Submitted by
Purnomo
on
Apakah Anda percaya Yesus adalah satu-satunya Juruselamat Anda? Pasti Anda menjawab mantap, “Ya!” Jika demikian, apakah Anda telah memiliki Roh Kudus dalam diri Anda? Mungkin Anda akan menjawab “Ya” dengan nada mengambang karena waswas. Anda sudah bisa meraba akan dipojokkan dengan pertanyaan-pertanyaan penguji ada-tidaknya manifestasi Roh Kudus dalam hidup Anda.
“Apakah Anda bisa berbahasa roh kapan saja Anda mau? Anda bisa mengusir roh jahat? Anda bisa mendatangkan mukjizat? Anda pernah diajak Roh Kudus wisata ke surga? Berapa sering Anda mendapat penglihatan? Berapa sering Anda bercakap-cakap langsung dengan Tuhan Yesus?”
Duh, melihat sorot mata si penanya yang penuh belas kasihan, rasanya kita jadi minder ya. Ibarat dalam pesta ketika semua orang ketawa-ketiwi menikmati berbagai makanan yang lezat dan mahal, kita hanya berdiri sendirian di pojok memegang segelas air mineral sambil merenung, “Apa iya aku diundang ke pesta ini? Jangan-jangan namaku tidak ada dalam daftar.” Bahkan sampai ada yang berpikir, “Apa Roh Kudus kita berbeda ya?” Bukannya saya menuduh roh yang mereka miliki bukan Roh Kudus, tetapi ibarat Alkitab yang satu adanya (seperti juga Roh Kudus adanya), kita memegang terbitan tahun 1947 yang kuno bahasanya dan sulit dimengerti, sedangkan mereka memiliki terbitan tahun 2008 edisi bahasa gaul yang sangat mudah dimengerti dan dipraktekkan.
Sebelum menulis lebih lanjut, saya ingatkan bahwa artikel ini tidak bertujuan mencegah Anda pindah ke gereja karismatik. Tidak berdosa kok sekali waktu Anda hadir di persekutuan atau kebaktian karismatik untuk menikmati nuansa baru. Satu saja yang perlu diperhatikan, yaitu ujilah segala sesuatu yang Anda lihat, dengar dan rasakan dengan Alkitab Anda. Jangan mengganti wahyu tertulis dengan wahyu lisan, yang bisa ditengarai dengan pembuka kalimat, “Tadi malam saya bertemu Yesus dan Ia ingin saya menyampaikan pesan ini kepada kamu sekalian.” Ketika saya menghadapi prakata mantera ini dari seorang yang sok rohani saya menjawab, “Apa Yesus sedang repot ya. Biasanya Ia langsung mengabari saya jika Ia mau menyuruh saya melakukan sesuatu, tidak lewat biro jasa.” Mengapa sih karakter manusia duniawi masih dipelihara? Kalau mau memeras langsung saja, tak usah mencatut nama jenderal, walikota atau presiden segala.
Bagaimana jika kemudian Anda merasa cocok dan hepi di gereja itu? Ya pindah saja daripada tidak merasa sejahtera di gereja Anda sekarang. Saya tahu gereja atau persekutuan karismatik yang teguh memegang pengajaran yang benar masih ada. Sebaliknya, gereja main stream yang sekarang berubah menjadi gereja main main juga ada.
Btw, ada beberapa hal yang perlu diingat saat Anda bingung menentukan langkah.
1* Roh Kudus adalah karunia yang diberikan kepada setiap orang percaya tanpa prasyarat.
“Di dalam Dia kamu juga – karena kamu telah mendengar firman kebenaran, yaitu Injil keselamatanmu – di dalam Dia kamu juga, ketika kamu percaya, dimeteraikan dengan Roh Kudus, yang dijanjikan-Nya itu” (Efesus 1:13). Tak peduli ketika kita terima Yesus hidup kita masih berantakan, Tuhan mengaruniakan Roh Kudus sebagai kadonya. Bagaimana bila kemudian kita tetap saja jatuh-bangun dalam menaati Firman Tuhan? Apakah Allah Bapa akan mencabut Roh Kudus yang kita miliki, seperti yang sering dikatakan orang kepada kita?
