Ini merupakan kisah nyata, yang satu menceritakan mengenai Tono ( bukan nama sebenarnya ) dan yang lain mengenai Tini ( juga bukan nama sebenarnya ).
Mengenai Tono,
Tono berasal dari keluarga Kristen, namun sayangnya ketika berumah-tangga ia berpindah mengikuti agama sang istri. Beberapa tahun berumah tangga ( tanpa dikaruniai anak ) mereka bertikai hebat yang bahkan melibatkan pihak keluarga besar. Permasalahan utamanya, si istri berselingkuh hingga mempunyai anak. Permasalahan yang berat itu kemudian dibumbui masukan masukan dari keluarga besar mereka sehingga perceraian akhirnya tak terelakkan. Sebagai tambahan, sebelumnya proses perceraian pernah terjadi sebelumnya ( sudah masuk ke pengadilan agama ) namun kemudian dibatalkan atas komitmen mereka berdua. Dikarenakan masukan keluarga besar sudah terlanjur dalam, beberapa bulan kemudian gugatan perceraian pun kembali dilayangkan, dan perceraian di sahkan. Beberapa saat setelah itu, Tono pun menyadari segala kesalahannya dan hendak berbalik kembali menjadi Kristen. Pergumulan lumayan berat harus dilalui bahkan mungkin sampai saat ini.
Mengenai Tini,
Tini dari awal sudah Kristen dan ketika memilih suamipun sama sama Kristen. Perkawinan Tini dan suami berjalan beberapa tahun hingga mempunyai beberapa anak. dalam mengarungi biduk rumah tangga perselisihan kerap terjadi, sang suami sangat jago berselingkuh, beberpa kali dimaafkan namun masih terulang kesalahan yang sama. Si Tini merasa hidup serasa di neraka akhirnya setelah dipikir lama, perceraian dianggapnya jalan keluar akan problema rumah tangganya. Jadilah Tini seorang single parent bagi anak anaknya. sekalipun semua itu terjadi, Tini tidak bisa menutupi rasa bersalahnya akan perceraian yang dipilihnya. Bertahun tahun bahkan mungkin sampai sekarang, rasa bersalah selalui menghantui.
Mengenai Tono dan Tini,
Suatu saat tanpa diduga duga Tono bertemu dengan Tini melalui internet . Obrolan kemudian ternyata bersambung, dari saling bercurhat hingga saling menghibur. Dari sambung rasa itu kemudian lambat laun timbul saling suka. Tak pelak hal ini kembali menimbulkan ingatan yang traumatis akan kepedihan masa lalu mereka dalam berkeluarga, belum lagi rasa bersalah akan perceraian yang penah sama sama mereka pilih dan alami. Permasalahan tak berhenti sampai di situ, jika akhirnya mereka mampu melewati trauma masalah lalunya, timbul pertanyaan lain yaitu : bolehkah mereka menikah lagi ?
Hal ini ternyata tak sesederhana yang mereka bayangkan, ketika berkonsultasi kepada beberapa hamba Tuhan, kata sepakat tidak didapatkan. Ada yang tegas tidak boleh, ada yang boleh, ada yang tidak boleh tapi ada sedikit perkecualian. Bingung jadinya mereka.
Bagaimana menurut anda ?
Diceritakan oleh seorang teman....