Anakku yg terkecil, si Bimo, satu-satunya anak laki-lakiku, seringkali nangis kalau pulang sekolah waktu kelas 1. Selidik punya selidik, ternyata dia sering di-bully teman-temannya di sekolah. Memang yang seringkali dilakukan teman-temannya bukan bullying fisik, hanya ejekan-ejekan karena di sudut bibir anakku ada bercak kehitaman seperti bekas terbakar, yang mengurangi kegantengannya. Ini terjadi karena pernah waktu umur 3 tahunan dia terkena tifus, lalu kami bawa ke dokter dan diberi anti biotik yang ternyata menyebabkan alergi sampai timbul luka di kulitnya seperti luka terbakar di sudut bibir, di ujung daun telinga dan yang lebih besar ada di punggungnya. Bercak hitam di sudut bibir ini yang sering jadi bahan ejekan teman-temannya. "Aku diejek, katanya bibirku item kaya Gareng", kata anakku.
Menghadapi bully verbal seperti itu, saya cuma nasehatin "Ya jawab aja sama temanmu yang ngejekin, masalah buat loe, gitu, gak usah nangis, nanti kamu malah dibilang cengeng lagi. Nanti juga sedikit-sedikit item-item itu hilang sendiri."
Masalah lain timbul, ternyata bully-nya kemudian hari bukan cuma verbal, tetapi fisik. Suatu hari Bimo pulang sekolah nangis lagi. Kali ini dengan luka-luka memar di tulang keringnya. Ketika ditanya Ibunya, dia bilang kakinya ditendang temannya dari belakang sampai terbentur kaki meja guru. Wah, ini gak bisa dibiarin pikir saya. Selama beberapa minggu saya ajarin dia jurus-jurus silat praktis untuk beladiri. Saya bilang: "ini bukan untuk menyerang, tapi untuk membela diri kalau kamu dipukul atau ditendang sama temanmu ya Bim. Dan jangan kamu pake buat anak yang lebih kecil dari kamu ya..."
Itu ternyata efektif, teman-temannya yang lebih besar gak ada yang nge-bully lagi. Eh...malah giliran anak yang lebih kecil nge-bully, nangis lagi deh... Aku cuma nasehatin, "Bilang aja ke temanmu, aku gak mau balas karena kamu lebih kecil dari aku, gitu, jangan nangis". Ternyata anak itu gak mau berhenti nge-bully, mulai dari verbal sampai fisik. Si Bimo hanya selalu menghindar dari anak itu. Akhirnya istriku menemui Ibu si anak kecil itu, sebut aja nama anak itu F, menyampaikan bahwa anaknya F, sering nge-bully anak kami. Eh...tanggapannya malah gak enak, "Namanya anak laki-laki, nakal, berantem ya biasa....Bimo-nya aja yang cengeng..."
Suatu hari, anak itu dirawat di rumah sakit karena jatuh dari pohon kersem. Lukanya cukup parah karena pohonnya cukup tinggi. Beberapa orang tua murid sudah menengok. Anakku mengajak Ibunya untuk menengok F ke RS, tapi rupanya istriku malas, mengingat kelakuan ibunya F itu. Si Bimo protes, "Ibu, kita kan gak boleh mendendam, biar aja anaknya nakal, biar aja ibunya aneh. Kita harus menengoknya Bu, kita kan gak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan..."
Istriku dan Bimo akhirnya berangkat ke RS bersama dengan seorang ibu yang lain. Sewaktu sampai di RS, melihat temannya yang terbalut perban kepalanya dan di-gips tangannya, Bimo mencoba menghibur temannya itu dengan mengelus-elus lengan temannya itu. Ini rupanya membuat ibunya F terharu dan memeluk istriku lalu berkata "Maafin aku ya mbak, sikapku selama ini gak baik sama mbak.."
Eh...ternyata Bimo yang malas sekali ke Sekolah Minggu, bisa menerapkan firman dalam Roma 12:16-21.