-hati dalam mengertinya kapan kematian itu benar-benar telah tuntas. ----Hal 40

Banyak kasus terjadi di dunia adanya mereka yang sudah dinyatakan mati secara klinis ternyata hidup lagi setelah beberapa hari bahkan beberapa kasus yang sudah dikuburpun masih bisa mengalami hal itu. Kasus NDE ( Near Death Experience ) menunjukkan masih adanya kesadaran sesudah mati klinis dan yang kemudian kembali hidup menceritakan pengalamannya itu. ---Hal 41
 
Tanggapan Vantillian
Sekali lagi, beliau menegaskan pendapatnya yang kacau, bahwa terpisahnya roh dari daging bersifat spekulatif, tetapi mengapa sendiri berspekulasi bahwa masih adanya kesadaran sesudah mati klinis? Bukankah ini spekulasi di dalam spekulasi namanya? Bukankah ini namanya membual atau meleter tanpa tahu apa yang dikatakan? Kasus NDE adalah kasus yang masih diteliti dan TIDAK BISA dijadikan standar kebenaran MESKIPUN telah banyak kasus yang dilaporkan. Kasus NDE sangat berhubungan erat dengan perubahan pola kesadaran otak yang rumit dan kompleks. Alkitab jelas tidak mencatat adanya kasus NDE yang bisa dijadikan pedoman dalam kebenaran. 
 
Sekali lagi Herlianto menegaskan hal yang menentangnya sendiri, yaitu “kita perlu berhati-hati mengerti kapan kematian itu tuntas” dengan spekulasi kasus NDE yang dikemukakan. Darimana kita bisa tahu penguburan merupakan CARA yang pasti untuk menghindari spekulasi terpisahnya roh-tubuh? Dari Hongkong? Apakah penguburan merupakan cara untuk MENUNGGU apakah orang itu benar-benar telah mati tuntas? Atau menunggu mana tahu bisa bangkit dan hidup kembali? Hoho...Bukankah ketika dikuburkan dan dikremasikan sama-sama telah yakin bahwa manusia itu telah mati? Apakah ada jaminan kalau dikuburkan maka kita masih bisa menunggu rohnya balik dan kembali hidup?
 
4. Kasus yang menunjukkan adanya keterkaitan roh dan tubuh
 
Kasus-kasus OBE/OOBE ( Out of the body experience ) atau astral projection menunjukkan bahwa seseorang mengalami kondisi roh seakan-akan keluar dari tubuhnya atau ke tempat lain namun masih mengalami keterikatan dengan tubuhnya yang terbaring, padahal tubuhnya ( daging dan roh ) masih ditinggalkan dalam keadaan hidup tanpa kesadaran. ----Hal 42

Banyak juga kasus dijumpai di seluruh dunia yang biasa dikategorikan sebagai “paranormal” menunjukkan bahwa keterkaitan aspek daging yang telah membusuk di kuburan dan roh seseorang yang kekal ( atau arwahnya ) masih banyak terjadi seperti misalnya di tempat-tempat angker atau rumah-rumah yang disebut berhantu ( haunted ), sekalipun tidak tercatat dalam Alkitab, perlu dipelajari oleh para pendeta Kristen untuk memperkaya teologinya mengenai kematian dan kondisi sesudah mati manusia seutuhnya.----Hal 42
 
Tanggapan Vantillian
Inilah contoh yang paling menyesatkan dari seorang peneliti yang telah dikenal dan buku-bukunya sudah banyak diterbitkan. Ironisnya Herlianto dikenal sebagai seorang penguji roh zaman, tetapi mengemukakan pendapat aneh di atas. Mengapa mendasarkan pendapat tentang kebenaran di atas teori astral projection? Keluarnya roh dari tubuh? Bahkan kepercayaan adanya arwah orang mati pada rumah berhantu dan tempat angker? Maafkan saya, Bapak Herlianto, saya harus menyatakan bahwa anda telah mungkin “termakan tipuan” oleh penelitian anda sendiri. Apakah Alkitab ada menjelaskan dan menegaskan bahwa adanya tempat angker dan rumah berhantu? Bukankah itu adalah isapan jempol dan dongeng mistis yang seharusnya anda lawan? Mengapa justru menyarankan pendeta Kristen mendalami ini? Beliau sendiri mengakui bahwa kasus ini “tidak tercatat dalam Alkitab”, mengapa masih menuliskan pendapat ini? Bukankah seharusnya Alkitab menjadi standar kebenaran untuk menguji hal-hal di luar Alkitab dan bukan sebaliknya?
 
5. Manusia sebagai gambar dan Bait Allah dan Kebangkitan tubuh
 
Herlianto mengutip ayat Kejadian 1:26-27, Kej 2:7 sebagai dasar manusia adalah gambar Allah dan I Korintus 3 :16-17, 6:19-20 sebagai dasar manusia adalah Bait Allah dan menyatakan Bait Allah jangan dibinasakan ( I Korintus 3 :17 )
 
Selayaknya setelah kematian kita tidak begitu saja menghancurkan aspek daging dari tubuh yang dianalogikan sebagai gambar dan Bait Allah itu, melainkan perlu menghormati gambar Allah dan bait Allah yang sudah dimiliki berpuluh tahun…..kremasi lebih…mencampakkan begitu saja aspek daging dari gambar Allah…..apalagi kalau diingat bahwa kebangkitan Tubuh itu tidak membuat gambar baru, tetapi mentransformasikan tubuh lama menjadi baru.----Hal 42

