Submitted by sarah on

Aku ingin sembuh ! Aku ingin dipulihkan ! Aku ingin bahagia ! Aku ingin menang atas penderitaanku ! Aku ingin berhasil ! Aku ingin jadi baik ......aku ingin disempurnakan.......aku ingin melayani .............aku ingin ......aku ingin......dan aku ingin.......TAPI AKU TAK DAPAT APA-APA!

Aku sangat kecewa! Hari-hari terjebak dalam rasa sakit, geram, sesak, tanpa harap dan langkah kakiku seperti menyambut kematian. Langitku gelap gulita, bumipun rasanya tak enak lagi kupijak. Tiada teman, tiada kawan. Cahaya yang kurindu terasa semakin pudar. Dan semakin jauh melangkah.......kurasa, aku telah melangkah ke arah yang salah......walau aku merasa tak berbuat salah. Aku tidak mencuri, mulutku tidak berdusta, aku juga tidak membawa tubuhku dalam perzinahan, aku tidak jahat terhadap orang lain.......

Lalu apa yang salah pada diriku.......hingga aku terpuruk, hidupku seperti tidak ada masa depan lagi. Aku kecewa, aku meratapi diriku dan penderitaanku. Hari-hariku bermandikan air mata duka.

Sejak kecil aku teraniaya oleh kedua orang tuaku. Ketika aku menikah, aku berharap hidupku berubah. Aku pikir itulah jembatan menuju masa depan yang gemilang. Tapi sungguh, tidak pernah terbayangkan olehku, suamiku sangat mengecewakan aku. Perlindungan yang kuharapkan, tak pernah kurasakan. Satu persatu anakku lahir hingga yang keempat, bukan oleh karena kasih.......tetapi oleh karena hubungan intim. Sudah 23 tahun berlalu sejak hari pernikahan kami, tetapi tetap saja sikap suamiku tidak berubah. Dilihat secara umum ia memang baik, good looking, sangat lembut dan romantis, tidak merokok, tidak mabuk, tidak main perampuan, mau pergi ke gereja, mau pergi konseling konseling, mau berdoa......semua penghasilannyapun diberikannya kepadaku.

APA YANG SALAH? Kami memang tidak mempersiapkan pernikahan kami dengan bimbingan pranikah. Tapi apalah artinya itu kalau toh pada akhirnya kami sering melakukan konseling dengan hamba-hamba Tuhan. Rasanya, aku sudah kenyang dengan nasehat mereka tentang hidup berumah tangga. 

Aku ingin suamiku ada saat aku perlu dia. Ketika anak-anakku sakit, ketika anak-anakku terima raport, mencari sekolah baru, ketika kami butuh biaya tambahan, ketika ada intervensi dari orang lain............tetapi itu tak pernah ada. Bahkan ketika saat itu tiba, ia seperti hilang ditelan bumi. Hp nya tidak aktif, telepon kantorpun jawabannya sangat mengecewakan. Kemana harus kucari dia. Beban yang seharusnya kami tanggung berdua, aku harus hadapi sendirian. Ktika sekiranya masalah sudah lewat, ia mulai mengirim smsnya, biasanya hatiku luluh dan melupakan apa yang telah diperbuatnya tetapi tanpa pengampunan, hanya melupakan.

Profesinya sebagai orang proyek sangat menguntungkan dia, untuk sembunyi dan menghindar dari tanggungjawab yang harus dia berikan kepada keluarga sebagai seorang suami dan ayah. Aku kecewa, terluka dan sakit hati yang amat sangat. Anak-anakkupun demikian.

Rasanya ini tak adil buatku. Aku meratapi diri di hadapan Tuhan dan hari-hariku mengalir keluh kesah, penyesalan dan ketidak berdayaan. Berulangkali, tahun demi tahun, kata-kata "cerai" terlontar dari mulutku dan dia, tetapi kami tak pernah benar-benar melangkah.

Aku ingin bangkit! Dan aku ingin hidup! Aku tidak mau mati sia-sia! Aku ingin hidupku penuh ucapan syukur. Aku ingin dari mulutku mengalir pujian dan bukan keluh kesah. Aku ingin keadaanku berubah baik.........! Aku ingin pulih. Aku mau dibarui.

Firman Tuhan katakan, setiap hari aku harus mengampuni 7 x 70 kali. Dan sebelum berdoa, aku harus mengampuni supaya dosaku pun diampuni. Aku harus bersabar ....aku harus kuat. Tetapi aku tidak sanggup melakukannya............bagiku sikap suamiku seperti pisau tajam yang ditusukkan ke jantungku berkali-kali, ketika tercabut, ia menusukkannya kembali.....kini aku berada diantara hidup dan mati. Tetapi aku ingin bisa mengampuni. Dengan kata-kata, itu mudah, tetapi dengan perbuatan, sungguh itu tak mudah. Aku ingn mengakhiri peperangan di hatiku selama hidupku, melawan perasaanku.

Bagaimanapun aku tak ingin berpaling dari Tuhan Yesus. Dulu aku orang seberang yang sudah dijemput Yesus dengan perahu kasihNya. Aku tak ingin kembali dengan berenang......sendirian karena itu akan membuatku binasa. Tetapi kata-kata manisNya yang sering kudengar, itulah yang menghibur hatiku.

Kiranya ada yang mau berdoa bagiku dan memberikan saran untukku supaya aku tetap bertahan dalam kesesakanku. Tuhan Yesus memberkati.