TIGA BUAH PERMINTAAN
Tadi malam saya asyik ngobrol dengan Roh Kudus. Air mataku mengalir lembut ketika aku ungkapkan isi hatiku, ucapan syukurku.
“Roh Kudus”, bisikku, “Terimakasih untuk penyertaan-Mu, kesetiaan-Mu mendampingi aku. Engkau yang menolongku dalam semua kesusahanku, Engkau yang menghiburku di segala kesedihanku, Engkau yang menguatkanku, ketika aku mulai goyah, dan Engkau yang tergopoh-gopoh meraih tanganku ketik aku terpeleset,…”
Sebuah bisikan lembut berkata: “ Harry, jika saat ini Tuhan memberimu tiga buah permintaan, apakah yang akan kamu minta? “
Aku merenung sejenak.
Namun tiba-tiba sebuah dorongan yang kuat membuatku berkata: “ TUHAN, jika Engkau memberi hamba-Mu ini tiga buah permintaan, maka inilah permintaan hamba:
1. Biarlah kiranya semua orang boleh mengenal Engkau, Allah Yang Hidup dengan benar, mengenali kebaikan-Mu, kemurahan-Mu, pengampunan-Mu dan kemuliaan-Mu
2. Biarlah kiranya semua orang BERHENTI mendukakan hati-Mu, berhenti menyiksa perasan-Mu, berhenti menyakiti hati-Mu.
3. Biarlah kiranya semua orang mulai secara sadar dan setia MENYENANGKAN hati-Mu, men-taati Firman-Mu dan menghormati ketetapan-Mu dan mensyukuri kebaikan-Mu."
Air mataku lebih deras mengalir, kurasakan kasih-Nya, kepedulian-Nya, kebaikan-Nya.
Kami masih terus mengobrol sampai aku tertidur dalam pelukan Roh Kudus.
Jam 5 pagi lebih sedikit aku terbangun, dengan mata berkedip-kedip aku masih wake-up, sebuah suara lembut mengatakan dua buah kata: “ Doa pagi.”
Saya get-up, ke kamar kecil, bersiap ke gereja, dan memacu sepeda motorku, dan sampailah aku di gereja yang berjarak hanya +- 3 km, eh sudah ditunggu dua orang pengerja, pak Edy dan pak Sen-Sen.
Kami masuk ruang gereja, aku setel-setel senar gitar, maklumlah kalau fals agak mengganggu juga.
Di atas karpet, kami bertiga mulai persiapan. Diriku pegang gitar, konsentrasi, berbicara dgn Roh Kudus: “ Selamat pagi, Roh Kudus, ini kami, mari, ajari kami melakukan hal terbaik dalam doa pagi ini, Engkaulah penolong kami. Kuasai kami, bawa kami masuk dalam hadirat Allah. Biarlah pagi ini kami boleh menyenangkan hati-Nya.” Kataku, sembari dengan sangat perlahan kupetik dawai gitar, aku menantikan arus aliran irama yang diberikan Roh Kudus.
Sementara pak Edy juga sedang konsentrasi dan pelahan berdoa, aku dengar beliau mengucap syukur, juga beberapa kalimat kerinduan. Sudah menjadi kebiasaan kami, saat doa kelompok, aku pegang gitar selaku “sopir”, dan pak Edy sebagai song Leader, jadi aku nantikan apapun lagu yang diberikan Roh Kudus kepada pak Edy.
Aku mainkan kunci G dan C kemudian G dan C, untuk memberi nada dasar pujian buat pak Edy.
Segera aku menangkap suara pak Edy, sangat pelan, menyanyikan:
KEMULIAAN-MU LEBIH DARI HIDUP, KEMULIAAN-MU LEBIH DARI HIDUP
BAWA LIDAHKU, MEMUJI ENGKAU, KEMULIAAN-MU LEBIH DARI HIDUP.
Ternyata pak Edy pakai nada dasar C, dan seperti otomatis, Roh Kudus yang dengan piawai menuntun gerakan jari jemari tanganku, menghasilkan nada nada harmony penuh urapan.
Sesuai pimpinan Roh Kudus, kami dengan nikmat mengulang-ulang lagu penyembahan itu, kami nikmati bait demi bait. Bukan hanya mulut dan lidah kami, namun terutama hati kami melebur dalam pujian itu.
Dengan cepat hadirat TUHAN hadir, dengan cepat air mataku meleleh keluar. Aku melek sebentar untuk mengamati keadaan kedua temanku, eh ternyata ada satu orang lagi yang masuk, satpam gereja. Aku lihat tangan pak Edy sudah bergetar-getar. Bapak yang sangat peka denga Roh Kudus ini sudah merasakan hadirat-Nya. Begitu juga dengan pak Sen Sen, sudah mulai merasakan getaran adikodrati itu.
Kembali aku pejamkan mata, setelah yakin teman-temanku sudah merasakan hadirat-Nya, maka tiada halangan untuk MENGGEBER musik surgawi itu dan berpacu secepat-cepatnya menghadap tahta Allah.
Dengan indah Roh Kudus mengatur keras lemahnya irama gitar, juga timingnya, sehingga kami semakin masuk dalam suasana surgawi.
Pak Edy, dari mulai tangannya tergetar, makin keras, makin keras, mulai terguncang-guncang, mulai terguncang makin hebat. Kami sangat menikmati hadirat TUHAN. Kami berurai airmata, kami takjub, kami kagum. Fase pertama, memasuki hadirat TUHAN, sudah kami lakukan, dan sekarang kami sudah berada di hadapan TUHAN.
Entahlah, bagiku, berada di hadirat TUHAN membuatku harus berjuang keras menahan airmata agar tidak keluar. Aku begitu rindu kepada Bapa-ku.
“Bapa, kalau saja aku boleh memeluk-Mu, kalau saja aku boleh menciumi Engkau, kalau saja aku boleh terus memandangi-Mu, menikmati wajah-Mu… “ bisikku kepada Bapa-ku yang aku rasakan begitu dekat di depanku, dan berjubel ucapan kekaguman mengalir dari hati-Ku diiringi luapan airmata dan air hidung juga.
Aku biarkan Pak Edy, sambil menangis, beliau mengungkapkan juga kerinduan-Nya kepada Bapa-nya, dan rangkaian kata-kata indah naik ke tahta Allah.
……….
Pagi ini, setidaknya dua kali TUHAN mengurapi kami, urapan apakah itu kami belum tahu, namun kami yakin beberapa hari kedepan kami sudah memahaminya.
Aku menutup doa pagi ini dengan ucapan syukur, dan kami mengakhirinya +- jam 6.10 pagi, jadi kira-kira baru 30 menit kami berdoa.
Ketika hendak pulang, pak Sen-Sen berpesan: “ Pak, besok pagi doa lagi ya?”
“Oh ya, tentu, tentu ok, siap Boss, "kataku.
Kami pulang, dengan damai sejahtera yang luar biasa.
Referensi:
Yohanes 4:23-24
23 Tetapi saatnya akan datang dan sudah tiba sekarang, bahwa penyembah-penyembah benar akan menyembah Bapa dalam roh dan kebenaran; sebab Bapa menghendaki penyembah-penyembah demikian.
24 Allah itu Roh dan barangsiapa menyembah Dia, harus menyembah-Nya dalam roh dan kebenaran."