Pengajaran tentang Trinitas telah menjadi polemik dan perdebatan sampai sekarang…baik diantara orang yang beragama Kristen sendiri maupun oleh orang yang beragama lain. Yang menganut pengajaran Trinitas akan membelanya dengan semua argumennya untuk membenarkan ajaran ini. Yang menentang pengajaran Trinitas juga berupaya membuat argumen untuk membuktikan bahwa pengajaran Trinitas salah adanya. Diantara kedua belah pihak tidak pernah mencapai titik temu, walaupun perdebatan ini sudah berlangsung selama ribuan tahun lamanya.
Dalam upaya untuk dapat menyelesaikan polemik itu maka tulisan ini mengusulkan satu cara pandang bagaimana seharusnya menyikapi pengajaran tentang Trinitas ini. Sehingga baik yang setuju maupun yang menentang ajaran Trinitas mau mengerti dan mau menyudahi polemik dan perdebatan yang sebenarnya tidak memberikan manfaat apapun kepada kedua belah pihak.
Pada dasarnya pengajaran tentang Trinitas atau keallahan yang tiga, yaitu Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus tidak pernah diajarkan dalam pengajaran kitab-kitab Perjanjian Lama, yang merupakan tradisi Yahudi yang mengajarkan keallahan yang satu atau tunggal (monotheistik); Sedangkan tentang pengajaran Kristen yang menggunakan kitab-kitab Perjanjian Lama, dalam kasus ini yang sering digunakan adalah kitab Kejadian (Kej.1:26; 3:22), untuk mendukung pengajaran Trinitas adalah suatu pemerkosaan terhadapnya.
Kej.1:26. Berfirmanlah Allah: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita, supaya mereka berkuasa atas ikan-ikan di laut dan burung-burung di udara dan atas ternak dan atas seluruh bumi dan atas segala binatang melata yang merayap di bumi.”
Kata ‘Kita’ digunakan untuk mendukung bahwa Allah itu benar-benar tidak tunggal, melainkan jamak. Tetapi bila dimengerti bahwa pengajaran Yahudi tentang keallahan adalah monotheistik, maka argumen itu menjadi tidak tepat. Pengertian yang lebih tepat adalah bahwa kata ‘Kita’ yang digunakan didalam kalimat ini adalah merupakan kata ganti orang pertama untuk Allah yang bersifat untuk memuliakanNya. Kasus seperti ini sering ditemukan dalam kalimat yang digunakan seorang pejabat atau seorang pemimpin dalam menyebut dirinya sendiri dengan kata ‘kami’ sebagai kata yang lebih memberikan rasa yang lebih santun; tidak menggunakan kata ‘aku’ yang berkesan sombong, angkuh, sok berkuasa, atau tinggi hati. Lagipula kata ‘Allah’ yang merupakan terjemahan dari ‘Elohim’ mempunyai pengertian tunggal*, walaupun menggunakan bentuk jamak, seperti bentuk jamak dalam bahasa Ibrani dari kata ‘nabi’ yang menjadi ‘neviim’ yang artinya nabi-nabi; karena arti yang dimaksud bukan ‘allah yang jamak’ melainkan mempunyai pengertian bahwa ‘Elohim adalah allah yang mengatasi alah-allah yang lain’. Dan berkaitan dengan ayat ini sering dihubungkan dengan ayat yang terdapat dalam kitab Ulangan (Ul.6:4) yang menggunakan kata ‘esa’ untuk menterjemahkan kata ‘ekhad’ dalam bahasa Ibrani.
* lihat keterangan lebih detail dalam: Sharing Iman Kristen - ‘ELOHIM (2)
Ul.6:4. Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa!
Kata ‘ekhad’ mempunyai arti ‘satu’ atau ‘pertama’*, tidak mempunyai pengertian jamak. Dalam Alkitab berbahasa Indonesia oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) diterjemahkan dengan kata ‘esa’ yang artinya juga ‘satu’; tetapi sering diberi arti ‘satu yang jamak’ oleh pengajaran Kristen untuk mendukung pengajaran Trinitas. Ini juga terlalu memaksakan makna ayat itu secara keseluruhannya. Hal ini akan sangat kentara bila kata ‘TUHAN’ yang merupakan terjemahan dari ‘Yahwe’ dibaca dengan lengkap seperti aslinya dengan kalimat:
“Dengarlah, hai orang Israel: Yahweh itu Elohim kita, Yahweh itu ‘satu yang jamak’!”