Hati saya selalu terperas haru bila membaca Yohanes 14:16, “Aku akan minta kepada Bapa, dan Ia akan memberikan kepadamu seorang Penolong yang lain, supaya Ia menyertai kamu selama-lamanya.” Tiada allah sperti Allahku, kata sebuah lagu Sekolah Minggu. Ia amat sangat baik. Orang tua saja ada yang tega mengusir anak kandungnya yang amburadul, bahkan mengglonggongnya dengan baygon. Tetapi Allah kita tidak. Dan jangan lupa, janji ini diucapkan oleh Yesus yang kita percayai. Jadi, jika ada teman bahkan pendeta yang ahli menengking setan mengatakan Anda tidak punya Roh Kudus, berserulah kepadanya, “Demi kasih karunia Tuhan Yesus yang mengherankan, aku tengking kamu agar lenyap dari hadapanku!” Hehehe, punya kasih kok menengking saudara seiman. Jadi ikutan salah dong.
Setiap orang percaya punya Roh Kudus. Ini pernyataan Tuhan Yesus, bukan perkataan saya. Hanya saja Anda lupa di mana Roh Kudus ini Anda simpan sehingga ketika Anda membutuhkan-Nya Anda susah menemukan-Nya kembali.
2* Berilah kesempatan Roh Kudus berkerja dalam hidup kita.
“Hidup dipenuhi oleh Roh Kudus” hanya bisa terjadi bila kita memberi kesempatan Roh Kudus menguasai setiap langkah kehidupan kita. Tidak lewat penumpangan tangan pendeta, tidak lewat doa pelepasan, tidak lewat olesan minyak urapan, atau lewat persembahan khusus. Lho, memangnya ada pendeta yang jualan Roh Kudus? Tidak ada kok. Cuma siapa tahu akibat Sunset Policy yang menghimbau pendeta juga punya NPWP dan mulai menyetor pajak penghasilannya sementara gerejanya tidak mau membayari pajak itu lalu ada yang nekad berdagang hal-hal yang rohani.
Bisa-tidaknya Roh Kudus bekerja dalam hidup kita tergantung diri kita sendiri. Bagaimana caranya?
2a* Hiduplah kudus. Bagaimana pun sulitnya, harus selalu dicoba. Jika selama ini kita merasa baru bisa mencukupkan penghasilan dengan korupsi, baik grosiran ataupun eceran, hentikanlah. Pertaruhkanlah nafkah Anda di tangan penyertaan Roh Kudus. Jika selama ini Anda baru merasa full protected bila di samping mempercayai Tuhan Yesus, Anda masih memelihara atau bersandar kepada ilmu gaib atau memelihara jin, bersihkanlah diri Anda. Pertaruhkanlah nyawa Anda ke dalam pemeliharaan kekuatan Allah (1 Petrus 1:5).
2b* Pujilah Tuhan dan bersyukur kepada-Nya dalam segala hal. Paling tidak, lakukan hal ini dalam altar keluarga atau saat teduh Anda, setiap hari, bukan setahun sekali pada malam tahun baru. Bawalah dalam doa setiap persoalan hidup bahkan hal-hal rutin dalam mencari nafkah.
Syukurilah setiap berkat yang Anda terima, sekecil apapun. Jadi kalau mau makan, berdoalah untuk mengucap syukur karena masih bisa makan walaupun berdoa sebelum makan tidak ditulis jelas di Alkitab. Mau bersyukur saja kok repot mencari ayatnya di Alkitab.