Kita juga perlu merenungkan apa yang terjadi dalam proses pembakaran-jenazah atau kremasi. Dalam kremasi, jenazah dimasukkan dalam oven dan dibakar dengan temnperatur yang tinggi ( sekitar 1000 derajat Celcius) , sehingga sebagian besar akan menjadi gas dan abu dan hanya meninggalkan beberapa kilo fragmen-fragmen tulang....kemudian dihancurkan dalam mesin gerinda ( Kremulator ) sehingga menjadi lebih halus.......Beginikah kita begitu saja mencampakkan aspek daging dari gambar dan bait Allah itu?---Hal 43
 
Tanggapan Vantillian 
 
I Korintus 3:17 Jika ada orang yang membinasakan bait Allah, maka Allah akan membinasakan dia. Sebab bait Allah adalah kudus dan bait Allah itu ialah kamu. 
Apakah kata “membinasakan” di atas dapat diterapkan untuk kremasi? Tubuh kita adalah bait Allah. Bait Allah melambangkan gereja atau jemaat orang percaya. Konteksnya telah terjadi perpecahan golongan, dan Allah tidak akan membiarkan Bait Allah dibinasakan. Meskipun ditafsirkan harfiah, membinasakan tetap tidak bisa dihubungkan dengan kremasi. ( bnd Kejadian 9:6 )
Agak menggelikan dan terlalu dipaksakan jika dihubungkan dengan kremasi ( pembinasaan Bait Allah=tubuh? )
 
Mengenai gambar dan rupa Allah, apakah memang ketika tubuh kita dikremasikan, gambar Allah akan ikut terpengaruh? Atau hancur? Atau dicampakkan? Bukankah penguburan dan kremasi sama-sama menghancurkan aspek tubuh? Apa arti Gambar dan Rupa Allah? Apakah itu adalah Tubuh kita? Nampaknya kita harus kembali lagi meneliti apa itu gambar dan rupa Allah sebelum mengambil kesimpulan penghancuran tubuh berarti menghancurkan gambar Allah. 
 
Mengenai tubuh kebangkitan, bukankah Alkitab sudah sangat gamblang menuliskan bahwa : 
 
I Korintus 
15:35 Tetapi mungkin ada orang yang bertanya: "Bagaimanakah orang mati dibangkitkan? Dan dengan tubuh apakah mereka akan datang kembali?"
15:36 Hai orang bodoh! Apa yang engkau sendiri taburkan, tidak akan tumbuh dan hidup, kalau ia tidak mati dahulu.
15:37 Dan yang engkau taburkan bukanlah tubuh tanaman yang akan tumbuh, tetapi biji yang tidak berkulit, umpamanya biji gandum atau biji lain.
15:38 Tetapi Allah memberikan kepadanya suatu tubuh, seperti yang dikehendaki-Nya: Ia memberikan kepada tiap-tiap biji tubuhnya sendiri.
15:39 Bukan semua daging sama: daging manusia lain dari pada daging binatang, lain dari pada daging burung, lain dari pada daging ikan.
15:40 Ada tubuh sorgawi dan ada tubuh duniawi, tetapi kemuliaan tubuh sorgawi lain dari pada kemuliaan tubuh duniawi.
15:41 Kemuliaan matahari lain dari pada kemuliaan bulan, dan kemuliaan bulan lain dari pada kemuliaan bintang-bintang, dan kemuliaan bintang yang satu berbeda dengan kemuliaan bintang yang lain.
15:42 Demikianlah pula halnya dengan kebangkitan orang mati. Ditaburkan dalam kebinasaan, dibangkitkan dalam ketidakbinasaan.
15:43 Ditaburkan dalam kehinaan, dibangkitkan dalam kemuliaan. Ditaburkan dalam kelemahan, dibangkitkan dalam kekuatan.
15:44 Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah. Jika ada tubuh alamiah, maka ada pula tubuh rohaniah.
15:45 Seperti ada tertulis: "Manusia pertama, Adam menjadi makhluk yang hidup", tetapi Adam yang akhir menjadi roh yang menghidupkan.
15:46 Tetapi yang mula-mula datang bukanlah yang rohaniah, tetapi yang alamiah; kemudian barulah datang yang rohaniah.
15:47 Manusia pertama berasal dari debu tanah dan bersifat jasmani, manusia kedua berasal dari sorga.
15:48 Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi sama dengan Dia yang berasal dari sorga.
15:49 Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.
15:50 Saudara-saudara, inilah yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu bahwa daging dan darah tidak mendapat bagian dalam Kerajaan Allah dan bahwa yang binasa tidak mendapat bagian dalam apa yang tidak binasa. 
 
Dalam konklusinya Herlianto menyatakan : Kremasi secara radikal memutuskan kenangan gambar Allah dari pihak keluarga dan bait Allah, sedangkan penguburan masih memungkinkan adanya kenangan keluarga dengan gambar Allah dari keluarga mereka yang telah meninggal dunia.---Hal 43
 
Memutuskan kenangan gambar Allah? Pengajaran apaan tuh? Apakah kalau dikremasi tidak dapat mengenang kembali keluarganya? Apakah hanya penguburan yang bisa? Bukankah pertanyaan ini terlalu bodoh untuk dijawab?
 
Walaupun kiprah dan karya Ir. Herlianto, M.Th sudah banyak menjadi berkat di Indonesia, tetapi khusus untuk topik ini, saya harus menentangnya. Pdt. Budi Asali, M.Div pernah menuliskan artikel untuk membantahnya. Anda bisa klik disini. Saya juga tidak tahu apakah beliau sudah berubah pikiran. Tetapi dari artikel di jurnal Veritas, saya harus menyatakan bahwa tulisannya menyimpang dari standar Alkitab dan bukan seperti biasanya menjadi penguji roh zaman.