Kalimat ini menjadi janggal karena sudah jelas diketahui oleh semua orang Yahudi bahwa Yahwe itu ‘satu’ bukan ‘satu tapi jamak’. Akan terasa pas apabila kalimat diatas ditulis dengan kalimat:
“Dengarlah, hai orang Israel: Yahwe itu allah kita yang mengatasi allah-allah lain, Yahwe itu ‘satu yang utama’!”
Dalam kalimat ini terasa nuansa keyahudiannya menjadi sangat kental, sebagaimana Yahwe menurut kepercayaan Yahudi yang adalah allah yang monotheistik dan allah yang mengalahkan semua allah bangsa-bangsa lain.
* kamus singkat Ibrani-Indonesia/ oleh D.L. Baker & A.A. Sitompul – Cet.4 – Jakarta: Gunung Mulia. 2000.
Pengajaran tentang keallahan yang tiga atau Trinitas merupakan ajaran yang diberikan oleh Yesus Kristus, yang tidak pernah diajarkan dalam kitab-kitab Perjanjian Lama dan juga bukan pengajaran dari rasul Paulus, karena rasul Paulus hanya membuat penjelasan saja tentang pengajaran yang diajarkan Tuhan kepadanya, dan hal ini dinyatakannya dalam surat yang ditujukannya kepada jemaat di Korintus (1 Kor.2:13).
1 Kor.2:13. Dan karena kami menafsirkan hal-hal rohani kepada mereka yang mempunyai Roh, kami berkata-kata tentang karunia-karunia Allah dengan perkataan yang bukan diajarkan kepada kami oleh hikmat manusia, tetapi oleh Roh.
Tuhan Yesus Kristus mengajarkan tentang Allah Bapa, Allah Anak dan Allah Roh Kudus yang dapat ditemukan dalam banyak pasal dalam keempat Injil.
Allah Bapa:
Injil Matius pasal 5:16,48; 6:6,9,14; 7:11,21; 10:32; 11:27; 16:27; 18:10,14; 20:23; 24:36; 28:19.
Injil Markus pasal 11:25; 13: 32; 14:36.
Injil Lukas pasal 2:49; 6:36; 10:22; 11:2; 12:32; 22:42; 23:34,46; 24:49.
Injil Yohanes pasal 2:16; 3:35; 4:23; 5:17,18,37; 6:65; 10:15,30; 12:26,49; 14:2,6,9,10,20,28; 15:1,8,16,23; 16:3,23,32; 20:17,21.
Mat.5:16. Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.”
Mrk.11:25. Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya juga Bapamu yang di sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu.”
Luk.2:49. Jawab-Nya kepada mereka: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu, bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?”
Yoh.2:16. Kepada pedagang-pedagang merpati Ia berkata: “Ambil semuanya ini dari sini, jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan.”
Allah Anak:
Injil Matius pasal 4:3; 8:29; 14:33;16:16; 26:63; 27:40,54.
Injil Markus pasal 3:11; 5:7; 15:39.
Injil Lukas pasal 1:35; 4:41; 22:70.
Injil Yohanes pasal 1:34,49; 5:25; 10:36; 11:4,27; 19:7; 20:31.
Mat.4:3. Lalu datanglah si pencoba itu dan berkata kepada-Nya: “Jika Engkau Anak Allah, perintahkanlah supaya batu-batu ini menjadi roti.”
Mrk.3:11. Bilamana roh-roh jahat melihat Dia, mereka jatuh tersungkur di hadapan-Nya dan berteriak: “Engkaulah Anak Allah.“
Luk.1:35. Jawab malaikat itu kepadanya: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Yoh.1:34. Dan aku telah melihat-Nya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Allah.”
Allah Roh Kudus:
Injil Matius pasal 1:18; 3:11; 12:31; 28:19.
Injil Markus pasal 1:8; 3:29; 12:36; 13:11.
Injil Lukas pasal 1:15,35,41; 3:22; 4:1; 11:13; 12:10,12.
Injil Yohanes pasal 1:33; 14:26; 20:22.
Mat.1:18. Kelahiran Yesus Kristus adalah seperti berikut: Pada waktu Maria, ibu-Nya, bertunangan dengan Yusuf, ternyata ia mengandung dari Roh Kudus, sebelum mereka hidup sebagai suami isteri.
Mrk.1:8. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”
Luk.1:15. Sebab ia akan besar di hadapan Tuhan dan ia tidak akan minum anggur atau minuman keras dan ia akan penuh dengan Roh Kudus mulai dari rahim ibunya;
Yoh.1:33. Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.