Cermatilah hal-hal positip dalam setiap masalah yang ada. “Janganlah kamu mabuk oleh anggur [terlebih lagi anggur Perjamuan Kudus], karena anggur menimbulkan hawa nafsu, tetapi hendaklah kamu penuh dengan Roh, dan berkata-katalah seorang kepada yang lain dalam mazmur, kidung puji-pujian dan nyanyian rohani. Bernyanyi dan bersoraklah bagi Tuhan dengan segenap hati. Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita” (Efesus 5:18-20).
2c* Usahakanlah hubungan yang benar dengan sesama. Salah satu kebiasaan jelek saya adalah segera pasang kuda-kuda bila seseorang yang baru saya kenal bekata, “Aduuuh, jadi kita ini saudara seiman ya” atau “Saya ini hamba Tuhan lho.” Dalam hubungan dengan sesama yang menyangkut uang, saya sudah sering dikecewakan oleh saudara seiman yang yakin “masakan sesama saudara seiman mau berperkara di kantor polisi”.
Buat apa rajin ke gereja, ikut berbagai kegiatan gereja, bila melupakan Roma 13:9 “Karena firman: jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengingini dan firman lain mana pun juga, sudah tersimpul dalam firman ini, yaitu: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri!” Tidak mudah merubah kebiasaan jelek, sampai-sampai orang Jawa bilang, “Watuk ono tambane, watak digowo mati” (Batuk ada obatnya, watak dibawa mati).
But believe me, begitu Anda mulai berusaha, Roh Kudus segera bergerak memantapkan usaha Anda. Hubungan yang benar dengan sesama bagai membukakan Alkitab bagi mereka. Dan ini nilainya jauh lebih tinggi daripada membuka Alkitab di dalam gereja. Jangan berhenti mengusahakannya walaupun kekecewaan sering menerpa kita. Berbuat baik itu berat di ongkos. Ketika Yesus akan menyembuhkan 10 orang kusta, pasti di dalam kemahatahuan-Nya Ia tahu hanya 1 orang yang bakalan bilang tengkiu. Tetapi tetap saja Ia lakukan kebaikan itu.
3* Mintalah karunia-karunia Roh.
Jangan malu bila Anda ingin mendapatkan karunia berbahasa lidah. Masuklah ke dalam kamar, renungkanlah firman Tuhan, naikkan lagu penyembahan, berdoalah dengan sungguh. Ingatlah bahwa karunia berbahasa lidah bukan untuk pameran, tetapi untuk memantapkan iman akan eksistensi Roh Kudus dalam diri Anda.
The most important thing to keep in mind isbahasa lidah adalah karunia. Karunia tidak dapat ditularkan, dikloning atau dikopi, kecuali yang buatan pabrik. Berkurung seorang diri dalam kamar juga untuk menjamin bahasa lidah yang Anda peroleh original gift from God, bukan hasil pembajakan masal atau hasil dari sebuah kursus yang pernah ditawarkan kepada saya. Jangan putus asa bila malam pertama karunia itu belum Anda peroleh. Teruslah berusaha sambil ingat “Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri” (1 Korintus 14:4a).
Kemudian mintalah karunia lain, yang berguna untuk membangun jemaat, sambil ingat bisa-tidaknya Anda mengelolanya. Jangan sampai kecewa bila karunia yang telah kita miliki Tuhan ambil kembali karena kita tidak mampu merawatnya (Matius 25:14-30).
Saya kenal seorang pendeta yang punya karunia mengusir roh jahat. Ia berkeliling kota memenuhi panggilan orang Kristen yang membutuhkan jasanya bersama timnya. Suatu kali ketika seorang ibu mengeluh tentang suaminya yang kelakuannya seperti dirasuki setan, saya merekomendasikan namanya. Apa yang terjadi? Ia menjerit. “Pendeta itu sudah berulang kali saya panggil dan sudah menghabiskan seluruh tabungan saya. Tidak ada hasilnya!” Lagi-lagi uang terbukti menjadi virus teramat ganas dalam hidup rohani kita.
