Klik x untuk menutup hasil pencarianCari di situs SABDASpace

Autis

victorc's picture
Shalom saudaraku, selamat pagi. Kali ini izinkan saya menulis tentang autisme. Mungkin di antara kita ada yang pernah mengamati bahwa makin banyak anak yang menderita autisme. Saya pernah mengajar kelas komputer untuk anak-anak dan ada murid yang autis, demikian pula salah satu kemenakan saya menderita autis.

Risiko
Mengenai penyebab autisme, ada yang mengatakan bahwa itu karena penderita kelebihan zat logam tertentu. Namun penyebab sebenarnya masih misterius. Dalam hubungan ini, beberapa hari yang lalu saya membaca sebuah artikel yang menyatakan bahwa ada hubungan antara vaksin MMR dan risiko seseorang mengalami autisme. (MMR: mumps, measles and rubella).
Kontroversi ini mulanya dipicu oleh suatu makalah karya Andrew Wakefield di jurnal Lancet.(2) Namun setelah diselidiki, makalah tersebut sarat dengan konflik kepentingan. Setelah itu muncul banyak publikasi oleh berbagai institusi resmi yang membantah adanya hubungan antara vaksinasi dan autisme. Namun sebagian publik khususnya di Amerika sudah terlanjur ragu-ragu akan manfaat beberapa jenis vaksinasi. (1)

Perdebatan
Perdebatan masih berlanjut dan melibatkan sejumlah nama besar, misalnya Prof. Luc Montagnier (pemenang hadiah Nobel kedokteran tahun 2008 atas temuan virus HIV tahun 1983). Dalam suatu konferensi sekitar tahun 2012 beliau memaparkan bahwa vaksin mungkin meningkatkan risiko terkena autisme secara temporer. Setelah konferensi tersebut, salah satu wartawan majalah Forbes menulis berita bahwa "pemenang Nobel bergabung dengan gerakan anti-vaksinasi."(4) Selanjutnya muncul reaksi keras dari industri vaksinasi terutama di Amerika, yang menyebut pandangan Montagnier itu bersifat anti-vaksin. Ada artikel yang menduga bahwa reaksi keras industri vaksinasi itu dimotori oleh Dr. Robert Gallo, rivalnya yang pernah berselisih dengan Prof. Luc Montagnier tentang siapa penemu sebenarnya virus HIV. Tidak hanya itu, 35 pemenang Nobel juga menulis surat membantah "sikap" Montagnier tersebut.
Lalu mana yang benar? Pertanyaan ini susah dijawab, khususnya jika kita sadari bahwa jarang sekali ada penelitian tentang vaksinasi yang dilakukan secara independen. Umumnya penelitian dalam bidang medis didanai oleh perusahaan atau industri tertentu, yang membuatnya menjadi bias kepentingan tertentu. Satu hal yang jelas, Prof. Luc Montagnier sendiri dalam situs resminya membantah bahwa ia bersikap anti-vaksin. Ia menghargai manfaat vaksin, meskipun efek sampingannya juga tidak dapat diabaikan. (3)
Dalam hubungan ini, salah satu berita terbaru adalah tentang vaksin yang disimpan secara tidak benar membawa pada penangkapan 37 orang di China dalam minggu ini. (6)(7)

Sains dan kepentingan
Masalah ini tampaknya ada hubungannya dengan netralitas dalam ilmu. Memang kalau menganut paradigma lama, ilmu alam mesti didekati senetral mungkin. Itu sebabnya para peneliti senantiasa berusaha mendekati suatu masalah seobjektif mungkin, dengan mengesampingkan kepentingan apapun.
Namun menurut filsuf jerman yaitu Jurgen Habermas (5), netralitas itu mustahil, karena ilmu apapun memuat kepentingannya sendiri. Misalnya ilmu-ilmu alam memiliki kepentingan untuk menaklukkan alam, atau kalau meminjam terminologi "dominium terrae" (perintah: penuhilah bumi dan taklukkanlah itu, Kej. 1:28),  kepentingan itu adalah mengelola alam (stewardship). 
Jadi jelas bahwa ilmuwan sekali pun tidak bebas kepentingan. Itu sebabnya di jurnal-jurnal bergengsi terutama yang berkaitan dengan kedokteran dan biologi, para penulis suatu makalah akan diminta menyatakan jika ada sponsor (misalnya dari perusahaan farmasi tertentu), yang dapat membuat suatu tulisan menjadi rentan konflik kepentingan. Tampaknya itu suatu tradisi yang baik, sehingga pembaca suatu makalah dapat menilai apakah suatu laporan bias kepentingan atau tidak.

Bagaimana pendapat Anda?

Versi 1.0: 23 maret 2016, pk. 9:18
VC
Referensi:
(1) http://www.webmd.com/brain/autism/searching-for-answers/vaccines-autism
(2) https://en.m.wikipedia.org/wiki/MMR_vaccine_controversy
(3) http://montagnier.org/HIV-Autism-Vaccines
(4) http://www.forbes.com/sites/stevensalzberg/2012/05/27/nobel-laureate-joins-anti-vaccination-crowd-at-autism-one/#4fd52de63cc7
(5) http://physicsed.buffalostate.edu/danowner/habcritthy.html
(6) http://www.telegraph.co.uk/news/worldnews/asia/china/12201862/China-arrests-37-over-61-million-illegal-vaccine-scandal.html
(7) http://www.bbc.com/news/world-asia-china-35878624
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.

victorc's picture

Komentar pembaca

Berikut ini adalah kutipan komentar dari Prof. Dr. Umar Anggara Jenie, guru besar farmasi dan pakar bioetika di Fakultas Farmasi UGM, sekaligus ketua LIPI:

"Vaksinasi, sebagai salah satu tindakan preventif thp serangan "patogen" telah banyak terbukti kemanfaatannya. Pertanyaannya sekarang adalah, "apakah ada 'adverse reaction' dari antigen yg dimasukkan ke dalam tubuh untuk menimbulkan efek kekebalan?"
Pada umumnya keberhasilan vaksinasi adalah 95% dan kegagalannya 5%. Penelitian vaksinasi hepatitis-B menunjukkan jika kadar antibodi anti-HB < 10 IU (Tidak menghasilkan proteksi), jika kadarnya 10-100 IU (memberikan proteksi cukup kuat) dan jika kadarnya > 100 IU (memberikan proteksi sangat kuat). Hasil2 spt inilah yg diambil oleh dokter, untuk melakukan booster vaksinasi ato tidak.
Apakah yg disebut dg kegagalan itu? Kegagalan adalah bhw vaksinasi tidak mrnimbulkan proteksi. Atau vaksinasi menimbulkan adverse reaction pada pasien. Efek adverse reaction inilah yg jarang dikemukakan secara publik, karena sarat dh kepentingan industri.
Dahulu memang timbul pemikiran bhw vaksin HIV menimbulkan adverse reaction berupa autisme. Tp issue ini hilang dg berjalannya waktu, mereka yg pro dan kontra sama kuatnya.
Sy pribadi lbh cenderung selektif dlm menilai proses vaksinasi. Bagi vaksin yg sdh well proven, spt polio, DPT, sangat recomended untuk dilaksanakan. Tp yg msh questionable, sebaiknya menunggu hasil penelitian yg netral. Masalahnya, bisakah dilakukan penelitian yg betul2 netral thp6 vaksin ? Tentu bisa jika ada political will yg kuat dr Pemerintah."
__________________

Dari hamba yang tidak berguna (Lih. Lukas 17:10)

Prepare for the Second Coming of Jesus Christ.