Begitu banyak pasal yang memberitakan tentang Allah Bapa, Allah Anak, dan Allah Roh Kudus yang diajarkan Yesus Kristus dalam keempat Injil membuktikan bahwa pengajaran tentang Allah yang tiga itu adalah benar adanya. Dan bagi orang yang mempercayai ajaran bahwa Yesus adalah Tuhan dan Ia telah hidup menjadi manusia, telah mati untuk menebus dosa manusia, telah naik ke surga dan akan datang kembali untuk menjemput orang-orang kudusNya, disebut pengikut Kristus atau orang Kristen. Sedangkan mereka yang menentang pengajaran itu tidak bisa disebut orang Kristen, karena pada dasarnya mereka bukan pengikut Kristus.
Masalah kepercayaan atau iman adalah masalah pribadi yang tidak perlu dan tidak bisa diperdebatkan; oleh karena itu bagi orang Kristen tidak perlu bersusah payah untuk menjelaskan kepercayaannya itu pada orang yang bukan orang Kristen; karena pengajaran Yesus Kristus tidak mungkin bisa dijelaskan dengan akal atau logika, tapi hanya bisa dimengerti orang yang mempunyai iman kepadaNya. Lagipula Allah yang diperkenalkan Yesus Kristus adalah Tuhan yang hidup, Tuhan yang sebenarnya, Tuhan yang maha kuasa, yang menciptakan bumi-langit beserta isinya. Ia tidak membutuhkan pembelaan dari manusia yang adalah ciptaanNya, karena Tuhan bisa membela dirinya sendiri dan bahkan tidak perlu membela diri. Orang yang mau melindungiNya adalah orang yang tidak tahu diri, sombong, tinggi hati; orang yang tidak percaya bahwa Tuhan adalah Allah yang hidup dan maha kuasa; dan sebenarnya ia adalah orang yang tidak mengerti dan tidak pernah mengenal Tuhan.
Adalah tidak mungkin manusia mengerti Allah dengan sebenar-benarnya, karena Allah maha sempurna sedangkan manusia tidak sempurna. Oleh karena itu Allah memberikan cara atau jalan bagi manusia untuk mengenal diriNya dengan mengkaruniakan Roh Kudus bagi orang yang percaya kepadaNya agar dapat mengenalNya dengan sempurna. Walaupun demikian untuk mendapatkan gambaran tentang keallahan yang tiga (Trinitas) itu terpaksa harus diterangkan dengan mengambil contoh yang dikenal oleh manusia supaya dapat sedikit dimengerti oleh akal dan nalarnya.
Contoh yang diusulkan adalah ‘Kunci’ yang terdiri dari gembog, anak-kunci, dan kaitan, ketiganya merupakan satu kesatuan. Oleh karena bila seseorang membeli sebuah kunci maka ia akan mendapatkan ketiganya sekaligus dalam satu kemasan, yang mana gembog dan anak kuncinya merupakan pasangan yang tidak bisa dipertukarkan dengan yang lain. Dalam hal ini ‘anak kunci’ bukan berarti sesuatu yang diperanakan, tetapi lebih merupakan istilah saja, seperti halnya istilah anak panah, anak sekolah, dan anak buah. Orang akan mengatakan “untuk menutup pintu rapat-rapat” dengan kalimat “mengunci pintu”. Jadi dalam hal ini yang diterangkan adalah fungsi kerja dari kunci itu, bukan barangnya. Demikian pula Allah Bapa, Allah Anak, dan Roh Kudus dapat dimengerti dengan membayangkan gembog, anak kunci, dan kaitan, dimana ketiganya akan berfungsi untuk mengunci bila ketiganya ada dan bekerja sama. Allah Bapa sendiri, Allah Anak sendiri, Allah Roh Kudus sendiri, tetapi ketiganya adalah satu. Allah Bapa berbeda dengan Allah Anak, Allah Anak berbeda dengan Allah Roh Kudus, dan Allah Roh Kudus berbeda dengan Allah Bapa, tetapi ketiganya tidak dapat dipisahkan. Allah Roh Kudus mempunyai kehendak yang sama dengan kehendak Allah Anak, Allah Anak mempunyai kehendak yang sama dengan kehendak Allah Bapa, dan Allah Roh Kudus mempunyai kehendak yang sama dengan kehendak Allah Bapa.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa kitab-kitab Perjanjian Lama tidak mengajarkan tentang Trinitas tetapi Yesus Kristus yang pertama kali telah mengajarkannya, dalam upaya untuk memperkenalkan lebih dalam lagi tentang Allah yang monotheistik. Karena Ia tidak memperkenalkan allah yang lain dari Allahnya orang Yahudi. Jadi dalam hal ini Allah yang diperkenalkan Yesus adalah Allah yang sama dengan Allah yang disembah Abraham, Ishak, Yakub, dan orang Yahudi; Allah yang monotheistik.
Submitted by
sandiputra
on