Seorang pamong Katolik, yang sering mendapat penglihatan, yang bahu-membahu dengan saya menyelenggarakan persekutuan Kristiani di komplek perumahan kami yang hijau pekat, suatu kali berkata kepada saya, “Bigboss semalam bilang kepada saya, Anda berpotensi memiliki karunia penyembuhan di tangan kanan Anda. Hanya saja belum Anda bangkitkan. Mari saya bantu.” Lalu ia memegang tangan kanan saya dan berdoa dengan sungguh. Apa yang saya perbuat?
Saya juga berdoa dengan “trayek” lain, “Tuhan Yesus, jangan beri saya karunia itu. Saya tidak akan kuat menanggungnya.” Saya menyadari kelemahan saya, gampang sombong. Kesombongan juga sering menghilangkan kharisma pengkhobah handal. Saya sendiri? Dengar satu orang saja memuji tulisan saya, kepala saya langsung berdenyut-denyut memuai. Karunia penyembuhan pasti akan mengundang lebih banyak orang memuji. Apa kepala saya tidak meledak karena menggelembung oversize dipompa kesombongan? Enggak ah, ngeri saya!
Usahakanlah dengan karunia-karunia yang Anda miliki, Anda bisa menjadi tanda dan sarana akan kehadiran, kuasa, dan kasih Allah bagi orang lain.
4* Waspadailah mukjizat-mukjizat dalam kehidupan Anda.
Saya yakin sekali, setiap orang percaya pernah mendapat mukjizat dari Tuhan, setelah mukjizat perdananya, yaitu menjadi orang pilihan Allah, dikuduskan oleh Roh Kudus dan taat kepada Yesus Kristus (1 Petrus 1:2). Hanya saja ia tidak menyadarinya karena peristiwa itu ia beri label “kebetulan”.
“Saya sudah hopeless waktu melamar kerja di kantor itu. Ada hampir 50 pelamar untuk 1 lowongan. Eee kebetulan, saya bertemu teman yang ternyata punya posisi kunci di kantor itu. Ia berbicara kepada bapak dirut sehingga saya diterima kerja di situ.” Jika labeling ini jadi kebiasaan, biar turun mukjizat sehebat apa pun, mata rohani kita tidak mampu melihat Roh Kudus yang berkarya dalam peristiwa itu. Akhirnya kita akan berpikir, “Apa iya saya memiliki Roh Kudus?”
Cobalah mencatat setiap peristiwa sekecil apapun yang punya unsur “kebetulan” yang Anda alami. Baik yang menyenangkan atau yang menyedihkan. Perlahan tapi pasti, Anda akan melihat makin jelas mukjizat Roh Kudus dibalik kata “kebetulan” itu. Dan akhirnya Anda akan menyerukan kalimat yang sering diucapkan orang Jawa, “ndilalah kersane Allah” (tak disangka atas kehendak Allah). Ceritakanlah mukjizat itu kepada teman, untuk membangunnya, bukan untuk bilang, “Tuh liat, gue lebih dikasihi Tuhan daripada loe ‘kan.”
Tentunya, tidak semua mukjizat bisa di-sharing-kan. Ada mukjizat yang bersifat amat sangat pribadi sehingga malah mendatangkan tsunami bila dipublikasikan. Contohnya? “The lady is so pretty dan menggoda sehingga saya lupa Tuhan dan kedudukan saya di gereja, apalagi istri yang jauh di rumah. Saya ajak ia masuk ke kamar hotel. Baru saja saya duduk di tepi tempat tidur, mendadak tubuh saya gemetaran menggigil kedinginan sampai gigi saya beradu. Saya melihat ke AC. Heran, AC itu belum dinyalakan. Saya ketakutan. Yakin saya, itu perbuatan Roh Kudus yang diam dalam diri saya. Segera saya minta maaf kepada perempuan itu dan mempersilakannya meninggalkan kamar saya.”
Pur, contoh di atas itu fikti atau fakta?
Hehehe, mo tau aza. Udah ya, saya pamit dulu sebelum preman-preman datang ramai-ramai memalak saya.
(the end)