Sebagai orang yang sudah dua tahun menikah dan dikaruniakan dua anak yang amat disayangi, seharusnya Wawang langsung pulang ke rumah begitu jam kerja hari ini berakhir. Sekarang ia sedang tidak ingin meninggalkan kantornya, padalah telah menyelesaikan semua pekerjaan. Ada rasa bersalah dalam hati karena tidak langsung pulang, apalagi ia tahu ada dua makhluk mungil yang akan senang melihat kedatangannya.
Rasa bersalah inilah yang membuatnya teringat pertemuan pertama dengan wanita yang sekarang menjadi istrinya, wanita yang membuatnya sekarang malas pulang. Kejadian itu masih jelas dalam ingatannya - lebih dari dua tahun yang lalu.
Waktu itu, sepulang kantor, ia melihat orangtuanya berbincang-bincang dengan dua tamu. Seorang pria setengah baya dan seorang gadis yang nampak pemalu. Wawang bukan orang yang bisa percaya dengan yang namanya "cinta pada pandangan pertama," tetapi yang pasti, ia suka melihat gaya gadis ini.
"Bapak tadi masih punya hubungan keluarga dengan ayah kamu," kata ibunya ketika kedua tamu tersebut sudah pergi. "Ngomong-ngomong putrinya tadi masih 'kosong'".
Sudah terlalu sering orangtuanya mencarikan pasangan untuk putra pertama mereka yang sudah hampir berkepala tiga ini. Biasanya Ia selalu menolak, selalu ada saja alasannya. Tetapi entah mengapa, sekarang ia tidak bisa mengatakan apa-apa.
Ternyata pertemuan ini bukanlah pertemuan yang terakhir. Wawang memakai hubungan keluarga untuk mendekati gadis yang ternyata bernama Martha ini. Ia menemukan gadis ini benar-benar gadis yang sangat polos. Ia menyukainya.
Banyak hal lain lagi yang membuatnya menyukai Martha. Kesabarannya, sikapnya yang tidak banyak tingkah, dan masih banyak sifat baik lain yang akhirnya membuatnya merasa jatuh cinta. Sebagai seorang yang dianggap cukup sukses, banyak gadis yang berusaha mencari perhatiannya. Kebanyakan mendekatinya dengan cara yang salah, lalu sekarang ada seorang gadis biasa dan sederhana yang tidak berbuat apa-apa untuk menarik perhatiannya.
Karena sering keluar bersama, Wawang makin mengenal Martha. Ia tahu apa yang dilihatnya sejak pertama memang tidak berubah, Martha memang gadis penurut dan sederhana. Wawang pernah sedikit kecewa karena menyadari bahwa cara pikir gadis ini benar-benar terlalu sederhana. Ia bahkan menemukan sebenarnya tidak ada kecocokan di antara mereka, tetapi ia tidak terlalu peduli. Ia merasa telah menyukai gadis ini dan itu sudah cukup. Ia percaya, rasa suka akan menghalau ketidakcocokan itu.
Dalam dongeng, sepasang manusia saling jatuh cinta, lalu mendapat masalah, tetapi akhirnya menikah setelah menyelesaikan masalah tersebut. Biasanya ceritanya diakhiri dengan kata-kata "lalu mereka menikah dan hidup bahagia selamanya". Tidak pernah diceritakan apa yang terjadi setelah pernikahan.
Cerita yang dialami Wawang agak lain. Mereka saling jatuh cinta, mengalami sedikit masalah, lalu menikah. Namun ceritanya tidak langsung tamat. Masa-masa awal pernikahan mereka sangat indah, ia bisa melihat Martha bukan gadis yang mementingkan uang, bahkan tampaknya tidak peduli. Wawang merasa beruntung dan masih bisa memaklumi kelemahan istrinya. Bahkan senang istrinya selalu bertanya jika akan melakukan sesuatu.
Tetapi sekarang ia menganggap pernikahan itu hanya permulaan masalah dari sebuah keputusan yang terlalu tergesa-gesa.
"Sudah saatnya kamu mengambil keputusan sendiri, jangan lagi tergantung sama adik-adikmu. Seharusnya kamu lebih dewasa sedikit." Tegur Wawang suatu ketika, karena melihat istrinya juga selalu tergantung kepada adik-adik kandungnya. Teguran ini merupakan awal dari sebuah masalah.
Ia juga mulai terganggu dengan perbedaan hobi mereka. Sejak kecil ia suka membaca, segala jenis buku dibacanya. Tetapi sekarang hobi itu harus dikurangi. Salah satu alasannya, istrinya tidak suka membaca. Sulit baginya menerima kenyataan ini sekarang
Lalu, hal yang dulu dianggapnya bukan masalah menjadi masalah. Dan sudah terlalu banyak ketidakcocokan di antara mereka. Bahkan ia kecewa istrinya tidak bisa diajak berdiskusi tentang banyak hal, termasuk membicarakan masalah di kantor.
"Terlalu banyak ketidakcocokan," Merupakan kata-kata yang diucapkan Wawang dalam hati, setiap kali mereka bermasalah.
Sekarang mereka dikaruniakan dua anak, satu berumur dua tahun dan satunya baru berumur beberapa bulan. Kedua makhluk mungil inilah yang membuat hidupnya kembali terasa indah.
Sambil mendesah, Wawang terbangun dari lamunannya. Ia melirik jam di dinding kantor yang sekarang sudah benar-benar sudah kosong. Setengah tujuh, diluar pasti sudah gelap. Ia teringat orang-orang yang ada di rumah. Menyadari betapa benar apa yang pernah dikatakan oleh pendeta konselor, ketika mereka mengikuti katekisasi persiapan pernikahan, "Yang paling penting dalam pernikahan adalah adanya 'titik temu', sesuatu yang sama-sama disukai oleh kedua pasangan."
Teringat kata-kata itu, tiba-tiba Wawang menyadari satu hal, sebenarnya ada titik temu mereka. Seorang makhluk mungil yang selalu berlari ke teras setiap kali mendengar suara motornya. Dan seorang bayi perempuan yang langsung tertawa begitu ayahnya mendekat. Paling tidak itulah titik temu yang dapat ia temukan saat ini.
"Tidak ada gunanya menyesal," kata Wawang dalam hati, sambil mematikan komputer dan membereskan barang-barangnya. Ia tahu istri dan anak-anaknya membutuhkan keberadaannya di dekat mereka.
Ia sudah tidak bisa berpaling lagi.